|
Wayang
Kamasan
SIAPAKAH
yang pertama kali menciptakan wayang? Di manakah pertama
kali "gambar" tokoh-tokoh wayang itu lahir?
Apakah di Jawa atau di Bali? Saya sering terusik oleh
pertanyaan ini, tetapi tak pernah menemukan jawaban yang
memuaskan.
Cobalah
kita pikirkan, tokoh-tokoh yang ada dalam epos Mahabharata
dan Ramayana, misalnya, pertama-tama tentu kita bayangkan
wajahnya dari cerita tertulis yang berupa sloka, syair,
maupun yang sudah berbentuk prosa. Arjuna itu ganteng dan
lembut, Bima itu keras dan tegap, Duryodana sombong dan
beringas. Begitu pula karakter pada epos Ramayana, Rama
itu ganteng dan lembut, Rahwana itu keras, beringas dan
berwajah raksasa. Tetapi, siapa yang pertama kali
menggambar secara visual karakter-karakter itu menjadi
wayang, sehingga apa yang kita kenal selama ini menjadi
sesuatu yang seragam? Pasti ada, kalau tidak kita akan
menemukan Arjuna yang berbeda-beda di setiap wilayah.
Mungkin
wayang itu lahir di Jawa, barangkali masa-masa Kerajaan
Majapahit atau sebelum itu. Kemudian dibawa ke Bali dengan
sedikit-sedikit mengalami perubahan pada wajah, konon
lebih disesuaikan dengan gambaran manusia, sementara
wayang di Jawa lebih pada simbol-simbol. Nah, ketika ada
perubahan di Bali, siapa yang menciptakan Arjuna, Bima,
Rahwana dan semuanya itu? Pasti ada orang atau sebuah
komunitas tertentu yang melakukannya dengan serius. Dari
orang (atau komunitas) ini menyebar ke seluruh Bali. Kalau
tidak demikian, bagaimana mungkin keseragaman itu terjadi.
Jangan-jangan Arjuna di Gianyar berbeda dengan Arjuna di
Tabanan.
Kita
tidak bisa melacak hal-hal begini karena memang kesadaran
kita di masa lalu kurang dalam hal dokumentasi. Namun,
satu hal yang pasti adalah kita sebagai penikmat seni dan
budaya, sangat fanatik pada penggambaran seperti yang
sudah ada itu. Kita tak bisa menerima kalau misalnya Bima
tiba-tiba menjadi tokoh yang lembek, apalagi menjadi tokoh
yang kalah. Bima harus selalu perkasa dan harus selalu
menang.
Di
Jawa, fanatisme itu bahkan lebih tinggi daripada Bali.
Para pelukis wayang di Jawa tidak mau menggambar tokoh
wayang dengan tiga dimensi. Ia selalu menggambar dengan
satu sisi saja, ya... seperti yang ada pada wayang kulit
itu. Bagaimana pun modernnya situasi yang mau digambar,
jika ada tokoh wayang di sana, wayang itu tetap digambar
satu sisi seperti wayang kulit.
Saya
pernah akrab dengan seorang pelukis kaca dari Muntilan,
yang gambar-gambarnya sering menyindir situasi terakhir.
Misalnya ada Semar dan anak-anaknya Gareng, Petruk, Bagong
menonton televisi. Pada layar televisi tidak diisi cat apa
pun sehingga tetap transparan. Di situ tinggal ditempel
gambar yang dikehendaki, kalau dipasang gambar adegan
film, nampak keluarga Semar lagi menonton sinetron. Saya
kemudian minta versi lain, bukan keluarga Semar tetapi
keluarga Pandawa yang seolah-olah menonton televisi.
Pelukis itu mau membuatnya. Tetapi, ketika seminggu
kemudian saya mengambilnya, Pandawa yang di lukisan kaca
itu tetap saja berjejer seperti jejeran wayang kulit,
bukan tiga dimensi. Ketika saya tanya, kenapa begini,
pelukis itu menjawab: "Saya tidak berani menggambar
wayang dengan posisi yang lain. Posisi tokoh-tokoh ini tak
bisa diubah sedikit pun."
Ternyata
hal seperti ini juga berlaku pada pelukis lainnya yang
menggunakan media batik dan kanvas. Kalau ada wayang
(Jawa) di sana, pastilah bentuknya tak pernah berubah dari
satu sisi itu. Kecuali komik, dan ini pun katanya lebih
banyak dibuat oleh orang-orang Sunda.
***
Pelukis
Bali lebih bebas menggambar wayang. Meski karakter wayang
tetap dijaga, adegan-adegan tetap bisa digambarkan dalam
lukisan. Tampak depan, tampak samping, menunduk, tidur,
atau melakukan berbagai kegiatan, bisa divisualkan dengan
semestinya. Termasuk ekspresinya. Seperti yang kita lihat
pada lukisan wayang gaya Kamasan. Adegan apa pun bisa
dibuat sesuai cerita yang mau ditampilkan pelukisnya.
Lukisan
wayang gaya Kamasan pada awalnya menampilkan sepotong
cerita. Jauh sebelum itu bahkan hanya simbol-simbol yang
melukiskan berbagai dewa dalam mitologi Hindu yang
menceritakan tentang hari baik, pengaruh peredaran bulan
terhadap kelahiran seseorang, dan sebagainya.
Dewa-dewa
dalam mitologi Hindu itu diambilkan dari gambar wayang.
Lukisan inilah yang sering disebut sebagai lukisan klasik
Kamasan. Orang dengan mudah bisa membedakan, mana gaya
Kamasan yang mana tidak hanya dengan melihat adegan dalam
kanvas itu.
Tetapi
belakangan gaya Kamasan ini sudah mulai ditiru seiring
dengan permintaan pasar. Sementara itu bahan-bahan yang
dipakai melukis juga sudah modern seperti cat, padahal
dulu warna alami itu datang dari atal, kencu, ancur dan
sebagainya. Produk lukisan itu pun tidak lagi terbatas
untuk keperluan ritual seperti langse atau pangider-ider.
Lukisan Kamasan sudah menjadi barang pajangan seperti
halnya lukisan-lukisan yang lain.
Kini
muncul kreativitas baru yang tidak terkungkung pada
kanvas, misalnya, dengan menggunakan media kayu atau
bambu. Penggunaan media ini sebenarnya sudah dilakukan di
banyak tempat. Ukiran dari kayu banyak menghias
rumah-rumah, apakah itu berdiri sendiri sebagai
"sebuah lukisan" atau untuk hal-hal yang
fungsional seperti daun pintu, jendela dan lubang angin.
Namun yang muncul dari Kamasan bukan sekadar ukiran,
tetapi sebuah corak (style). Atau lebih khusus lagi, style
khas Kamasan yang sudah populer itu, berupa adegan dari
tokoh-tokoh wayang yang membentuk sepotong cerita. Dengan
kata lain, lukisan wayang Kamasan yang boleh dikatakan
klasik itu, kini berpindah ke media kayu dan bambu.
Masalahnya,
apakah generasi muda pelukis Kamasan masih tetap menangkap
roh yang ada pada para pendahulunya? Antara lain filosofi
cerita yang mau ditampilkan, dan juga keragaman flora yang
menjadi latar belakang dari "gambar" wayang itu.
Ini yang masih menjadi tanda tanya, karena pengaruh pasar
bisa saja memudarkan semuanya itu. Tetapi kalau roh klasik
Kamasan tidak diwariskan, apa bedanya dengan ukiran wayang
di Batuan, atau bahkan di Desa Kapal?
*
Putu Setia
|