kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 3 Oktober 2002

 Pariwisata


Lombok Garap Wisata Tirtayatra

Lombok selalu memikat dengan kekayaan alam dan budayanya. Selain memiliki kawasan wisata pantai, Lombok pun kaya dengan objek wisata pegunungan. Namun belakangan, wisatawan memburu objek wisata sakral, yang tidak saja bisa membasuh kepenatan, melainkan juga memberikan kedamaian batin. Wisata yang ramah lingkungan ini belakangan disebut wisata tirtayatra. Orang asing menyebutnya holy tour. Bagaimana minat wisatawan?

Serombongan wisatawan turun dari atas bus Sabtu lalu. Jumlah mereka mencapai 30-an orang. Sambil menenteng perbekalan seadanya, mereka menuju penginapan yang menampungnya, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke objek-objek wisata yang dituju.

Wisatawan ini tergolong unik. Sebab, mereka bukan berwisata murni untuk bersenang-senang, melainkan mencari kedamaian batin. Barangkali karena Bali sudah terlalu hiruk-pikuk, wisatawan itu menuju Lombok yang masih menyimpan keasrian dan menjadi sebuah misteri. Yang mereka tuju pun bukanlah pantai, melainkan tempat-tempat suci, terutama yang memiliki mata air suci.

Inilah wisata baru bagi masyarakat Indonesia umumnya. Disebut baru, mengingat trend wisata ini muncul tahun 2002. Oleh karena itu, jumlah wisatawan yang datang pun masih tergolong minim, hanya ratusan orang tiap bulan. Namun dengan intensitas yang rutin, kedatangan wisatawan jenis ini bisa diharapkan dalam mengeduk PAD.

Mereka umumnya melakukan perjalanan mengunjungi tempat suci berusia tua yang memiliki mata air. Di Lombok, tempat suci ini terdapat di Taman Mayura, Taman Lingsar, Taman Narmada, dan Suranadi. Objek wisata itulah yang oleh Pemprop NTB semula dipromosikan sebagai Bali di Lombok. Hanya perbedaannya, ada unsur-unsur pembauran masyarakat di sana. Jika di Bali sejumlah pura maupun taman murni unsur kebaliannya. Tempat-tempat suci atau objek wisata bernuansa Bali di Lombok memiliki latar pembauran yang cukup kental dengan masyarakat setempat.

Taman Mayura yang berada di jantung kota Mataram contohnya, terdapat patung haji (orang Pakistan) dan patung Cina. Patung yang berada di Bale Kambang ini dinilai sebagai bentuk jalinan kemitraan antara orang Pakistan (Islam), etnis Tionghoa dan warga Kerajaan Karangasem Lombok pada masa itu. Orang Pakistan itu pula yang menyarankan agar raja memelihara predator berupa burung merak sebagai pemangsa ular yang ada di Taman Narmada. Artinya, pada masa itu terjadi jalinan kerja sama perdagangan Kerajaan Karangasem Lombok dengan dunia luar.

Sementara Lingsar yang berjarak 7,5 km dari kota Mataram memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya, di dalamnya terdapat dua sarana peribadatan keagamaan dengan latar belakang agama dan suku bangsa yang berbeda. Di dalam kompleks ini terdapat pura dan kemaliq. Khususnya kemaliq yang letaknya bersebelahan dengan pura, selain digunakan penganut waktu telu, juga digunakan warga keturunan Cina, terutama penganut Buddha dan Kong Fu Tse.

Tiap bulan keenam menurut perhitungan kalender Bali atau bulan ketujuh menurut kalender Sasak, di Taman Lingsar berlangsung upacara perang topat (ketupat). Perang topat dilakukan menjelang musim menanam padi. Baik warga Hindu maupun muslim berbaur menjadi satu, saling melempar topat sebagai simbol untuk mengembalikan sesuatu yang berasal dari tanah ke tanah. Topat itu pula yang diyakini sebagai bubus lowong atau sejenis pupuk untuk padi yang akan ditanam.

Nah, di Taman Lingsar itulah akhir-akhir ini wisatawan mulai tumpah, baik bagi yang beragama Hindu maupun penganut agama lain. Di sana terdapat pula sebuah mata air yang dianggap bisa memberikan peruntungan. Pada mata air tersebut terdapat ikan julit (ikan yang mirip belut) berukuran cukup besar. Jika kebetulan ikan julit ini muncul ketika wisatawan datang, hal itu dianggap sebagai tanda-tanda rezeki. Berbagai cara pun ditempuh agar ikan itu bisa keluar, di antaranya memancingnya dengan sebutir telur.

