|
Lombok
Garap Wisata Tirtayatra
Lombok
selalu memikat dengan kekayaan alam dan budayanya. Selain
memiliki kawasan wisata pantai, Lombok pun kaya dengan
objek wisata pegunungan. Namun belakangan, wisatawan
memburu objek wisata sakral, yang tidak saja bisa membasuh
kepenatan, melainkan juga memberikan kedamaian batin.
Wisata yang ramah lingkungan ini belakangan disebut wisata
tirtayatra. Orang asing menyebutnya holy tour. Bagaimana
minat wisatawan?
Serombongan
wisatawan turun dari atas bus Sabtu lalu. Jumlah mereka
mencapai 30-an orang. Sambil menenteng perbekalan seadanya,
mereka menuju penginapan yang menampungnya, untuk kemudian
melanjutkan perjalanan ke objek-objek wisata yang dituju.
Wisatawan
ini tergolong unik. Sebab, mereka bukan berwisata murni
untuk bersenang-senang, melainkan mencari kedamaian batin.
Barangkali karena Bali sudah terlalu hiruk-pikuk,
wisatawan itu menuju Lombok yang masih menyimpan keasrian
dan menjadi sebuah misteri. Yang mereka tuju pun bukanlah
pantai, melainkan tempat-tempat suci, terutama yang
memiliki mata air suci.
Inilah
wisata baru bagi masyarakat Indonesia umumnya. Disebut
baru, mengingat trend wisata ini muncul tahun 2002. Oleh
karena itu, jumlah wisatawan yang datang pun masih
tergolong minim, hanya ratusan orang tiap bulan. Namun
dengan intensitas yang rutin, kedatangan wisatawan jenis
ini bisa diharapkan dalam mengeduk PAD.
Mereka
umumnya melakukan perjalanan mengunjungi tempat suci
berusia tua yang memiliki mata air. Di Lombok, tempat suci
ini terdapat di Taman Mayura, Taman Lingsar, Taman Narmada,
dan Suranadi. Objek wisata itulah yang oleh Pemprop NTB
semula dipromosikan sebagai Bali di Lombok. Hanya
perbedaannya, ada unsur-unsur pembauran masyarakat di sana.
Jika di Bali sejumlah pura maupun taman murni unsur
kebaliannya. Tempat-tempat suci atau objek wisata
bernuansa Bali di Lombok memiliki latar pembauran yang
cukup kental dengan masyarakat setempat.
Taman
Mayura yang berada di jantung kota Mataram contohnya,
terdapat patung haji (orang Pakistan) dan patung Cina.
Patung yang berada di Bale Kambang ini dinilai sebagai
bentuk jalinan kemitraan antara orang Pakistan (Islam),
etnis Tionghoa dan warga Kerajaan Karangasem Lombok pada
masa itu. Orang Pakistan itu pula yang menyarankan agar
raja memelihara predator berupa burung merak sebagai
pemangsa ular yang ada di Taman Narmada. Artinya, pada
masa itu terjadi jalinan kerja sama perdagangan Kerajaan
Karangasem Lombok dengan dunia luar.
Sementara
Lingsar yang berjarak 7,5 km dari kota Mataram memiliki
keunikan tersendiri. Pasalnya, di dalamnya terdapat dua
sarana peribadatan keagamaan dengan latar belakang agama
dan suku bangsa yang berbeda. Di dalam kompleks ini
terdapat pura dan kemaliq. Khususnya kemaliq yang letaknya
bersebelahan dengan pura, selain digunakan penganut waktu
telu, juga digunakan warga keturunan Cina, terutama
penganut Buddha dan Kong Fu Tse.
Tiap
bulan keenam menurut perhitungan kalender Bali atau bulan
ketujuh menurut kalender Sasak, di Taman Lingsar
berlangsung upacara perang topat (ketupat). Perang topat
dilakukan menjelang musim menanam padi. Baik warga Hindu
maupun muslim berbaur menjadi satu, saling melempar topat
sebagai simbol untuk mengembalikan sesuatu yang berasal
dari tanah ke tanah. Topat itu pula yang diyakini sebagai
bubus lowong atau sejenis pupuk untuk padi yang akan
ditanam.
Nah, di
Taman Lingsar itulah akhir-akhir ini wisatawan mulai
tumpah, baik bagi yang beragama Hindu maupun penganut
agama lain. Di sana terdapat pula sebuah mata air yang
dianggap bisa memberikan peruntungan. Pada mata air
tersebut terdapat ikan julit (ikan yang mirip belut)
berukuran cukup besar. Jika kebetulan ikan julit ini
muncul ketika wisatawan datang, hal itu dianggap sebagai
tanda-tanda rezeki. Berbagai cara pun ditempuh agar ikan
itu bisa keluar, di antaranya memancingnya dengan sebutir
telur.
