Ahli
Desain, Kelemahan Industri TPT Bali
Denpasar
(Bali Post) -
Kelemahan mendasar yang ada pada pengusaha TPT (tekstil
dan produk tekstil) Bali adalah tidak dimilikinya tenaga
ahli untuk melakukan design dan product development
management. Padahal selama ini sebagian besar produknya
diekspor ke mancanegara.
Hal tersebut
disampaikan Dewan Penasehat DPD Asosiasi Pertekstilan
Indonesia (API) Bali Putu Antara dan Kepala Dinas
Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bali I K.G.
Mendra, S.E., di kantornya, Jumat (23/1) kemarin. Putu
Antara menyatakan permasalahan pertekstilan di Bali sangat
kompleks. Namun demikian, dia menilai industri TPT di Bali
masih bisa bertahan menghadapi pembebasan kuota 2005.
Dikatakannya, meski memiliki berbagai kekurangan, industri
TPT Bali sebenarnya memiliki kekuatan yang bisa dijadikan
modal utama untuk bersaing di pasar TPT global. Salah
satunya dengan mengandalkan image Bali yang memang sudah
terkenal di dunia.
Disamping
memanfaatkan image Bali, produk-produk TPT Bali yang
diekspor umumnya memiliki kekhasan atau daya tarik
tersendiri. Kreativitas maupun pengembangan teknologi dan
riset produk, menurut Antara, merupakan bagian-bagian
produksi yang harus dimiliki pengusaha TPT Bali bila mau
bersaing dalam era bebas kuota. ''Pengusaha TPT harus
memiliki tenaga ahli untuk melakukan design dan product
development management. Paling tidak pengusaha harus paham
perkembangan mode yang ada di dunia dengan cara mengikuti
pameran-pameran produk,'' katanya.
Selama ini Antara
melihat jumlah pengusaha TPT di Bali yang mau aktif dan
mengikuti perkembangan serta berinvestasi dalam bidang
research and development masih sangat sedikit. Dia
mengamati kebanyakan dari perusahaan-perusahaan garmen
yang berkembang di Bali hanya menunggu dan melakukan
order. Selain itu berdasarkan pengamatannya, pengusaha
garmen di Bali juga belum banyak yang menjalankan usaha di
bidang retail. Padahal dengan melakukan penjualan secara
ritel pengusaha dapat melihat secara langsung reaksi pasar
dan dengan mudah akan mengetahui keinginan pasar.
Kuota Satu
Persen
Mendra menambahkan,
tidak sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Bali
memperoleh kuota TPT tambahan sebesar satu persen. Jatah
tambahan yang diberikan pusat ini nantinya akan dibagi
secara merata kepada seluruh pengusaha TPT yang ada di
Bali. Jadi pada 2004 ini setiap pengusaha akan memperoleh
tambahan dari pembagian kuota satu persen, disamping jatah
pengusaha tersebut karena kinerja perusahaannya.
Menurutnya,
pemberian jatah tambahan pada tahun terkahir
diberlakukannya kuota TPT ini merupakan prestasi
tersendiri bagi Bali. Itu artinya, Bali dianggap telah
berhasil memenuhi kuota-kuota yang selama ini diberikan
oleh negara-negara tertentu. ''Tambahan satu persen
tersebut merupakan perhatian pemerintah pusat dan
keberhasilan pengusaha TPT di Bali dalam memenuhi kuota
yang selama ini diberikan,'' katanya.
Dijelaskan Mendra,
selama ini yang memberikan kuota untuk pengusaha TPT di
Bali adalah Amerika Serikat (AS), Kanada, Uni Eropa, dan
Turki. Persentase terbesar dari keseluruhan kuota tersebut
berasal dari AS. Jumlah kuota yang diberikan ke
masing-masing pengusaha ditentukan atas dasar keberhasilan
pengusaha tersebut memenuhi kuota tahun sebelumnya. Sampai
saat ini, ungkap Mendra, dilihat dari sedikitnya pengusaha
yang mengembalikan kuota mereka, pengusaha-pengusaha Bali
masih bisa dikategorikan berhasil memenuhi kuota. (iah)
|