kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 20 Desember 2003

 Bali


Menurun, Kualitas Pendidikan di Jembrana
Buntut Kebijakan Bebas SPP ---

Negara (Bali Post) -
Kebijakan bebas biaya pendidikan atau SPP yang diterapkan oleh Pemkab Jembrana ternyata berdampak kurang baik bagi mutu pendidikan. Masalahnya, saat ini ada kecenderungan mutu pendidikan di daerah ini menurun. Hal ini dapat dilihat dari perolehan juara dalam mengikuti beberapa lomba antarkabupaten.

Hal ini terungkap dalam dialog terbuka yang berlangsung di Dauh Waru, Negara, Jumat (19/12) kemarin. Dialog terbuka ini diselenggaran oleh Forum Garda Republik (FGR) yang diikuti oleh berbagai komponen masyarakat. Sayangnya, dialog terbuka tersebut tanpa dihadiri oleh pihak eksekutif maupun legislatif.

Ketua PGRI Jembrana, Drs. I Gede Laut Mertajaya, M.Si., yang ikut sebagai peserta dalam dialog kemarin mengungkapkan kebijakan bebas SPP sesungguhnya sangat merugikan mutu pendidikan anak sekolah. "Sekolah di Jembrana sekarang ini sudah tidak mampu lagi bersaing dengan sekolah lain di luar Jembrana. Belum lama ini kita mengikuti lomba MIPA, kualitas kita kalah jauh. Kualitas sekolah kita sudah tertinggal jauh bila dibandingkan dengan Denpasar dan Badung," ujar guru SMUN 1 Negara ini.

Meski diakui kebijakan bebas SPP sesungguhnya merupakan ide yang sangat bagus, sayangnya kebutuhan sekolah akan biaya operasional dirasakan masih sangat kurang. Betapa tidak, niat untuk meningkatkan kualitas anak didik, terbentur dengan tidak tersedianya anggaran yang memadai.

Ia mencontohkan, bila sekolah ingin melakukan peningkatan mutu siswa melalui kegiatan ekstra, memerlukan biaya tambahan. Biaya ini baru bisa keluar setelah mengajukan proposal kepada pemkab. Belum lagi, prosesnya sangat lama atau kemungkinan ditolak. "Nah kalau seperti ini, bagaimana kami bisa meningkatkan kualitas siswa," tanyanya. Kelemahan yang ditimbulkan oleh kebijakan itu harus diatasi pemkab. Kalau berlangsung lama, dikhawatirkan sejumlah calon siswa akan banyak yang memilih sekolah di luar Jembrana. "Kini sudah banyak anak-anak tamanan SLTP yang memilih sekolah di Denpasar. Terutama yang memikirkan masalah kualitas," ujarnya.

Di sisi lain, sejumlah kelemahan pendidikan di Jembrana juga sempat dilontarkan mantan Kepala SLTPN 2 Negara ini. Salah satunya yakni adanya ketimpangan dalam memberikan fasilitas kepada sekolah. Ia melihat tidak semua sekolah mendapat perlakuan yang sama.

Dalam dialog kemarin, selain masalah pendidikan, juga beberapa kebijakan yang telah diambil Pemkab Jembrana dikupas. Sedikitnya ada lima persoalan yang menjadi topik dialog, yakni masalah HUT ke-108 Kota Negara, restrukturisasi, proyek Air Megumi, bantuan ke desa-desa, serta dana purnabakti. "Hasil dialog ini akan kami sampaikan kepada instansi terkait untuk dikaji lebih lanjut," ujar Sekretaris Panitia Ir. Ketut Widastra. (kmb12)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)