kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 24 Januari 2004

 Nusantara


Perayaan Ultah Ke-57 Presiden Megawati ---
Acaranya sekitar 30 Menit, Biayanya Rp 300 Juta

Tidak tua, tidak muda. Tidak kaya, tidak miskin. Tidak orang kecil, tidak orang berpangkat. Acara peringatakan hari lahir atau ulang tahun (ultah) tentunya diharapkan punya kesan tersendiri.

PERAYAAN ultah ke-57 Presiden Megawati Soekarnoputri, Jumat (23/1) kemarin, berlangsung meriah. Namun, dugaan sementara kalangan bahwa Megawati yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan akan mencuri start kampanye dalam acara itu, tidak menjadi kenyataan.

Tak seperti acara-acara Presiden sebelumnya yang biasanya juga diikuti dengan pemasangan bendera atau spanduk berwarna merah, khas PDI Perjuangan, ternyata tidak demikian dengan acara ultahnya kali ini. Di sepanjang jalan lokasi acara di kawasan industri Jababeka, Ciakarng, Bekasi (Jawa Barat) hampir tak terlihat atribut itu. Para anggota satuan tugas (satgas) PDI Perjuangan yang biasanya turut melakukan pengawalan, kemarin pun tak tampak.

Di lokasi acara, yang dipusatkan di lapangan milik Plaza Jababeka, juga tak terlihat simbol-simbol PDI Perjuangan. Ribuan undangan yang hadir, sama sekali tidak mengenakan pakaian bercorak parpol tersebut. Tokoh PDI Perjuangan yang hadir pun hanya Wakil Sekjen Pramono Anung, Mangara Siahaan dan Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR Tjahjo Kumolo. Anggota kabinet, hadir dua menteri asal PDI Perjuangan yaitu Meneg BUMN Laksamana Sukardi dan Menakertrans Jacob Nuwa Wea. Sementara Menhut M. Prakosa serta Meneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie yang dikenal dekat dengan Megawati, tak tampak.

Mungkin -- jika mau dipaksakan -- hanya ada dua hal yang boleh dibilang bersinggungan dengan PDI Perjuangan, yaitu karpet berwarna merah dan para pemain band pengiring yang mengenakan pakaian dengan warna yang sama. Megawati yang didampingi suaminya, Taufiq Kiemas, dan anak-anaknya, termasuk putri kesayangannya, Puan Maharani, datang ke tempat perayaan tepat pukul 10.00 WIB dengan menumpang kendaraan pribadinya, Mercedes Benz biru bernomor polisi B 2870 BS.

Setelah sambutan selamat datang dari Presiden Direktur Kawasan Industri Jababeka Setiono Djiwandono Darmono, Megawati pun dipersilakan untuk memberikan pesan-pesannya. Megawati yang kemarin mengenakan baju batik hitm putih tanpa kerah langsung bergurau. ''Saya dengar katanya (saya) berusia 57 tahun. Padahal saya belum berumur 57 tahun... Saya baru berumur 27 plus...,'' kata Megawati yang disambut senyuman dan tawa hadirin.

''Tali Kasih''

Megawati yang dilahirkan di Yogyakarta dengan nama lengkap Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri kemudian mengaku secara pribadi sebenarnya ingin menyembunyikan usianya. Alasannya, menurut Megawati, seseorang jika sudah berusia di atas 50 tahun, sebenarnya setiap tahun umurnya bukan bertambah, melainkan justru berkurang. ''Jadi, tentunya sebenarnya, dalam perjalanannya, umur itu bukan bertambah, tetapi sebenarnya berkurang,'' kata Megawati.

Ada sedikit ''ketegangan'' antara awak pers dengan petugas. Para wartawan yang sejak awal sudah diwanti-wanti tidak boleh meliput, namun akhirnya diperkenankan masuk ke ruangan acara. Panitia juga melarang mengambil foto Mega, namun karena wartawan bersikerah, petugas pun menyerah.

Acara pun kemudian berlanjut dengan pemotongan tumpeng. Seperti biasa, Taufiq-lah yang mendapat potongan pertama, disusul dengan anggota keluarga lainnya serta para undangan yang diwakili oleh beberapa perwakilannya. Saat acara berlangsung, penyanyi dangdut ibu kota Cici Paramida memimpin para undangan untuk menyanyikan lagu ''Panjang Umur''.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian sekitar 5.000 bingkisan berpita merah, berukuran sebesar televisi 14 inci kepada masyarakat sekitar yang diwakili oleh 20 orang. Tak diperoleh keterangan apa isi bingikisan yang menurut istilah panitia disebut ''tali kasih'' itu. Para penerima bingkisan pun, enggan membuka bingkisan itu di lokasi acara.

Setelah acara yang hanya berlangsung sekitar 30 menit itu usai, Megawati kemudian menuju ke mobilnya untuk kembali ke kediamannya. Namun, tak seperti biasanya, Megawati kali ini bersikap di luar aturan protokoler. Saat akan memasuki mobilnya, Megawati menyambut dengan senyum teriakan masyarakat yang mengelu-elukan namanya. Bahkan, ajakan belasan warga yang ingin berjabat tangan dengannya pun, disambutnya. Kontan saja, sikap Megawati ini membuat aparat keamanan sibuk dan sedikit kerepotan. Seorang warga bahkan sempat menyerahkan sepucuk surat yang diberinya judul ''Surat untuk Ibu Megawati'' langsung ke tangan Presiden. Megawati pun langsung menyimpannya, sebelum kemudian memasuki mobilnya.

Lantas, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menggelar perhelatan itu? Menurut Presiden Direktur Kawasan Industri Jababeka Setiono Djiwandono Darmono yang menjadi tuan rumah, acara itu memakan biaya Rp 200-300 juta, yang semuanya berasal dari Megawati sendiri. ''Saya kurang jelas, mungkin sekitar 200-300 juta rupiah, termasuk bingkisan. Semuanya,'' kata Setiono. Setiono sendiri mengaku acara itu merupakan acara dadakan yang baru direncanakan 3-4 hari sebelumnya atas prakarsa orang kepercayaan Taufiq Kiemas, Tjahjo Kumolo.

''Tiga-empat hari lalu baru dikasih kabar, jadi dadakan,'' jelas Setiono yang mengaku bangga tempat bekerjanya dijadikan lokasi acara ultah Megawati. ''Ini promosi gratis buat kami.'' * darmawan s. sumardjo

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)