Misteri Rumah Mewah Jaksa Agung Senilai Rp 5 M
Dibangun
dari Hadiah Tamu
Andai Komisi
Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN) tidak jeli,
akan banyak kekayaan pejabat negara yang tidak masuk
daftar laporan. Contohnya harta Jaksa Agung Muhamad Abdul
Rachman. Sebuah rumah sangat mewah di kawasan Cinere,
Depok, serasa terlepas begitu saja dari daftar kekayaan
pria asli pulau garam, Madura itu. Bagaimana kondisi rumah
itu?
-------------------------------------------------------
UDARA
di kawasan Cinere, Depok cukup sejuk, meski musim kemarau.
Jalanan tidak macet. Pepohonan rindang di mana-mana. Cukup
kontras dengan suasana Ibu Kota yang bising, ruwet, dan
supersibuk. Tak sedikit perumahan mewah dibangun. Ibarat
madu, banyak semut menyerbu. Pengusaha, pejabat, dan
konglomerat. Termasuk MA Rachman, sang Jaksa Agung
Republik Indonesia.
Rumah ini berdiri
begitu mewah dan kokoh. Dibangun dengan arsitektur modern,
bergaya mediterania, rumah ini sengaja dibuat segar,
sehingga dipilih cat warna pink. Warna simbol kemolekan
dan kelembutan wanita. Pas dipakai sebagai rumah
peristirahatan, di masa tua. Mungkin untuk tempat Rachman,
saat pensiun kelak. Lingkungan yang asri, rumah besar dan
mewah, lantas mau apalagi.... Pikiran inilah tampaknya
mendasari pembangunan rumah ini.
Bali Post mengetuk
pintu pagar rumah yang terbuat dari jeruji baja sebesar
jempol kaki pria dewasa. Lantas, Deni (24), pria asal
Yogyakarta, keluar sambil menenteng sigaret putih. Lelaki
kerempeng ini tidak memperkenankan orang asing masuk. ''Kalau
tak ada surat resmi, kami tidak mau rumah ini digeledah.
Saya hanya orang kecil, mas,'' kata Deni, menolak membuka
pintu.
Besar dan sangat
mewah. Siapa pun akan mempunyai kesan seperti itu ketika
berhadapan dengan bangunan ini. Seorang bekas pekerja yang
menggarap rumah ini, Samsudin (24), berkisah mengenai isi
rumah milik Pak Jaksa -- begitu warga sekitar menyebut
Rachman. Sekitar Oktober 1999 lalu, rumah bekas Jampidsus
itu dibangun. Menempati lahan seluas sekitar 850 meter
persegi.
''Ada dua lantai,''
katanya. Rumah mewah ini dikelilingi pagar tembok,
bergelombang. Lantas di samping, diapit tembok setinggi
tiga meter. Pagar ini mengukuhkan keistimewaan bangunan
utama. Di teras, ada taman ukuran sedang yang indah.
Ditanami perdu dan bunga impor, yang kini subur. Pintu
utama warna putih dengan gerendel besar warna emas sebagai
petunjuk bahwa rumah ini memang berkelas. Lantai diubin
marmer yang didatangkan langsung dari Tulungagung, Jatim.
Bangunan rumah ini
memang sengaja dibuat dalam ukuran besar. Ada dua ruang
tidur utama di bagian depan, di kanan dan kiri. Ukurannya
cukup luas, tidak hanya untuk sebuah kasur double bed.
Juga untuk tempat rias, kamar mandi di dalam, dan sofa
sedang. Bagian tengah dibuat jalan menuju ruang tamu utama,
ruang makan, dan ruang keluarga. Bagian depan bangunan
utama ini agak kecil, tetapi ke belakang makin besar
membentuk segi tiga.
Ruang tamu utama
diformat memiliki tiga set sofa. Ruang keluarga dikonsep
cukup lapang untuk perabot audio visual, yang dipersiapkan
untuk home theater. Lantas, ruang makan keluarga, yang
dipersiapkan untuk acara keluarga. Ruang makan ini bisa
dipakai belasan orang dengan meja makan ukuran superjumbo,
agar anak dan cucu Rachman bisa makan bersama. Lantai
gedung utama ini dimarmer putih mengkilat.
Di belakang gedung
utama dibangun sebuah kolam renang. Di sekeliling kolam
renang seluas lapangan voli ini diselimuti taman yang
indah. Rumput hijau, perdu yang rimbun, dan bunga-bunga.
