Catatan
Pariwisata Sepekan---------------
Seleksi bagi
"Pengusaha Busuk"
Aset pariwisata Bali
sangat mengagumkan. Tercatat 128 hotel berbintang, 613
hotel melati, 330 home stay dengan total 33.000 kamar
tersebar di seluruh Bali. Tak ketinggalan 76 restoran, 686
rumah makan, 321 bar/kafe, 324 Biro Perjalanan Wisata (BPW),
66 Cabang BPW dan 4 APW. Data administratif ini memang
tidak lagi mencerminkan situasi real di lapangan, karena
banyak di antaranya sudah gulung tikar. Namun begitulah
kira-kira gambaran sebagian aset pariwisata Bali di luar
objek wisata yang selama ini diandalkan Bali.
----------------------
Kesemuanya sungguh
memperlihatkan betapa kayanya Bali sebagai sebuah
destinasi yang lumayan komplit. Dibalik itu terdapat
geliat kehidupan yang menyeret ratusan ribu warga yang
terlibat di dalamnya. Tercatat, 39.085 karyawan hotel,
12.868 orang di antaranya berpendidikan khusus, sementara
guide yang berlisensi tercatat 6.344 orang. Belum termasuk
yang terlibat di sejumlah perusahaan transportasi wisata,
rumah makan, kafe dan perusahaan lainnya. Angka yang
paling demokrat sekitar 400 ribu dari total angkatan kerja
di Bali berkecimpung di sektor pariwisata.
Sebagaimana kerap
diungkapkan para ekonom, pariwisata mempunyai keterkaitan
ekonomi yang sangat erat dengan banyak sektor, melalui apa
yang disebut open-loop effect dan induced-effect. Istilah
ini kira-kira sepadan dengan yang umum dipakai seperti
trickle-down effect dan multiplier effect. Dengan
menggunakan model Social Accounting Matrix (SAM) ditemukan
bahwa pengaruh pengeluaran wisatawan sangat signifikan
terhadap denyut nadi perekonomian Bali, yang meliputi
banyak sektor.
Secara kuantitatif
dapat dilihat dari data yang Bappeda Bali, 2002. Tercatat,
tahun 2001 sektor pariwisata menyumbang sebesar 33,19%
dari Produk Domistik Regional Bruto (PDRB) Bali.
ada tahun 1998,
dampak pengeluaran wisatawan terhadap pendapatan
masyarakat mencapai 45,3% Sedangkan dampak dari investasi
di sestor pariwisata 6,3%. Ini berarti bahwa secara
keseluruhan, industri pariwisata menyumbang sebesar 51,6%
terhadap pendapatan masyarakat Bali. Dilihat dari
kesempatan kerja, pada 1998 sebesar 38% dari seluruh
kesempatan kerja yang ada di Bali dikontribusikan oleh
pariwisata.
Ekonom dari FE Unud,
Dr. Nyoman Erawan pernah memaparkan, dari sisi pertumbuhan,
sejak periode 1969 (Pelita I) sampai krisis ekonomi 1997
lalu, ternyata pertumbuhan ekonomi Bali cenderung terus
meningkat dan relatif lebih tinggi dari pertumbuhan
ekonomi nasional, kecuali pada krisis ekonomi yang terjadi
pada pertengahan 1997. Rata-rata pertumbuhan selama 30
tahun adalah 8,61%/tahun. Akibatnya, tingkat pendapatan
penduduk daerah Bali meningkat dari Rp 16.032 pada awal
Pelita I (1969) menjadi Rp 2,417 juta tahun 2000. Di mana
pariwisata telah menjadi leading sector dengan implikasi
dan multiplier effect-nya yang luas.
Namun, semua itu
telah menjadi masa lalu. Dampak dari berbagai peristiwa
yang terjadi dalam tiga tahun terakhir menyebabkan
pariwisata terpuruk. Sampai saat ini, arus kunjungan
wisatawan ke Bali masih jauh dari normal. Secara ilmiah,
tanpa disadari akhirnya terjadi pula seleksi alam. Hanya
mereka yang berorientasi kualitas dan mempunyai komitmen
tinggi saja akhirnya yang bisa bertahan. Mereka teruji.
Jadi dari sisi lain,
berbagai peristiwa yang mengancam kepariwisataan Bali,
termasuk pemberlakuan VoA 1 Februari 2004 akhirnya menjadi
ujian tersendiri bagi siapa saja yang terlibat di sektor
pariwisata. Meminjam istilah yang sedang in di dunia
politik belakangan ini, ada juga pelaku dan pengusaha
pariwisata yang "busuk". Mereka hanya ingin
mengeruk keuntungan dari Bali tanpa mempedulikan persoalan
apa yang sedang dihadapi. Di sinilah akhirnya terseleksi,
mana yang "busuk" dan mana yang tidak.
Bukan rahasia lagi,
tak sedikit para pelaku pariwisata atau pemilik modal yang
hanya ikut-ikutan "numpang kereta" ketika
pariwisata sedang booming. Kiprah para pelaku pariwisata
seperti ini memang pantas diragukan, karena mereka hanya
ingin mengeruk keuntungan ekonomi tanpa ikhtiar atau ikut
memikirkan keberlanjutan pariwisata di Bali. Ketika
pariwisata Bali sedang mengalami goncangan, merekalah yang
paling pertama angkat kaki dan mengadu keberuntungan di
tempat lain. Bali meman harus dibebaskan dari yang
busuk-busuk. Gregorius
|