kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 3 Oktober 2002

 Nusantara


Misteri Rumah Mewah Jaksa Agung Senilai Rp 5 M

Dibangun dari Hadiah Tamu

Andai Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN) tidak jeli, akan banyak kekayaan pejabat negara yang tidak masuk daftar laporan. Contohnya harta Jaksa Agung Muhamad Abdul Rachman. Sebuah rumah sangat mewah di kawasan Cinere, Depok, serasa terlepas begitu saja dari daftar kekayaan pria asli pulau garam, Madura itu. Bagaimana kondisi rumah itu?

-------------------------------------------------------

UDARA di kawasan Cinere, Depok cukup sejuk, meski musim kemarau. Jalanan tidak macet. Pepohonan rindang di mana-mana. Cukup kontras dengan suasana Ibu Kota yang bising, ruwet, dan supersibuk. Tak sedikit perumahan mewah dibangun. Ibarat madu, banyak semut menyerbu. Pengusaha, pejabat, dan konglomerat. Termasuk MA Rachman, sang Jaksa Agung Republik Indonesia.

Rumah ini berdiri begitu mewah dan kokoh. Dibangun dengan arsitektur modern, bergaya mediterania, rumah ini sengaja dibuat segar, sehingga dipilih cat warna pink. Warna simbol kemolekan dan kelembutan wanita. Pas dipakai sebagai rumah peristirahatan, di masa tua. Mungkin untuk tempat Rachman, saat pensiun kelak. Lingkungan yang asri, rumah besar dan mewah, lantas mau apalagi.... Pikiran inilah tampaknya mendasari pembangunan rumah ini.

Bali Post mengetuk pintu pagar rumah yang terbuat dari jeruji baja sebesar jempol kaki pria dewasa. Lantas, Deni (24), pria asal Yogyakarta, keluar sambil menenteng sigaret putih. Lelaki kerempeng ini tidak memperkenankan orang asing masuk. ''Kalau tak ada surat resmi, kami tidak mau rumah ini digeledah. Saya hanya orang kecil, mas,'' kata Deni, menolak membuka pintu.

Besar dan sangat mewah. Siapa pun akan mempunyai kesan seperti itu ketika berhadapan dengan bangunan ini. Seorang bekas pekerja yang menggarap rumah ini, Samsudin (24), berkisah mengenai isi rumah milik Pak Jaksa -- begitu warga sekitar menyebut Rachman. Sekitar Oktober 1999 lalu, rumah bekas Jampidsus itu dibangun. Menempati lahan seluas sekitar 850 meter persegi.

''Ada dua lantai,'' katanya. Rumah mewah ini dikelilingi pagar tembok, bergelombang. Lantas di samping, diapit tembok setinggi tiga meter. Pagar ini mengukuhkan keistimewaan bangunan utama. Di teras, ada taman ukuran sedang yang indah. Ditanami perdu dan bunga impor, yang kini subur. Pintu utama warna putih dengan gerendel besar warna emas sebagai petunjuk bahwa rumah ini memang berkelas. Lantai diubin marmer yang didatangkan langsung dari Tulungagung, Jatim.

Bangunan rumah ini memang sengaja dibuat dalam ukuran besar. Ada dua ruang tidur utama di bagian depan, di kanan dan kiri. Ukurannya cukup luas, tidak hanya untuk sebuah kasur double bed. Juga untuk tempat rias, kamar mandi di dalam, dan sofa sedang. Bagian tengah dibuat jalan menuju ruang tamu utama, ruang makan, dan ruang keluarga. Bagian depan bangunan utama ini agak kecil, tetapi ke belakang makin besar membentuk segi tiga.

Ruang tamu utama diformat memiliki tiga set sofa. Ruang keluarga dikonsep cukup lapang untuk perabot audio visual, yang dipersiapkan untuk home theater. Lantas, ruang makan keluarga, yang dipersiapkan untuk acara keluarga. Ruang makan ini bisa dipakai belasan orang dengan meja makan ukuran superjumbo, agar anak dan cucu Rachman bisa makan bersama. Lantai gedung utama ini dimarmer putih mengkilat.

