Pura
Bukit Sari
di
Sangeh
Avir
vai
nama devata
rtena
aste
parivrta
tasya
rupena
ime vrksah
hrita
haritasrajah.
(Atharvaveda.X.44.1).
Maksudnya:
Terdapat
warna
hijau pada
daun
tumbuh-tumbuhan (klorofil)
yaitu
unsur yang menyelamatkan
hidup yang
ada
pada hijau
daun.
Ia ditutupi
oleh
rta. Karena
itu zat
warna
hijau tersebut yang
menyebabkan
tumbuh-tumbuhan
berkhasiat
obat.
HUTAN pohon
pala di
Desa
Sangeh tidak
bisa
dipisahkan dengan
keberadaan
Pura
Bukit Sari yang berada
di
tengah hutan
pala
tersebut. Keberadaan
pohon
pala ini
memang
sedikit unik.
Karena
di sekitar
daerah
tersebut tidak
ada
pohon seperti
itu.
Hutan
pohon
pala ini
disebut
Bukit Sari, padahal
daerah
di mana
pohon
pala itu
tumbuh
berupa dataran
saja
bukan bukit.
Entah
siapa yang memberikan
nama
pohon ini
pohon
pala. Mungkin
tak ada
yang pasti
tahu
betul. Dalam
bahasa
Sansekerta kata ''pala''
artinya
melindungi, sedangkan
kata ''phala''
artinya
buah.
Untuk
menyebutkan
nama
pohon di
Pura
Bukit Sari Sangeh
ini apa
pala
atau phala,
penulis
sendiri tidak
jelas
tahu asal-usulnya.
Kalau
digunakan kata
pala,
memang pohon
besar
dan tinggi-tinggi
tersebut
sebagai
pohon pelindung.
Akarnya
dalam dan
luas
dapat meresap
dan
menyimpan air hujan.
Pohonnya yang
besar
tinggi dan
rindang
dengan daunnya yang
hijau
itu juga
dapat
melindungi udara
dari
polusi. Karena
dalam
daun yang hijau
itu
terdapat unsur yang
melindungi
kehidupan
di
sekitarnya.
Partikel-partikel kimia
yang beterbangan
di
udara karena
ulah
manusia dapat
disaring
oleh
hijauan dedaunan
dari
pohon-pohon di
hutan
pala tersebut.
Banyak
lagi sesungguhnya
fungsi
hutan kalau
dilihat
dari sudut
kehidupan
di bumi
ini.
Adanya
Pura
Bukit Sari di
hutan
pohon pala
Desa
Sangeh Kecamatan
Abiansemal
Kabupaten
Badung
ini diceritakan
secara
mitologis dalam
Lontar
Babad Mengwi.
Diceritakan
putri Ida
Batara
di Gunung
Agung
berkeinginan untuk
disungsung
di
Kerajaan Mengwi.
Atas
kehendak beliau
maka
hutan pala yang
ada di
Gunung
Agung tempat
putri Ida
Batara
Gunung Agung
bermukim
pindah
secara misterius
pada
waktu malam.
Perjalanan
belum
sampai di
Kerajaan
Mengwi,
keadaan sudah
siang
dan telanjur
ada yang
mengetahui
perjalanan
tersebut. Hal
ini
konon yang menyebabkan
hutan
pala tersebut
tidak
bisa berjalan
lagi
menuju Mengwi
dan
berhenti di
Desa
Sangeh sekarang.
Konon
putra angkat Raja
Mengwi yang
pertama I
Gusti
Agung Putu yang
bergelar
Cokorda
Sakti Blambangan
menemukan
bekas
bangunan pelinggih.
Putra
angkat Raja
Mengwi
tersebut bernama
Anak
Agung Ketut
Karangasem.
Atas
penemuan tersebut
Cokorda
Sakti Blambangan
memerintahkan
untuk
membangun kembali
pura
tersebut dan
diberi
nama Pura
Bukit Sari. Yang
dipuja
di pura
tersebut
adalah Ida
Batara
Gunung Agung
dan
Batara Melanting.
Pura
Besakih di
lereng
Gunung Agung
itu
tergolong Pura
Purusa
atau sebagai
jiwa
dari Pulau Bali.
Di
Gunung
Agung-lah berbagai
nilai
suci ajaran
Weda
divisualkan dalam
wujud
bangunan suci.
Berbagai
gagasan
hidup untuk
mendapatkan
kehidupan yang
sejahtera
lahir
batin di
bumi
ini divisualkan
dalam
wujud bangunan
suci
dan ritual sakral
di Pura
Besakih.
