Di
Balik
Sejarah Pura
Gumang--------
Yang Dikehendaki
Jadi
Pemimpin Bukan
Rekayasa
Saat
I Dewa
Gede datang
dari
Jawa ke Bali
tidak
banyak penduduk Bali
hirau
dengan keberadaan I
Dewa
Gede.
Pada
mulanya I
Dewa
Gede ke
Bali
bukanlah
ingin
menjadi tokoh.
I Dewa
Gede ke
Bali
bertujuan
untuk
mencari kehidupan
yang tenang
dan
damai.
Ternyata
di
Bukit Juru
itulah I
Dewa
Gede mendapatkan
ketenangan
hidup
sebagai seorang
petani
biasa.
Lebihnya
dengan
seorang petani
biasa
hanya melakukan
upaya
sekala dan
niskala
secara seimbang
dalam
hidupnya sebagai
seorang
petani yang mohon
hidup
dari usahanya
sebagai
petani.
============================================================
Sebagai
petani I
Dewa
Gede tidak
semata-mata
menanam
tumbuh-tumbuhan pangan
saja.
I Dewa
Gede
juga mengusahakan
menanam
pohon-pohonan yang di
Bali
disebut
tanem tuwuh.
Fungsi
tanem
tuwuh itu
adalah
untuk menguatkan
tanah
sebagai penyimpan air
hujan yang
turun
sesuai dengan
musimnya.
Dengan
usahanya
itu
muncullah berbagai
mata air
bahkan
sampai muncul
sungai yang
dapat
mengalirkan air sepanjang
tahun
ke daerah
pertanian
penduduk.
Usaha
I Dewa
Gede di
samping
mengembangkan tanaman
pangan
dan tanem
tuwuh
itu disertai
dengan
melakukan Yoga Semadi
setiap
hari dan
lebih
khusus lagi
pada
hari-hari subha
diwasa.
Apa
yang dilakukan
oleh I
Dewa Gede
itu
sangat yakin
tidak
ada maksud
untuk
mencari nama
dan agar
beliau
ditokohkan oleh
masyarakat.
Apa
yang beliau
lakukan
itu sangat
yakin
tanpa pamerih.
I
Dewa
Gede melakukan
hal itu
karena
merasakan bersama
masyarakat
petani
betapa beratnya
sebagai
petani tanpa
ada air yang
memadai.
Panasnya
hidup
sebagai petani
dengan air yang
tidak
memadai I Dewa
Gede
bersama dengan
masyarakat yang
senasib
bekerja dan
berdoa
mengolah alam
dengan
penuh kasih
sayang
dan bakti
pada
Tuhan.
Usahanya
bersama
masyarakat petani
ini
ternyata berhasil.
Dari
keberhasilannya inilah
I Dewa
Gede dari
Jawa
ini mendapatkan
simpati
masyarakat.
Beliau
pun dijadikan
tokoh
oleh masyarakat
dengan
usahanya sukses
melestarikan
alam.
Di
alam yang
lestari
itulah masyarakat
dapat
membangun kehidupan
yang sejahtera.
Inilah
hakikat
Indra Brata
sebagaimana
dinyatakan
dalam Manawa
Dharmasastra IX.304
dan
juga dinyatakan
juga
dalam kekawin
Ramayana sebagai
salah
satu unsur
Asta
Brata.
Pemimpin
seperti
itu adalah
pemimpin yang
dikehendaki
oleh
rakyat.
Bagaikan
air samudera yang
menguap
karena panasnya
matahari.
Setelah
di
angkasa menjadi
mendung,
terus
turun menjadi
hujan
membuat suburnya
tanah
dan menjadi
sumber
kehidupan makhluk
hidup
di bumi
ini.
Demikianlah
hakikat
Indra Brata yang
mestinya
dijadikan
pegangan
dalam
kepemimpinan Hindu seperti
di Bali
ini.
Memang
seorang
pemimpin yang baik
bukan yang
menghendaki
menjadi
pemimpin tetapi yang
dikehendaki
oleh
masyarakat luas.
Orang
yang dikehendaki
oleh
masyarakat luas.
Orang
yang dikehendaki
menjadi
pemimpin itu
bukan
dengan merekayasa
kehendak
rakyat
dengan mendadak
menaruh
belas kasihan
pada
rakyat serta
menghambur-hamburkan
uang
membantu rakyat.
Setelah
menjadi
pemimpin bergelimangan
fasilitas
hidup
dengan menggunakan
uang
rakyat.
Dari usaha
sekala-niskala I
Dewa
Gede inilah
turunnya
karunia
Tuhan berupa
suburnya
daerah
Bugbug dan
sekitarnya
di
Karangasem.