Di belakang gedung utama dibangun sebuah kolam renang. Di sekeliling kolam renang seluas lapangan voli ini diselimuti taman yang indah. Rumput hijau, perdu yang rimbun, dan bunga-bunga. Ada bentuk pegunungan lengkap dengan air mancur yang memberikan suara gemericik. Juga tetumbuhan rindang yang menyejukkan serta hiasan patung-patung. Di sebelah kolam renang dibangun musala dan dua kamar pembantu. Di samping kiri, ada juga bangunan sedang khusus untuk dapur. Dua bangunan ini sengaja dibuat terpisah dengan bangunan utama agar tidak mengganggu aktivitas sang majikan.

Di lantai dua pun memiliki format yang sama dengan bangunan utama di lantai satu. ''Ada dua kamar juga, ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, kamar mandi, dan musala,'' tutur Samsudin, pria asli Desa Limo itu yang kini menjalani profesi barunya, tukang ojek.

Sekitar tahun 1990 lalu, kawasan Desa Limo Kelurahan Limo Kecamatan Cinere, Depok, tempat rumah MA Rachman, ini dibangun developer PT Metropolitan. Ada tiga kawasan dibangun, Graha Cinere, Griya Cinere, dan Graha Laguna Cinere. Dari tiga kawasan itu, hanya Graha Laguna yang tak dibangun. Developer hanya menyediakan kapling tanah. Masing-masing kapling sekitar 800-850 meter persegi. Satu meter seharga Rp 800 ribu. Kini diperkirakan harga semeter tanah di tempat itu Rp 900 ribu.

Rumah Rachman ini mengalami dua kali renovasi. Sejak dibangun tahun 1999, MA Rachman sendiri yang menjadi bos, memberi komando para tukang, kuli bangunan, dan mandor. Kadang dia datang bersama istrinya atau anaknya. Tetapi, tak jarang, dia hanya sendirian dengan mengendarai sedan --bersama sopirnya tentu. ''Pak Rachman itu orangnya ruwet. Selalu berganti-ganti pemborong,'' kata Samsudin mengomentari pembangunan rumah ini yang memakan waktu hingga dua tahun.

Setahun dibangun, Rachman datang lantas memerintahkan dibongkar. ''Hampir dibongkar semuanya. Terutama bagian atas,'' imbuh Samsudin. Datang lagi, pemborongnya dicopot karena tak sesuai dengan kehendak Rachman. Hingga awal tahun 2002, rumah selesai dan diserahkan ke seorang bernama Ahmad, yang kini tinggal di Bandung.

Siapa pria ini? Deni, sang penunggu rumah itu, tak tahu. ''Saya hanya diminta menunggu rumah ini. Saya tak tahu pemiliknya. Saya hanya kenal Pak Ahmad saat bertemu di Pasar Lembang Bandung. Tetapi, saya tidak tahu siapa dia,'' tutur Deni menjawab Bali Post sambil sedikit takut. Deni tinggal di rumah itu bersama istrinya, Rohayati. Baru seminggu Deni tinggal di sini. Sebelumnya, penjaga rumah ini dua orang pria asal Bogor yang sering disapa Akang. Keduanya juga hanya pembantu.

Konon, rumah ini dibangun Rachman dengan uang hasil mengawinkan anaknya. Entah berapa rupiah saat itu hasil utuh acara pernikahan yang dikemas gemerlap itu. Karena dianggap uang anaknya, rumah ini tak dimasukkan dalam lembar KPKPN. Tetapi, laporan yang diterima Yusuf Syakir, sang bos KPKPN, beda. Rumah itu milik Rachman dan dibangun Pak Jaksa sendiri, saat dirinya masih menjabat Jampidsus. Konon, uangnya berasal dari ''ucapan terima kasih'' dari orang besar dan berpengaruh di Jakarta yang terseret kasus HAM. Belum terang kebenarannya, karena keterangan Rachman sedang dipelajari Yusuf Syakir.

Kini rumah itu sepi. Aktivitas sehari-hari yang tampak hanyalah seorang Deni yang merawat taman, membersihkan dinding, halaman, juga kolam renang. Bersama istrinya, Deni kerap dikunjungi Ahmad. Seminggu baru dua kali sambil memberi uang tip Rp 50 ribu dan membawa perlengkapan sembako. ''Kami hanya tahu itu rumah Pak Jaksa Rachman, yang sering muncul di televisi itu,'' ujar Abbas ADB, satpam di sana.

* Heru B. Arifin

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)