kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 8 Maret 2003

 Budaya


Mengemas Kamasan makin ''Liar''

KENDATI penggiat seni lukis tradisional wayang Kamasan tetap kukuh dengan pakem-pakem yang digariskan leluhurnya, bukan berarti perkembangan seni tradisi ini jadi stagnan atau jalan di tempat. Generasi penerusnya tetap punya ruang gerak yang lapang untuk berkreasi dan menciptakan inovasi-inovasi. Jika pada awal perkembangannya lukisan wayang itu hanya ditampilkan pada bentangan kayu, lalu "menyeberang" ke kain (kanvas), kali ini figur-figur wayang itu bahkan makin ''liar'' ditampilkan di atas bentangan kulit binatang, kulit telur, batok kelapa, bambu, bahkan helm.

Produk seni fungsi yang dihasilkannya juga beragam, mulai dari dompet, kipas, topi petani, asbak, pot bunga, keroncongan sapi serta deretan barang-barang kerajinan lainnya. Bagi krama Desa Kamasan, penuangan ide-ide di luar media kayu dan kain itu bukanlah bentuk "pengkhiatan" terhadap tradisi leluhur mereka. Media tempat berekspresi boleh beragam, namun karakter, corak, warna dan detail wayang yang ditampilkan tetap tunduk kepada pakem-pakem yang ada. "Pada awalnya, kreasi itu bersifat coba-coba. Namun dalam perkembangannya, jenis kerajinan itu justru sangat diminati wisatawan terutama wisatawan mancanegara," kata I Ketut Widastra (53), putra bungsu I Ketut Rabeg, seorang ''suhu'' pelukis wayang Kamasan.

Menurut Kepala SDN 1 Semarapura Klod Kangin ini, "penyeberangan" media ekspresi dari kayu dan kain ke media lainnya sudah berkembang pascakunjungan Walter Spies dan R. Bonnet ke Desa Kamasan. Menurut mereka, agar produksi masyarakat bisa bersaing di tingkat global harus mampu mengikuti trend yang sedang berkembang. "Masyarakat lantas mencoba melukis wayang stil Kamasan di atas kipas, topi bambu, dompet dan benda-benda lainnya. Saat ini, helm pun juga mulai jadi sasaran," ujarnya.

Widastra menambahkan, produk-produk itu biasanya dimanfaatkan sebagai suvenir oleh wisatawan. Karena itu, bentuk dan ukurannya juga dibuat mini sehingga praktis untuk dibawa. Khusus untuk benda-benda suvenir ini, harganya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan lukisan yang dibuat di atas bentang kayu dan kain. "Saat teknologi pengolahan kayu makin maju, kami juga membuat telur-teluran dari kayu. Di atasnya lantas dihiasi lukisan wayang stil Kamasan. Mengingat ruangnya yang terbatas, jelas kami tidak bisa menampilkan cerita epos Mahabharata dan Ramayana secara utuh," katanya lagi.

Lebih lanjut Widastra mengatakan, pewarna yang dipakai juga mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Lukisan Kamasan tempo dulu, kata dia, murni memanfaatkan pewarna-pewarna alami yang dihasilkan dari tulang ikan, batu-batuan, tumbuh-tumbuhan dan mangsi yang dilarutkan dengan air (hasil pembakaran arang-red). Sebagian besar dari pewarna alami itu didapatkan dari Nusa Penida, bahkan ada yang didatangkan khusus dari Cina. Misalnya kencu untuk menghasilkan warna merah pekat.

Proses pembuatan warna itu juga perlu waktu relatif lama sehingga dinilai kurang praktis dan efisien. Apabila ada orderan dalam skala besar, jelas seniman Kamasan tidak bisa memenuhinya. Karena itu, mereka terpaksa berpaling kepada warna-warna pabrikan (warna kimia) yang gampang didapat. Hanya, dalam proses pewarnaan itu sebagian besar seniman masih menyertakan warna-warna alami untuk mempertahankan kesan natural. "Saat ini, warna-warna alami itu makin sulit didapat. Namun untuk pesanan-pesanan tertentu, kami masih memakainya. Tentu saja, harganya jadi lebih tinggi," kata Widastra yang tetap menyempatkan diri melukis wayang Kamasan di sela-sela kesibukannya mengajar.

Pria yang punya show room untuk memajang karya-karya seni yang dihasilkan keluarganya ini menegaskan, sebagian besar krama Banjar Sangging Desa Kamasan memang menggantungkan hidupnya dari seni lukis wayang. Dengan kata lain, seni warisan leluhur ini sudah berkembang menjadi home industry. Sementara akses pemasaran, masih mengandalkan kunjungan dari wisatawan yang datang ke Desa Kamasan. Sangat jarang yang secara khusus menjajakkan produknya ke luar Kamasan. Sistem penjualan konvensional seperti ini juga mengharuskan mereka bersaing sesama teman. "Penghasilan kami memang tergantung dari kunjungan wisatawan. Di saat-saat paceklik tamu seperti saat ini, bisa jadi seminggu penuh kami tidak dapat jualan," katanya lagi.

Lantas, produk apa yang paling diminati oleh wisatawan? Menurut Widastra, wisatawan yang datang bisa diklasifikasikan ke dalam dua kelompok yakni pencinta seni sejati dan wisatawan biasa. Pencinta seni sejati biasanya memburu lukisan-lukisan bermutu buah karya seniman-seniman ternama. Sementara wisatawan biasa cenderung membeli suvenir-suvenir yang berharga "miring" seperti dompet, telur-teluran, kipas serta produk-produk lainnya. "Tidak semua wisatawan yang datang punya apresiasi seni tinggi. Mereka umumnya sekadar membeli tanpa peduli siapa pelukisnya. Toh, tujuannya hanya untuk oleh-oleh dan diberikan kepada sanak kerabat di negara asalnya," ujarnya.

Dia menambahkan, lukisan Kamasan yang dibuat pelukis ternama seperti Rabeg dan Mangku Mura -- dua empu pelukis wayang Kamasan -- dan memakai pewarna alami serta dilukis di atas kain Bali bisa menembus harga puluhan juta rupiah.

* W. Sumatika

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)