kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 20 Desember 2003

 Bali


Berat Kepala Bocah Itu 8 Kg ---- (1)

Mangku Pastika Terenyuh, Siap Jadikan Anak Angkat

Ini baru yang pertama kali Kapolda Bali, Irjen Pol. Drs. Made Mangku Pastika, menunjukkan wajah muram. Sorot matanya yang tajam dan gaya bicara blak-blakan soal penegakan hukum, tiba-tiba hilang entah ke mana. Hati Mangku Pastika benar-benar luluh lantak, galau bercampur sedih. Dia hampir saja meneteskan air mata ketika mengusap kepala bocah penderita hydrocepalus, Komang Open Suartama. Benarkah Komang Open akan menjadi anak angkat Kapolda?

RUANGAN Bougenville di RS Trijata (RS Polda Bali-red) sudah dipermak sejak pagi. Maklum, staf medis yang dipimpin Kadisdokes, Kombes Pol. Sriyono, sudah tahu akan kedatangan tamu penting. Jumat (19/12) kemarin, Kapolda menunggu rombongan bocah penderita tumor kepala (hydrocepalus), Komang Open yang diantar Kapolres Buleleng, M. Safe'i. ''Saya baca koran, ada anak menderita kepala besar. Kasihan, orangtuanya tak mampu,'' bisik Mangku Pastika bernada prihatin.

Jenderal sarat prestasi ini berkeluh-kesah soal kemalangan nasib Komang Open. Sepuluh menit menunggu di serambi depan RS Trijata, Kapolda bercerita soal masa lalu. Saat masih berumur 11 tahun, Mangku Pastika punya keluarga (laki) menderita hydrocepalus. Lantaran tak punya dana untuk berobat, akhirnya orang yang dia sayangi meninggal. ''Waktu itu saya kelas II SMP, pindah dari Lampung ke Palembang.''

Niat tulus Kapolda menyelamatkan nyawa seorang anak, memang berawal dari cerita duka yang dilantunkan keluarga Komang Open. Bocah asal Banjar Pangkungkaruk, Seririt itu perlu dana untuk berobat. Pasangan Ketut Rita-Nyoman Sanggri (orangtua Open) hanya petani kecil, mencari uang untuk ongkos kendaraan ke kota saja tak mampu. Begitulah, Komang Open mengadu pada angin sebelum didengar oleh dermawan yang tak lain jenderal bintang dua.

Nyanyian lara yang dikumandangkan Komang Open ternyata tak begitu lama terkatung-katung. Mangku Pastika usai membaca Bali Post terbitan Rabu (17/12), langsung mengumpulkan keluarga. Materi tunggal yang dibahas dalam ''sidang'', tak lain menanggung seluruh biaya medis untuk Komang Open. Selain direstui sang istri, ide Kapolda juga mendapat dukungan dari ketiga putranya. ''Saya perintahkan Kapolres Buleleng agar membawa Komang Open ke Denpasar. Biaya berobat bocah malang itu semua dari saku Kapolda Bali,'' tegasnya.

Pukul 12.15, rombongan Komang Open tiba di RS Trijata. Ketika turun dari kendaraan Kapolres Buleleng, Nyoman Sanggri sampai harus duduk di lantai lantaran tak kuat menimang Komang Open yang punya berat kepala 8 kilogram. ''Ngiring ke ruangan bu Mang, sabar dan berobat yang baik di sini,'' kata Kapolda seraya mengusap kepala Komang Open.

Suasana di ruangan Bougenville terasa hening di tengah kerumunan puluhan orang. Semua memandang Komang Open dengan perasaan iba. Para perawat saling berbisik, Ketut Rita duduk dengan wajah sayu, dan sorot mata Kapolda tiba-tiba redup. Mangku Pastika tampak sedih membaca takdir yang harus dijalani Komang Open. Pipi Ketua Tim Investigasi Bom Bali itu memerah, dan begitu jelas hampir meneteskan air mata. ''Bapak dan ibu tenang saja, terima semua dengan lapang dada. Mulai sekarang, Komang Open berobat di sini, saya nanti yang bayar biaya RS,'' ucap Kapolda disambut dengan cakupan tangan oleh pasangan Rita-Sanggri.

Berselang 15 menit, dr. Sri Maliawan, Sp.BS. masuk ruangan Bougenville. Komang Open langsung mendapat terapi medis awal, terutama soal segala kemungkinan setelah menjalani operasi. ''Segera kita operasi, tetapi upaya maksimal dokter hanya menyetop pembesaran kepala pasien,'' kata Maliawan.

Usai memeriksa pasien, Maliawan langsung melakukan pertemuan empat mata dengan Kapolda Bali. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas Komang Open masih menangis di pangkuan ibunya. Tak lama kemudian, Mangku Pastika keluar dengan wajah yang masih terkesan sayu. ''Jika anak itu selamat, akan saya jadikan anak angkat,'' bisiknya penuh makna. Begitulah, rasa sedih Kapolda terhadap bocah penderita hydrocepalus mengalahkan kekokohan hati seorang jenderal penangkap teroris. * suentra

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)