kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Paing, 11 Mei 2003 tarukan valas
 

BERITA


Lawak Bali, Dadab-Kiul ke Petruk-Dolar

Pentas lawak ala Bali bakal menggebrak lagi. Setidaknya, ini bisa ditunggu pada pergelaran bertajuk "Gerr 2003" atas prakarsa Paguyuban Lawak Bali dan Bali TV, Selasa (13/5) mendatang di Taman Budaya Denpasar. Pentas penuh "hahahihi" ini menjadi perpanjangan tradisi pentas lawak Bali yang belakangan amat diminati penonton. Dari mana sesungguhnya lawak ala Bali ini mengakar?

LAWAK Bali sudah menemukan format pementasan yang khas. Jika ada selentingan komentar dari sejumlah pihak yang menyebut bahwa "bentuk" lawak ala Bali ini mengambil inspirasi dari pentas gaya Srimulat yang sudah "menasional" itu, hal ini langsung bisa ditampik.

Jika dirunut ke belakang, lawak Bali ini jelas lahir dari perjalanan atau perkembangan seni pertunjukan tradisional Bali itu sendiri. Tak bisa disangkal, kontribusi seni bebondresan serta drama gong amat terasa pada bentukan lawak Bali. Dua genre seni tradisional Bali tersebut amat bisa dilacak keberadaannya pada performance lawak Bali. Sejumlah elemen hingga serpih-serpih kecil atmosfir bebondresan dan drama gong masuk ke format lawak Bali dengan disadari atau tidak oleh seniman pelakunya.

Apa sesungguhnya yang mendorong lahirnya lawak Bali? Yang utama, tentu akibat perkembangan kebutuhan massa akan bentuk-bentuk hiburan belakangan ini. Kebutuhan yang muncul ketika massa benar-benar haus akan hiburan yang membuat hati senang, enjoy, bisa hilangkan stres, bisa legakan pikiran, dan bisa dilahap segera bagai fast food. Dari sini pula lawak Bali, dengan sendirinya, kian menemukan wilayah geraknya. Dari sini pula, ikon-ikon dalam dunia lawak Bali mencuat. Jika sebelumnya mencuat ikon semisal "pasangan" Dadab dan Kiul, kini populer ikon berikutnya yakni Petruk dan Dolar. Ikon ini, tentu saja, masih diramaikan oleh individu-individu lain yang tak populer seperti Ayu Maenah, Cedil, Komang Apel, dan seterusnya.

Adalah Paguyuban Lawak Bali (PLB) yang dikomandani AA Oka Suci, kemudian menjadi wadah para pelawak Bali yang notabene sebagian besar juga pemain drama gong itu. Tak pelak, sejak beberapa tahun terakhir ini, lewat wadah tersebut, lawak Bali makin sering digelar. Penonton kian meminati. Tema-tema cerita yang diusung beragam dan selalu mengutamakan isu-isu aktual yang terjadi di tengah masyarakat. Sebutlah salah satu tema yang sempat diangkat PLB beberapa waktu silam seputar terorisme, dalam pentas berjudul "Petruk Dadi Teroris", ketika masih hangat-hangatnya masyarakat Bali (dan dunia) bicara soal bom Bali.

Dengan begitu, tak bisa dipungkiri, bentuk lawak Bali ini akan menjadi genre tersendiri kelak dalam peta besar kesenian Bali. Betapa tidak? Namun, pertanyaan yang kemudian banyak terlontar, mampukah lawak ala Bali ini "menasional" sebagaimana sosok lawakan model Srimulat atau Ketoprak Humor -- dua bentuk pertunjukan yang sama-sama berangkat dari seni tradisi? Mungkin hanya waktu yang akan mampu menjawabnya.

Soal wacana "menasional" ini, komentar Ayu "Made Jaya" Maenah -- salah satu ikon lawak Bali kini -- pantas digarisbawahi. Bagi dia, hal itu semata-mata disebabkan ketidakseriusan seniman Bali untuk mempersiapkan diri tampil di tingkat nasional. Di samping itu, juga belum ada sponsor yang membiayai. Menurut dia lagi, lawak Bali bisa "menasional" jika seniman pelakunya mampu bersatu mengembangkan kesenian ini.

Jadi, kuncinya hanya satu, lawak Bali ini mesti dimatangkan lagi. Artinya, jati dirinya mesti dimampatkan lagi, sebagaimana musik pop Bali yang juga masih menggapai-gapai dalam pergulatan pembentukan jati dirinya. Perjalanan akan menggariskan, sejarah akan mencatat. Lawak Bali, pada akhirnya akan lebih banyak berhadapan pada "seleksi" kualitas. Dalam wilayah perlawakan, tentu kualitas lawakan yang memadai akan banyak dituntut. Para pelawak mesti banyak belajar, banyak membaca, banyak menangkap gejala, agar tak ketinggalan zaman. Jika lawakan ternyata lebih sering stereotipe, murahan, konyol, tidak cerdas, tidak intelek dalam hal-hal tertentu, penonton akan pergi. Apa boleh buat.

Mampukah para pelawak Bali membuktikannya dalam pergelaran "Gerr 2003" di Taman Budaya Denpasar, Selasa (13/5) nanti? Mampukah PLB menyuguhkan gerr yang tidak sekadar tawa sesaat, tapi tawa yang penuh gizi? * Gus Martin

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com