TPT Cina Banjiri Pasar Global-----
Indonesia
Dirugikan 1,398 Milyar Dolar AS
Denpasar
(Bali Post) -
Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Cina telah membajiri
pasar global, termasuk di Indonesia. Liberalisasi
perdagangan TPT pada tahun 2005 akan membuat industri TPT
Cina makin mendominasi. Indonesia diperkirakan kehilangan
(rugi) ekspor 1,390 milyar dolar AS.
Demikian dijelaskan
Ade Sudrajat, M.Sc., pengurus API Pusat, Jumat (19/12)
kemarin di sela-sela Munas X Asosiasi Pertekstilan
Indonesia (API) di Kuta. Prediksi yang dikemukakan
Sudrajat ini berdasarkan pangsa pasar Cina setelah
dihapuskannya 29 kategori kuota oleh Amerika pada 1
Januari 2002. Kebutuhan akan TPT Cina meningkat 967 juta
dolar AS saat dihapuskannya kuota 2002.
Sudrajat juga
memperkirakan akan terjadi peningkatan pangsa pasar
pakaian jadi Cina dari sebesar 31 persen pada tahun 2002
menjadi 59 persen di tahun 2003 dan 77 persen pada tahun
berikutnya.
Menurut Sudrajat,
rahasia daya saing Cina terletak pada subsidi yang
dilakukan pemerintahnya terhadap industri ini.
Diungkapkannya, lebih dari 50 persen industri tekstil dan
25 garmen yang dimiliki Cina merupakan perusahaan milik
negara atau BUMN dan disubsidi. ''Hampir keseluruhan
industri memperoleh dukungan penuh pemerintahnya lewat
subsidi,'' ujarnya.
Di samping itu,
kekuatan TPT Cina terletak pada melimpahnya tenaga kerja
murah. Bisa dikatakan supply tenaga kerja Cina tidak
terbatas, karena pemerintahnya dituntut menciptakan
lapangan kerja sekitar 15 juta orang/tahunnya.
Sehari sebelumnya,
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini M.S. Soewandi
sempat mengutarakan kekhawatirannya menyangkut tingginya
dominasi TPT Cina di pasar internasional. Sebagai
contohnya, ekspor Cina ke AS pada tahun ini meningkat
tajam menjadi sekitar 105 milyar dolar AS, yang sebagian
didominasi oleh produk garmen. Diperkirakan terjadi
kenaikan ekspor sebesar 70-80 persen per tahunnya. ''Ketika
melakukan kunjungan ke AS, saya sempat menyampaikan
kekhawatiran mengenai dominasi Cina. Akhirnya pemerintah
AS memberlakukan pembatasan terhadap produk pakaian jadi
yang berasal dari Cina,'' katanya.
Tempat
Transit
Kekhawatiran lain
yang dipaparkan Rini pada pembukaan Munas API dua hari
yang lalu adalah dijadikannya Indonesia sebagai tempat
transit TPT Cina. Hal ini dimungkinkan mengingat sampai
saat ini saja, banyak TPT Cina yang membanjiri pasaran.
Permasalahan ini, menurutnya, perlu menjadi perhatian API.
Yang perlu diperhatikan, kata Rini lebih lanjut,
pengurusan dokumen ekspor dengan mengatasnamakan
Indonesia.
''Bisa saja TPT Cina
mengurus dokumen di Indonesia. Jangan-jangan nanti ekspor
TPT kita meningkat tajam karena TPT Cina yang menggunakan
dokumen Indonesia. Padahal industrinya sendiri sudah mau
ambruk,'' tandasnya.
Kesempatan berbicara
di depan anggota API tersebut juga digunakan Rini Soewandi
untuk mengetengahkan kembali ancaman lain industri TPT
nasional, yakni masuknya pakaian bekas impor. Dia
menyatakan masuknya pakaian bekas impor tersebut bisa saja
dilakukan oleh orang-orang API. ''Mungkin ada beberapa
anggota API yang terlibat, saya hanya dengar-dengar saja.
Itu artinya menyengsarakan anggota API lain yang tidak
terlibat,'' ujarnya. (iah)
|