kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 20 Desember 2003

 Politik



Prihatin, Putri BK Tak Akur

Jakarta (Bali Post) -
Kehadiran tiga srikandi Bung Karno di kancah politik sangat menyedihkan. Sebab, kehadiran mereka tidak membawa ajaran ideologi Bung Karno, tetapi hanya mengandalkan karisma Bung Karno. Demikian ditegaskan Roeslan Abdulgani di Jakarta, Jumat (19/12) kemarin.

Kalau saja Bung Karno masih hidup, katanya, melihat ketiga anaknya berkompetisi dalam Pemilu 2004, mungkin bakal tertawa. ''Dia akan tertawa karena lucu. Sebab, seakan-akan mereka mendapat pendidikan politik dari Bung Karno,'' ujarnya.

Bung Karno punya pendapat bahwa siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya harus dipilih oleh rakyat. ''Bung Karno tidak pernah membikin bahwa anak ini harus jadi pengganti saya,'' imbuh Roeslan yang akrab disapa Cak Roes ini. Kendati demikian, jika diminta memilih, kira-kira Bung Karno memilih yang mana ketika melihat anaknya berkompetisi. Cak Roes menturkan, ''Dalam hati Bung Karno mungkin yang masih cocok itu Rachmawati. Sebab, Rachma itu sejak kecil memang rajin belajar, membaca. Sayangnya Rachma itu sakit-sakitan.''

Anak-anak Bung Karno yang lain cuma anak biologis dan bukan anak ideologis. Mereka hanyalah anak karena keturunan dan tidak memiliki talenta sebagai politikus yang memperjuangkan gagasan-gagasan besar Soekarno. Anak-anak biologis tidak menjamin sebagai anak ideologis.

Tampilnya tiga putri Bung Karno itu juga ditanyakan berkali-kali oleh Cak Roes kepada ketiganya. ''Mengapa mereka tidak bisa akur? Saya sudah menanyakan hal itu kepada mereka. Berkali-kali saya tanyakan hal itu,'' ujar Cak Roes. Bukan jawaban yang mengenakkan yang diterimanya. ''Kadang-kadang saya malah dimarahin. Alasannya, kok ikut cawe-cawe,'' jelasnya.

Sejatinya, Cak Roes ingin mengajak keluarga Bung Karno bersatu dalam satu ikatan partai, sehingga perjuangan menegakkan kembali gagasan-gagasan besar Bung Karno lebih mudah tercapai. Rakyat pun melihat keluarga Bung Karno tidak terpecah belah, sehingga pengikut Soekarno pun tidak ikut terbelah-belah. Ada pengikut Rachma, Mega atau Sukma.

Di sisi lain, jika keluarga ini bersatu, kebangkitan orde baru tidak membahayakan kaum reformis. Sebab, rakyat akan memilih partai yang tepat dalam pemilu nanti. Sekarang ini, rakyat menjadi bingung, mau memilih partai yang mana. Jika dibandingkan, dari ketiga anak Bung Karno tersebut, kira-kira siapakah yang sukses dalam merebut perhatian publik dalam Pemilu 2004 nanti? Cak Roes mengatakan, ''Saya tidak bisa mengukur kesadaran politik masyarakat sekarang.'' Jawaban diplomatis Cak Roes juga belum berani menentukan siapa yang menang di antara tiga putri Bung Karno itu dalam pemilu nanti.

Ditanya bagaimana kriteria pemimpin bangsa ini ke depan, Cak Roes lebih mengutamakan pemimpin yang memiliki moral dan integritas yang tinggi. ''Selain moral itu, pemimpin harus punya iman dan ilmu agar tidak buta dalam mengelola negara dan bangsa ini,'' tegasnya.

Mengkhawatirkan

Sesepuh tokoh nasionalis yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDI Perjuangan ini juga merasa khawatir terhadap perkembangan PDI Perjuangan sekarang ini. Terutama dalam menghadapi pemilu yang akan datang ketika sejumlah partai merencanakan kebangkitan orde baru. Kekhawatiran ini disebabkan masalah internal PDI Perjuangan sendiri yang mengakibatkan banyak kader PDI Perjuangan keluar dari partai. Juga masalah tidak bersatunya tiga anak biologis Bung Karno dalam satu partai politik.

Cak Reos menuturkan, 24 partai politik peserta Pemilu 2004 terdiri atas 17 partai dengan mengusung ideologi Pancasila, 5 Islam, serta 2 marhaenisme dan ajaran Bung Karno. Kaum nasionalis dibuat bingung harus memilih yang mana. ''Partai orba itu membahayakan. Hal itu sudah saya tanyakan kepada mereka,'' tegas Cak Roes. (kmb7)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)