kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 20 Desember 2003

 Ekonomi


Hasil Penelitian Unud------

Jenuh, Keberadaan Kantor Bank
di Denpasar dan Badung

Denpasar (Bali POst) -
Terlalu padatnya keberadaan bank di satu wilayah bisa membawa risiko buruk, karena akan memunculkan persaingan yang ketat dan menjadikan biaya operasional bank bersangkutan. Demikian antara lain terungkap dalam seminar hasil penelitian tingkat kejenuhan kantor bank di Bali, Jumat (19/12) kemarin.

Penelitian tersebut merupakan kerja sama Bank Indonesia (BI) Denpasar dengan Lembaga Penelitian Universitas Udayana. Seperti diungkapkan Ketua Tim Peneliti Dr. I Putu Gede Sukaatmaja, S.E., M.P., berdasarkan analisis IKR (Indeks Kebutuhan Regional) secara umum keberadaan kantor bank di Bali sudah jenuh. Namun, bukan berarti kalau daerah ini sudah tak dimungkinkan lagi adanya penambahan layanan bank baru. Sebab, penelitian itu juga menunjukkan beberapa kabupaten justru sedikit kantor banknya. ''Jadi di satu sisi ada daerah yang sudah padat, namun ada yang masih terbuka,'' jelasnya.

Daerah yang nampak jenuh adalah Denpasar dan Badung. Sementara Jembrana, Bangli, Karangasem dan Buleleng merupakan kawasan yang masih terbuka untuk mendirikan bank baru. Untuk Tabanan dan Gianyar statusnya khusus yakni memerlukan kajian dan pertimbangan tertentu untuk menambah kantor bank baru.

Dari kondisi tersebut, Dr. Sukaatmaja mengatakan ada beberapa variabel yang mempengaruhi tingkat kejenuhan bank yakni jumlah nasabah, dana pihak ketiga serta luas wilayah termasuk PDRB. Jadi banyak hal yang bisa berpengaruh bagi hadirnya sebuah bank.

Menurut Pemimpin BI Denpasar Lukman Boenjamin, kehadiran sebuah bank dalam satu wilayah selain memang dipengaruhi kepadatan lembaga pelayanan yang sudah ada juga dinamika kegiatan ekonomi masyarakat sangat menentukan. Jika pertumbuhan ekonomi meningkat yang bisa dilihat dari tingginya simpanan dana pihak ketiga serta naiknya penyaluran kredit maka kegiatan bank bisa berjalan dengan baik.

Terkait hasil penelitian tersebut, dikatakannya, pihaknya melihat ada beberapa daerah yang masih memelukan layanan bank. Daerah yang kebanyakan tersebar di luar Badung dan Denpasar itu, tambahnya, memiliki karakter ekonomi yang berbeda dan stabil. Potensi pertanian dan industri memiliki kontribusi besar bagi ekonomi masyarakatnya.

Oleh karena itu, tambah Lukman, daerah-daerah ini sebenarnya memerlukan kehadiran lembaga penyandang dana yang lebih besar. ''Kehadiran bank bisa membantu kebutuhan modal masyarakat yang belum bisa ditalangi BPR,'' ujarnya menanggapi kemungkinan masuknya bank umum bisa mengganggu BPR. Menurut Lukman, BPR memiliki pangsa pasar tersendiri dan dari sisi modal juga terbatas. Jadi nasabah yang memerlukan modal besar bisa dibantu oleh bank umum.

Hal berbeda terjadi di Badung dan Denpasar yang sangat bergantung pada pariwisata. Kedua wilayah ini memang terkenal padat aktivitas ekonominya. Karena itu, menurut Lukman, sepanjang kegiatan ekonomi bertumbuh dengan baik kehadiran bank memang masih mendukung. Namun, ia mengingatkan, bila terlalu banyak bank juga akan membawa risiko. Sebab, akan tumbun persaingan ketat yang mana ujung-ujungnya akan menaikkan biaya operasional. Kalau nantinya kinerjanya kurang lancar, bank tersebut bisa terganggu kegiatannya. (031)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)