kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 20 Desember 2003

 Pariwisata


Pariwisata di Negeri Jiran (2-Habis)

Pemerintah dan Industri ''Segendang Sepenarian'' 

Malaysia tak hanya menguntungkan dari segi penyerapan tenaga kerja Indonesia (TKI), juga memendam potensi untuk pariwisata nasional. Bukan hanya jadi pasar potensial, juga bisa jadi kiblat tentang pengelolaan pariwisata sebagai industri. Bagaimana pengelolaannya dan bagaimana mereka mengemas atraksi pariwisata?

SEIRING kemajuan industri lainnya, industri pariwisata di Malaysia telah dikelola sedemikian bagus. Sejak lima tahun lalu, tetangga kita ini telah sibuk berbenah. ''Kepariwisataan merupakan sumber devisa yang sangat menjanjikan di masa depan, sehingga sudah jauh-jauh hari kementerian pariwisata kami sudah membuat rencana aksi untuk lima sampai sepuluh tahun ke depan,'' ujar Roslan Othman, Representative Malaysia Tourism Promotion Board (MTPB) untuk Indonesia di Kuala Lumpur, pekan lalu.

Othman tidak sekadar ngecap. Apa yang dikatakannya, bisa langsung disaksikan di Malaysia. Sejumlah kawasan wisata di sana dengan jelas menunjukkan kesungguhan itu. Sebutlah sejumlah objek di Kuala Lumpur, Perlis, Kedah, Penang, Langkawi, Serawak, Pahang, Kelantan dan negeri lainnya. Untuk diketahui, Malaysia terdiri atas sembilan negeri dan empat propinsi. Masing-masing daerah mempunyai andalan.

Sepintas, dari beberapa kawasan wisata yang dikunjungi seperti di Serawak dan Kuala Lumpur, dari segi view, atraksi dan sumber alam lainnya tidak bagus-bagus amat. Yang luar biasa dari Malaysia adalah kemampuan mengemas paket. Tampaknya mereka paham betul bahwa pariwisata adalah industri image dan sedikit stereotip. Sedikitnya 400 juta ringgit (sekitar Rp 830 milyar) setahun dana negara dianggarkan untuk promosi ke luar negeri.

Perpaduan antara kesadaran masyarakat, kreativitas industri, dukungan pemerintah dan polesan komunikasi merupakan kunci keberhasilan kepariwisataan negeri jiran. ''Kami di sini selalu segendang sepenarian, kompak dan saling mengisi. Pemerintah melalui kementerian memberi suport pada masing-masing negeri. Kami usung-mengusunglah,'' papar Jaelani, tour guide lokal di Kuala Lumpur, seolah mengadvertensi negerinya.

Atraksi wisata yang disaksikan Bali Post di Kuching, salah satu kota di negeri Serawak, akhir pekan lalu menguatkan kesan sepintas di atas, yakni kemampuan mengemas dan memoles. Event ini diberi nama Open House Aidilfitri 2003 yang oleh masyarakat setempat disebut Kongsi Raya-Rumah Terbuka Aidilfitri 2003.

Acara yang digelar di lapangan terbuka Padang Merdeka, Serawak itu dihadiri lebih dari 300 wartawan dari 24 negara, termasuk 24 stasiun TV. Di luar itu ada turis dari Timur Tengah, Rusia, Italia dan dari negara-negara Asia. Mau tahu acaranya? Selain jamuan makan bersama dengan Raja Malaysia Tuanku Syed Sirajuddin Tuanku Syed Putra, PM Malaysia Datuk Sri Abdullah Ahmad Badawi, Sultan Brunei Hassanal Bolkiah, para menteri serta raja-raja negeri lainnya, acara ini juga diisi para penyanyi kondang termasuk Siti Nurhaliza yang sangat populer di Indonesia. Acara sejenis sesungguhnya kerap digelar di kota-kota besar Indonesia termasuk Denpasar (di Art Center atau GWK) . Apa yang membuatnya berbeda? Komponen pariwisata setempat mampu memasukkan acara ini dalam agenda tahunan wisata Malaysia. Kalau kita klik web-site www.tourism.gov.my milik Kementerian Budaya, Seni dan Pariwisata Malaysia, open house itu masuk dalam kalender pariwisatanya. Bukan hanya saat Lebaran seperti di Kuching, tetapi juga saat Tahun Baru Cina dan Natal, ada open house; raja menjamu rakyatnya dan itu jadi tontonan turis. Kian populer karena diliput secara luas oleh media internasional.

Arus wisatawan mancanegara ke Malaysia ditunjang oleh penerbangan yang berperan sebagai semacam ''jembatan udara'' ke semua pelosok dunia. Baik ke Buenos Aires (Argentina), Los Angelas dan New York (Amerika), Dublin, Olso, Stockholm, Helsinki serta kota-kota di belahan timur laut lainnya. Belum termasuk rute konvensional seperti Kairo, Beijing, Istambul, Paris Jurich, Frankfur, Amsterdam dan Viena. Semua penerbangan pulang-pergi itu bermuara ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA).

Sedikit mengenai KLIA di Sepang ini, merupakan bandara termodern di Asia-Pasifik. Dibangun di atas lahan seluas lebih dari 200 ha dengan arsitektur dan konstruksi yang mengkombinasikan teknologi futuristik, kebudayaan Malaysia dan keindahan alam tropis. Kalau ditengok dari kejauhan, konstruksinya mirip pohon kelapa sawit, yang daunnya merindang. Secara simbolis, tumbuhan tropis ini mewakili multiguna pertanian-perkebunan Malaysia.

Hal lain yang menyokong kepariwisataan Malaysia adalah suasana kondusif. Nyaris tak ada pergolakan politik, apalagi fisik. Kendati masyarakat negeri yang kini dipimpin PM Ahmad Badawi ini religius, mereka sangat berbuka. ''Kami di sini berbilang kaum, berbilang agama, dan berbilang suku, namun kami satu membangun negeri kami Malaysia,'' papar Jaelani dalam perjalanan pulang menuju Derby Park, tempat kami menginap. Terasa sedikit nyeri di hati ketika mengenang Republik kita yang tak pernah lelah bertikai. * gregorius

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)