|
Berharap
Bali tetap Asri
Bali di
mata dunia sepanjang zaman harus asri dan lestari. Kalau
benar demikian apakah kita tidak mampu berbuat seperti itu?
Kalau ada niat yang sungguh-sungguh ke arah itu, pasti ada
jalan. Dalam hal ini tentu peran pikiran yang sehat dan
pelaksanaan yang jujur akan sangat mendukung ke arah
tujuan tersebut. Pinggirkan sikap penonjolan diri dan
golongan, serta sifat egois dalam pelaksanaan di lapangan.
Sementara setiap komponen pariwisata Bali tak boleh lagi
mencari keuntungan-keuntungan sesaat. Karena hal semacam
itu akan selalu merupakan hambatan besar dalam
pengembangan pariwisata budaya Bali yang sesungguhnya.
Jangan lagi ada pihak-pihak yang pura-pura tak mengerti
pada terwujudnya pariwisata budaya Bali yang langgeng
sepanjang masa.
Oleh
karena itu, ikutilah tata ruang yang akan disempurnakan
lagi. Sedangkan bangunan-bangunan yang kini ternyata
menyimpang, minimal ditata kembali. Sedangkan pembangunan
baru tak boleh melanggar garis tata ruang baru. Dengan
demikian, mudah-mudahan Bali bisa diselamatkan.
Anggaplah
kesemrawutan sekarang ini kecil saja, tetapi kalau tak
dicegat dan berlangsung terus-menerus apa jadinya? Untuk
itu, hindarilah pikiran-pikiran meraup dolar
sebanyak-banyaknya demi keuntungan besar semata. Pikiran
yang egois akan selalu menghalalkan segala cara dalam
bentuk KKN yang terselubung. Pembangunan dan pengembangan
pariwisata budaya Bali itu, harus sanggup memperkecil
celah KKN. Setiap pengusaha tentu wajar saja mencari
keuntungan, tetapi harus tetap memperhatikan koridor
keasrian dan kelestarian budaya Bali. Ingatlah
pengembangan Bali jangan sampai mengusik panorama yang
indah alami sejak dahulu, sebelum ditata apik seperti
sekarang. Aneh sekali kalau ditata dan dikembangkan
sedemikian rupa malah Bali makin semrawut dan kehilangan
pamornya. Tentu kita tak mengingkari ada kesalahan
tertentu yang sengaja ditutup-tutupi. Hal semacam inilah
yang merupakan hambatan besar dan juga menjadi musuh besar
pengembangan pariwisata budaya Bali.
Sementara
itu, unsur-unsur mendasar pariwisata budaya Bali seperti
penduduk pribumi yang mayoritas Hindu tetap diperimbangkan
dan dipertahankan keberadaannya. Jangan sampai memperkecil
penduduk pribumi itu ke tingkat di bawah garis perimbangan.
Tata
ruang Bali harus selalu memperhitungkan kondisi Bali,
jangan sampai mengganggu perwujudan Bali yang harmonis,
yang berimbang antara kawasan perhotelan, bangunan
pura-pura, perindustrian, pertanian, pegunungan, pesisir
dan sarana-sarana-prasarana lainnya. Mengatasi kemacetan
lalu lintas di Kuta dan di Kota Denpasar semestinya sudah
ada perencanaan atau bahkan solusinya. Mungkin nanti
terpaksa harus dibuat jalan layang untuk ke luar dari
kawasan Kuta, di atas jalan masuk ke Kuta yang ada
sekarang. Itu terserah kepada yang berwajib. Yang penting
solusinya untuk mengatasi kemacetan-kemacetan itu sesegera
mungkin bisa dimulai.
Mengatasi
semua itu, mungkin perlu dibentuk Badan Koordinasi Bali
yang melibatkan pejabat pemerintah. Baiknya badan inilah
yang akan mengawali dengan tindakan-tindakan proaktif di
lapangan untuk menepis setiap hambatan yang mungkin muncul.
Kalau tak ada tindakan-tindakan nyata dalam upaya
pembenahan itu, hingga kapan pun Bali akan tetap seperti
sekarang.
I
Nyoman Suparsa
Br. Jagasatru, Kediri, Tabanan
|