Hal yang sama pun ada di Suranadi yang memiliki lima mata air, yakni toya tabah, pengentas, pebersihan, pelukatan dan tirta. Sebuah kolam dengan mata air jernih di areal ini menyimpan misteri ikan julit yang diyakini berusia ratusan tahun. Tidak seorang pun yang berani menangkap ikan yang hidup dalam air yang sangat dingin itu, karena dianggap sebagai sebuah simbol dari peruntungan tadi.

Objek lain yang menjadi tujuan wisata tirtayatra adalah Taman Narmada, berjarak sekitar 11 km dari kota Mataram. Taman yang dikenal sebagai istana musim kemarau itu merupakan taman yang paling besar dibandingkan Mayura maupun Lingsar. Nah, satu lokasi yang acap menjadi tujuan utama wisatawan adalah air kolam Padmawangi yang kemudian dikenal sebagai air awet muda. Di lokasi ini, wisatawan biasanya dilayani seorang juru kunci yang menjadi pengantar pengunjung jika meminta air awet muda. Kalangan wisatawan tidak saja terdiri atas warga masyarakat biasa, melainkan pejabat dan pengusaha. Mereka datang berbondong-bondong ke tempat itu dan membawa oleh-oleh berliter-liter air awet muda.

Wisatawan yang menggemari wisata tirtayatra ini terutama datang dari Jakarta, Surabaya dan Bali. Kendati ada juga wisatawan asing dari Australia dan Pakistan, jumlahnya masih tergolong kecil. Namun, bukan berarti jenis wisata ini tidak produktif dalam mendatangkan wisatawan. Seiring dengan makin memburuknya situasi politik, justru berwisata ke tempat-tempat yang sunyi menjadi sebuah pilihan di antara beragam pilihan. Tidak mengherankan, sejumlah travel pun mulai membuka paket tersebut, baik di Mataram maupun Denpasar.

Salah seorang leader Mega Tour Gede Dedi mengatakan, dipilihnya jenis wisata ini karena memiliki spesifikasi khusus. Sebutlah sambil berwisata mereka bisa menemukan kedamaian. "Wisatawan terutama yang beragama Hindu melakukan persembahyangan. Mereka pun tidak perlu terlalu sibuk membawa pakaian persembahyangan karena keperluan itu disediakan hotel," ujarnya.

Kalangan wisatawan umumnya memilih hari-hari libur, karena mereka terutama memiliki kesibukan di kantor pemerintah maupun swasta. Tidak jarang, mereka datang secara berombongan tiap hari Sabtu hingga Minggu. Itu semua ada kalanya dilakukan keluarga lingkungan puri di Bali. Namun, bukan berarti tidak ada yang memilih hari-hari biasa. Hanya, pada hari-hari kerja, wisatawan yang datang biasanya perorangan. Kedatangan mereka karena niat sejak awal. Sebagai contoh, ada yang berniat berkunjung ke tempat-tempat suci itu jika berhasil menjadi polisi atau menduduki jabatan tertentu. "Setelah berhasil, niat itu dilaksanakan," tutur Dedi.

Pengamat pariwisata NTB Lalu Akram Wirahady mengatakan, kedatangan wisatawan domestik ke tempat-tempat suci menjadi bukti bahwa Lombok khususnya memiliki jenis wisata yang beragam. Bagi wisatawan yang beragama Hindu, lanjut dia, itu merupakan bentuk wisata ibadah. Namun holy tour semacam ini sebetulnya tidak saja terbatas pada kunjungan ke sejumlah pura, malah bisa pula ke masjid-masjid tua ataupun makam yang dianggap keramat. Menurut Akram, holy tour memiliki prospek cerah karena terkait dengan persoalan ritual. Karena terkait dengan keyakinan, maka jenis wisata ini cukup menjanjikan untuk dikembangkan.

Hal senada dikemukakan Ketua Asita NTB Ir. H. Misbach Mulyadi. Persoalannya, karena masih menjadi trend yang baru, dibutuhkan waktu belajar yang cukup dalam mengemas wisata ini. Beberapa negara maju bahkan sudah mengemasnya sebagai sebuah suguhan yang menarik bagi wisatawan. Sebab, kadangkala ada ruang-ruang yang diminati wisatawan mancanegara, namun tidak diminati wisatawan domestik. "Nah, holy tour ini termasuk yang diminati wisatawan domestik. Wisatawan domestik termasuk potensial untuk digarap karena tidak terlalu terpengaruh isu-isu internasional," kata Misbach.(rab)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)