kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 8 Maret 2003

 Budaya


Wayang Kamasan

SIAPAKAH yang pertama kali menciptakan wayang? Di manakah pertama kali "gambar" tokoh-tokoh wayang itu lahir? Apakah di Jawa atau di Bali? Saya sering terusik oleh pertanyaan ini, tetapi tak pernah menemukan jawaban yang memuaskan.

Cobalah kita pikirkan, tokoh-tokoh yang ada dalam epos Mahabharata dan Ramayana, misalnya, pertama-tama tentu kita bayangkan wajahnya dari cerita tertulis yang berupa sloka, syair, maupun yang sudah berbentuk prosa. Arjuna itu ganteng dan lembut, Bima itu keras dan tegap, Duryodana sombong dan beringas. Begitu pula karakter pada epos Ramayana, Rama itu ganteng dan lembut, Rahwana itu keras, beringas dan berwajah raksasa. Tetapi, siapa yang pertama kali menggambar secara visual karakter-karakter itu menjadi wayang, sehingga apa yang kita kenal selama ini menjadi sesuatu yang seragam? Pasti ada, kalau tidak kita akan menemukan Arjuna yang berbeda-beda di setiap wilayah.

Mungkin wayang itu lahir di Jawa, barangkali masa-masa Kerajaan Majapahit atau sebelum itu. Kemudian dibawa ke Bali dengan sedikit-sedikit mengalami perubahan pada wajah, konon lebih disesuaikan dengan gambaran manusia, sementara wayang di Jawa lebih pada simbol-simbol. Nah, ketika ada perubahan di Bali, siapa yang menciptakan Arjuna, Bima, Rahwana dan semuanya itu? Pasti ada orang atau sebuah komunitas tertentu yang melakukannya dengan serius. Dari orang (atau komunitas) ini menyebar ke seluruh Bali. Kalau tidak demikian, bagaimana mungkin keseragaman itu terjadi. Jangan-jangan Arjuna di Gianyar berbeda dengan Arjuna di Tabanan.

Kita tidak bisa melacak hal-hal begini karena memang kesadaran kita di masa lalu kurang dalam hal dokumentasi. Namun, satu hal yang pasti adalah kita sebagai penikmat seni dan budaya, sangat fanatik pada penggambaran seperti yang sudah ada itu. Kita tak bisa menerima kalau misalnya Bima tiba-tiba menjadi tokoh yang lembek, apalagi menjadi tokoh yang kalah. Bima harus selalu perkasa dan harus selalu menang.

Di Jawa, fanatisme itu bahkan lebih tinggi daripada Bali. Para pelukis wayang di Jawa tidak mau menggambar tokoh wayang dengan tiga dimensi. Ia selalu menggambar dengan satu sisi saja, ya... seperti yang ada pada wayang kulit itu. Bagaimana pun modernnya situasi yang mau digambar, jika ada tokoh wayang di sana, wayang itu tetap digambar satu sisi seperti wayang kulit.

Saya pernah akrab dengan seorang pelukis kaca dari Muntilan, yang gambar-gambarnya sering menyindir situasi terakhir. Misalnya ada Semar dan anak-anaknya Gareng, Petruk, Bagong menonton televisi. Pada layar televisi tidak diisi cat apa pun sehingga tetap transparan. Di situ tinggal ditempel gambar yang dikehendaki, kalau dipasang gambar adegan film, nampak keluarga Semar lagi menonton sinetron. Saya kemudian minta versi lain, bukan keluarga Semar tetapi keluarga Pandawa yang seolah-olah menonton televisi. Pelukis itu mau membuatnya. Tetapi, ketika seminggu kemudian saya mengambilnya, Pandawa yang di lukisan kaca itu tetap saja berjejer seperti jejeran wayang kulit, bukan tiga dimensi. Ketika saya tanya, kenapa begini, pelukis itu menjawab: "Saya tidak berani menggambar wayang dengan posisi yang lain. Posisi tokoh-tokoh ini tak bisa diubah sedikit pun."

Ternyata hal seperti ini juga berlaku pada pelukis lainnya yang menggunakan media batik dan kanvas. Kalau ada wayang (Jawa) di sana, pastilah bentuknya tak pernah berubah dari satu sisi itu. Kecuali komik, dan ini pun katanya lebih banyak dibuat oleh orang-orang Sunda.

***

Pelukis Bali lebih bebas menggambar wayang. Meski karakter wayang tetap dijaga, adegan-adegan tetap bisa digambarkan dalam lukisan. Tampak depan, tampak samping, menunduk, tidur, atau melakukan berbagai kegiatan, bisa divisualkan dengan semestinya. Termasuk ekspresinya. Seperti yang kita lihat pada lukisan wayang gaya Kamasan. Adegan apa pun bisa dibuat sesuai cerita yang mau ditampilkan pelukisnya.

Lukisan wayang gaya Kamasan pada awalnya menampilkan sepotong cerita. Jauh sebelum itu bahkan hanya simbol-simbol yang melukiskan berbagai dewa dalam mitologi Hindu yang menceritakan tentang hari baik, pengaruh peredaran bulan terhadap kelahiran seseorang, dan sebagainya.

Dewa-dewa dalam mitologi Hindu itu diambilkan dari gambar wayang. Lukisan inilah yang sering disebut sebagai lukisan klasik Kamasan. Orang dengan mudah bisa membedakan, mana gaya Kamasan yang mana tidak hanya dengan melihat adegan dalam kanvas itu.

Tetapi belakangan gaya Kamasan ini sudah mulai ditiru seiring dengan permintaan pasar. Sementara itu bahan-bahan yang dipakai melukis juga sudah modern seperti cat, padahal dulu warna alami itu datang dari atal, kencu, ancur dan sebagainya. Produk lukisan itu pun tidak lagi terbatas untuk keperluan ritual seperti langse atau pangider-ider. Lukisan Kamasan sudah menjadi barang pajangan seperti halnya lukisan-lukisan yang lain.

Kini muncul kreativitas baru yang tidak terkungkung pada kanvas, misalnya, dengan menggunakan media kayu atau bambu. Penggunaan media ini sebenarnya sudah dilakukan di banyak tempat. Ukiran dari kayu banyak menghias rumah-rumah, apakah itu berdiri sendiri sebagai "sebuah lukisan" atau untuk hal-hal yang fungsional seperti daun pintu, jendela dan lubang angin. Namun yang muncul dari Kamasan bukan sekadar ukiran, tetapi sebuah corak (style). Atau lebih khusus lagi, style khas Kamasan yang sudah populer itu, berupa adegan dari tokoh-tokoh wayang yang membentuk sepotong cerita. Dengan kata lain, lukisan wayang Kamasan yang boleh dikatakan klasik itu, kini berpindah ke media kayu dan bambu.

Masalahnya, apakah generasi muda pelukis Kamasan masih tetap menangkap roh yang ada pada para pendahulunya? Antara lain filosofi cerita yang mau ditampilkan, dan juga keragaman flora yang menjadi latar belakang dari "gambar" wayang itu. Ini yang masih menjadi tanda tanya, karena pengaruh pasar bisa saja memudarkan semuanya itu. Tetapi kalau roh klasik Kamasan tidak diwariskan, apa bedanya dengan ukiran wayang di Batuan, atau bahkan di Desa Kapal?

* Putu Setia

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)