Pura
Bakungan
di
Gilimanuk
Agnir
jagara tam
rcah
kamayante
agnir
jagara
tamu samani
yanti
agnir
jagara tam
ayam soma aha.
Tava
asmi
sakhye nyokah.
(Rgveda V.44.15).
Maksudnya:
Hyang
Agni
selalu menuntun
kewaspadaan
dengan
mengkidungkan Rgveda
dengan
penuh kasih.
Hyang
Agni
menuntun dengan
mengkidungkan
Samaveda
sebagai
Pandita, Agni
selalu
menuntun kewaspadaan.
Sang
Hyang Soma
mengaku
bersalah dan
mohon
maaf karena
lalai
dalam menemani Sang
Hyang
Agni.
WASPADA
pada
setiap langkah
dalam
menjalani kehidupan
ini
wajib dikembangkan
agar kita
bisa
terhindar dari
berbagai
derita
mungkin menimpa
diri
kita dalam
hidup
ini.
Tanpa
kewaspadaan manusia
akan
sering
mengalami berbagai
derita yang
tidak
perlu karena
kurang
waspada dalam
melangkah
dalam
hidup ini.
Pemujaan
Tuhan
sebagai Sang Hyang
Agni
memiliki makna yang
luas.
Salah
satu
adalah Agni
sebagai
simbol pemberi
penerangan
jiwa.
Bahkan,
dalam
Bhagawad Gita IV.19
dinyatakan
sebagai
Jnyana Agni.
Artinya
ilmu
pengetahuan suci
itu
bagaikan sinar Sang
Hyang
Agni yang dapat
memberi
penerangan jiwa
sehingga
setiap
langkah yang ditapak
dalam
hidup ini
selalu
tepat dan
benar.
Mereka
yang hidupnya
senantiasa
disinari
oleh
Jnyana Agni
atau
sinar ilmu
pengetahuan
dapat
disebut Pandita.
Karena
dengan
Jnyana Agni
tersebut
seseorang
dapat
melakukan Niskama
Karma atau
berbuat
baik dengan
tulus
ikhlas tanpa
pamerih.
Orang yang
hidupnya
disinari
oleh
ilmu pengetahuan
suci
akan
selalu
waspada dalam
setiap
melangkah dalam
hidupnya.
Meskipun
demikian
Nitisastra
mengingatkan
bahwa
ilmu pengetahuan
dapat
membuat orang
mabuk
dan kehilangan
diri
karena salah
caranya
memahami ilmu
pengetahuan
itu.
Keberadaan
Pura
Bakungan di
Desa
Gilimanuk Kecamatan
Melaya
Kabupaten Jembrana
sebagai
pura untuk
mengingatkan
kita agar
jangan
sampai kehilangan
kewaspadaan
dalam
melakukan berbagai
kebijakan
dalam
hidup ini.
Di
wilayah
Pura Bakungan
sekarang
tersebut
pada
zaman dahulu
adalah
tempat berdirinya
Kerajaan
Bakungan.
Kerajaan
yang berpusat
di Desa
Gilimanuk
itu
lenyap karena
hal yang
amat
sepele.
Hanya
karena
ketidakwaspadaanlah kerajaan
tersebut
menjadi
hilang.
Pada
awal
abad XIV Masehi Bali
berada
di bawah
kekuasaan
Majapahit.
Saat
itu Sri
Aji Dalem
Krsna
Kepakisan sebagai
raja pertama
dengan
pusat kerajaan
di
Samprangan Gianyar.
Untuk
menjaga
ketertiban kerajaan,
Gajah
Mada menugaskan
seorang
Arya dari
Pejarakan
bertugas
di
Jembrana bernama
Arya
Malel Cengkong yang
menganut Hindu
Wisnu
Murti.
Setelah
Arya
Malel Cengkong,
usur
beliau digantikan
oleh
keturunannya yaitu I
Gusti
Ngurah Gede
Pecangakan
dengan
mendirikan istana
di
daerah yang banyak
burung
bangau karena
itu
disebut Pecangakan.
I Gusti
Ngurah
Gede Pecangakan
ini
dianugerahi kuda
putih
oleh Ida Dalem.
Putranya
yang kedua
bernama I
Gusti
Ngurah Bakungan
mendirikan
istana
di daerah
Bakungan
di
sekitar daerah
Cekik
Gilimanuk.
Daerah
Bakungan
ini
terletak di
tepi
sungai yang banyak
tumbuh
bunga bakung.
