kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Kliwon, 20 Desember 2003

 Bali


Warung Global

KPU harus Beri Sanksi bagi Partai yang Melanggar

Tujuh partai dari 24 kontestan pemilu yang lolos verifikasi molor sampai tiga hari menyetorkan rekening kampanye partai ke KPU. Partai-partai itu dianggap partai yang tidak bonafid. Mereka itu arogan, tidak memberi teladan yang baik, berani-beraninya tidak mengindahkan aturan main KPU sebagaimana ditetapkan. Hal yang sederhana saja sulit dipenuhi, apalagi hal yang lebih krusial. Tokoh partai model begitu itu tidak layak dan kapabel untuk bertugas mengikis KKN. Demikian tanggapan para pengujung Warung Global pada acara interaktif Radio Global Kini Jani 99,15 FM, dengan mengusung tema ''Tujuh Partai Abaikan Peraturan''. Acara yang digelar Jumat (19/12) kemarin ini, juga direlai Radio Genta Swara Sakti 106,15 FM dan Singaraja FM 107,2 FM. Berikut rangkumannya.

===========================================================

Ketujuh partai yang belum menyetor rekening kampanye adalah yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Patriot Pancasila, Partai Merdeka, Partai Penegak Demokrasi Indonesia, Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan, Partai Nasional Banteng Kemerdekaan dan Partai Buruh Sosial Demokrat. Trik yang dipakai parpol itu brundel dan bukan berimplikasi positif. Malah citranya akan menurun dan dianggap sebagai parpol yang tidak profesional dan tidak mengerti aturan main.

Kobra langsung menyorot, partai seperti itu tidak memberikan keteladanan. Dia tidak habis pikir dengan action kurang simpatik itu. Mereka kok tidak menunjukkan solidaritas yang baik. Mestinya jangan neko-neko, taati aturan yang dibuat dan disepakati.

Kalau dana kampanye pemilu itu sesuai pasal 78 harus disetor, diudit kemudian dilaporkan ke KPU, kenapa mereka justru tidak menunjukkan krediblitas sebagai partai yang profesional. ''Kalau hal kecil itu saja diabaikan. Apakah mungkin mereka mampu memegang amanat rakyat memberantas KKN,'' ujarnya.

Menurutnya, mencegah partai berulah maca-macam, sudah semestinya harus berani mendudukkan hukum sebagai panglima. Ketujuh partai itu perlu diberikan ganjaran hukuman yang proporsional demi kewibawaan hukum itu sendiri. ''Jangan lagi ada asas prioritas, lebih-lebih ada indikasi memanfaatkan aji mumpung di balik lemahnya hukum. Kalau sudah salah harus diberikan sanksi sesuai aturan,'' tambahnya.

Prianus mengatakan, peraturan itu dibuat untuk menegakkan hukum. Kalau begitu kualitas partai, sudah pasti jadi pertanyaan besar di kalangan masyarakat. Apakah partai itu sudah layak untuk bertaruh. Wayan Wiranata menegaskan di tengah tidak ada sanksi bagi yang molor, hal itu menjadi wajar-wajar saja. Mestinya setiap aturan yang dibuat harus ada sanksi yang mengikat, bukan sebatas sanksi moral saja.

Ngurah Kapah, di Penatih, mengibaratkan permainan tujuh partai itu seperti drama gong, penuh rekayasa. Sebagai masyarakat dia mengaku tidak mendapat manfaat apa dari arena perpolitikan sekarang. ''Daripada ribut, sikut sana-sini, mendingan duduk hening,'' katanya.

Tak Usah Dipilih

Putu Suwena, mengaku miris memikirkan hal itu. Dia heran ketentuan sederhana begitu tidak diindahkan. Omongannya saja berbuih-buih. Tak ada apanya. Jadi apa yang dikatakan para politisi itu semua omong kosong saja. Partai seperti itu tidak usah dipilih,'' ajaknya.

Sinda mempertanyakan peraturan pemilu itu dibikin oleh siapa. Menurutnya, tokoh-tokoh dari ketujuh partai itu pasti sudah tahu kelemahannya, karena itu mereka berani melakukan trik dalam kaitan strategi dan promosinya. Pawangsa, menilai permainan partai sekarang lebih kotor dari yang dulu. Zaman kaliyuga, membuat politikus bermental buruk. ''Hal sederhana saja sudah mbalelo, bagaima kalau mereka menjabat. Karena itu, sedikit pelajaran perlu bagi mereka,'' tukasnya.

Pernyataan Putra di Braban, Denpasar sederhana saja. Melawan suatu kesepakatan sama artinya mereka itu melawan diri sendiri. ''Masyarakat yang baik mau menghargai hukum, bukan malah pura-pura tidak tahu,'' kritiknya. Sementara Dody di Singaraja menjelaskan bagaimana pun partai itu harus patuh dan taat pada aturan. Eka di Tabanan mengharapkan lebih baik diam daripada banyak omong apalagi asal ngomong. ''Cobalah berpikir arif, menilai segala sesuatu harus komprehensif sehingga tidak salah interpretasi,'' sarannya.

Sukarsana, di Meliling, menyatakan sangat susah menebak apa maunya orang-orang politik. Politik itu penuh misteri. Apa yang dilakukan ketujuh partai itu, justru akan mempersulit dirinya sendiri. Memang, politik itu identik dengan kekuasaan. Jadi, apa yang disampaikan Adi Sasono, mengindikasikan beliau itu memahami betul bagaimana percaturan politik di Indonesia. ''Menyelesaikan politik dengan kerangka moral, sama juga bohong di Indonesia,'' ingatnya. (ram)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)