Jangan
Lupakan
Sangging Modara
BERBICARA
eksistensi
lukisan
wayang Kamasan,
kata
Murdana, kita
tidak
bisa melupakan
sosok
Sangging Modara.
Sejak
abad ke-17 (sekitar
tahun 1686),
seniman
besar ini
telah
menancapkan ketinggian
tonggak
kreatif yang dilindungi
Raja Klungkung
pada
saat itu.
Tonggak
kreatif dengan
standardisasi
unsur-unsur
estetik,
tahapan-tahapan
proses
dan keseriusan
menggarap
makna
filosofi Hindu
itu
membentuk
kehalusan
budi.
Cakupan
unsur-unsur
tadi
membentuk kualitas
estetis,
menjadi
pola anutan yang
dapat
berkembang hingga
kini.
Ketinggian
dan
kesuburan kreatif
yang penuh
makna
itu, katanya,
merupakan
proses
kerja tri-tunggal
atara
Brahmana sebagai
pengkaji
nilai
dan makna, Raja
sebagai
pengayom dan
penyalur
energi
serta seniman
sebagai
kreator pengembang.
Ketiganya
menyatu
melalui dharma masing-masing.
Vibrasi
dari
tiga dharma melalui
kesucian,
kekuatan
dan
kejujuran mampu
menghasilkan
fondasi
budaya yang adiluhung.
Tema-tema
yang syarat
makna
filosofis tetap
menjadi
pedoman pencapaian
kualitas
kreatif
estetiknya."
Teladan
ini
sudah semestinya
dijadikan
pegangan
bagi
kita semua,
terutama
para
kreator,
pemerintah
sebagai
penentu kebijakan,
kritikus, impresario,
para
cendekiawan dan lain-lainnya
agar semua
potensi yang
ada
dapat diberdayakan,"
paparnya
panjang
lebar.
Murdana
mengaku
sengaja menyodorkan
fakta
sejarah itu
untuk
mengetuk ruang
kesadaran
semua
pihak agar tergerak
untuk
melestarikan potensi
seni
budayanya yang mulai
terpuruk
itu.
Dengan
menerapkan proses
kerja tri-tunggal
itu,
dia berharap
potensi-potensi yang
mulai
terpuruk itu
bisa
dibangkitkan kembali.
Dituangkan
dalam
Perda
Dihubungi
terpisah,
Rektor
ISI Denpasar Prof. Dr.
I Wayan
Rai S, M.A.
juga
sepakat perlunya
sinergi
dalam melestarikan
seni-budaya
adiluhung
warisan
leluhur.
Dalam
konteks
pelestarian lukisan
wayang
Kamasan dan
lukisan
tradisi
Bali
lainnya,
kurikulum ISI
Denpasar
sebenarnya
sudah
memfasilitasi hal
itu.
Caranya,
dengan
memasukkan mata
kuliah "Melukis
Tradisi"
sebagai
mata kuliah yang
wajib
diikuti mahasiswa
jurusan
Seni Rupa.
"Seni
lukis
Wayang Kamasan
ini
telah dijadikan
satu
mata kuliah yang
dipelajari
secara
serius oleh
mahasiswa.
Kami
juga berupaya
memperbanyak
mata
kuliah-mata kuliah
muatan
lokal yang sejalan
dengan
upaya-upaya pelestarian
seni
budaya Bali tersebut,"
katanya
sambil menambahkan,
seni
lukis klasik Bali
ini
akan
tetap
diajarkan dan
sangat
menentukan profil
kesarjanaan
Fakultas
Seni
Rupa dan
Desain ISI
Denpasar.
Dikatakan,
proses
pembelajaran yang menekankan
akademik
profesional
akan
menuntut
mahasiswa
mampu
melukis wayang
dan
mengkaji nilai-nilai
estetik,
filosofis
serta
unsur-unsur penunjang
lainnya.
"Aktivitas
ini
secara tidak
langsung
akan
menciptakan kondisi
keberlangsungan
kehidupan
seni
lukis itu
sendiri,"
tegasnya.
Lantas,
peran
apa yang
bisa
dilakukan oleh
pemerintah
untuk
menyelamatkan warisan
adiluhung
leluhur
manusia Bali itu
dari
kematian permanen?
Menurut
Rai dan
Murdana,
pemerintah
daerah
secepatnya harus
menentukan
langkah-langkah
kebijakan
sehingga
dapat
menjaga kelangsungan
hidup
seni-seni tradisi
itu.
Misalnya,
meniru
langkah yang ditempuh
oleh DPRD Bali yang
menghias
gedungnya
dengan
lukisan wayang
Kamasan.
Di
masa
datang, pihaknya
mendambakan
seluruh
langit-langit gedung
dan
dinding perkantoran
milik
pemerintah dihiasi
lukisan
klasik Bali seperti
yang ada
pada
bangunan Kerthagosa
di
Klungkung.
Selain
lukisan
stil Kamasan,
lukisan
stil Batuan,
Pengosekan,
Ubud
dan sebagainya
juga
bisa diimplementasikan
untuk
kepentingan itu.
"Agar hal
itu
memiliki kekuatan
hukum yang
mengikat,
kewajiban
menghiasi interior
kantor
pemerintahan dengan
lukisan
klasik Bali itu
sebaiknya
dituangkan
ke
dalam peraturan
daerah.
Atau
bisa
juga sebagai
penunjang
perda
tentang bangunan
stil
Bali.
Dengan
begitu, para
pelukis
akan
lebih
berdaya dalam
meningkatkan status
sosial
ekonominya.
Semoga
hal ini
dapat
dipertimbangkan oleh
para
penentu kebijakan
dan
dapat menjadi
kenyataan
," kata
Murdana yang didukung
pula oleh
Rai.
* w.
sumatika