kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 5 September 2007

 Ajeg Bali


Pura
Bakungan di Gilimanuk 

Agnir jagara tam rcah kamayante
agnir
jagara tamu samani yanti
agnir
jagara tam ayam soma aha.
Tava
asmi sakhye nyokah.
(Rgveda V.44.15).
 

Maksudnya:
Hyang
Agni selalu menuntun kewaspadaan dengan mengkidungkan Rgveda dengan penuh kasih. Hyang Agni menuntun dengan mengkidungkan Samaveda sebagai Pandita, Agni selalu menuntun kewaspadaan. Sang Hyang Soma mengaku bersalah dan mohon maaf karena lalai dalam menemani Sang Hyang Agni. 

WASPADA pada setiap langkah dalam menjalani kehidupan ini wajib dikembangkan agar kita bisa terhindar dari berbagai derita mungkin menimpa diri kita dalam hidup ini. Tanpa kewaspadaan manusia akan sering mengalami berbagai derita yang tidak perlu karena kurang waspada dalam melangkah dalam hidup ini.

Pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Agni memiliki makna yang luas. Salah satu adalah Agni sebagai simbol pemberi penerangan jiwa. Bahkan, dalam Bhagawad Gita IV.19 dinyatakan sebagai Jnyana Agni. Artinya ilmu pengetahuan suci itu bagaikan sinar Sang Hyang Agni yang dapat memberi penerangan jiwa sehingga setiap langkah yang ditapak dalam hidup ini selalu tepat dan benar.

Mereka yang hidupnya senantiasa disinari oleh Jnyana Agni atau sinar ilmu pengetahuan dapat disebut Pandita. Karena dengan Jnyana Agni tersebut seseorang dapat melakukan Niskama Karma atau berbuat baik dengan tulus ikhlas tanpa pamerih. Orang yang hidupnya disinari oleh ilmu pengetahuan suci akan selalu waspada dalam setiap melangkah dalam hidupnya. Meskipun demikian Nitisastra mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan dapat membuat orang mabuk dan kehilangan diri karena salah caranya memahami ilmu pengetahuan itu.

Keberadaan Pura Bakungan di Desa Gilimanuk Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana sebagai pura untuk mengingatkan kita agar jangan sampai kehilangan kewaspadaan dalam melakukan berbagai kebijakan dalam hidup ini. Di wilayah Pura Bakungan sekarang tersebut pada zaman dahulu adalah tempat berdirinya Kerajaan Bakungan. Kerajaan yang berpusat di Desa Gilimanuk itu lenyap karena hal yang amat sepele. Hanya karena ketidakwaspadaanlah kerajaan tersebut menjadi hilang.

Pada awal abad XIV Masehi Bali berada di bawah kekuasaan Majapahit. Saat itu Sri Aji Dalem Krsna Kepakisan sebagai raja pertama dengan pusat kerajaan di Samprangan Gianyar. Untuk menjaga ketertiban kerajaan, Gajah Mada menugaskan seorang Arya dari Pejarakan bertugas di Jembrana bernama Arya Malel Cengkong yang menganut Hindu Wisnu Murti.

Setelah Arya Malel Cengkong, usur beliau digantikan oleh keturunannya yaitu I Gusti Ngurah Gede Pecangakan dengan mendirikan istana di daerah yang banyak burung bangau karena itu disebut Pecangakan. I Gusti Ngurah Gede Pecangakan ini dianugerahi kuda putih oleh Ida Dalem.

Putranya yang kedua bernama I Gusti Ngurah Bakungan mendirikan istana di daerah Bakungan di sekitar daerah Cekik Gilimanuk. Daerah Bakungan ini terletak di tepi sungai yang banyak tumbuh bunga bakung. Putranya yang ketiga I Gusti Ngurah Pancoran menjabat sebagai Manca Agung di Puri Pecangakan.

Demikian cerita rakyat yang dikutip oleh Ni Ketut Sriasih dalam tulisannya tentang Fungsi Pura Bakungan (2001). Pemerintahan kedua kakak beradik ini berhasil membuat daerah Jembrana sejahtera. I Gusti Ngurah Bakungan sesungguhnya juga ingin memiliki kuda putih yang bernama Jaran Rana anugerah Ida Dalem.

Setelah beberapa lama I Gusti Ngurah Bakungan mengadakan upacara Dewa Yadnya dan mengundang kakaknya, I Gusti Ngurah Pecangakan. Undangan ini dilakukan di samping karena tradisi berupacara yadnya memang semestinya demikian juga didorong oleh rasa rindu seorang adik pada kakaknya. Namun I Gusti Ngurah Pecangakan agak curiga karena adiknya pernah didengar menginginkan kuda putih Jaran Rana pemberian Ida Dalem. Atas kecurigaan itu, I Gusti Ngurah Pecangakan sebelum menghadiri undangan adiknya berpesan kepada Manca Agung yang juga adiknya.

Isi pesannya kalau kuda putihnya itu pulang ke Pecangakan dalam keadaan berdarah-darah itu berarti I Gusti Ngurah Pecangakan tewas dalam pertempuran. Kalau begitu keadaannya agar semua penghuni puri masatia bela pati.

Semua kekayaan puri agar ditanam di dalam tanah. Selanjutnya I Gusti Ngurah Pecangakan pun berangkat menuju Bakungan. Di Bakungan, I Gusti Ngurah Pecangakan disambut meriah oleh adiknya karena undangan tersebut didasarkan oleh rasa rindu dan tulus ikhlas sebagai seorang adik pada kakaknya, sama sekali tidak ada tujuan yang tidak baik. Di Puri Bakungan diadakanlah penyemblihan berbagai hewan korban untuk upacara yadnya.

Kuda putih yang dibawa oleh I Gusti Ngurah Pecangakan ketakutan melihat adanya hewan-hewan yang disemblih itu. Kuda tersebut takut dirinya ikut disemblih. Kuda itu pun beringas terus lepas dari kandangnya berlari ke sana ke mari. Saat berlari itulah kuda putih menabrak daging hewan yang disemblih dan masih penuh darah itu. Karena menabrak daging yang masih penuh darah itu kuda putih basah kuyup oleh darah dari daging hewan. Kuda itu lari terus pulang ke Pecangakan dalam keadaan dibasahi darah. Wanita penghuni Puri Pecangakan sebagian besar masatia bela pati.

Manca Agung mengubur kekayaan puri dan dengan tentara Pecangakan menyerang Bakungan. Karena itu timbul kesalahpahaman antara I Gusti Ngurah Pecangakan dengan adiknya. Terjadilah perang tanding yang tidak ada akhirnya. Karena sama-sama kuat, akhirnya kakak beradik ini mohon kepada dewata agar mereka berdua di-pralina. Kedua kakak beradik itu lenyap di dua pulau kembar di daerah Jembrana.

Untuk mengenang kakak beradik itulah keturunannya mendirikan Pura Bakungan untuk menstanakan roh suci (Dewa Pitara) Raja Bakungan dengan pelinggih di sudut timur laut jeroan Pura Bakungan. Sedangkan di barat lautnya ada pelinggih stana Patih Agung. Di jaba tengah di sudut barat laut terdapat Pelinggih Dewa Mas Pengadangan. Karena itu banyak umat yang mohon keselamatan perjalanan di Pura Bakungan ini dengan mohon tirtha di Pelinggih Dewa Mas Pengadangan dan juga mohon agar usaha dapat berhasil. * I Ketut Gobyah

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)