kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 3 Oktober 2002

 Mancanegara


AS Siapkan Pemerintahan Pasca Saddam

Washington-
Pemerintah Amerika Serikat memulai merancang pemerintahan baru di Irak yang nantinya muncul setelah digelarnya serangan militer untuk menggulingkan pemerintahan presiden Saddam Hussein, laporan koran Los Angeles Time, Rabu (2/10) kemarin.

Berbeda dengan rencana serangan militer yang telah siap di meja presiden Bush, rencana pergantian pemerintahan ini masih dalam penggodokan. Dewan Keamanan Nasional dan Kementrian Luar Negeri bulan lalu telah diperintahkan untuk men\yiapkan rencana itu.

Untuk mencegah keretakan, AS merancang pemerintahan federal yang demokratis. Pilihan itu memungkinkan berbagai wilayah dan kelompok-kelompoknya memiliki otonomi tersendiri. Namun tim perancang itu mengajukan ketentuan yang menentang pemerintahan pengasiangan atau kandidat dari kelompok oposisi yang berada di luar Irak sebagai calon pengganti Saddam.

Menurut koran itu, invasi pasukan AS kemungkinan akan menewaskan Saddam, bila tidak di medan perang, mungkin dilakukan oleh kelompok di sekelilingnya.

Di Baghdad keputusan Saddam akan bekerjasama dengan tim pemeriksa senjata PBB disambut positif banyak pihak termasuk Prancis, Cina dan Rusia yang menentang resolusi baru yang diajukan AS dan Inggris ke Dewan Keamanan PBB. Bush berkali-kali menekan DK PBB agar lebih keras lagi memberi peringatan kepada Irak atau pemerintahan Saddam menghadapi serangan militer sebagai konskwensinya.

Pada saat bersaman di Baghdad Saddam mengumumkan akan adanya referendum 15 Oktober mendatang . Referendum itu diharapkan Saddam sebagai legitimasi pemerintahannya dan masa 7 tahun ke depan. Referendum itu juga berlaku bagi warga Kurdi yang menempati wilayah Irak utara. Selama ini warga Kurdi disingkirkan dari pemerintahan namun ditolak permintaannya untuk memerdekakan diri.

Saddam yang berkuasa sejak 1979, mendapatkan 99,96 persen suara dalam referendum 15 Oktober 1995. Saddam selain sebagai sekretaris jendral Partai Baath juga menjabat, ketua Dewan Komando Revolusioner, PM dan komandan staf gabungan.

Kapal selam

Angkatan Laut AS mengirim kapal selam nuklir kelas Los Angeles, USS CITY of Corpus Christia ke Guam di samudra Pasifik. Kapal yang diperkuat 150 kru tersebut memperkuat jajaran armada pasukan AS untuk sekaligus memberi indikasi menguatkan posisi Asia. Rencananya 2 kapal selam lainnya juga akan ditempatkan di Guam hingga akhir tahun ini. Pengumuman kemarin ditengah kampanye presiden George W. Bush akan menyerang Irak. Tetapi juru bicara AL AS menolak penempatan kapal selam itu berhubungan dengan rencana serangan ke Irak. Pergerakan armada laut AS itu telah direncanakan sebelumnya jauh sebelum AS menggelar kampanye perang melawan teroris 2001.

Kapal selam kelas Los Angeles itu didesign untuk menyerang kapal-kapal perang musuh. Namun ditahun-tahun terakhir kapal selam memudahkan penyerangan dengan asaran di darat. Kapal selam tersebut cukup meluncurkan rudal jarak jauh dari laut .

"Kami kehilangan pangkalan udara dan laut di Filipina beberapa tahun lalu dan kami menoba mencari penggatinya ," kata pejabat Kementrian Pertahanan yang tak mau disebutkan namanya.

Guam juga dipakai sebagai pangkalan Angkatan Udara AS untuk menempatkan pesawat B-52 selama Perang Vienam. Jendral William Begert, komandan AU wilayah Pasifik, Agustus lalu mendesak agar pesawat bomber dan pesawat tempur AS lainnya ditempatkan di Guam. Penempatan itu dilakukan mengantisipasi menguatnya militer Cina.

AS telah menempatkan kapal selam USS Frank Cable di Guam dengan dukungan seribu pelaut yang menyuplai logistik dan perawatan.(yud/rtr)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)