Dari Warung Global ''Interaktif'' Bali Post
Servis
Amburadul, Wajar Angkot Ditinggal Penumpang
Krisis penumpang
yang dialami sopir angkot ternyata tak hanya disebabkan
faktor lesunya perekonomian. Keprihatinan dan kekecewaan
terhadap sistem pelayanan yang dilakukan para sopir angkot
justru menjadi faktor dominan yang membuat orang tak
senang menumpang angkot. Kebijakan pemerintah yang tak
paham situasi lapangan juga membuat persaingan di jalur
ini krodit. Demikian terungkap dalam Warung Global
Interaktif-Bali Post yang disiarkan Radio Global FM 99,15
Kini Jani, Jumat (7/3) kemarin. Pada acara yang juga
direlai Radio Genta Swara Sakti Bali FM 106,15 dan Radio
Singaraja FM 107,2 ini, masyarakat menilai sewa angkot
relatif mahal. Berikut rangkumannya.
============
MENURUT
Sinda krisis penumpang yang dirasakan sopir angkot akibat
kekecewaan yang mendalam di kalangan konsumen. Servis yang
tak memuaskan dan tak terlayaninya jalur-jalur sulit,
membuat masyarakat akhirnya membeli kendaraan pribadi
termasuk sepeda motor.
Rutha Ady berharap
angkot siap bersaing. Untuk itu, para sopir atau pengusaha
angkot seharusnya meningkatkan layanan kepada konsumennya.
Selain itu, ia berharap semua pihak berupaya untuk
memulihkan sektor kepariwisataan. Sedangkan Antonius
menilai ongkos yang mahal dan rendahnya penghargaan dan
pelayanan terhadap penumpang, membuat masyarakat berpikir
untuk naik angkot. ''Tarifnya tergolong mahal dibandingkan
dengan jarak yang harus ditempuh,'' ujar Antonius.
Gunadi di Kapal
mengakui tak semua sopir angkot berperilaku negatif.
Krisis penumpang yang dirasakan sopir angkot juga
terkondisikan oleh ramainya ojek di sudut-sudut desa. Hal
ini, otomatis membuat persaingan merebut penumpang jadi
ketat.
Jalur
Alternatif
Agung di Jalan Gatot
Kaca menilai tak hanya servis yang amburadul. Pemetaan
jumlah angkot dan pertumbuhan ruas jalan juga tak
seimbang. Bayangkan, dengan jumlah angkot yang banyak,
jalan-jalan di Denpasar akhirnya krodit. Hal ini bertambah
parah ketika kebijakan yang diambil Dinas Perhubungan tak
tegas.
Panca malah punya
penilaian lain. Tingginya tarif angkutan diakibatkan
banyaknya setoran tak jelas. Selain untuk organisasi,
banyak orang-orang yang minta cuk di terminal yang harus
disiapkan dana tambahan. ''Pengeluaran sopir angkot di
luar setoran wajib juga tinggi. Akhirnya untuk menutupi
hal ini mereka menaikkan penumpang melebihi kapasitas,''
ujarnya.
Selebihnya, Teken
mengatakan, sopir angkot terkadang memang keterlaluan.
Untuk jalur Ubung-Sanglah yang relatif padat, misalnya,
terkadang tas dan barang bawaan penumpang juga dihitung
orang. Anak kecil yang jelas-jelas dibopong juga harus
bayar penuh. ''Perlakuan terhadap penumpang seperti
menangani benda mati,'' kritiknya. Anton mengaitkan
masalah krisis penumpang dan kritikan terhadap layanan
angkot bermuara pada kesalahan manajemen angkot.
Jalur-jalur di Denpasar hanya sebagian kecil yang dilayani
angkot. Akibatnya, orang yang tinggal di pinggir -pinggir
kota atau masuk gang, melakukan pilihan membeli sepeda
motor atau mencicilnya. ''Ini yang harus dipikirkan oleh
pemerintah. Angkot hendaknya melayani penumpang sampai di
tujuannya,'' sarannya.
Gama di Suwug,
Singaraja mengatakan, keserakahan Departemen Perhubungan
dalam mengeluarkan izin trayek telah membuat persaingan
sopir angkot terasa mencekik. ''Pejabat tidak pernah tahu
realita di lapangan. Mereka hanya ingin fee dari
pengurusan trayek baru,'' kritiknya. Arya di Panjer malah
merasa disisihkan. Sebagai orang cacat, ia merasa tak
mendapat pelayanan yang sama dari para sopir angkot. ''Ini
bentuk-bentuk tak profesionalnya sopir angkot. Padahal
dalam hal bayaran saya siap bayar sama,'' tuturnya.
Pande dan Jeri
mengatakan, penumpang angkot harus siap adu lutut. Selain
bodinya relatif kecil, jumlah penumpang dalam satu mobil
juga berdesak-desakan. ''Ketika servis diabaikan, orang
hanya akan naik angkot jika terpaksa,'' ujar Pande. Jeri
malah mengusulkan agar perencanaan tata kota ditinjau jika
ingin memberdayakan semua potensi. Terkadang tata ruang
yang amburadul, membuat penyikapan atas perkembangan
wilayah baru juga terlambat.
Sedangkan, Ngurah
Kapah berharap para sopir angkot jeli menyikapi kondisi.
Jika jalur-jalur di kota padat, semestinya siap melirik
jalur sepi di jalur-jalur alternatif. (dir)
|