kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 4 Maret 2007 tarukan valas
 

BERITA


Padangbai dan Gilimanuk
Sarat Aroma Premanisme dan Pungli

Keselamatan transportasi di Indonesia belakangan ini mendapat sorotan yang cukup tajam. Tidak hanya menyangkut masalah transportasi udara namun juga menyangkut transportasi laut yang belakangan ini cukup banyak menelan korban. Musibah memang tidak bisa ditebak kapan datangnya dan tidak mengenal siapa pun orang yang menjadi korban. Namun, tentunya musibah ini tidak terlepas dari adanya kelalaian manusia dan oknum-oknum petugas dalam menjalankan tugasnya.

Terkadang dalam mencari keuntungan mereka harus rela mengabaikan keselamatan ratusan penumpang yang ada di dalamnya.

----

 

DUA pelabuhan besar di Bali, Gilimanuk dan Padangbai, juga tak lepas dari berbagai kelemahan. Buktinya, perusahaan pemilik kapal dan sejumlah ABK mengeluhkan adanya premanisme di Pelabuhan Padangbai. Di sini sangat sarat dengan aroma premanisme dan pungli. Di mana, ada oknum yang kerap minta karcis yang belum disobek untuk dijual kembali kepada calon penumpang lain. Praktik seperti itu dirasakan merugikan perusahaan pemilik kapal. Masalahnya, penumpang di jalur itu juga relatif sepi.  

Kepala Adpel Padangbai Made Sudiarta, Sabtu (3/3) kemarin di Amlapura, serta Manajer Operasional II PT ASDP Lembar- Padangbai Drs. Made Surata membantah ada premanisme di Padangbai. Surata mengatakan keadaan di Padangbai kini sudah jauh lebih nyaman berkat koordinasi antara Adpel, ASDP, Polsek KP3 Laut, serta pihak desa berjalan dengan baik. Apalagi setelah ada program pemeriksaan identitas penumpang yang turun dari Lembar, serta pengetatan pemeriksaan penumpang oleh aparat kepolisian.

Seorang ABK yang tak mau disebutkan namanya justru mengatakan sebaliknya. Dia mencontohkan, tahun lalu ada oknum yang dilaporkan ke polisi dan diadili dengan tuduhan melakukan pengancaman dan membuat perasaan tak menyenangkan terhadap seorang ABK. Soalnya, preman pelabuhan itu mengancam setelah tak diberikan minta karcis bekas yang belum disobek oleh ABK. Oknum itu di depan majelis hakim PN Amlapura akhirnya mengakui minta karcis bekas untuk dijual kepada calon penumpang dan hasilnya dikatakan hendak dipakai membeli kopi.

Selain itu, beberapa penumpang terutama yang membawa mobil hendak menyeberang ke Lembar juga sempat melaporkan oknum petugas ASDP Padangbai. Oknum itu diadukan karena diduga telah melakukan pungli, di mana mereka diminta membayar melebihi tarif resmi. Namun, setelah beberapa oknum petugas ASDP diperiksa di Satreskrim Mapolres Karangasem, ternyata tak berlanjut sampai ke pengadilan. Alasan pihak kepolisian belum menemukan cukup bukti untuk menjerat terlapor.

Terkait hal itu, baik Sudiarta maupun Surata sebelumnya mengatakan kelebihan membayar dari penumpang merupakan kesepakatan antara petugas dan penumpang. Kelebihan uang diduga cuma karena di loket petugas tak ada uang kecil untuk kembalian. Keadaan itu diduga telah menyebabkan miskomunikasi.

Sudiarta mengatakan muatan truk pengangkut BBM dari Terminal Transit Pertamina Manggis ke NTB tidak dicampur dengan kapal yang membawa penumpang. Kendaraan pengangkut BBM seperti premium, solar dan LPG diangkut kapal tersendiri, di mana di-carter para pengusaha pemilik BBM itu. ''Mana berani kita mencampur muatan truk pengangkut BBM dengan penumpang orang,'' ujarnya.

