Melestarikan
Telek, ''Meminang'' Keselamatan Dunia
GEMPURAN
"gelombang" modernisasi yang mahahebat,
tampaknya memberikan kontribusi yang cukup signifikan
terhadap keterdesakan sejumlah kesenian tradisional di
Bali. Namun, sejumlah kesenian tradisional (baca: kesenian
langka-red) masih mampu mempertahankan eksistensinya.
Salah satunya tari Telek yang sampai saat ini masih
dipentaskan secara teratur oleh sejumlah banjar/desa adat
di Bumi Serombotan, Klungkung, seperti Banjar Adat
Pancoran Gelgel dan Desa Adat Jumpai. Jenis tari wali ini
merupakan tetamian (warisan-red) leluhur yang pantang
untuk tidak dipentaskan. Warga setempat meyakini
pementasan Telek sebagai sarana untuk "meminang"
keselamatan dunia, khususnya di wawengkon (wilayah-red)
banjar/desa adat mereka. Jika nekat tidak mementaskan
Telek, itu sama artinya dengan mengundang kehadiran merana
(hama-penyakit pada tanaman dan ternak), sasab (penyakit
pada manusia) serta marabahaya lainnya yang mengacaukan
harmonisasi dunia.
Keyakinan itu begitu
mengkristal di hati krama Banjar Adat Pancoran, Gelgel dan
Desa Adat Jumpai. Mereka melestarikan jenis kesenian ini
dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi sehingga
tak sampai tergerus arus zaman. Begitu kuatnya mereka
menjaga tetamian leluhur ini, sampai-sampai seluruh pakem
pada pementasan Telek dipertahankan secara saklek. "Niki
nak sampun ilu lan tetamian leluhur deriki. Sampun
napetang. Tiang tan uning, ngawit pidan Telek deriki
masolah (Kesenian Telek ini sudah ada sejak lama dan
merupakan warisan leluhur. Generasi sekarang hanya
mewarisi. Saya tidak tahu kapan Telek mulai dipentaskan-red),"
ujar tetua Banjar Adat Pancoran Gelgel I Ketut Pageh (59).
Pantang tak
Dipentaskan
Di Banjar Adat
Gelgel, kata Pageh, Telek dipentaskan dua kali setahun
yakni pada Buda Umanis Perangbakat (wali Ida Batara di
Pura Dalem Guru, Pancoran) dan pada Buda Kliwon Paang (wali
Ida Batara Gede). Kedua pementasan itu mengambil lokasi di
jaba sisi Pura Dalem Guru. Setiap kali Telek dipentaskan,
seluruh krama dipastikan menyaksikannya sekaligus memohon
keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dikatakannya,
pementasan Telek di Banjar Adat Pancoran, Gelgel sempat
terputus beberapa tahun sebelum Gunung Agung meletus
hingga tragedi berdarah G-30-S/PKI pecah. Dua tragedi
besar itu sempat meluluhlantakkan kedamaian masyarakat di
seluruh Bali. Guna mengembalikan kedamaian yang
tercabik-cabik itu, para tetua di Banjar Adat Pancoran
sepakat menggelar serangkaian upacara tolak bala. Salah
satunya, menghidupkan kembali kesenian Telek yang mereka
yakini sebagai sarana memohon keselamatan dunia-akhirat.
"Sejak saat itu, Telek kembali masolah (dipentaskan-red)
hingga kini. Bahkan, pengempon Pura Dalem Guru sudah punya
bhisama (kesepakatan-red) bahwa tari wali itu tetap harus
masolah sampai kapan pun untuk menghindari kabrebehan (marabahaya-red),"
kata Pageh yang dibenarkan pula oleh Klian Pura Dalem Guru
I Nyoman Suana.
Sementara di Desa
Adat Jumpai, Telek dipentaskan setiap rahinan Kajeng
Kliwon (lima belas hari sekali-red) serta piodalan di Pura
Penataran Dalem Cangkring, Pura Taman Sari dan Pura Dalem
Katulampa. Ini berarti, paling tidak tari wali ini
dipentaskan sekitar 27 kali setiap tahunnya. Itu pun belum
termasuk ada warga yang ngaturang sesangi (bayar kaul-red)
menanggap kesenian ini. "Warga di luar Desa Adat
Jumpai juga sering ngaturang sesangi nyolahang Telek
Jumpai ini. Setiap masolah di luar desa, seluruh krama
ikut mengiringi sasuhunan ke mana pun beliau masolah,"
kata penglisir Desa Adat Jumpai I Wayan Tabig.
Sama dengan di
Banjar Adat Pancoran Gelgel, krama Desa Adat Jumpai juga
meyakini pementasan Telek ini sebagai sarana untuk memohon
keselamatan segala makhluk bernyawa di dunia ini dari
marabahaya. Ditegaskannya, pihaknya pantang tidak
mementaskan tarian ini pada hari-hari yang telah
ditentukan. Kecuali, jika di desa itu dalam waktu
bersamaan sedang mengalami kecuntakan karena ada krama
yang meninggal dunia. "Krama tidak berani tidak
mementaskan tarian ini. Jika itu dilanggar, kami yakin
akan terjadi suatu bencana yang membuat ketenteraman kami
terusik. Misalnya, berjangkit wabah penyakit dan
sebagainya," katanya seraya menambahkan, pementasan
Telek di Jumpai tidak pernah terputus, terus berlangsung
dari generasi ke generasi.
