kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 8 Maret 2003

 Opini


Dari Warung Global ''Interaktif'' Bali Post

Servis Amburadul, Wajar Angkot Ditinggal Penumpang

Krisis penumpang yang dialami sopir angkot ternyata tak hanya disebabkan faktor lesunya perekonomian. Keprihatinan dan kekecewaan terhadap sistem pelayanan yang dilakukan para sopir angkot justru menjadi faktor dominan yang membuat orang tak senang menumpang angkot. Kebijakan pemerintah yang tak paham situasi lapangan juga membuat persaingan di jalur ini krodit. Demikian terungkap dalam Warung Global Interaktif-Bali Post yang disiarkan Radio Global FM 99,15 Kini Jani, Jumat (7/3) kemarin. Pada acara yang juga direlai Radio Genta Swara Sakti Bali FM 106,15 dan Radio Singaraja FM 107,2 ini, masyarakat menilai sewa angkot relatif mahal. Berikut rangkumannya.

============

MENURUT Sinda krisis penumpang yang dirasakan sopir angkot akibat kekecewaan yang mendalam di kalangan konsumen. Servis yang tak memuaskan dan tak terlayaninya jalur-jalur sulit, membuat masyarakat akhirnya membeli kendaraan pribadi termasuk sepeda motor.

Rutha Ady berharap angkot siap bersaing. Untuk itu, para sopir atau pengusaha angkot seharusnya meningkatkan layanan kepada konsumennya. Selain itu, ia berharap semua pihak berupaya untuk memulihkan sektor kepariwisataan. Sedangkan Antonius menilai ongkos yang mahal dan rendahnya penghargaan dan pelayanan terhadap penumpang, membuat masyarakat berpikir untuk naik angkot. ''Tarifnya tergolong mahal dibandingkan dengan jarak yang harus ditempuh,'' ujar Antonius.

Gunadi di Kapal mengakui tak semua sopir angkot berperilaku negatif. Krisis penumpang yang dirasakan sopir angkot juga terkondisikan oleh ramainya ojek di sudut-sudut desa. Hal ini, otomatis membuat persaingan merebut penumpang jadi ketat.

Jalur Alternatif

Agung di Jalan Gatot Kaca menilai tak hanya servis yang amburadul. Pemetaan jumlah angkot dan pertumbuhan ruas jalan juga tak seimbang. Bayangkan, dengan jumlah angkot yang banyak, jalan-jalan di Denpasar akhirnya krodit. Hal ini bertambah parah ketika kebijakan yang diambil Dinas Perhubungan tak tegas.

Panca malah punya penilaian lain. Tingginya tarif angkutan diakibatkan banyaknya setoran tak jelas. Selain untuk organisasi, banyak orang-orang yang minta cuk di terminal yang harus disiapkan dana tambahan. ''Pengeluaran sopir angkot di luar setoran wajib juga tinggi. Akhirnya untuk menutupi hal ini mereka menaikkan penumpang melebihi kapasitas,'' ujarnya.

Selebihnya, Teken mengatakan, sopir angkot terkadang memang keterlaluan. Untuk jalur Ubung-Sanglah yang relatif padat, misalnya, terkadang tas dan barang bawaan penumpang juga dihitung orang. Anak kecil yang jelas-jelas dibopong juga harus bayar penuh. ''Perlakuan terhadap penumpang seperti menangani benda mati,'' kritiknya. Anton mengaitkan masalah krisis penumpang dan kritikan terhadap layanan angkot bermuara pada kesalahan manajemen angkot. Jalur-jalur di Denpasar hanya sebagian kecil yang dilayani angkot. Akibatnya, orang yang tinggal di pinggir -pinggir kota atau masuk gang, melakukan pilihan membeli sepeda motor atau mencicilnya. ''Ini yang harus dipikirkan oleh pemerintah. Angkot hendaknya melayani penumpang sampai di tujuannya,'' sarannya.

Gama di Suwug, Singaraja mengatakan, keserakahan Departemen Perhubungan dalam mengeluarkan izin trayek telah membuat persaingan sopir angkot terasa mencekik. ''Pejabat tidak pernah tahu realita di lapangan. Mereka hanya ingin fee dari pengurusan trayek baru,'' kritiknya. Arya di Panjer malah merasa disisihkan. Sebagai orang cacat, ia merasa tak mendapat pelayanan yang sama dari para sopir angkot. ''Ini bentuk-bentuk tak profesionalnya sopir angkot. Padahal dalam hal bayaran saya siap bayar sama,'' tuturnya.

Pande dan Jeri mengatakan, penumpang angkot harus siap adu lutut. Selain bodinya relatif kecil, jumlah penumpang dalam satu mobil juga berdesak-desakan. ''Ketika servis diabaikan, orang hanya akan naik angkot jika terpaksa,'' ujar Pande. Jeri malah mengusulkan agar perencanaan tata kota ditinjau jika ingin memberdayakan semua potensi. Terkadang tata ruang yang amburadul, membuat penyikapan atas perkembangan wilayah baru juga terlambat.

Sedangkan, Ngurah Kapah berharap para sopir angkot jeli menyikapi kondisi. Jika jalur-jalur di kota padat, semestinya siap melirik jalur sepi di jalur-jalur alternatif. (dir)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)