Sementara Perbekel Desa Padangbai Kadek Aris Suyasa menyampaikan saat rapat di aula kantor Bupati Karangasem, Jumat (2/3) pihak PT ASDP Lembar-Padangbai tak ada kontribusinya kepada Desa Padangbai. Padahal, pelabuhan itu ada di wilayah Desa Pakraman Padangbai. Akibatnya, masyarakat Padangbai cuma menjadi penonton terkait keberadaan pelabuhan itu. Padahal, mestinya ada imbal balik antara pihak pengelola pelabuhan dengan masyarakat setempat.

 

Di Gilimanuk

Di Gilimanuk, KP3 melakukan pemeriksaan yang cukup ketat kepada para sopir truk dan bus yang akan masuk ke Pelabuhan Gilimanuk dan akan melakukan penyeberangan. Aman, salah seorang sopir truk yang mengangkut berbagai barang ke Jawa mengaku tiap dia akan menyeberang selalu diperiksa dengan ketat oleh aparat di Gilimanuk. ''Saya pasti disuruh berhenti dan membuka terpal yang menutupi truk saya. Karena ketatnya pemeriksaan, mau tidak mau saya harus melengkapi diri juga dengan surat-surat,'' katanya.

Demikian juga pengakuan pengendara sepeda motor, Dani, dari Solo. Menurutnya sebelum masuk pelabuhan dia harus menyiapkan diri dengan suat-suratnya hingga diperiksa sampai ke nomor mesin.

Dia juga mengharapkan tidak ada manipulasi data dalam penyeberangan. Demikian juga jangan sampai petugas menukar karcis yang sudah diberikan kepada penumpang.

''Kami tidak ingin kejadian seperti Levina I terjadi di Gilimanuk,'' kata Kapolsek KP3 Gilimanuk M. Didik Wiratmoko seizin Kapolres Jembrana.

Pihaknya melakukan pemeriksaan mulai dari terminal manuver. Truk dan bus yang akan masuk ke pelabuhan dan menyeberang distop di terminal manuver dan dibuka terpalnya. Hal ini juga dimaksudkan sebagai antisipasi dini untuk keselamatan selama pelayaran. Sedangkan ketika kendaraan sudah keluar dari pos pemeriksaan pihaknya tidak memiliki kewenangan lagi, melainkan tugas perusahaan.

Didik juga mengatakan pemeriksaan selalu dilakukan secara menyeluruh bagi kendaraan yang masuk maupun keluar Bali untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya setiap kendaraan selain orangnya diperiksa dan diawasi, juga surat-suratnya apakah lengkap atau tidak. Demikian juga barang bawaan yang dibawa oleh penumpang diperiksa.

Selama ini menurut Didik, pihaknya selalu dapat mengungkap berbagai kasus yang ada yang berusaha lewat Pelabuhan Gilimanuk. Seperti halnya curanmor, kendaraan yang membawa potasium, bahkan hewan/unggas, kayu dan sebagainya.

Gilimnauk sudah dibantu dengan alat metal detector, demikian juga infra merah, serta cara manual lainnya. Misalnya jika ada kendaraan yang dicurigai, petugas akan naik ke truk dan melakukan pemeriksaan. Untuk pemeriksaan dan pengawasan di Gilimanuk pihaknya dibantu 45 personel setiap 12 jam yang terdiri dari petugas KP3, Brimob, Polpar, BKO serse Polres, BKO Intel dan BKO Lantas Polres.

Kepala Syahbandar Gilimanuk Gede Putrawan mengatakan saat ini dari 24 unit kapal ada dua unit yang docking yaitu KMP Rajawali dan Darma Bajra. Sedangkan yang dalam perbaikan yaitu Nusa Makmur. Pihaknya belum menemukan kapal yang mengangkut kendaraan khusus yang membawa barang yang rawan, seperti elpiji, bensin, potasium maupun yang lainnya. (013/kmb)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com