kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 16 Desember 2006

 Kultur


Jangan
Lupakan Sangging Modara

BERBICARA eksistensi lukisan wayang Kamasan, kata Murdana, kita tidak bisa melupakan sosok Sangging Modara. Sejak abad ke-17 (sekitar tahun 1686), seniman besar ini telah menancapkan ketinggian tonggak kreatif yang dilindungi Raja Klungkung pada saat itu. Tonggak kreatif dengan standardisasi unsur-unsur estetik, tahapan-tahapan proses dan keseriusan menggarap makna filosofi Hindu  itu membentuk kehalusan budi. Cakupan unsur-unsur tadi membentuk kualitas estetis, menjadi pola anutan yang dapat berkembang hingga kini. 

Ketinggian dan kesuburan kreatif yang penuh makna itu, katanya, merupakan proses kerja tri-tunggal atara Brahmana sebagai pengkaji nilai dan makna, Raja sebagai pengayom dan penyalur energi serta seniman sebagai kreator pengembang. Ketiganya menyatu melalui dharma masing-masing. Vibrasi dari tiga dharma melalui kesucian, kekuatan dan kejujuran mampu menghasilkan fondasi budaya yang adiluhung. Tema-tema yang syarat makna filosofis tetap menjadi pedoman pencapaian kualitas kreatif estetiknya."

Teladan ini sudah semestinya dijadikan pegangan bagi kita semua, terutama  para kreator, pemerintah sebagai penentu kebijakan, kritikus, impresario, para cendekiawan dan lain-lainnya agar semua potensi yang ada dapat diberdayakan," paparnya panjang lebar

Murdana mengaku sengaja menyodorkan fakta sejarah itu untuk mengetuk ruang kesadaran semua pihak agar tergerak untuk melestarikan potensi seni budayanya yang mulai terpuruk itu. Dengan menerapkan proses kerja tri-tunggal itu, dia berharap potensi-potensi yang mulai terpuruk itu bisa dibangkitkan kembali

Dituangkan dalam Perda 

Dihubungi terpisah, Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S, M.A. juga sepakat perlunya sinergi dalam melestarikan seni-budaya adiluhung warisan leluhur. Dalam konteks pelestarian lukisan wayang Kamasan dan lukisan tradisi Bali lainnya, kurikulum ISI Denpasar sebenarnya sudah memfasilitasi hal itu. Caranya, dengan memasukkan mata kuliah "Melukis Tradisi" sebagai mata kuliah yang wajib diikuti mahasiswa jurusan Seni Rupa. 

"Seni lukis Wayang Kamasan ini telah dijadikan satu mata kuliah yang dipelajari secara serius oleh mahasiswa. Kami juga berupaya memperbanyak mata kuliah-mata kuliah muatan lokal yang sejalan dengan upaya-upaya pelestarian seni budaya Bali tersebut," katanya sambil menambahkan, seni lukis klasik Bali ini akan tetap diajarkan dan sangat menentukan profil kesarjanaan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar.  

Dikatakan, proses pembelajaran yang menekankan akademik profesional akan menuntut mahasiswa mampu melukis wayang dan mengkaji nilai-nilai estetik, filosofis serta unsur-unsur penunjang lainnya. "Aktivitas ini secara tidak langsung akan menciptakan kondisi keberlangsungan kehidupan seni lukis itu sendiri," tegasnya. 

Lantas, peran apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk menyelamatkan warisan adiluhung leluhur manusia Bali itu dari kematian permanen? Menurut Rai dan Murdana, pemerintah daerah secepatnya harus menentukan langkah-langkah kebijakan sehingga dapat menjaga kelangsungan hidup seni-seni tradisi itu. Misalnya, meniru langkah yang ditempuh oleh DPRD Bali yang menghias gedungnya dengan lukisan wayang Kamasan.  

Di masa datang, pihaknya mendambakan seluruh langit-langit gedung dan dinding perkantoran milik pemerintah dihiasi lukisan klasik Bali seperti yang ada pada bangunan Kerthagosa di Klungkung. Selain lukisan stil Kamasan, lukisan stil Batuan, Pengosekan, Ubud dan sebagainya juga bisa diimplementasikan untuk kepentingan itu. 

"Agar hal itu memiliki kekuatan hukum yang mengikat, kewajiban menghiasi interior kantor pemerintahan dengan lukisan klasik Bali itu sebaiknya dituangkan ke dalam peraturan daerah. Atau bisa juga sebagai penunjang perda tentang bangunan stil Bali. Dengan begitu, para pelukis akan lebih berdaya dalam meningkatkan status sosial ekonominya.

 Semoga hal ini dapat dipertimbangkan oleh para penentu kebijakan dan dapat menjadi kenyataan ," kata Murdana yang didukung pula oleh Rai. * w. sumatika

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)