Putranya
yang ketiga I
Gusti
Ngurah Pancoran
menjabat
sebagai
Manca Agung
di Puri
Pecangakan.
Demikian
cerita
rakyat yang dikutip
oleh Ni
Ketut Sriasih
dalam
tulisannya tentang
Fungsi
Pura Bakungan (2001).
Pemerintahan
kedua
kakak beradik
ini
berhasil membuat
daerah
Jembrana sejahtera.
I Gusti
Ngurah
Bakungan sesungguhnya
juga
ingin memiliki
kuda
putih yang bernama
Jaran
Rana anugerah Ida
Dalem.
Setelah
beberapa lama I
Gusti
Ngurah Bakungan
mengadakan
upacara
Dewa Yadnya
dan
mengundang kakaknya,
I Gusti
Ngurah Pecangakan.
Undangan
ini
dilakukan di
samping
karena tradisi
berupacara
yadnya
memang semestinya
demikian
juga
didorong oleh
rasa
rindu seorang
adik
pada kakaknya.
Namun
I Gusti
Ngurah Pecangakan
agak
curiga karena
adiknya
pernah didengar
menginginkan
kuda
putih Jaran
Rana
pemberian Ida Dalem.
Atas
kecurigaan
itu, I
Gusti Ngurah
Pecangakan
sebelum
menghadiri undangan
adiknya
berpesan kepada
Manca
Agung yang juga
adiknya.
Isi
pesannya
kalau
kuda putihnya
itu
pulang ke
Pecangakan
dalam
keadaan berdarah-darah
itu
berarti I Gusti
Ngurah
Pecangakan
tewas
dalam
pertempuran.
Kalau
begitu
keadaannya agar semua
penghuni
puri
masatia bela
pati.
Semua
kekayaan
puri agar
ditanam
di dalam
tanah.
Selanjutnya
I Gusti
Ngurah Pecangakan pun
berangkat
menuju
Bakungan. Di
Bakungan, I
Gusti
Ngurah Pecangakan
disambut
meriah
oleh adiknya
karena
undangan tersebut
didasarkan
oleh
rasa rindu
dan
tulus ikhlas
sebagai
seorang adik
pada
kakaknya,
sama
sekali
tidak ada
tujuan yang
tidak
baik. Di
Puri
Bakungan diadakanlah
penyemblihan
berbagai
hewan
korban untuk
upacara
yadnya.
Kuda
putih yang
dibawa
oleh I Gusti
Ngurah
Pecangakan ketakutan
melihat
adanya hewan-hewan
yang disemblih
itu.
Kuda
tersebut
takut
dirinya ikut
disemblih.
Kuda
itu pun beringas
terus
lepas dari
kandangnya
berlari
ke
sana
ke mari.
Saat
berlari
itulah kuda
putih
menabrak daging
hewan yang
disemblih
dan
masih penuh
darah
itu.
Karena
menabrak
daging yang
masih
penuh darah
itu
kuda putih
basah
kuyup oleh
darah
dari daging
hewan.
Kuda
itu
lari terus
pulang
ke Pecangakan
dalam
keadaan dibasahi
darah.
Wanita
penghuni
Puri
Pecangakan sebagian
besar
masatia bela
pati.
Manca
Agung
mengubur kekayaan
puri
dan dengan
tentara
Pecangakan menyerang
Bakungan.
Karena
itu
timbul kesalahpahaman
antara I
Gusti
Ngurah Pecangakan
dengan
adiknya.
Terjadilah
perang
tanding yang tidak
ada
akhirnya.
Karena
sama-sama
kuat,
akhirnya kakak
beradik
ini mohon
kepada
dewata agar mereka
berdua
di-pralina.
Kedua
kakak
beradik itu
lenyap
di dua
pulau
kembar di
daerah
Jembrana.
Untuk
mengenang
kakak
beradik itulah
keturunannya
mendirikan
Pura
Bakungan untuk
menstanakan
roh
suci (Dewa
Pitara) Raja
Bakungan
dengan
pelinggih di
sudut
timur laut
jeroan
Pura Bakungan.
Sedangkan
di
barat lautnya
ada
pelinggih stana
Patih
Agung.
Di
jaba
tengah di
sudut
barat laut
terdapat
Pelinggih
Dewa
Mas Pengadangan.
Karena
itu
banyak umat yang
mohon
keselamatan perjalanan
di Pura
Bakungan
ini
dengan mohon
tirtha
di Pelinggih
Dewa
Mas Pengadangan
dan
juga mohon agar
usaha
dapat berhasil.
* I Ketut
Gobyah