Ada bentuk pegunungan lengkap dengan air mancur yang
memberikan suara gemericik. Juga tetumbuhan rindang yang
menyejukkan serta hiasan patung-patung. Di sebelah kolam
renang dibangun musala dan dua kamar pembantu. Di samping
kiri, ada juga bangunan sedang khusus untuk dapur. Dua
bangunan ini sengaja dibuat terpisah dengan bangunan utama
agar tidak mengganggu aktivitas sang majikan.
Di lantai dua pun
memiliki format yang sama dengan bangunan utama di lantai
satu. ''Ada dua kamar juga, ruang tamu, ruang makan, ruang
keluarga, kamar mandi, dan musala,'' tutur Samsudin, pria
asli Desa Limo itu yang kini menjalani profesi barunya,
tukang ojek.
Sekitar tahun 1990
lalu, kawasan Desa Limo Kelurahan Limo Kecamatan Cinere,
Depok, tempat rumah MA Rachman, ini dibangun developer PT
Metropolitan. Ada tiga kawasan dibangun, Graha Cinere,
Griya Cinere, dan Graha Laguna Cinere. Dari tiga kawasan
itu, hanya Graha Laguna yang tak dibangun. Developer hanya
menyediakan kapling tanah. Masing-masing kapling sekitar
800-850 meter persegi. Satu meter seharga Rp 800 ribu.
Kini diperkirakan harga semeter tanah di tempat itu Rp 900
ribu.
Rumah Rachman ini
mengalami dua kali renovasi. Sejak dibangun tahun 1999, MA
Rachman sendiri yang menjadi bos, memberi komando para
tukang, kuli bangunan, dan mandor. Kadang dia datang
bersama istrinya atau anaknya. Tetapi, tak jarang, dia
hanya sendirian dengan mengendarai sedan --bersama
sopirnya tentu. ''Pak Rachman itu orangnya ruwet. Selalu
berganti-ganti pemborong,'' kata Samsudin mengomentari
pembangunan rumah ini yang memakan waktu hingga dua tahun.
Setahun dibangun,
Rachman datang lantas memerintahkan dibongkar. ''Hampir
dibongkar semuanya. Terutama bagian atas,'' imbuh Samsudin.
Datang lagi, pemborongnya dicopot karena tak sesuai dengan
kehendak Rachman. Hingga awal tahun 2002, rumah selesai
dan diserahkan ke seorang bernama Ahmad, yang kini tinggal
di Bandung.
Siapa pria ini? Deni,
sang penunggu rumah itu, tak tahu. ''Saya hanya diminta
menunggu rumah ini. Saya tak tahu pemiliknya. Saya hanya
kenal Pak Ahmad saat bertemu di Pasar Lembang Bandung.
Tetapi, saya tidak tahu siapa dia,'' tutur Deni menjawab
Bali Post sambil sedikit takut. Deni tinggal di rumah itu
bersama istrinya, Rohayati. Baru seminggu Deni tinggal di
sini. Sebelumnya, penjaga rumah ini dua orang pria asal
Bogor yang sering disapa Akang. Keduanya juga hanya
pembantu.
Konon, rumah ini
dibangun Rachman dengan uang hasil mengawinkan anaknya.
Entah berapa rupiah saat itu hasil utuh acara pernikahan
yang dikemas gemerlap itu. Karena dianggap uang anaknya,
rumah ini tak dimasukkan dalam lembar KPKPN. Tetapi,
laporan yang diterima Yusuf Syakir, sang bos KPKPN, beda.
Rumah itu milik Rachman dan dibangun Pak Jaksa sendiri,
saat dirinya masih menjabat Jampidsus. Konon, uangnya
berasal dari ''ucapan terima kasih'' dari orang besar dan
berpengaruh di Jakarta yang terseret kasus HAM. Belum
terang kebenarannya, karena keterangan Rachman sedang
dipelajari Yusuf Syakir.
Kini rumah itu sepi.
Aktivitas sehari-hari yang tampak hanyalah seorang Deni
yang merawat taman, membersihkan dinding, halaman, juga
kolam renang. Bersama istrinya, Deni kerap dikunjungi
Ahmad. Seminggu baru dua kali sambil memberi uang tip Rp
50 ribu dan membawa perlengkapan sembako. ''Kami hanya
tahu itu rumah Pak Jaksa Rachman, yang sering muncul di
televisi itu,'' ujar Abbas ADB, satpam di sana.
* Heru B.
Arifin
|