kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 31 Januari 2004

 Pariwisata


Catatan Pariwisata Sepekan--------

Manajemen Krisis dan Kualitas Pelayanan Publik

COBAAN demi cobaan datang silih berganti. Belum tuntas penanganan dampak lanjutan bom Bali, wabah SARS dan kolera yang menimpa wisatawan Taiwan. Kini muncul lagi flu burung yang dipastikan akan mengguncang perekonomian masyarakat. Rentetan kejadian ini memang tidak hanya menimpa Bali. Beberapa propinsi di Indonesia bahkan negara lain juga mengalami. Namun, bagi Bali, berbagai kasus itu mempunyai arti menciptakan krisis tersendiri. Karena itu, mestinya perlu penyikapan tersendiri pula.

Mengapa? Bali merupakan satu-satunya daerah di Indonesia yang telanjur terlalu bergantung pada sektor pariwisata. Sementara diketahui, semua kasus di atas tadi selalu memberi dampak langsung pada arus kunjungan wisatawan ke Bali. Tak aneh kalau perekonomian Bali ikut rentan mengikuti liuk fluktuasi pariwisata. Sayangnya, sejauh ini kenyataan di atas belum sepenuhnya disadari oleh para pengambil kebijakan di daerah ini.

Buktinya, penyikapan terhadap berbagai krisis selalu sama; sikap pemerintah gelagapan kalau sudah ramai diberitakan media massa. Lebih fatal lagi sikap masa bodo, seolah tak terjadi apa-apa. Dalam berbagai pengamatan selama ini diakui atau tidak, pemerintah dan DPRD selalu lamban menyikapi persoalan yang timbul di tengah masyarakat. Wakil rakyat "bergerak" kalau permasalahan itu bisa meningkatkan reputasi politiknya. Kalau tidak, mereka akan bersikap masa bodo saja, seolah tak terjadi apa-apa.

Sementara di sisi lain, publik ingin sekali melihat ada terobosan dari pemerintah dan DPRD yang bersifat antisipatif serta menyentuh kepentingan yang lebih luas. Agak ironis memang, Bali yang selama ini dikenal sebagai daerah yang sangat bergantung pada sektor pariwisata, namun tidak memiliki perangkat kerja yang memadai untuk menunjang sektor ini. Termasuk bagaimana mekanismenya, kalau situasi pariwisata sedang dilanda krisis yang juga menyeret secara multiplier effect sektor lainnya.

Contoh aktual mengenai flu burung. Pemerintah memang telah mengumumkan peta penyebarannya di Bali berikut berbagai upaya penanggulangannya. Pejabat Pemprop Bali merasa perlu melakukan "demo" makan daging ayam untuk meredam kepanikan masyarakat. Langkah ini memang patut dihargai sebagai satu langkah yang positif. Namun, tindakan tersebut bukanlah segala-galanya. Masih banyak persoalan lain menunggu uluran tangan. Kerugian para peternak di sejumlah sentra unggas, misalnya, harus dipikirkan jalan keluarnya. Sejauh ini, baru sebatas imbauan.

Untuk memaafkan kelambanan ini, kita bisa menghibur diri dengan mengatakan kinerja birokrasi memang didesain untuk situasi normal, bukan situasi darurat. Namun, apakah kita terus-menerus bergantung pada apologi dungu semacam itu. Dalam kondisi krisis dan darurat sangat dituntut kesigapan, kecermatan sekaligus ketenangan menghadapi persoalan. Aparat pemerintah tak bisa lagi bertindak lamban, dan DPRD bersikap bussines usual.

Dalam kondisi darurat, semuanya harus mempunyai tingkat kepekaan yang tinggi serta berupaya mencari solusi. Dalam kondisi darurat pula, leadership seorang pemimpin publik baik di birokrasi maupun kegislatif akan teruji. Pemimpin yang cerdas akan cepat mengambil keputusan serta mampu mengerahkan kemampuan teknis bawahannya untuk menyelesaikan persoalan yang tengah dihadapi. Demikianlah pengejawantahan manajemen krisis.

Ke depan perlu ditanamkan dalam diri setiap calon pemimpin bahwa menjadi memimpin itu sulit. Memimpin berarti melayani publik. Karena itu, diperlukan suatu kesiapan matang yang teruji melalui perjalanan karier dari bawah dan bukan jatuh dari langit karena cantelan politis. Padanya dituntut memiliki kapasitas intelektual, integritas pribadi yang mumpuni serta religiusitas yang teguh. Tanpa itu, pemimpin akan mudah terombang-ambing mengikuti kemauan gerombolan yang dicekoki kepentingan sesaat.

Pemilu 2004 sesungguhnya merupakan satu tahapan awal untuk meraih sesuatu yang lebih baik. Celakanya, sekarang orang begitu haus menjadi pemimpin seperti yang diperlihatkan para bakal calon legislatif yang berebutan kursi. Iming-iming fasilitas sebagai anggota legislatif kelak, telah membutakan mata dan hati mereka sehingga tak mampu lagi memperlihatkan sikap tahu diri. Kebobrokan menjadi makin paripurna, ketika formasi PNS di birokrasi selalu diwarnai KKN. Dalam kondisi semacam ini, kita memang hanya bisa pasrah! * gregorius

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)