kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 3 Oktober 2002

 Surat Pembaca


Berharap Bali tetap Asri

Bali di mata dunia sepanjang zaman harus asri dan lestari. Kalau benar demikian apakah kita tidak mampu berbuat seperti itu? Kalau ada niat yang sungguh-sungguh ke arah itu, pasti ada jalan. Dalam hal ini tentu peran pikiran yang sehat dan pelaksanaan yang jujur akan sangat mendukung ke arah tujuan tersebut. Pinggirkan sikap penonjolan diri dan golongan, serta sifat egois dalam pelaksanaan di lapangan. Sementara setiap komponen pariwisata Bali tak boleh lagi mencari keuntungan-keuntungan sesaat. Karena hal semacam itu akan selalu merupakan hambatan besar dalam pengembangan pariwisata budaya Bali yang sesungguhnya. Jangan lagi ada pihak-pihak yang pura-pura tak mengerti pada terwujudnya pariwisata budaya Bali yang langgeng sepanjang masa.

Oleh karena itu, ikutilah tata ruang yang akan disempurnakan lagi. Sedangkan bangunan-bangunan yang kini ternyata menyimpang, minimal ditata kembali. Sedangkan pembangunan baru tak boleh melanggar garis tata ruang baru. Dengan demikian, mudah-mudahan Bali bisa diselamatkan.

Anggaplah kesemrawutan sekarang ini kecil saja, tetapi kalau tak dicegat dan berlangsung terus-menerus apa jadinya? Untuk itu, hindarilah pikiran-pikiran meraup dolar sebanyak-banyaknya demi keuntungan besar semata. Pikiran yang egois akan selalu menghalalkan segala cara dalam bentuk KKN yang terselubung. Pembangunan dan pengembangan pariwisata budaya Bali itu, harus sanggup memperkecil celah KKN. Setiap pengusaha tentu wajar saja mencari keuntungan, tetapi harus tetap memperhatikan koridor keasrian dan kelestarian budaya Bali. Ingatlah pengembangan Bali jangan sampai mengusik panorama yang indah alami sejak dahulu, sebelum ditata apik seperti sekarang. Aneh sekali kalau ditata dan dikembangkan sedemikian rupa malah Bali makin semrawut dan kehilangan pamornya. Tentu kita tak mengingkari ada kesalahan tertentu yang sengaja ditutup-tutupi. Hal semacam inilah yang merupakan hambatan besar dan juga menjadi musuh besar pengembangan pariwisata budaya Bali.

Sementara itu, unsur-unsur mendasar pariwisata budaya Bali seperti penduduk pribumi yang mayoritas Hindu tetap diperimbangkan dan dipertahankan keberadaannya. Jangan sampai memperkecil penduduk pribumi itu ke tingkat di bawah garis perimbangan.

Tata ruang Bali harus selalu memperhitungkan kondisi Bali, jangan sampai mengganggu perwujudan Bali yang harmonis, yang berimbang antara kawasan perhotelan, bangunan pura-pura, perindustrian, pertanian, pegunungan, pesisir dan sarana-sarana-prasarana lainnya. Mengatasi kemacetan lalu lintas di Kuta dan di Kota Denpasar semestinya sudah ada perencanaan atau bahkan solusinya. Mungkin nanti terpaksa harus dibuat jalan layang untuk ke luar dari kawasan Kuta, di atas jalan masuk ke Kuta yang ada sekarang. Itu terserah kepada yang berwajib. Yang penting solusinya untuk mengatasi kemacetan-kemacetan itu sesegera mungkin bisa dimulai.

Mengatasi semua itu, mungkin perlu dibentuk Badan Koordinasi Bali yang melibatkan pejabat pemerintah. Baiknya badan inilah yang akan mengawali dengan tindakan-tindakan proaktif di lapangan untuk menepis setiap hambatan yang mungkin muncul. Kalau tak ada tindakan-tindakan nyata dalam upaya pembenahan itu, hingga kapan pun Bali akan tetap seperti sekarang.

I Nyoman Suparsa
Br. Jagasatru, Kediri, Tabanan

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)