Pura Luhur Uluwatu
Tempat Pemujaan Dewa Rudra
Pura
Luhur Uluwatu merupakan salah satu dari enam buah pura
yang berstatus Sad Kahyangan Jagat. Pura ini berdiri
megah di ujung barat daya Pulau Bali di atas anjungan
batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke
laut.
Pura ini berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta,
Badung -- dari Denpasar ke selatan sekitar 31 km.
Pura
Uluwatu terletak pada ketinggian 97 meter dari permukaan
laut. Di depan pura terdapat hutan kecil yang disebut
alas kekeran, berfungsi sebagai penyangga kesucian pura.
Pura Uluwatu mempunyai beberapa pura pesanakan, yaitu
pura yang erat kaitannya dengan pura induk. Pura
pesanakan itu yaitu Pura Bajurit, Pura Pererepan, Pura
Kulat, Pura Dalem Selonding dan Pura Dalem Pangleburan.
Masing-masing pura ini mempunyai kaitan erat dengan Pura
Uluwatu, terutama pada hari-hari piodalan-nya. Piodalan
di Pura Uluwatu, Pura Bajurit, Pura Pererepan dan Pura
Kulat jatuh pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia setiap 210
hari. Manifestasi Tuhan yang dipuja di Pura Uluwatu
adalah Dewa Rudra.
Bagaimana sejarah berdirinya pura ini?
Untuk bisa sampai pada jabaan pura, kita mesti menaiki
anak tangga. Pada jabaan pura terdapat bangunan sedahan
pengapit, bale kulkul, bale murda dan bale sakenem. Dari
jabaan menuju jaba tengah kita melewati candi bentar
berbentuk sayap burung yang melengkung. Untuk mencapai
jeroan pura, kita melewati candi kurung yang memakai
dwarapala yang berbentuk arca Ganesha. Pada utama
mandala pura terdapat prasada dan palinggih berupa Meru
Tumpang Tiga, palinggih tajuk, piasan catur pandaka.
Pada bagian kiri dari jabaan Pura Luhur Uluwatu terdapat
Pura Dalem Jurit (Bejurit) terdapat antara lain prasada,
tempat moksanya Danghyang Dwijendra berdampingan dengan
monumen berupa dua buah perahu yang dipakai berlayar
sewaktu datang ke Pulau Bali.
Bangunan
lain di Pura Dalem Jurit adalah gedong tumpang dua,
paibon, sedahan pengapit dan bale asta rsi. Di sekitar
lokasi Pura Luhur Uluwatu juga dihuni kera
Sejarah Luhur Uluwatu
Dalam beberapa sumber disebutkan, sekitar tahun 1489
Masehi datanglah ke Pulau Bali seorang purohita,
sastrawan dan rohaniwan bernama Danghyang Dwijendra.
Danghyang Dwijendra adalah seorang pendeta Hindu,
kelahiran Kediri, Jawa Timur.
Danghyang Dwijendra pada waktu walaka bernama Danghyang
Nirartha. Beliau menikahi seorang putri di Daha, Jawa
Timur. Di tempat itu pula beliau berguru dan di-diksa
oleh mertuanya. Danghyang Nirartha dianugerahi bhiseka
kawikon dengan nama Danghyang Dwijendra.
Setelah di-diksa, Danghyang Dwijendra diberi tugas
melaksanakan dharmayatra sebagai salah satu syarat
kawikon. Dharmayatra ini harus dilaksanakan di Pulau
Bali, dengan tambahan tugas yang sangat berat dari
mertuanya yaitu menata kehidupan adat dan agama
khususnya di Pulau Bali. Bila dianggap perlu dharmayatra
itu dapat diteruskan ke Pulau Sasak dan Sumbawa.
Danghyang Dwijendra datang ke Pulau Bali, pertama kali
menginjakkan kakinya di pinggiran pantai barat daya
daerah Jembrana untuk sejenak beristirahat sebelum
melanjutkan perjalanan dharmayatra. Di tempat inilah
Danghyang Dwijendra meninggalkan pemutik (ada juga
menyebut pengutik) dengan tangkai (pati) kayu ancak.
Pati kayu ancak itu ternyata hidup dan tumbuh subur
menjadi pohon ancak. Sampai sekarang daun kayu ancak
dipergunakan sebagai kelengkapan banten di Bali. Sebagai
peringatan dan penghormatan terhadap beliau, dibangunlah
sebuah pura yang diberi nama Purancak.
Setelah mengadakan dharmayatra ke Pulau Sasak dan
Sumbawa, Danghyang Dwijendra menuju barat daya ujung
selatan Pulau Bali, yaitu pada daerah gersang, penuh
batu yang disebut daerah bebukitan.
Setelah beberapa saat tinggal di sana, beliau merasa
mendapat panggilan dari Hyang Pencipta untuk segera
kembali amoring acintia parama moksha. Di tempat inilah
Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh teringat (icang eling)
dengan samaya (janji) dirinya untuk kembali ke asal-Nya.
