kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 20 Desember 2003

 Ekonomi


TPT Cina Banjiri Pasar Global-----

Indonesia Dirugikan 1,398 Milyar Dolar AS

Denpasar (Bali Post) -
Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Cina telah membajiri pasar global, termasuk di Indonesia. Liberalisasi perdagangan TPT pada tahun 2005 akan membuat industri TPT Cina makin mendominasi. Indonesia diperkirakan kehilangan (rugi) ekspor 1,390 milyar dolar AS.

Demikian dijelaskan Ade Sudrajat, M.Sc., pengurus API Pusat, Jumat (19/12) kemarin di sela-sela Munas X Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) di Kuta. Prediksi yang dikemukakan Sudrajat ini berdasarkan pangsa pasar Cina setelah dihapuskannya 29 kategori kuota oleh Amerika pada 1 Januari 2002. Kebutuhan akan TPT Cina meningkat 967 juta dolar AS saat dihapuskannya kuota 2002.

Sudrajat juga memperkirakan akan terjadi peningkatan pangsa pasar pakaian jadi Cina dari sebesar 31 persen pada tahun 2002 menjadi 59 persen di tahun 2003 dan 77 persen pada tahun berikutnya.

Menurut Sudrajat, rahasia daya saing Cina terletak pada subsidi yang dilakukan pemerintahnya terhadap industri ini. Diungkapkannya, lebih dari 50 persen industri tekstil dan 25 garmen yang dimiliki Cina merupakan perusahaan milik negara atau BUMN dan disubsidi. ''Hampir keseluruhan industri memperoleh dukungan penuh pemerintahnya lewat subsidi,'' ujarnya.

Di samping itu, kekuatan TPT Cina terletak pada melimpahnya tenaga kerja murah. Bisa dikatakan supply tenaga kerja Cina tidak terbatas, karena pemerintahnya dituntut menciptakan lapangan kerja sekitar 15 juta orang/tahunnya.

Sehari sebelumnya, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini M.S. Soewandi sempat mengutarakan kekhawatirannya menyangkut tingginya dominasi TPT Cina di pasar internasional. Sebagai contohnya, ekspor Cina ke AS pada tahun ini meningkat tajam menjadi sekitar 105 milyar dolar AS, yang sebagian didominasi oleh produk garmen. Diperkirakan terjadi kenaikan ekspor sebesar 70-80 persen per tahunnya. ''Ketika melakukan kunjungan ke AS, saya sempat menyampaikan kekhawatiran mengenai dominasi Cina. Akhirnya pemerintah AS memberlakukan pembatasan terhadap produk pakaian jadi yang berasal dari Cina,'' katanya.

Tempat Transit

Kekhawatiran lain yang dipaparkan Rini pada pembukaan Munas API dua hari yang lalu adalah dijadikannya Indonesia sebagai tempat transit TPT Cina. Hal ini dimungkinkan mengingat sampai saat ini saja, banyak TPT Cina yang membanjiri pasaran. Permasalahan ini, menurutnya, perlu menjadi perhatian API. Yang perlu diperhatikan, kata Rini lebih lanjut, pengurusan dokumen ekspor dengan mengatasnamakan Indonesia.

''Bisa saja TPT Cina mengurus dokumen di Indonesia. Jangan-jangan nanti ekspor TPT kita meningkat tajam karena TPT Cina yang menggunakan dokumen Indonesia. Padahal industrinya sendiri sudah mau ambruk,'' tandasnya.

Kesempatan berbicara di depan anggota API tersebut juga digunakan Rini Soewandi untuk mengetengahkan kembali ancaman lain industri TPT nasional, yakni masuknya pakaian bekas impor. Dia menyatakan masuknya pakaian bekas impor tersebut bisa saja dilakukan oleh orang-orang API. ''Mungkin ada beberapa anggota API yang terlibat, saya hanya dengar-dengar saja. Itu artinya menyengsarakan anggota API lain yang tidak terlibat,'' ujarnya. (iah)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)