Berat Kepala Bocah Itu 8 Kg ---- (1)
Mangku Pastika
Terenyuh, Siap Jadikan Anak Angkat
Ini baru yang
pertama kali Kapolda Bali, Irjen Pol. Drs. Made Mangku
Pastika, menunjukkan wajah muram. Sorot matanya yang tajam
dan gaya bicara blak-blakan soal penegakan hukum,
tiba-tiba hilang entah ke mana. Hati Mangku Pastika
benar-benar luluh lantak, galau bercampur sedih. Dia
hampir saja meneteskan air mata ketika mengusap kepala
bocah penderita hydrocepalus, Komang Open Suartama.
Benarkah Komang Open akan menjadi anak angkat Kapolda?
RUANGAN
Bougenville di RS Trijata (RS Polda Bali-red) sudah
dipermak sejak pagi. Maklum, staf medis yang dipimpin
Kadisdokes, Kombes Pol. Sriyono, sudah tahu akan
kedatangan tamu penting. Jumat (19/12) kemarin, Kapolda
menunggu rombongan bocah penderita tumor kepala (hydrocepalus),
Komang Open yang diantar Kapolres Buleleng, M. Safe'i. ''Saya
baca koran, ada anak menderita kepala besar. Kasihan,
orangtuanya tak mampu,'' bisik Mangku Pastika bernada
prihatin.
Jenderal sarat
prestasi ini berkeluh-kesah soal kemalangan nasib Komang
Open. Sepuluh menit menunggu di serambi depan RS Trijata,
Kapolda bercerita soal masa lalu. Saat masih berumur 11
tahun, Mangku Pastika punya keluarga (laki) menderita
hydrocepalus. Lantaran tak punya dana untuk berobat,
akhirnya orang yang dia sayangi meninggal. ''Waktu itu
saya kelas II SMP, pindah dari Lampung ke Palembang.''
Niat tulus Kapolda
menyelamatkan nyawa seorang anak, memang berawal dari
cerita duka yang dilantunkan keluarga Komang Open. Bocah
asal Banjar Pangkungkaruk, Seririt itu perlu dana untuk
berobat. Pasangan Ketut Rita-Nyoman Sanggri (orangtua
Open) hanya petani kecil, mencari uang untuk ongkos
kendaraan ke kota saja tak mampu. Begitulah, Komang Open
mengadu pada angin sebelum didengar oleh dermawan yang tak
lain jenderal bintang dua.
Nyanyian lara yang
dikumandangkan Komang Open ternyata tak begitu lama
terkatung-katung. Mangku Pastika usai membaca Bali Post
terbitan Rabu (17/12), langsung mengumpulkan keluarga.
Materi tunggal yang dibahas dalam ''sidang'', tak lain
menanggung seluruh biaya medis untuk Komang Open. Selain
direstui sang istri, ide Kapolda juga mendapat dukungan
dari ketiga putranya. ''Saya perintahkan Kapolres Buleleng
agar membawa Komang Open ke Denpasar. Biaya berobat bocah
malang itu semua dari saku Kapolda Bali,'' tegasnya.
Pukul 12.15,
rombongan Komang Open tiba di RS Trijata. Ketika turun
dari kendaraan Kapolres Buleleng, Nyoman Sanggri sampai
harus duduk di lantai lantaran tak kuat menimang Komang
Open yang punya berat kepala 8 kilogram. ''Ngiring ke
ruangan bu Mang, sabar dan berobat yang baik di sini,''
kata Kapolda seraya mengusap kepala Komang Open.
Suasana di ruangan
Bougenville terasa hening di tengah kerumunan puluhan
orang. Semua memandang Komang Open dengan perasaan iba.
Para perawat saling berbisik, Ketut Rita duduk dengan
wajah sayu, dan sorot mata Kapolda tiba-tiba redup. Mangku
Pastika tampak sedih membaca takdir yang harus dijalani
Komang Open. Pipi Ketua Tim Investigasi Bom Bali itu
memerah, dan begitu jelas hampir meneteskan air mata. ''Bapak
dan ibu tenang saja, terima semua dengan lapang dada.
Mulai sekarang, Komang Open berobat di sini, saya nanti
yang bayar biaya RS,'' ucap Kapolda disambut dengan
cakupan tangan oleh pasangan Rita-Sanggri.
Berselang 15 menit,
dr. Sri Maliawan, Sp.BS. masuk ruangan Bougenville. Komang
Open langsung mendapat terapi medis awal, terutama soal
segala kemungkinan setelah menjalani operasi. ''Segera
kita operasi, tetapi upaya maksimal dokter hanya menyetop
pembesaran kepala pasien,'' kata Maliawan.
Usai memeriksa
pasien, Maliawan langsung melakukan pertemuan empat mata
dengan Kapolda Bali. Entah apa yang mereka bicarakan, yang
jelas Komang Open masih menangis di pangkuan ibunya. Tak
lama kemudian, Mangku Pastika keluar dengan wajah yang
masih terkesan sayu. ''Jika anak itu selamat, akan saya
jadikan anak angkat,'' bisiknya penuh makna. Begitulah,
rasa sedih Kapolda terhadap bocah penderita hydrocepalus
mengalahkan kekokohan hati seorang jenderal penangkap
teroris. * suentra
|