Hasil Penelitian Unud------
Jenuh,
Keberadaan Kantor Bank
di Denpasar dan Badung
Denpasar
(Bali POst) -
Terlalu padatnya keberadaan bank di satu wilayah bisa
membawa risiko buruk, karena akan memunculkan persaingan
yang ketat dan menjadikan biaya operasional bank
bersangkutan. Demikian antara lain terungkap dalam seminar
hasil penelitian tingkat kejenuhan kantor bank di Bali,
Jumat (19/12) kemarin.
Penelitian tersebut
merupakan kerja sama Bank Indonesia (BI) Denpasar dengan
Lembaga Penelitian Universitas Udayana. Seperti
diungkapkan Ketua Tim Peneliti Dr. I Putu Gede Sukaatmaja,
S.E., M.P., berdasarkan analisis IKR (Indeks Kebutuhan
Regional) secara umum keberadaan kantor bank di Bali sudah
jenuh. Namun, bukan berarti kalau daerah ini sudah tak
dimungkinkan lagi adanya penambahan layanan bank baru.
Sebab, penelitian itu juga menunjukkan beberapa kabupaten
justru sedikit kantor banknya. ''Jadi di satu sisi ada
daerah yang sudah padat, namun ada yang masih terbuka,''
jelasnya.
Daerah yang nampak
jenuh adalah Denpasar dan Badung. Sementara Jembrana,
Bangli, Karangasem dan Buleleng merupakan kawasan yang
masih terbuka untuk mendirikan bank baru. Untuk Tabanan
dan Gianyar statusnya khusus yakni memerlukan kajian dan
pertimbangan tertentu untuk menambah kantor bank baru.
Dari kondisi
tersebut, Dr. Sukaatmaja mengatakan ada beberapa variabel
yang mempengaruhi tingkat kejenuhan bank yakni jumlah
nasabah, dana pihak ketiga serta luas wilayah termasuk
PDRB. Jadi banyak hal yang bisa berpengaruh bagi hadirnya
sebuah bank.
Menurut Pemimpin BI
Denpasar Lukman Boenjamin, kehadiran sebuah bank dalam
satu wilayah selain memang dipengaruhi kepadatan lembaga
pelayanan yang sudah ada juga dinamika kegiatan ekonomi
masyarakat sangat menentukan. Jika pertumbuhan ekonomi
meningkat yang bisa dilihat dari tingginya simpanan dana
pihak ketiga serta naiknya penyaluran kredit maka kegiatan
bank bisa berjalan dengan baik.
Terkait hasil
penelitian tersebut, dikatakannya, pihaknya melihat ada
beberapa daerah yang masih memelukan layanan bank. Daerah
yang kebanyakan tersebar di luar Badung dan Denpasar itu,
tambahnya, memiliki karakter ekonomi yang berbeda dan
stabil. Potensi pertanian dan industri memiliki kontribusi
besar bagi ekonomi masyarakatnya.
Oleh karena itu,
tambah Lukman, daerah-daerah ini sebenarnya memerlukan
kehadiran lembaga penyandang dana yang lebih besar. ''Kehadiran
bank bisa membantu kebutuhan modal masyarakat yang belum
bisa ditalangi BPR,'' ujarnya menanggapi kemungkinan
masuknya bank umum bisa mengganggu BPR. Menurut Lukman,
BPR memiliki pangsa pasar tersendiri dan dari sisi modal
juga terbatas. Jadi nasabah yang memerlukan modal besar
bisa dibantu oleh bank umum.
Hal berbeda terjadi
di Badung dan Denpasar yang sangat bergantung pada
pariwisata. Kedua wilayah ini memang terkenal padat
aktivitas ekonominya. Karena itu, menurut Lukman,
sepanjang kegiatan ekonomi bertumbuh dengan baik kehadiran
bank memang masih mendukung. Namun, ia mengingatkan, bila
terlalu banyak bank juga akan membawa risiko. Sebab, akan
tumbun persaingan ketat yang mana ujung-ujungnya akan
menaikkan biaya operasional. Kalau nantinya kinerjanya
kurang lancar, bank tersebut bisa terganggu kegiatannya. (031)
|