Hal
yang sama pun ada di Suranadi yang memiliki lima mata air,
yakni toya tabah, pengentas, pebersihan, pelukatan dan
tirta. Sebuah kolam dengan mata air jernih di areal ini
menyimpan misteri ikan julit yang diyakini berusia ratusan
tahun. Tidak seorang pun yang berani menangkap ikan yang
hidup dalam air yang sangat dingin itu, karena dianggap
sebagai sebuah simbol dari peruntungan tadi.
Objek
lain yang menjadi tujuan wisata tirtayatra adalah Taman
Narmada, berjarak sekitar 11 km dari kota Mataram. Taman
yang dikenal sebagai istana musim kemarau itu merupakan
taman yang paling besar dibandingkan Mayura maupun Lingsar.
Nah, satu lokasi yang acap menjadi tujuan utama wisatawan
adalah air kolam Padmawangi yang kemudian dikenal sebagai
air awet muda. Di lokasi ini, wisatawan biasanya dilayani
seorang juru kunci yang menjadi pengantar pengunjung jika
meminta air awet muda. Kalangan wisatawan tidak saja
terdiri atas warga masyarakat biasa, melainkan pejabat dan
pengusaha. Mereka datang berbondong-bondong ke tempat itu
dan membawa oleh-oleh berliter-liter air awet muda.
Wisatawan
yang menggemari wisata tirtayatra ini terutama datang dari
Jakarta, Surabaya dan Bali. Kendati ada juga wisatawan
asing dari Australia dan Pakistan, jumlahnya masih
tergolong kecil. Namun, bukan berarti jenis wisata ini
tidak produktif dalam mendatangkan wisatawan. Seiring
dengan makin memburuknya situasi politik, justru berwisata
ke tempat-tempat yang sunyi menjadi sebuah pilihan di
antara beragam pilihan. Tidak mengherankan, sejumlah
travel pun mulai membuka paket tersebut, baik di Mataram
maupun Denpasar.
Salah
seorang leader Mega Tour Gede Dedi mengatakan, dipilihnya
jenis wisata ini karena memiliki spesifikasi khusus.
Sebutlah sambil berwisata mereka bisa menemukan kedamaian.
"Wisatawan terutama yang beragama Hindu melakukan
persembahyangan. Mereka pun tidak perlu terlalu sibuk
membawa pakaian persembahyangan karena keperluan itu
disediakan hotel," ujarnya.
Kalangan
wisatawan umumnya memilih hari-hari libur, karena mereka
terutama memiliki kesibukan di kantor pemerintah maupun
swasta. Tidak jarang, mereka datang secara berombongan
tiap hari Sabtu hingga Minggu. Itu semua ada kalanya
dilakukan keluarga lingkungan puri di Bali. Namun, bukan
berarti tidak ada yang memilih hari-hari biasa. Hanya,
pada hari-hari kerja, wisatawan yang datang biasanya
perorangan. Kedatangan mereka karena niat sejak awal.
Sebagai contoh, ada yang berniat berkunjung ke
tempat-tempat suci itu jika berhasil menjadi polisi atau
menduduki jabatan tertentu. "Setelah berhasil, niat
itu dilaksanakan," tutur Dedi.
Pengamat
pariwisata NTB Lalu Akram Wirahady mengatakan, kedatangan
wisatawan domestik ke tempat-tempat suci menjadi bukti
bahwa Lombok khususnya memiliki jenis wisata yang beragam.
Bagi wisatawan yang beragama Hindu, lanjut dia, itu
merupakan bentuk wisata ibadah. Namun holy tour semacam
ini sebetulnya tidak saja terbatas pada kunjungan ke
sejumlah pura, malah bisa pula ke masjid-masjid tua
ataupun makam yang dianggap keramat. Menurut Akram, holy
tour memiliki prospek cerah karena terkait dengan
persoalan ritual. Karena terkait dengan keyakinan, maka
jenis wisata ini cukup menjanjikan untuk dikembangkan.
Hal
senada dikemukakan Ketua Asita NTB Ir. H. Misbach Mulyadi.
Persoalannya, karena masih menjadi trend yang baru,
dibutuhkan waktu belajar yang cukup dalam mengemas wisata
ini. Beberapa negara maju bahkan sudah mengemasnya sebagai
sebuah suguhan yang menarik bagi wisatawan. Sebab,
kadangkala ada ruang-ruang yang diminati wisatawan
mancanegara, namun tidak diminati wisatawan domestik.
"Nah, holy tour ini termasuk yang diminati wisatawan
domestik. Wisatawan domestik termasuk potensial untuk
digarap karena tidak terlalu terpengaruh isu-isu
internasional," kata Misbach.(rab)
|