|
Pemilu
harus Memberi Manfaat Ekonomi
Menarik
imbauan Megawati di tengah semakin panasnya suhu politik
jelang Pemilu 2004. Saat Rakernas IX PDI Perjuangan di
Wisma Kinasih, Sukabumi, Jawa Barat, Mega meminta seluruh
kader PDI Perjuangan untuk bersikap low profile (rendah
hati). Mereka juga diminta menjalankan kampanye sesuai
dengan ketentuan yang sudah digariskan. Imbauan Mega itu
tampaknya terkait dengan peringatan Panwaslu, menyusul
kegiatan-kegiatan PDI Perjuangan yang menggeber massa
mencapai puluhan ribu di Solo. Walaupun terkesan terlambat,
namun imbauan tersebut sangat penting di tengah gejolak
politik yang kian memanas.
Tak
hanya Mega, hal serupa mestinya juga dilakukan elite-elite
parpol untuk menjadikan bangsa ini lebih kondusif dalam
menghadapi pesta lima tahunan. Apa lagi banyak yang
memprediksi pemilu mendatang akan menghadapi berbagai
tantangan yang berujung pada penggagalan pemilu.
Setidaknya hal itu sempat diingatkan oleh Kasad Ryamizard
Ryacudu dan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono.
Imbauan
Mega maupun peringatan para petinggi di jajaran keamanan
itu penting dicamkan oleh elite parpol utamanya lagi para
calon legislatif. Sebab, merekalah yang kini ''memiliki''
massa di akar rumput. Sehingga hitam-putihnya situasi
menjelang pemilu ini sangat ditentukan oleh mereka yang
berebut kursi sebagai wakil rakyat.
Apalagi
kini muncul rumor, bahwa masyarakat akan mendukung partai
atau caleg yang langsung memberi manfaat misalnya uang
atau bantuan lainnya. Pemikiran seperti ini
dilatarbelakangi kekecewaan rakyat terhadap wakil rakyat
yang hanya janji-janji. Ketika kamapanye dulu, mereka
menjanjikan serba murah, semua serba gratis, tak ada KKN
dll-nya. Namun nyatanya sama saja. Rakyat tetap miskin,
sementara wakil rakyat sibuk dengan diri sendiri serta
kelompoknya. Atas pengalaman itu, paradigma masyarakat
terhadap Pemilu jadi berubah. Mereka beranggapan, Pemilu
takkan mengubah nasib mereka. Pemilu hanya memberi peluang
orang atau kader partai untuk cari pekerjaan. Itu saja.
Sehingga tak berlebihan kalau masyarakat langsung meminta
imbalan atas suara yang diberikan.
Memang
tidak semua rakyat seperti itu. Banyak yang masih berharap
Indonesia akan lebih baik di masa datang. Mereka juga
tetap berharap akan muncul pemimpin-pemimpin bangsa yang
peduli dengan rakyat, bangsa dan negara. Saat ini
masyarakat sudah semakin kritis. Mereka dapat melihat mana
pemimpin yang benar dan baik yang dapat memberikan harapan
buat mereka. Jadi jangan berpikir bahwa semua rakyat dapat
dibeli. Pemilu 2004 harus dapat memberikan nilai ekonomis
bagi seluruh masyarakat sehingga semua capres dan caleg
harus berpikir untuk menciptakan Pemilu yang dapat
meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan
pribadi. Jadi suksesnya Pemilu juga diukur dari ada
tidaknya peningkatkan kualitas ekonomi masyarakat dimasa
datang.
Maraknya
gerakan anti politisi busuk juga merupakan salah satu
bentuk protes masyarakat. Di tengah ramainya isu mengenai
politisi busuk, aksi-aksi yang mengundang simpati hati
rakyat itu juga mendapat sorotan publik. Langkah anggota
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Anas Urbaningrum sudah
memberikan teladan yang elegan. Karena merasa tidak tenang
setelah mendapat mobil baru dari KPU, Anas mengembalikan
mobil itu kepada institusi tempat dia kini sedang bekerja.
Anas bukanlah orang parpol yang sedang berkampanye tapi
tindakannya telah mendapat simpati banyak pihak. Di tengah
suasana politik uang yang gegap gempita menjelang Pemilu
seperti sekarang ini, rakyat lebih membutuhkan teladan
aksi.
Kampanye
anti politisi busuk agaknya juga memberikan peluang yang
lebih baik bagi politisi baru yang terjun ke gelanggang
politik untuk meraih suara banyak dalam Pemilu mendatang.
Mereka relatif belum dikenal oleh publik sehingga cacat
moral mereka belum tercatat oleh ingatan publik.
Namun
hal itu tak menjamin seratus persen bahwa mereka bersih.
Sebab banyaknya caleg yang memalsu ijazah ketika
mengajukan berkas-berkas ke KPU mengindikasikan bahwa
politisi busuk bisa juga terjadi pada caleg-caleg yang
baru terjun ke dunia politik.
Banyaknya
persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia mengindikasikan
bahwa upaya perbaikan mesti terus dilakukan. Jadi apa yang
diharapkan Mega agar para politisi rendah hati, sangat pas
untuk dilaksanakan. Sebab masyarakat tak lagi ingin wacana,
slogan, hujatan, dan saling cari kesalahan. Masyarakat
ingin langkah nyata dalam memperbaiki bangsa yang semakin
lama semakin tak menentu ini.
|