Menggugat
Nilai Budaya yang Usang
Pada tataran
ideologi, budaya Bali seringkali disebut-sebut sebagai
benteng pencegah berbagai keterpurukan. Ketika budaya
ditegakkan secara benar, nilai-nilai estetika, moral,
kemanusiaan dan lain sebagainya akan lestari. Tetapi pada
tataran realitas, kita seringkali diganggu rasa terenyuh.
Betapa budaya Bali sesungguhnya terus-menerus mengalami
ketergangguan oleh berbagai hal yang dibawa oleh tuntutan
dan godaan hidup modern. Katakanlah ketika industri
pariwisata menjadi panglima, budaya Bali harus takluk di
dalamnya sebagai objek. Akhirnya budaya Bali tak lebih
dari sekadar ''kuda tunggangan'' untuk meraih
target-target ekonomi. Nah, pada masa mendatang (2004)
bagaimana mestinya masyarakat menempatkan kebudayaan Bali.
Strategi apa yang seharusnya dilakukan agar budaya Bali
tidak sekadar objek, tetapi justru menjadi subjek?
-------------------------
Seniman Kadek
Suartaya, SS.Kar., M.Si. mengatakan sesungguhnya banyak
nilai kebudayaan Bali dapat memberi nilai positif bagi
kehidupan masyarakat Bali. Namun, mesti diakui ada
nilai-nilai yang perlu dikaji ulang atau dipikir ulang
pada tahun 2004 ini.
Selama ini ada
kecenderungan masyarakat mengkultuskan nilai-nilai budaya
yang sebenarnya tak relevan lagi dengan perkembangan
kebudayaan atau transformasi budaya saat ini. Karena sikap
mentabukan nilai-nilai itu atau tidak memiliki keberanian
untuk menggugat nilai-nilai yang usang, menyebabkan
masyarakat terus tergelincir dalam kubangan kebudayaan
yang kontraproduktif dengan nilai kekinian.
Hal ini justru
berpengaruh besar terhadap pola pikir kebudayaan. ''Akibatnya,
pola pikir kita menjadi mandul, perilaku budaya kita tak
cerdas dan kemampuan untuk menciptakan nilai-nilai budaya
baru tak ada. Di samping itu, tak memiliki rangsangan
untuk menciptakan nilai-nilai baru,'' kata dosen ISI
Denpasar ini.
Kata Suartaya,
banyak nilai usang mesti ditanggalkan, seperti manak salah,
kasepekang, briyuk siu dan kebulatan tekad. Bahkan,
kebulatan tekad itu justru memenjarakan hak-hak demokrasi.
Tetapi saat ini masih saja ada masyarakat yang
mengkultuskannya.
Pada tahun 2004 ini
masyarakat mestinya tidak takut lagi membuang atau
mengkaji ulang nilai-nilai budaya yang membuat pola pikir
terkungkung. Masyarakat juga merevisi kembali cara
berperilaku budaya yang tidak takut mengadopsi nilai-nilai
budaya baru. ''Dengan demikian kita tak hanya mampu
mengangkat gengsi dan harkat martabat budaya Bali, tetapi
menyumbangkan nilai-nilai itu dalam skup yang lebih luas.
Dengan demikian, kebudayaan Bali akan mampu memberi
kontribusi dalam era kesejagatan. Dengan merombak cara
berpikir, kita akan berhasil menempatkan kebudayaan Bali
pada posisinya yang wajar,'' katanya.
Tanpa
Strategi
Seniman Drs. Ketut
Murdana, M.Sn. mengatakan kebudayaan kita selama ini
seolah-olah dibangun tanpa koordinasi dan tanpa strategi.
Akhirnya, masing-masing merancang sendiri sehingga
kekuatannya terpencar. Kekuatan itu justru tak bisa
memberikan vibrasi yang lebih luas. Akibatnya pula budaya
asing dengan mudah masuk menjadi ''kebudayaan'' baru
masyarakat. Itu karena kontrol atau filter kita yang lemah.
Contohnya bisa dilihat dari cara berpakaian, cara berpikir,
berperilaku masyarakat belakangan ini.
''Bahkan, kita
seolah-olah bangga mengadopsi produk luar,'' katanya
sembari berharap masyarakat jangan sampai grasa-grusu
menyerap budaya asing. Karena itu, pada tahun 2004 ini
sudah selayaknya melihat kembali jaditi diri budaya Bali.
Nilai-nilai yang adiluhung atau keunggulan potensi itulah
yang mesti dipakai oleh pihak terkait utuk membangun
strategi kebudayaan di masa depan. ''Kita sudah saatnya
meninggalkan budaya bakar-bakaran, tusuk-menusuk sesama
keluarga. Demikian pula sikap arogansi dll. mesti sudah
saatnya dibuang jauh-jauh,'' katanya.
Jika itu terus
terjadi dalam masyarakat Bali, justru akan mengkerdilkan
arti kebudayaan Bali yang nilai-nilainya sudah sangat
tersohor di mancanegara. Pun, jika itu terjadi sama
artinya kembali terjadi pembiadaban-pembiadaban. Karena
itu, perlu ada renungan diri sendiri untuk memaknai
nilai-nilai budaya yang kita miliki.
Dikatakannya,
masuknya unsur eksternal memang membuat kemasan baru dalam
kebudayaan atau kesenian khususnya. Dari segi ekonomi
memang memiliki makna positif. Tetapi di sisi lain akan
terjadi erosi kultural. Efek komersial itu justru akan
mempengaruhi keajegan kesucian budaya Bali. Strategi ke
depan, semua pihak mesti melakukan proteksi terhadap
budaya Bali. Security pribadi justru sangat menentukan.
Jika ingin menjaga keselamatan budaya Bali, semua pihak
mesti ada kesadaran untuk mengajegkannya.
* subrata
|