Mengemas
Kamasan makin ''Liar''
KENDATI
penggiat seni lukis tradisional wayang Kamasan tetap kukuh
dengan pakem-pakem yang digariskan leluhurnya, bukan
berarti perkembangan seni tradisi ini jadi stagnan atau
jalan di tempat. Generasi penerusnya tetap punya ruang
gerak yang lapang untuk berkreasi dan menciptakan
inovasi-inovasi. Jika pada awal perkembangannya lukisan
wayang itu hanya ditampilkan pada bentangan kayu, lalu
"menyeberang" ke kain (kanvas), kali ini
figur-figur wayang itu bahkan makin ''liar'' ditampilkan
di atas bentangan kulit binatang, kulit telur, batok
kelapa, bambu, bahkan helm.
Produk seni fungsi
yang dihasilkannya juga beragam, mulai dari dompet, kipas,
topi petani, asbak, pot bunga, keroncongan sapi serta
deretan barang-barang kerajinan lainnya. Bagi krama Desa
Kamasan, penuangan ide-ide di luar media kayu dan kain itu
bukanlah bentuk "pengkhiatan" terhadap tradisi
leluhur mereka. Media tempat berekspresi boleh beragam,
namun karakter, corak, warna dan detail wayang yang
ditampilkan tetap tunduk kepada pakem-pakem yang ada.
"Pada awalnya, kreasi itu bersifat coba-coba. Namun
dalam perkembangannya, jenis kerajinan itu justru sangat
diminati wisatawan terutama wisatawan mancanegara,"
kata I Ketut Widastra (53), putra bungsu I Ketut Rabeg,
seorang ''suhu'' pelukis wayang Kamasan.
Menurut Kepala SDN 1
Semarapura Klod Kangin ini, "penyeberangan"
media ekspresi dari kayu dan kain ke media lainnya sudah
berkembang pascakunjungan Walter Spies dan R. Bonnet ke
Desa Kamasan. Menurut mereka, agar produksi masyarakat
bisa bersaing di tingkat global harus mampu mengikuti
trend yang sedang berkembang. "Masyarakat lantas
mencoba melukis wayang stil Kamasan di atas kipas, topi
bambu, dompet dan benda-benda lainnya. Saat ini, helm pun
juga mulai jadi sasaran," ujarnya.
Widastra
menambahkan, produk-produk itu biasanya dimanfaatkan
sebagai suvenir oleh wisatawan. Karena itu, bentuk dan
ukurannya juga dibuat mini sehingga praktis untuk dibawa.
Khusus untuk benda-benda suvenir ini, harganya jauh lebih
murah jika dibandingkan dengan lukisan yang dibuat di atas
bentang kayu dan kain. "Saat teknologi pengolahan
kayu makin maju, kami juga membuat telur-teluran dari
kayu. Di atasnya lantas dihiasi lukisan wayang stil
Kamasan. Mengingat ruangnya yang terbatas, jelas kami
tidak bisa menampilkan cerita epos Mahabharata dan
Ramayana secara utuh," katanya lagi.
Lebih lanjut
Widastra mengatakan, pewarna yang dipakai juga mengalami
perubahan seiring perkembangan zaman. Lukisan Kamasan
tempo dulu, kata dia, murni memanfaatkan pewarna-pewarna
alami yang dihasilkan dari tulang ikan, batu-batuan,
tumbuh-tumbuhan dan mangsi yang dilarutkan dengan air
(hasil pembakaran arang-red). Sebagian besar dari pewarna
alami itu didapatkan dari Nusa Penida, bahkan ada yang
didatangkan khusus dari Cina. Misalnya kencu untuk
menghasilkan warna merah pekat.
Proses pembuatan
warna itu juga perlu waktu relatif lama sehingga dinilai
kurang praktis dan efisien. Apabila ada orderan dalam
skala besar, jelas seniman Kamasan tidak bisa memenuhinya.
Karena itu, mereka terpaksa berpaling kepada warna-warna
pabrikan (warna kimia) yang gampang didapat. Hanya, dalam
proses pewarnaan itu sebagian besar seniman masih
menyertakan warna-warna alami untuk mempertahankan kesan
natural. "Saat ini, warna-warna alami itu makin sulit
didapat. Namun untuk pesanan-pesanan tertentu, kami masih
memakainya. Tentu saja, harganya jadi lebih tinggi,"
kata Widastra yang tetap menyempatkan diri melukis wayang
Kamasan di sela-sela kesibukannya mengajar.
Pria yang punya show
room untuk memajang karya-karya seni yang dihasilkan
keluarganya ini menegaskan, sebagian besar krama Banjar
Sangging Desa Kamasan memang menggantungkan hidupnya dari
seni lukis wayang. Dengan kata lain, seni warisan leluhur
ini sudah berkembang menjadi home industry. Sementara
akses pemasaran, masih mengandalkan kunjungan dari
wisatawan yang datang ke Desa Kamasan. Sangat jarang yang
secara khusus menjajakkan produknya ke luar Kamasan.
Sistem penjualan konvensional seperti ini juga
mengharuskan mereka bersaing sesama teman.
"Penghasilan kami memang tergantung dari kunjungan
wisatawan. Di saat-saat paceklik tamu seperti saat ini,
bisa jadi seminggu penuh kami tidak dapat jualan,"
katanya lagi.
Lantas, produk apa
yang paling diminati oleh wisatawan? Menurut Widastra,
wisatawan yang datang bisa diklasifikasikan ke dalam dua
kelompok yakni pencinta seni sejati dan wisatawan biasa.
Pencinta seni sejati biasanya memburu lukisan-lukisan
bermutu buah karya seniman-seniman ternama. Sementara
wisatawan biasa cenderung membeli suvenir-suvenir yang
berharga "miring" seperti dompet, telur-teluran,
kipas serta produk-produk lainnya. "Tidak semua
wisatawan yang datang punya apresiasi seni tinggi. Mereka
umumnya sekadar membeli tanpa peduli siapa pelukisnya.
Toh, tujuannya hanya untuk oleh-oleh dan diberikan kepada
sanak kerabat di negara asalnya," ujarnya.
Dia menambahkan,
lukisan Kamasan yang dibuat pelukis ternama seperti Rabeg
dan Mangku Mura -- dua empu pelukis wayang Kamasan -- dan
memakai pewarna alami serta dilukis di atas kain Bali bisa
menembus harga puluhan juta rupiah.
* W.
Sumatika
|