Sedangkan
pemujaan
pada Ida
Batara
Melanting dalam
tradisi Hindu
di Bali
sebagai Dewa
Pasar.
Menurut
Prof Dr. I Made Titib,
Ph.D., Batara
Melanting
itu
tiada lain sebutan
untuk
Dewi Laksmi
bagi
umat Hindu di Bali.
Dewi
Laksmi adalah
Dewi
Kemakmuran dalam
sistem pantheon Hindu.
Pemujaan Ida
Batara
Gunung Agung
dan
Batari Melanting
di Pura
Bukit Sari
di Desa
Sangeh
ini adalah
bertujuan
memuja
Tuhan untuk
mendapatkan
tuntunan spiritual
dalam
mengembangkan hidup
yang penuh
dengan
gagasan-gagasan kehidupan
yang mulia
serta
untuk membangun
kehidupan yang
makmur
secara ekonomi.
Ini
berarti
pemujaan pada
Tuhan
di Pura
Bukit Sari
itu
menanamkan gagasan
keseimbangan
hidup
antara membangun
gagasan
hidup dengan
nilai spiritual
dalam
mewujudkan kemakmuran
ekonomi.
Memang
pada kenyataannya
kemakmuran
ekonomi
justru akan
menjadi
bumerang untuk
mendorong
pengumbaran
hawa
nafsu kalau
tidak
dikendalikan oleh
gagasan-gagasan
hidup
di bidang spiritual.
Kalau
dua
aspek kehidupan
tersebut
diwujudkan
secara
seimbang maka
akan
terbentuklah manusia
dan
masyarakat yang seimbang
lahir
batin. Kalau
manusia
dan masyarakat yang
demikian
itu
menghuni bumi
ini,
maka bumi
ini
akan menjadi
wadah
kehidupan yang aman,
damai
dan sejahtra.
Di
Pura
Bukit Sari ini
terdapat
tidak
kurang dari 36
bangunan
suci.
Ada
palinggih
utama
dan ada
pelengkap.
Ada
Pelinggih Padmasari
penyawangan
Ulun
Danu Beratan.
Ada
dua
Padmasari sebagai
Pelinggih
Ratu
Puncak Kangin
dan
Ratu Puncak
Kauh.
Kemungkinan pelinggih
ini
untuk penyawangan
ke
Gunung Agung
dan ke
Pura
Batur atau
Ratu
Batara Melanting.
Ada
Pelinggih
Meru
Tumpang Sembilan.
Ada
Pelinggih Padmasana
sebagai
pemujaan Batara
Sada
Siwa.
Ada
empat
Padmasari lagi
masing-masing
sebagai
pemujaan Pucak
Batur,
sebagai Pelinggih
Ratu
Entap, Ratu
Manik
Galih dan
Batara
Wisnu.
Pemujaan
Tuhan
dalam berbagai
fungsi
ini umumnya
mengarah
pada
pemujaan Tuhan
sebagai
Dewa Kemakmuran.
Ada
Pelinggih Bale
Paselang.
Pelinggih
ini
umumnya digunakan
untuk
upacara Pedanaan yang
menggambarkan
hubungan
manusia
dengan Tuhan.
Di
pelinggih ini
dilukiskan
secara ritual
sakral
hubungan bakti
manusia
kepada Tuhan
dan
anugerah Tuhan yang
di Bali
disebut sweca.
Di
Pelinggih
Paselang
inilah
dilukiskan bahwa
hanya
manusia yang sungguh-sungguh
bakti
pada Tuhan
akan
mendapatkan sweca
atau
anugerah dari
Tuhan
berupa raksanam
atau
rasa aman
dan
damai serta
dhanam
artinya hidup
sejahtera.
Ini
artinya pelinggih
yang disebut Bale
Paselang
ini
memotivasi umat Hindu
agar jangan
hanya
memohon wara
nugraha
Hyang Widhi
tanpa
melakukan bakti
dan
pelayanan pada
sesama
dan menyayangi
isi
alam ini.
Dengan
bakti yang
benar
manusia dapat
membangun
struktur
diri agar
menjadi
wadah pengejawantahan
kesucian Atman
dalam
wujud perilaku
nyata
dalam kehidupan
sehari-hari.
Dengan
bakti manusia
dapat
menghindarkan diri
sebagai
wadah pengumbaran
hawa
nafsu. * I
Ketut
Gobyah