Itulah sebabnya tempat kejadian ini disebut Cangeling
dan lambat laun menjadi Cengiling sampai sekarang.
Oleh karena itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh ngulati
(mencari) tempat yang dianggap aman dan tepat untuk
melakukan parama moksha. Oleh karena dianggap tidak
memenuhi syarat, beliau berpindah lagi ke lokasi lain.
Di tempat ini, kemudian dibangun sebuah pura yang diberi
nama Pura Kulat. Nama itu berasal dari kata ngulati.
Pura itu berlokasi di Desa Pecatu.
Sambil
berjalan untuk mendapatkan lokasi baru yang dianggap
memenuhi syarat untuk parama moksha, Ida Pedanda Sakti
Wawu Rauh sangat sedih dan menangis dalam batinnya.
Mengapa? Oleh karena beliau merasa belum rela untuk
meninggalkan dunia sekala ini karena swadharmanya belum
dirasakan tuntas, yaitu menata kehidupan agama Hindu di
daerah Sasak dan Sumbawa. Di tempat beliau mengangis ini,
lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Ngis (asal
dari kata tangis). Pura Ngis ini berlokasi di Banjar
Tengah Desa Adat Pecatu.
Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh belum juga menemukan tempat
yang dianggap tepat untuk parama moksha. Beliau kemudian
tiba di sebuah tempat yang penuh batu-batu besar. Beliau
merasa hanya sendirian. Di tempat ini, lalu didirikan
sebuah pura yang diberi nama Pura Batu Diyi. Juga di
tempat ini Danghyang Dwijendra merasa kurang aman untuk
parama moksha. Dengan perjalanan yang cukup melelahkan
menahan lapar dan dahaga, akhirnya beliau tiba di daerah
bebukitan yang selalu mendapat sinar matahari terik.
Untuk memayungi diri, beliau mengambil sebidang daun
kumbang dan berusaha mendapatkan sumber air minum.
Setelah berkeliling tidak menemukan sumber air minum,
akhirnya Danghyang Dwijendra menancapkan tongkatnya.
Maka keluarlah air amertha. Di tempat ini lalu didirikan
sebuah pura yang disebut Pura Payung dengan sumber mata
air yang dipergunakan sarana tirtha sampai sekarang.
Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh kemudian beranjak lagi ke
lokasi lain, untuk menghibur diri sebelum melaksanakan
detik-detik kembali ke asal. Di tempat ini lalu
didirikan sebuah pura bernama Pura Selonding yang
berlokasi di Banjar Kangin Desa Adat Pecatu. Setelah
puas menghibur diri, Danghyang Dwijendra merasa lelah.
Maka beliau mencari tempat untuk istirahat. Saking
lelahnya sampai-sampai beliau sirep (ketiduran). Di
tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama
Pura Parerepan (parerepan artinya pasirepan, tempat
penginapan) yang berlokasi di Desa Pecatu.
Mendekati detik-detik akhir untuk parama moksha,
Danghyang Dwijendra menyucikan diri dan mulat sarira
terlebih dahulu. Di tempat ini sampai sekarang
berdirilah sebuah pura yang disebut Pura Pangleburan
yang berlokasi di Banjar Kauh Desa Adat Pecatu. Setelah
menyucikan diri, beliau melanjutkan perjalanannya menuju
lokasi ujung barat daya Pulau Bali. Tempat ini terdiri
atas batu-batu tebing. Apabila diperhatikan dari bawah
permukaan laut, kelihatan saling bertindih, berbentuk
kepala bertengger di atas batu-batu tebing itu, dengan
ketinggian antara 50-100 meter dari permukaan laut.
Dengan demikian disebut Uluwatu. Ulu artinya
kepala dan watu berarti batu.
Sebelum Danghyang Dwijendra parama moksha, beliau
memanggil juragan perahu yang pernah membawanya dari
Sumbawa ke Pulau Bali. Juragan perahu itu bernama Ki
Pacek Nambangan Perahu. Sang Pandita minta tolong
agar juragan perahu membawa pakaian dan tongkatnya
kepada istri beliau yang keempat di Pasraman Griya Sakti
Mas di Banjar Pule, Desa Mas, Ubud, Gianyar. Pakaian itu
berupa jubah sutra berwarna hijau muda serta tongkat
kayu. Setelah Ki Pacek Nambangan Perahu berangkat menuju
Pasraman Danghyang Dwijendra di Mas, Ida Pedanda Sakti
Wawu Rauh segera menuju sebuah batu besar di sebelah
timur onggokan batu-batu bekas candi peninggalan
Kerajaan Sri Wira Dalem Kesari. Di atas batu itulah, Ida
Pedanda Sakti Wawu Rauh beryoga mengranasika, laksana
keris lepas saking urangka, hilang tanpa bekas, amoring
acintia parama moksha.
Demikianlah, sejak Danghyang Dwijendra yang disebut juga
Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh parama moksha atau disebut
Ngaluhur Uluwatu, pura ini disebut Luhur Uluwatu.
(lun/beberapa sumber)