kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 24 Januari 2004

 Tajuk Rencana


Pemilu harus Memberi Manfaat Ekonomi

Menarik imbauan Megawati di tengah semakin panasnya suhu politik jelang Pemilu 2004. Saat Rakernas IX PDI Perjuangan di Wisma Kinasih, Sukabumi, Jawa Barat, Mega meminta seluruh kader PDI Perjuangan untuk bersikap low profile (rendah hati). Mereka juga diminta menjalankan kampanye sesuai dengan ketentuan yang sudah digariskan. Imbauan Mega itu tampaknya terkait dengan peringatan Panwaslu, menyusul kegiatan-kegiatan PDI Perjuangan yang menggeber massa mencapai puluhan ribu di Solo. Walaupun terkesan terlambat, namun imbauan tersebut sangat penting di tengah gejolak politik yang kian memanas.

Tak hanya Mega, hal serupa mestinya juga dilakukan elite-elite parpol untuk menjadikan bangsa ini lebih kondusif dalam menghadapi pesta lima tahunan. Apa lagi banyak yang memprediksi pemilu mendatang akan menghadapi berbagai tantangan yang berujung pada penggagalan pemilu. Setidaknya hal itu sempat diingatkan oleh Kasad Ryamizard Ryacudu dan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono.

Imbauan Mega maupun peringatan para petinggi di jajaran keamanan itu penting dicamkan oleh elite parpol utamanya lagi para calon legislatif. Sebab, merekalah yang kini ''memiliki'' massa di akar rumput. Sehingga hitam-putihnya situasi menjelang pemilu ini sangat ditentukan oleh mereka yang berebut kursi sebagai wakil rakyat.

Apalagi kini muncul rumor, bahwa masyarakat akan mendukung partai atau caleg yang langsung memberi manfaat misalnya uang atau bantuan lainnya. Pemikiran seperti ini dilatarbelakangi kekecewaan rakyat terhadap wakil rakyat yang hanya janji-janji. Ketika kamapanye dulu, mereka menjanjikan serba murah, semua serba gratis, tak ada KKN dll-nya. Namun nyatanya sama saja. Rakyat tetap miskin, sementara wakil rakyat sibuk dengan diri sendiri serta kelompoknya. Atas pengalaman itu, paradigma masyarakat terhadap Pemilu jadi berubah. Mereka beranggapan, Pemilu takkan mengubah nasib mereka. Pemilu hanya memberi peluang orang atau kader partai untuk cari pekerjaan. Itu saja. Sehingga tak berlebihan kalau masyarakat langsung meminta imbalan atas suara yang diberikan.

Memang tidak semua rakyat seperti itu. Banyak yang masih berharap Indonesia akan lebih baik di masa datang. Mereka juga tetap berharap akan muncul pemimpin-pemimpin bangsa yang peduli dengan rakyat, bangsa dan negara. Saat ini masyarakat sudah semakin kritis. Mereka dapat melihat mana pemimpin yang benar dan baik yang dapat memberikan harapan buat mereka. Jadi jangan berpikir bahwa semua rakyat dapat dibeli. Pemilu 2004 harus dapat memberikan nilai ekonomis bagi seluruh masyarakat sehingga semua capres dan caleg harus berpikir untuk menciptakan Pemilu yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi. Jadi suksesnya Pemilu juga diukur dari ada tidaknya peningkatkan kualitas ekonomi masyarakat dimasa datang.

Maraknya gerakan anti politisi busuk juga merupakan salah satu bentuk protes masyarakat. Di tengah ramainya isu mengenai politisi busuk, aksi-aksi yang mengundang simpati hati rakyat itu juga mendapat sorotan publik. Langkah anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Anas Urbaningrum sudah memberikan teladan yang elegan. Karena merasa tidak tenang setelah mendapat mobil baru dari KPU, Anas mengembalikan mobil itu kepada institusi tempat dia kini sedang bekerja. Anas bukanlah orang parpol yang sedang berkampanye tapi tindakannya telah mendapat simpati banyak pihak. Di tengah suasana politik uang yang gegap gempita menjelang Pemilu seperti sekarang ini, rakyat lebih membutuhkan teladan aksi.

Kampanye anti politisi busuk agaknya juga memberikan peluang yang lebih baik bagi politisi baru yang terjun ke gelanggang politik untuk meraih suara banyak dalam Pemilu mendatang. Mereka relatif belum dikenal oleh publik sehingga cacat moral mereka belum tercatat oleh ingatan publik.

Namun hal itu tak menjamin seratus persen bahwa mereka bersih. Sebab banyaknya caleg yang memalsu ijazah ketika mengajukan berkas-berkas ke KPU mengindikasikan bahwa politisi busuk bisa juga terjadi pada caleg-caleg yang baru terjun ke dunia politik.

Banyaknya persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia mengindikasikan bahwa upaya perbaikan mesti terus dilakukan. Jadi apa yang diharapkan Mega agar para politisi rendah hati, sangat pas untuk dilaksanakan. Sebab masyarakat tak lagi ingin wacana, slogan, hujatan, dan saling cari kesalahan. Masyarakat ingin langkah nyata dalam memperbaiki bangsa yang semakin lama semakin tak menentu ini.

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)