Pariwisata di Negeri Jiran (2-Habis)
Pemerintah dan
Industri ''Segendang Sepenarian''
Malaysia tak hanya
menguntungkan dari segi penyerapan tenaga kerja Indonesia
(TKI), juga memendam potensi untuk pariwisata nasional.
Bukan hanya jadi pasar potensial, juga bisa jadi kiblat
tentang pengelolaan pariwisata sebagai industri. Bagaimana
pengelolaannya dan bagaimana mereka mengemas atraksi
pariwisata?
SEIRING
kemajuan industri lainnya, industri pariwisata di Malaysia
telah dikelola sedemikian bagus. Sejak lima tahun lalu,
tetangga kita ini telah sibuk berbenah. ''Kepariwisataan
merupakan sumber devisa yang sangat menjanjikan di masa
depan, sehingga sudah jauh-jauh hari kementerian
pariwisata kami sudah membuat rencana aksi untuk lima
sampai sepuluh tahun ke depan,'' ujar Roslan Othman,
Representative Malaysia Tourism Promotion Board (MTPB)
untuk Indonesia di Kuala Lumpur, pekan lalu.
Othman tidak sekadar
ngecap. Apa yang dikatakannya, bisa langsung disaksikan di
Malaysia. Sejumlah kawasan wisata di sana dengan jelas
menunjukkan kesungguhan itu. Sebutlah sejumlah objek di
Kuala Lumpur, Perlis, Kedah, Penang, Langkawi, Serawak,
Pahang, Kelantan dan negeri lainnya. Untuk diketahui,
Malaysia terdiri atas sembilan negeri dan empat propinsi.
Masing-masing daerah mempunyai andalan.
Sepintas, dari
beberapa kawasan wisata yang dikunjungi seperti di Serawak
dan Kuala Lumpur, dari segi view, atraksi dan sumber alam
lainnya tidak bagus-bagus amat. Yang luar biasa dari
Malaysia adalah kemampuan mengemas paket. Tampaknya mereka
paham betul bahwa pariwisata adalah industri image dan
sedikit stereotip. Sedikitnya 400 juta ringgit (sekitar Rp
830 milyar) setahun dana negara dianggarkan untuk promosi
ke luar negeri.
Perpaduan antara
kesadaran masyarakat, kreativitas industri, dukungan
pemerintah dan polesan komunikasi merupakan kunci
keberhasilan kepariwisataan negeri jiran. ''Kami di sini
selalu segendang sepenarian, kompak dan saling mengisi.
Pemerintah melalui kementerian memberi suport pada
masing-masing negeri. Kami usung-mengusunglah,'' papar
Jaelani, tour guide lokal di Kuala Lumpur, seolah
mengadvertensi negerinya.
Atraksi wisata yang
disaksikan Bali Post di Kuching, salah satu kota di negeri
Serawak, akhir pekan lalu menguatkan kesan sepintas di
atas, yakni kemampuan mengemas dan memoles. Event ini
diberi nama Open House Aidilfitri 2003 yang oleh
masyarakat setempat disebut Kongsi Raya-Rumah Terbuka
Aidilfitri 2003.
Acara yang digelar
di lapangan terbuka Padang Merdeka, Serawak itu dihadiri
lebih dari 300 wartawan dari 24 negara, termasuk 24
stasiun TV. Di luar itu ada turis dari Timur Tengah, Rusia,
Italia dan dari negara-negara Asia. Mau tahu acaranya?
Selain jamuan makan bersama dengan Raja Malaysia Tuanku
Syed Sirajuddin Tuanku Syed Putra, PM Malaysia Datuk Sri
Abdullah Ahmad Badawi, Sultan Brunei Hassanal Bolkiah,
para menteri serta raja-raja negeri lainnya, acara ini
juga diisi para penyanyi kondang termasuk Siti Nurhaliza
yang sangat populer di Indonesia. Acara sejenis
sesungguhnya kerap digelar di kota-kota besar Indonesia
termasuk Denpasar (di Art Center atau GWK) . Apa yang
membuatnya berbeda? Komponen pariwisata setempat mampu
memasukkan acara ini dalam agenda tahunan wisata Malaysia.
Kalau kita klik web-site www.tourism.gov.my milik
Kementerian Budaya, Seni dan Pariwisata Malaysia, open
house itu masuk dalam kalender pariwisatanya. Bukan hanya
saat Lebaran seperti di Kuching, tetapi juga saat Tahun
Baru Cina dan Natal, ada open house; raja menjamu
rakyatnya dan itu jadi tontonan turis. Kian populer karena
diliput secara luas oleh media internasional.
Arus wisatawan
mancanegara ke Malaysia ditunjang oleh penerbangan yang
berperan sebagai semacam ''jembatan udara'' ke semua
pelosok dunia. Baik ke Buenos Aires (Argentina), Los
Angelas dan New York (Amerika), Dublin, Olso, Stockholm,
Helsinki serta kota-kota di belahan timur laut lainnya.
Belum termasuk rute konvensional seperti Kairo, Beijing,
Istambul, Paris Jurich, Frankfur, Amsterdam dan Viena.
Semua penerbangan pulang-pergi itu bermuara ke Kuala
Lumpur International Airport (KLIA).
Sedikit mengenai
KLIA di Sepang ini, merupakan bandara termodern di Asia-Pasifik.
Dibangun di atas lahan seluas lebih dari 200 ha dengan
arsitektur dan konstruksi yang mengkombinasikan teknologi
futuristik, kebudayaan Malaysia dan keindahan alam tropis.
Kalau ditengok dari kejauhan, konstruksinya mirip pohon
kelapa sawit, yang daunnya merindang. Secara simbolis,
tumbuhan tropis ini mewakili multiguna
pertanian-perkebunan Malaysia.
Hal lain yang
menyokong kepariwisataan Malaysia adalah suasana kondusif.
Nyaris tak ada pergolakan politik, apalagi fisik. Kendati
masyarakat negeri yang kini dipimpin PM Ahmad Badawi ini
religius, mereka sangat berbuka. ''Kami di sini berbilang
kaum, berbilang agama, dan berbilang suku, namun kami satu
membangun negeri kami Malaysia,'' papar Jaelani dalam
perjalanan pulang menuju Derby Park, tempat kami menginap.
Terasa sedikit nyeri di hati ketika mengenang Republik
kita yang tak pernah lelah bertikai. * gregorius
|