kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 24 Januari 2004

 Pariwisata


Catatan Pariwisata Sepekan---------------
Seleksi bagi "Pengusaha Busuk"

Aset pariwisata Bali sangat mengagumkan. Tercatat 128 hotel berbintang, 613 hotel melati, 330 home stay dengan total 33.000 kamar tersebar di seluruh Bali. Tak ketinggalan 76 restoran, 686 rumah makan, 321 bar/kafe, 324 Biro Perjalanan Wisata (BPW), 66 Cabang BPW dan 4 APW. Data administratif ini memang tidak lagi mencerminkan situasi real di lapangan, karena banyak di antaranya sudah gulung tikar. Namun begitulah kira-kira gambaran sebagian aset pariwisata Bali di luar objek wisata yang selama ini diandalkan Bali.

----------------------

Kesemuanya sungguh memperlihatkan betapa kayanya Bali sebagai sebuah destinasi yang lumayan komplit. Dibalik itu terdapat geliat kehidupan yang menyeret ratusan ribu warga yang terlibat di dalamnya. Tercatat, 39.085 karyawan hotel, 12.868 orang di antaranya berpendidikan khusus, sementara guide yang berlisensi tercatat 6.344 orang. Belum termasuk yang terlibat di sejumlah perusahaan transportasi wisata, rumah makan, kafe dan perusahaan lainnya. Angka yang paling demokrat sekitar 400 ribu dari total angkatan kerja di Bali berkecimpung di sektor pariwisata.

Sebagaimana kerap diungkapkan para ekonom, pariwisata mempunyai keterkaitan ekonomi yang sangat erat dengan banyak sektor, melalui apa yang disebut open-loop effect dan induced-effect. Istilah ini kira-kira sepadan dengan yang umum dipakai seperti trickle-down effect dan multiplier effect. Dengan menggunakan model Social Accounting Matrix (SAM) ditemukan bahwa pengaruh pengeluaran wisatawan sangat signifikan terhadap denyut nadi perekonomian Bali, yang meliputi banyak sektor.

Secara kuantitatif dapat dilihat dari data yang Bappeda Bali, 2002. Tercatat, tahun 2001 sektor pariwisata menyumbang sebesar 33,19% dari Produk Domistik Regional Bruto (PDRB) Bali.

ada tahun 1998, dampak pengeluaran wisatawan terhadap pendapatan masyarakat mencapai 45,3% Sedangkan dampak dari investasi di sestor pariwisata 6,3%. Ini berarti bahwa secara keseluruhan, industri pariwisata menyumbang sebesar 51,6% terhadap pendapatan masyarakat Bali. Dilihat dari kesempatan kerja, pada 1998 sebesar 38% dari seluruh kesempatan kerja yang ada di Bali dikontribusikan oleh pariwisata.

Ekonom dari FE Unud, Dr. Nyoman Erawan pernah memaparkan, dari sisi pertumbuhan, sejak periode 1969 (Pelita I) sampai krisis ekonomi 1997 lalu, ternyata pertumbuhan ekonomi Bali cenderung terus meningkat dan relatif lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional, kecuali pada krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan 1997. Rata-rata pertumbuhan selama 30 tahun adalah 8,61%/tahun. Akibatnya, tingkat pendapatan penduduk daerah Bali meningkat dari Rp 16.032 pada awal Pelita I (1969) menjadi Rp 2,417 juta tahun 2000. Di mana pariwisata telah menjadi leading sector dengan implikasi dan multiplier effect-nya yang luas.

Namun, semua itu telah menjadi masa lalu. Dampak dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam tiga tahun terakhir menyebabkan pariwisata terpuruk. Sampai saat ini, arus kunjungan wisatawan ke Bali masih jauh dari normal. Secara ilmiah, tanpa disadari akhirnya terjadi pula seleksi alam. Hanya mereka yang berorientasi kualitas dan mempunyai komitmen tinggi saja akhirnya yang bisa bertahan. Mereka teruji.

Jadi dari sisi lain, berbagai peristiwa yang mengancam kepariwisataan Bali, termasuk pemberlakuan VoA 1 Februari 2004 akhirnya menjadi ujian tersendiri bagi siapa saja yang terlibat di sektor pariwisata. Meminjam istilah yang sedang in di dunia politik belakangan ini, ada juga pelaku dan pengusaha pariwisata yang "busuk". Mereka hanya ingin mengeruk keuntungan dari Bali tanpa mempedulikan persoalan apa yang sedang dihadapi. Di sinilah akhirnya terseleksi, mana yang "busuk" dan mana yang tidak.

Bukan rahasia lagi, tak sedikit para pelaku pariwisata atau pemilik modal yang hanya ikut-ikutan "numpang kereta" ketika pariwisata sedang booming. Kiprah para pelaku pariwisata seperti ini memang pantas diragukan, karena mereka hanya ingin mengeruk keuntungan ekonomi tanpa ikhtiar atau ikut memikirkan keberlanjutan pariwisata di Bali. Ketika pariwisata Bali sedang mengalami goncangan, merekalah yang paling pertama angkat kaki dan mengadu keberuntungan di tempat lain. Bali meman harus dibebaskan dari yang busuk-busuk. Gregorius

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)