AS
Siapkan Pemerintahan Pasca Saddam
Washington-
Pemerintah Amerika Serikat memulai merancang pemerintahan
baru di Irak yang nantinya muncul setelah digelarnya
serangan militer untuk menggulingkan pemerintahan presiden
Saddam Hussein, laporan koran Los Angeles Time, Rabu
(2/10) kemarin.
Berbeda dengan
rencana serangan militer yang telah siap di meja presiden
Bush, rencana pergantian pemerintahan ini masih dalam
penggodokan. Dewan Keamanan Nasional dan Kementrian Luar
Negeri bulan lalu telah diperintahkan untuk men\yiapkan
rencana itu.
Untuk mencegah
keretakan, AS merancang pemerintahan federal yang
demokratis. Pilihan itu memungkinkan berbagai wilayah dan
kelompok-kelompoknya memiliki otonomi tersendiri. Namun
tim perancang itu mengajukan ketentuan yang menentang
pemerintahan pengasiangan atau kandidat dari kelompok
oposisi yang berada di luar Irak sebagai calon pengganti
Saddam.
Menurut koran itu,
invasi pasukan AS kemungkinan akan menewaskan Saddam, bila
tidak di medan perang, mungkin dilakukan oleh kelompok di
sekelilingnya.
Di Baghdad keputusan
Saddam akan bekerjasama dengan tim pemeriksa senjata PBB
disambut positif banyak pihak termasuk Prancis, Cina dan
Rusia yang menentang resolusi baru yang diajukan AS dan
Inggris ke Dewan Keamanan PBB. Bush berkali-kali menekan
DK PBB agar lebih keras lagi memberi peringatan kepada
Irak atau pemerintahan Saddam menghadapi serangan militer
sebagai konskwensinya.
Pada saat bersaman
di Baghdad Saddam mengumumkan akan adanya referendum 15
Oktober mendatang . Referendum itu diharapkan Saddam
sebagai legitimasi pemerintahannya dan masa 7 tahun ke
depan. Referendum itu juga berlaku bagi warga Kurdi yang
menempati wilayah Irak utara. Selama ini warga Kurdi
disingkirkan dari pemerintahan namun ditolak permintaannya
untuk memerdekakan diri.
Saddam yang berkuasa
sejak 1979, mendapatkan 99,96 persen suara dalam
referendum 15 Oktober 1995. Saddam selain sebagai
sekretaris jendral Partai Baath juga menjabat, ketua Dewan
Komando Revolusioner, PM dan komandan staf gabungan.
Kapal selam
Angkatan Laut AS
mengirim kapal selam nuklir kelas Los Angeles, USS CITY of
Corpus Christia ke Guam di samudra Pasifik. Kapal yang
diperkuat 150 kru tersebut memperkuat jajaran armada
pasukan AS untuk sekaligus memberi indikasi menguatkan
posisi Asia. Rencananya 2 kapal selam lainnya juga akan
ditempatkan di Guam hingga akhir tahun ini. Pengumuman
kemarin ditengah kampanye presiden George W. Bush akan
menyerang Irak. Tetapi juru bicara AL AS menolak
penempatan kapal selam itu berhubungan dengan rencana
serangan ke Irak. Pergerakan armada laut AS itu telah
direncanakan sebelumnya jauh sebelum AS menggelar kampanye
perang melawan teroris 2001.
Kapal selam kelas
Los Angeles itu didesign untuk menyerang kapal-kapal
perang musuh. Namun ditahun-tahun terakhir kapal selam
memudahkan penyerangan dengan asaran di darat. Kapal selam
tersebut cukup meluncurkan rudal jarak jauh dari laut .
"Kami
kehilangan pangkalan udara dan laut di Filipina beberapa
tahun lalu dan kami menoba mencari penggatinya ,"
kata pejabat Kementrian Pertahanan yang tak mau disebutkan
namanya.
Guam juga dipakai
sebagai pangkalan Angkatan Udara AS untuk menempatkan
pesawat B-52 selama Perang Vienam. Jendral William Begert,
komandan AU wilayah Pasifik, Agustus lalu mendesak agar
pesawat bomber dan pesawat tempur AS lainnya ditempatkan
di Guam. Penempatan itu dilakukan mengantisipasi
menguatnya militer Cina.
AS telah menempatkan
kapal selam USS Frank Cable di Guam dengan dukungan seribu
pelaut yang menyuplai logistik dan perawatan.(yud/rtr)
|