Inilah
yang melatarbelakangi
adanya
Pura Gumang
di
Bukit Juru
Karangasem.
Piodalan
di Pura
Gumang
ini setiap
Purnama
Sasih Kapat.
Penyungsung
pura
ini ada lima
desa
yaitu Desa
Bubug,
Desa Jasi,
Desa
Bebandem, Desa
Datah,
dan
Desa Ngis.
Masyarakat
Bugbug yang
tinggal
di daerah
Buleleng pun
merasa
bertanggung jawab
ikut
serta ngempon
Pura
Gumang ini,
karena
Desa Bugbug
sebagai
pengempon ngarep
dari
Pura Gumang.
Desa
Bugbug
tempat Pura
Gumang
berada terdiri
atas
tujuh banjar
dengan
ratusan kepala
keluarga.
Tidak
semua
kepala keluarga
mendapatkan
sawah
garapan.
Tetapi
bagi yang
mendapat
sawah
dengan dialiri air
dari
sumber mata air
dan
sungai di
Bugbug
itu wajib
ngayah
ke Pura
Gumang
atau memiliki
kewajiban yang
lebih
dari kepala
keluarga yang
lainnya.
Sawah-sawah
itu
memang hak
milik
pribadi yang dapat
dijual
kepada pihak lain.
Tetapi
siapa pun yang
memiliki
sawah
tersebut selanjutnya
wajib
ngayah yang lebih
ke Pura
Gumang.
Hal
ini
mungkin menyangkut
Pura
Gumang yang diyakini
sebagai
sumber kesuburan
dari
sawah-sawah yang ada
di
sekitar daerah
Bugbug.
Setiap
upacara
piodalan pada
Purnamaning
Sasih
Kapat umumnya
ada
upacara Nyejer
selama
dua hari.
Umumnya
Pura-pura yang
lainnya
nyejer tiga
hari
sampai sebelas
hari.
Nyejer
tiga
hari ini
mengandung
makna
pendakian spiritual dari
Bhur
Loka menuju
Bhuwah
Loka dan yang
tertinggi
mencapai
Swah
Loka.
Tetapi
khusus
Pura Gumang
upacara
nyejer-nya cukup
dua
hari.
Dua
hari
nyejer ini
nampaknya
sebagai
simbol pemujaan
bertemunya
Purusa
Pradana atau
bertemunya
Lingga
dan Yoni.
Pemujaan
Purusa
dan Pradana
atau
Lingga Yoni ini
sebagai
pemujaan untuk
memohon
kesuburan pertanian.
Karena
itu
nyejer dua
hari
itu sebagai
pesan spiritual
untuk
terus konsisten
melakukan
upaya yang
seimbang
menjaga
kesuburan daerah
pertanian.
Kata
''nyejer''
dalam
bahasa
Bali
artinya
terus teguh
dan
tegak atau
konsisten.
Dalam
hidup
ini memang
akan
ada
saja pasang-surutnya
atau
suka dukanya.
Ada
saja
kemungkinan hambatan,
gangguan
dan
tantangan.
Kalau
semuanya itu
dihadapi
dengan
sikap yang nyejer
atau
teguh dengan
konsisten
berpegang
pada
kebenaran dalam
melakukan
swadharma
maka
semuanya itu
akan
menjadi
kekuatan tersendiri.
Jadinya
nyejer
itu sebagai
pesan spiritual
dalam
wujud ritual agar umat
konsisten
pada
prinsip-prinsip hidup
berdasarkan dharma
dalam
menghadapi dinamika
kehidupan
apalagi
sebagai petani
amat
tergantung pada
keadaan
alam.
Bhagawad
Gita II.
15 menyatakan
samaduhkhasukham
dhiram.
Artinya
seimbang
dan
teguhlah menghadapi
dinamika
suka
dan suka.
Dalam
Subha
Sita ada
dinyatakan
Sukhamdukham
Jayate.
Artinya,
menanglah
melawan
suka dan
duka.
Ini
artinya
kebahagiaan itu
adalah
berada di
atas
suka dan
duka.
Kalau
suka
sedang menghampiri
hidup
kita, maka
kita pun
tidak
lupa diri
sampai
menjadi orang yang
sombong
egois.
Sebaliknya
kalau
duka yang datang
tidak
mudah frustrasi
dan
putus asa
menghadapi
hidup
ini.
Jadinya
nyejer
itu mengingatkan
umat
untuk bersikap
konsisten
menghadapi
dinamika
hidup.
*
wiana