Prihatin,
Putri BK Tak Akur
Jakarta
(Bali Post) -
Kehadiran tiga srikandi Bung Karno di kancah politik
sangat menyedihkan. Sebab, kehadiran mereka tidak membawa
ajaran ideologi Bung Karno, tetapi hanya mengandalkan
karisma Bung Karno. Demikian ditegaskan Roeslan Abdulgani
di Jakarta, Jumat (19/12) kemarin.
Kalau saja Bung
Karno masih hidup, katanya, melihat ketiga anaknya
berkompetisi dalam Pemilu 2004, mungkin bakal tertawa. ''Dia
akan tertawa karena lucu. Sebab, seakan-akan mereka
mendapat pendidikan politik dari Bung Karno,'' ujarnya.
Bung Karno punya
pendapat bahwa siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya
harus dipilih oleh rakyat. ''Bung Karno tidak pernah
membikin bahwa anak ini harus jadi pengganti saya,'' imbuh
Roeslan yang akrab disapa Cak Roes ini. Kendati demikian,
jika diminta memilih, kira-kira Bung Karno memilih yang
mana ketika melihat anaknya berkompetisi. Cak Roes
menturkan, ''Dalam hati Bung Karno mungkin yang masih
cocok itu Rachmawati. Sebab, Rachma itu sejak kecil memang
rajin belajar, membaca. Sayangnya Rachma itu sakit-sakitan.''
Anak-anak Bung Karno
yang lain cuma anak biologis dan bukan anak ideologis.
Mereka hanyalah anak karena keturunan dan tidak memiliki
talenta sebagai politikus yang memperjuangkan
gagasan-gagasan besar Soekarno. Anak-anak biologis tidak
menjamin sebagai anak ideologis.
Tampilnya tiga putri
Bung Karno itu juga ditanyakan berkali-kali oleh Cak Roes
kepada ketiganya. ''Mengapa mereka tidak bisa akur? Saya
sudah menanyakan hal itu kepada mereka. Berkali-kali saya
tanyakan hal itu,'' ujar Cak Roes. Bukan jawaban yang
mengenakkan yang diterimanya. ''Kadang-kadang saya malah
dimarahin. Alasannya, kok ikut cawe-cawe,'' jelasnya.
Sejatinya, Cak Roes
ingin mengajak keluarga Bung Karno bersatu dalam satu
ikatan partai, sehingga perjuangan menegakkan kembali
gagasan-gagasan besar Bung Karno lebih mudah tercapai.
Rakyat pun melihat keluarga Bung Karno tidak terpecah
belah, sehingga pengikut Soekarno pun tidak ikut
terbelah-belah. Ada pengikut Rachma, Mega atau Sukma.
Di sisi lain, jika
keluarga ini bersatu, kebangkitan orde baru tidak
membahayakan kaum reformis. Sebab, rakyat akan memilih
partai yang tepat dalam pemilu nanti. Sekarang ini, rakyat
menjadi bingung, mau memilih partai yang mana. Jika
dibandingkan, dari ketiga anak Bung Karno tersebut,
kira-kira siapakah yang sukses dalam merebut perhatian
publik dalam Pemilu 2004 nanti? Cak Roes mengatakan, ''Saya
tidak bisa mengukur kesadaran politik masyarakat sekarang.''
Jawaban diplomatis Cak Roes juga belum berani menentukan
siapa yang menang di antara tiga putri Bung Karno itu
dalam pemilu nanti.
Ditanya bagaimana
kriteria pemimpin bangsa ini ke depan, Cak Roes lebih
mengutamakan pemimpin yang memiliki moral dan integritas
yang tinggi. ''Selain moral itu, pemimpin harus punya iman
dan ilmu agar tidak buta dalam mengelola negara dan bangsa
ini,'' tegasnya.
Mengkhawatirkan
Sesepuh tokoh
nasionalis yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu)
PDI Perjuangan ini juga merasa khawatir terhadap
perkembangan PDI Perjuangan sekarang ini. Terutama dalam
menghadapi pemilu yang akan datang ketika sejumlah partai
merencanakan kebangkitan orde baru. Kekhawatiran ini
disebabkan masalah internal PDI Perjuangan sendiri yang
mengakibatkan banyak kader PDI Perjuangan keluar dari
partai. Juga masalah tidak bersatunya tiga anak biologis
Bung Karno dalam satu partai politik.
Cak Reos menuturkan,
24 partai politik peserta Pemilu 2004 terdiri atas 17
partai dengan mengusung ideologi Pancasila, 5 Islam, serta
2 marhaenisme dan ajaran Bung Karno. Kaum nasionalis
dibuat bingung harus memilih yang mana. ''Partai orba itu
membahayakan. Hal itu sudah saya tanyakan kepada mereka,''
tegas Cak Roes. (kmb7)
|