Bertopeng
Putih
Menurut Pageh dan
Tabig, tarian Telek ini dibawakan oleh empat penari pria
yang masih berusia anak-anak sampai memasuki masa truna
bunga (akil balik-red). Keempat penari itu memakai topeng
berwarna putih dengan karakter wajah yang lembut dan
tampan serta diiringi gong kebyar tabuh bebarongan. Baik
di Banjar Adat Pancoran maupun Desa Adat Jumpai, tarian
ini tidak berdiri sendiri. Tetapi senantiasa dirangkaikan
dengan tari Jauk, topeng Penamprat, Batara Gede (barong),
Rarung dan Batara Lingsir (rangda). Seluruh unsur tarian
itu berpadu membangun satu-kesatuan cerita yang utuh
dengan durasi sekitar dua jam. Akhir pertunjukan diwarnai
dengan atraksi narat/ngunying yaitu menusukkan keris ke
dada penarat bersangkutan maupun ke dada Batara Lingsir.
Pageh maupun Tabig
menuturkan, saat atraksi narat itu berlangsung, baik
penarat dan pemunut rangda dalam kondisi kerawuhan
(trance-red). "Jadi, Telek itu bukan merupakan tarian
lepas. Seluruh pertunjukan itulah yang difungsikan untuk
memohon keselamatan dan kesejahteraan," ujar kedua
tokoh sepuh itu.
Apakah tari Telek
tidak boleh ditarikan oleh orang dewasa? Menurut Pageh,
tidak ada ketentuan yang mengatur secara tegas batasan
usia penari itu. Namun, Telek di Banjar Pancoran
senantiasa dibawakan penari anak-anak sejak turun-menurun.
Pasalnya, topeng dan gelungan (hiasan kepala-red) Telek
itu memang dirancang seukuran wajah dan kepala anak-anak,
sehingga orang dewasa tidak pas memakainya.
Bahan baku topeng
Telek menggunakan kayu pule yang juga lazim digunakan
sebagai bahan baku tapakan (topeng-red) barong dan rangda.
"Topeng Telek ini merupakan tetamian leluhur dan
tidak ada krama yang tahu pasti kapan topeng itu dibuat.
Kami tidak berani menggantikannya, misalnya dengan membuat
topeng yang berukuran lebih besar sehingga bisa digunakan
orang dewasa. Jika warna topeng itu sudah buram, kami
hanya sebatas ngodakin (pengecatan ulang-red). Bukan
topengnya yang diganti. Hal yang sama juga berlaku untuk
tapakan barong dan rangda," katanya sambil
menambahkan, sebelum tari Telek dipentaskan, seluruh
penari wajib mengikuti persembahyangan di pura agar
pementasan yang dilakoninya direstui Tuhan.
Tanpa
Pelatih Khusus
Klian Pura Dalem
Guru Banjar Adat Pancoran I Nyoman Suana mengatakan
pihaknya sadar betul bahwa kesenian telek beserta tarian
lain yang menyertainya tidak boleh punah dari wilayahnya.
Pasalnya, tarian ini sudah diyakini oleh seluruh krama
sebagai sarana memohon keselamatan. Kesadaran itu akhirnya
mewajibkan mereka secara terus-menerus mencetak
penari-penari Telek. Uniknya, proses alih generasi ini
tanpa melibatkan pelatih khusus. Artinya, penari Telek
sebelumnya punya kewajiban moral untuk mewariskan
keterampilannya kepada generasi berikutnya.
Sambung-menyambung. "Tidak ada pelatih khusus. Penari
yang sudah berhenti ngayah karena memasuki usia dewasa,
langsung bertindak sebagai pelatih," katanya.
Dalam satu generasi,
katanya, ada delapan anak yang dipilih untuk mendalami
tari Telek. Kendati penari yang terpakai hanya empat orang.
Empat penari bertindak sebagai penari inti, sementara
empat penari lainnya sebagai penari pengganti jika salah
satu di antara penari inti berhalangan tampil karena sakit
dan sebagainya. "Proses regenerasinya sangat
sederhana. Pailetan, gerak tari maupun teknik pementasan
yang tersaji dalam Telek yang ada saat ini semuanya tidak
mengalami perubahan. Kami tidak mau melakukan modifikasi
apa pun dan tetap mengacu pada apa yang diciptakan
leluhur-leluhur kami. Dan, itu wajib kami lestarikan,"
katanya sambil menambahkan, dirinya optimis Telek tetap
lestari di Banjar Adat Pancoran karena keyakinan bahwa
tarian ini akan menghadirkan keselamatan dan kedamaian
bagi warga tetap tertanam kuat.
* w.sumatika
|