Perayaan Ultah Ke-57 Presiden Megawati ---
Acaranya
sekitar 30 Menit, Biayanya Rp 300 Juta
Tidak tua, tidak
muda. Tidak kaya, tidak miskin. Tidak orang kecil, tidak
orang berpangkat. Acara peringatakan hari lahir atau ulang
tahun (ultah) tentunya diharapkan punya kesan tersendiri.
PERAYAAN
ultah ke-57 Presiden Megawati Soekarnoputri, Jumat (23/1)
kemarin, berlangsung meriah. Namun, dugaan sementara
kalangan bahwa Megawati yang juga Ketua Umum DPP PDI
Perjuangan akan mencuri start kampanye dalam acara itu,
tidak menjadi kenyataan.
Tak seperti
acara-acara Presiden sebelumnya yang biasanya juga diikuti
dengan pemasangan bendera atau spanduk berwarna merah,
khas PDI Perjuangan, ternyata tidak demikian dengan acara
ultahnya kali ini. Di sepanjang jalan lokasi acara di
kawasan industri Jababeka, Ciakarng, Bekasi (Jawa Barat)
hampir tak terlihat atribut itu. Para anggota satuan tugas
(satgas) PDI Perjuangan yang biasanya turut melakukan
pengawalan, kemarin pun tak tampak.
Di lokasi acara,
yang dipusatkan di lapangan milik Plaza Jababeka, juga tak
terlihat simbol-simbol PDI Perjuangan. Ribuan undangan
yang hadir, sama sekali tidak mengenakan pakaian bercorak
parpol tersebut. Tokoh PDI Perjuangan yang hadir pun hanya
Wakil Sekjen Pramono Anung, Mangara Siahaan dan Ketua
Fraksi PDI Perjuangan DPR Tjahjo Kumolo. Anggota kabinet,
hadir dua menteri asal PDI Perjuangan yaitu Meneg BUMN
Laksamana Sukardi dan Menakertrans Jacob Nuwa Wea.
Sementara Menhut M. Prakosa serta Meneg Perencanaan
Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie yang
dikenal dekat dengan Megawati, tak tampak.
Mungkin -- jika mau
dipaksakan -- hanya ada dua hal yang boleh dibilang
bersinggungan dengan PDI Perjuangan, yaitu karpet berwarna
merah dan para pemain band pengiring yang mengenakan
pakaian dengan warna yang sama. Megawati yang didampingi
suaminya, Taufiq Kiemas, dan anak-anaknya, termasuk putri
kesayangannya, Puan Maharani, datang ke tempat perayaan
tepat pukul 10.00 WIB dengan menumpang kendaraan
pribadinya, Mercedes Benz biru bernomor polisi B 2870 BS.
Setelah sambutan
selamat datang dari Presiden Direktur Kawasan Industri
Jababeka Setiono Djiwandono Darmono, Megawati pun
dipersilakan untuk memberikan pesan-pesannya. Megawati
yang kemarin mengenakan baju batik hitm putih tanpa kerah
langsung bergurau. ''Saya dengar katanya (saya) berusia 57
tahun. Padahal saya belum berumur 57 tahun... Saya baru
berumur 27 plus...,'' kata Megawati yang disambut senyuman
dan tawa hadirin.
''Tali Kasih''
Megawati yang
dilahirkan di Yogyakarta dengan nama lengkap Dyah Permata
Megawati Setyawati Soekarnoputri kemudian mengaku secara
pribadi sebenarnya ingin menyembunyikan usianya. Alasannya,
menurut Megawati, seseorang jika sudah berusia di atas 50
tahun, sebenarnya setiap tahun umurnya bukan bertambah,
melainkan justru berkurang. ''Jadi, tentunya sebenarnya,
dalam perjalanannya, umur itu bukan bertambah, tetapi
sebenarnya berkurang,'' kata Megawati.
Ada sedikit ''ketegangan''
antara awak pers dengan petugas. Para wartawan yang sejak
awal sudah diwanti-wanti tidak boleh meliput, namun
akhirnya diperkenankan masuk ke ruangan acara. Panitia
juga melarang mengambil foto Mega, namun karena wartawan
bersikerah, petugas pun menyerah.
Acara pun kemudian
berlanjut dengan pemotongan tumpeng. Seperti biasa,
Taufiq-lah yang mendapat potongan pertama, disusul dengan
anggota keluarga lainnya serta para undangan yang diwakili
oleh beberapa perwakilannya. Saat acara berlangsung,
penyanyi dangdut ibu kota Cici Paramida memimpin para
undangan untuk menyanyikan lagu ''Panjang Umur''.
Acara kemudian
dilanjutkan dengan pembagian sekitar 5.000 bingkisan
berpita merah, berukuran sebesar televisi 14 inci kepada
masyarakat sekitar yang diwakili oleh 20 orang. Tak
diperoleh keterangan apa isi bingikisan yang menurut
istilah panitia disebut ''tali kasih'' itu. Para penerima
bingkisan pun, enggan membuka bingkisan itu di lokasi
acara.
Setelah acara yang
hanya berlangsung sekitar 30 menit itu usai, Megawati
kemudian menuju ke mobilnya untuk kembali ke kediamannya.
Namun, tak seperti biasanya, Megawati kali ini bersikap di
luar aturan protokoler. Saat akan memasuki mobilnya,
Megawati menyambut dengan senyum teriakan masyarakat yang
mengelu-elukan namanya. Bahkan, ajakan belasan warga yang
ingin berjabat tangan dengannya pun, disambutnya. Kontan
saja, sikap Megawati ini membuat aparat keamanan sibuk dan
sedikit kerepotan. Seorang warga bahkan sempat menyerahkan
sepucuk surat yang diberinya judul ''Surat untuk Ibu
Megawati'' langsung ke tangan Presiden. Megawati pun
langsung menyimpannya, sebelum kemudian memasuki mobilnya.
Lantas, berapa biaya
yang harus dikeluarkan untuk menggelar perhelatan itu?
Menurut Presiden Direktur Kawasan Industri Jababeka
Setiono Djiwandono Darmono yang menjadi tuan rumah, acara
itu memakan biaya Rp 200-300 juta, yang semuanya berasal
dari Megawati sendiri. ''Saya kurang jelas, mungkin
sekitar 200-300 juta rupiah, termasuk bingkisan. Semuanya,''
kata Setiono. Setiono sendiri mengaku acara itu merupakan
acara dadakan yang baru direncanakan 3-4 hari sebelumnya
atas prakarsa orang kepercayaan Taufiq Kiemas, Tjahjo
Kumolo.
''Tiga-empat hari
lalu baru dikasih kabar, jadi dadakan,'' jelas Setiono
yang mengaku bangga tempat bekerjanya dijadikan lokasi
acara ultah Megawati. ''Ini promosi gratis buat kami.'' *
darmawan s. sumardjo
|