kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 24 Januari 2004

 Bali


Kelangkaan Pupuk di Bali ----

Diduga Ulah Oknum Pejabat Pusat

Denpasar (Bali Post) -
Menipisnya persediaan pupuk Urea Pusri di Bali sudah diprediksi sejak setahun lalu. Kondisi ini disebabkan pemerintah pusat yang mengganti pupuk Pusri dengan pupuk Kaltim. Akibatnya terjadi kelangkaan pupuk di pasaran. Sementara pihak PT Pupuk Kaltim sendiri belum siap mendistribusikan pupuknya ke Bali.

Ketua Komisi B, Made Wirya dan anggotanya Adenan, S.E. mengatakan hal itu, Jumat (23/1) kemarin di DPRD Bali. Wirya mengemukakan, pihaknya akan berjuang ke pusat bersama Pemprop Bali untuk mengkaji ulang kebijakan tersebut. Sebab kebijakan itu sangat merugikan petani Bali. ''Kami akan berjuang agar Pusri bisa kembali mendistribusikan pupuk ke Bali,'' katanya.

Pasalnya, selain PT Pupuk Kaltim belum mampu menyiapkan pupuk, juga petani Bali belum terbiasa dengan pupuk baru. Bila diganti dengan pupuk Kaltim akan menyebabkan gudang-gudang pupuk Pusri yang tersebar di seluruh Bali menjadi mubazir.

Menurutnya, kebijakan pemerintah pusat mengganti pupuk Pusri dengan pupuk Kaltim itu semata-mata agar produksi pupuk itu meningkat. Namun kenyataannya Pupuk Kaltim tak mampu memenuhi pasokan untuk petani di Jawa Timur, sebagian Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya. Setelah ditarik, pupuk Pusri hanya diperuntukkan memenuhi kebutuhan pupuk di Sumatera. Sedangkan Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah dilayani PT Petrokimia Gresik. Dengan penarikan itu, otomatis jatah pupuk untuk Bali, Jawa Timur dan NTB diekspor ke sejumlah negara ASEAN seperti Thailand dan Vietnam. Bagi PT Pupuk Pusri sendiri, hal ini jelas memberikan keuntungan yang lebih tinggi ketimbang menyediakan pupuk kepada petani di Bali dan sejumlah daerah lain yang mesti disubsidi.

Pejabat Bermain

Atas pertanyaan, Wirya membenarkan ada indikasi sejumlah pejabat pusat yang mengatur masalah ini. Oknum itu bermain dengan manajemen PT Pupuk Pusri demi mengejar keuntungan lebih besar. Akibat kebijakan itu, justru petani Bali yang dirugikan. ''Saya akui kebijakan pembagian wilayah distribusi pupuk ini sangat merugikan Bali,'' tegasnya. Komisi B sendiri sejak setahun lalu sudah menyampaikan masalah ini kepada PT Pupuk Pusri langsung ke Palembang. Namun kenyataannya keluhan Dewan itu tak digubris. ''Kebijakan ini jelas sangat berdampak negatif kepada masyarakat khususnya petani,'' ucapnya.

Dia khawatir kebijakan ini akan berdampak pada partai pemenang pemilu. ''Partai kan organisasi massa yang didukung banyak orang termasuk di dalamnya petani yang perlu mendapat pelayanan,'' ujarnya. Jika pelayanan kurang memuaskan, otomatis ini akan berpengaruh pada citra partai.

Sebelumnya Ketua Forum Distributor Pupuk Bali, Drs. Ketut Mardanta, mengeluhkan kelangkaan pupuk tersebut. Petani di Bali sudah menjerit sejak tiga minggu belakangan ini karena minimnya pasokan pupuk dari PT Pusri ke Bali. Akibatnya kebutuhan petani Bali tiap harinya 3.000 ton hanya mampu terpenuhi 20 persen. (029)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)