UE
Hentikan Impor Ayam dari Thailand
Bangkok -
Uni Eropa Jumat (23/1) kemarin menghentikan impor ayam
dari Thailand menyusul wabah flu burung di Asia Timur dan
Tenggara. Organisasi Pertanian dan Pangan (FAO) kemarin
juga mengumumkan wabah flu burung telah sampai Kamboja.
Sementara di Thailand seorang pasien yang diduga terkena
penyakit flu burung, meninggal dunia.
Komisi Eropa dalam
pernyataan yang dikeluarkan kemarin, mengatakan melarang
impor ternak dan produk ternak dari Thailand. Meskipun
resiko virus di daging atau produk daging kemungkinan
rendah, Komisi ingin meyakinkan bahwa kemungkinan
transmisi harus dihindarkan.
Kementrian Pertanian
Thailand kemarin mengakui penyakit flu burung mulai
menjangkiti industri ternaknya. Bangkok juga telah
mengambil sikap dini dengan memerintah penundaan
keseluruhan eskpor ternak yang nilainya multi milyar dolar
AS.
Thailand merupakan
satu-satunya negara Asia yang mendapat ijin memasok daging
dan produk daging ayam ke Eropa. Jepang merupakan importir
terbesar dan Eropa menempati peringkat kedua, dari
Thailand.
PM Thaksin
Shinawatra meminta warga untuk tenang dan kepanikkan yang
terjadi tidak akan mempengaruhi pasar bursa. "Ini
hanya efek jangka pendek dan bursa sangat sensitif dengan
faktor psikologis. Sektor yang paling terkena pukulan
adalah industri peternakan," ungkap Thaksin yang
Selasa lalu memelopori kampanye makan ayam.
Menanggapi tentang
keputusan pemerintah untuk melarang ekspor ayam, deputi
Menteri Pertanian Newin Chidchob memperjelas bahwa tidak
ada larangan resmi. Namun pemerintah mengharap konsumen
ayam Thailand menghentikan impornya."Ini tergantung
negara pengimpor. Apapun kebijakan yang mereka ambil,
tergantung mereka sendiri. Kita tidak bisa memaksa mereka,"
katanya.
Kemarin seorang
jagal ayam meninggal akibat sakit pneumonia. Semula pria
itu diduga terjangkit virus H5N1 yang menyebabkan sakit
flu burung. Karena terkait dengan profesinya, ia selalu
berhubungan langsung dengan ayam-ayam yang dipotong.
Sebelumnya Menteri
Kesehatan Thailand Sudarat Keyuraphan menjelaskan penyakit
flu burung dideteksi menjangkiti dua anak dari propinsi
Thailand barat. Namun di daerah itu dideteksi terjadi
wabah kolera dan bronkitis ayam, bukan flu burung.
Sudarat menambahkan
pasien ketiga tengah diuji terjangkit flu burung atau
tidak. Hasil penelitian itu akan terungkap dalam beberapa
hari kemudian. Namun warga yang pernah kontak badan dengan
anak-anak itu dikarantina 10 hari dan menjalani penelitian.
Laporan Kementrian
Pertanian menyebutkan penelitian kini dilakukan terhadap
peternakan ayam di 16 propinsi. Tim akan
memisahkan-misahkan 7 juta ayam yang kemungkinan
terjangkit terkena virus H5N1 itu. Propinsi Suphan Buri
merupakan wilayah yang paling parah terjangkit wabah itu.
Kamboja
Sementara itu FAO
dalam laporannya kemarin menyatakan sejumlah peternakan
ayam di luar ibukota Kamboja, Phnom Penh, terjangkit virus
H5N1 yang menyebabkan penyakit flu burung. "Wabah flu
burung telah terjadi di Kamboja. Kini tinggal menunggu
pernyataan pemerintah tentang adanya wabah ini," kata
juru bicara FAO.
Tim peneliti Kamboja
telah mengirim sampel yang diduga terkena penyakit itu, ke
Prancis. Dalam sampel yang diambil dari peternakan ayam di
luar Phnom Penh, ditemukan virus H5N1, isi laporan FAO
itu.(yud/afp)
|