kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Paing, 16 Maret 2007

 Nusantara


Briptu
Martinus Hance Cristianto--
Menikah
Dua Bulan Lalu 

SIANG sekitar pukul 11.00 WIB Kamis (15/3) kemarin jenazah penembak Wakapolwiltabes Semarang AKBP Lilik Purwanto, Briptu Martinus Hance Cristianto, dimakamkan. Peti mati yang menjadi tempat tidur panjang Hance tidak diselimuti bendera Merah Putih. Tidak ada pula upacara khas militer seperti lazimnya pemakaman anggota Polri. Para pelayat lebih banyak dari kalangan keluarga, tetangga dan rekan-rekan sejawatnya di unit Pelayanan Pengaduan dan Penegakan Disiplin (P3D) atau lazim disebut Provost. Keluarga termasuk Wiwin, istri Hance, nampaknya shock berat menerima cobaan ini.  

Briptu Hance Cristianto berasal dari keluarga polisi dan baru saja melangsungkan pernikahannya dengan Wiwin, pegawai RS Tlogorejo, Semarang pada 12 Januari lalu. Orangtua Hance, Kompol (Purn) Widayanto, adalah mantan Brimob Polda Jateng. Namun, terakhir pria kelahiran 17 Desember 1975 ini masih tetap tinggal dalam sepetak rumah berukuran 4 x 6 meter di Asrama Polisi Kabluk, Semarang. Dalam rumah sempit ini, Hance tinggal bersama orangtua serta kakak dan adiknya yang semuanya sudah menikah. Jadi dalam rumah yang tidak bisa dikatakan luas itu, anggota Polri yang masuk Secaba tahun 1995 ini tinggal dengan 13 orang. Terbayang bagaimana kesulitan hidup yang dialami Hance.

Hance di kalangan rekan-rekan seprofesinya memang dikenal temperamental. Bahkan, dia tidak segan-segan berselisih paham dengan atasannya. Ada cerita yang beredar tentang tindak-tanduk Hance yang ketika ditegur atasannya. Saat atasannya menegur dengan kata-kata keras sambil menggembrak meja, justru Hance langsung naik ke atas meja sambil menantang.

Namun, sebelumnya Hance mungkin termasuk anggota polisi berperilaku baik. Ini terbukti dengan kepercayaan yang pernah diembannya yakni menjadi Ajudan Kapoltabes Semarang saat dijabat Badrotin Haiti. Setelah Kapoltabes Semarang diganti, nampaknya mulai banyak persoalan yang dialami Hance. Sempat menghuni unit jatanras, Hance mulai sering mangkir kerja. Akhirnya atas permintaan sendiri, ia lalu ingin pindah ke Unit Pengaduan Pelayanan dan Penegakan Disiplin (P3D), sebuah unit di jajaran Polri yang sering disebut sebagai tempat buangan karena bukan unit ''basah''. Tetapi sumber lain menyebutkan bahwa Hance memang sengaja di kotak dengan menempatkannya di unit P3D.

Tetapi yang jelas, di unit P3D inilah Hance nampak mulai tenang, karena sepertinya sudah mulai tumbuh kesadaran bahwa penugasan di P3D merupakan bentuk pembinaan atas sikapnya selama ini. Ketenangannya terusik hebat saat menerima SK mutasi yang ditandatangani Wakapolwiltabes Semarang. Begitu menerima surat perintah untuk segera menghadap ke Kapolres Kendal, di mana Hance dimutasikan, langsung saja amarahnya meledak. Si pemberi surat Aiptu Tatik Sumaryati pun langsung ditodong pistol.

Selanjutnya peristiwa berdarah itu pun terjadi. Sang atasan Wakapolwiltabes tersungkur dengan lima peluru saat nego dalam drama penyanderaan itu. Hance menyusul ditembak satuan Dalmas Polwiltabes. (Semarang TV)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)