kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 16 Desember 2006

 Kultur


Menyelamatkan Lukisan Kamasan dari "Kematian" Permanen
 

MENYEBUT nama Desa Kamasan, Klungkung, maka ingatan kita akan tertancap pada sebentang kanvas berhiaskan tokoh-tokoh pewayangan. Kamasan memang sudah sangat identik dengan lukisan wayang klasik itu. Dari generasi ke generasi, krama Kamasan begitu suntuk menekuni kesenian warisan leluhurnya. Gemuruh perkembangan seni rupa dunia yang menawarkan beragam aliran, tak kuasa membuat mereka berpaling. Bahkan, tidak sedikit krama Kamasan menggantungkan sumber penghidupannya dari aktivitas berkesenian (melukis wayang Kamasan-red) itu. =========================================================== 

Dulu, ketika booming pariwisata masih menerpa Bali, lukisan wayang Kamasan memang menjadi benda seni buruan kaum pelancong. Apalagi, kreativitas seniman lukis Kamasan tidak hanya terpaku pada bentangan kanvas semata. Wujud tokoh-tokoh pewayangan nan khas itu juga diguratkan di atas lembaran dompet, cangkang telur hingga helm pengaman. Benda-benda itu pun menjelma menjadi suvenir bercitarasa seni tinggi. Sayang, seni lukis Bali klasik itu kini tak lagi "menggairahkan" untuk "digumuli" sebagai sumber penghidupan.

 

Tragedi Bom Bali I dan Bom Bali II yang datang susul-menyusul membuat angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali anjlok drastis. Dan, seniman Kamasan pun "menggigil kedinginan" menanti kehadiran para turis untuk membeli lukisan wayang. Gemerincing dolar tak lagi terdengar riuh di desa yang pada masa kerajaan silam dikenal sebagai kampungnya para seniman itu.

 

Ada seniman yang mencoba tetap bertahan menggumuli tradisi leluhurnya, namun tidak sedikit pula seniman yang terpaksa alih profesi. Menjadi tukang bangunan, tukang prada, petani dan beragam profesi lainnya yang dinilai lebih menjanjikan. Mendung tebal tengah menggantung di langit Kamasan. Jika kondisi ini terus berlanjut, tidak tertutup kemungkinan seni lukis klasik Bali nan adiluhung itu tinggal kenangan manis semata. Sebelum "kematian" permanen itu tiba, pemerintah wajib melakukan langkah-langkah penyelamatan. Upaya penyelamatan yang tidak hanya sebatas menyimpan lukisan-lukisan wayang Kamasan itu di museum. Namun, yang terpenting lagi adalah bagaimana menjaga aktivitas melukis wayang Kamasan itu terus berdenyut.

 

 

Pola Konvensional

 

Ditemui Jumat (15/12) kemarin, Pembantu Rektor (PR) I Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Drs. I Ketut Murdana, M.Sn. tidak menampik bahwa alih profesi besar-besaran kini tengah melanda komunitas pelukis wayang Kamasan. Fenomena ini makin menjadi-jadi ketika tragedi bom mengguncang Bali untuk kedua kalinya pada 2005 lalu yang serta merta membuat kunjungan wisatawan mancanegara ke Kamasan turun drastis. Padahal, pangsa pasar lukisan produk Kamasan ini sepenuhnya tergantung dari kunjungan wisatawan mancanegara itu.

 

"Saat ini, pelukis Kamasan memang tengah terpuruk. Keterpurukan ini bukan lantaran seni lukis klasik Bali itu jatuh dari segi kualitas. Tetapi, murni lantaran mereka tidak kuasa melepaskan diri dari kondisi industri pariwisata Bali yang tak kunjung pulih," ujarnya.

 

 

Dalam memasarkan karya seninya, katanya, mayoritas pelukis Kamasan mengandalkan pola pemasaran konvensional. Mereka hanya diam di rumah menunggu penikmat seni datang untuk membeli lukisan. Jarang sekali ada pelukis Kamasan yang proaktif menggelar pameran guna mempromosikan karya-karyanya. Apalagi, sampai membuka website khusus untuk kepentingan tersebut. Padahal, untuk bisa bersaing di ranah seni rupa yang makin kompetitif, pola pemasaran konvesional itu tidak lagi bisa terlalu diandalkan.

 

"Memang, sangat jarang ada pelukis wayang Kamasan yang aktif menggelar pameran. Kendalanya, mungkin karena mereka tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai pameran itu seperti menyewa gedung maupun persiapan lainnya," katanya dan menambahkan, di sinilah peran pemerintah untuk memfasilitasi para seniman itu agar bisa berpameran secara rutin. Termasuk, membantu dari segi pendanaan.

 

 

Pelukis akademis ini juga membantah tegas jika keseragaman corak pada lukisan wayang Kamasan diklaim sebagai biang keladi terpuruknya seni lukis klasik Bali itu. Meskipun berada pada corak yang sama, kata dia, masing-masing pelukis menempatkan proses kreatifnya secara personal yang dituangkan lewat bentuk wayang, ornamentasi, komposisi, pewarnaan, ketajaman dan kekuatan garis yang kesemuanya nampak memberikan pencitraan artistik pembobotan seni lukis itu sendiri.

 

Artinya, di dalam keseragaman corak itu tetap ada perbedaan. Lukisan wayang Kamasan karya I Nyoman Mandra, misalnya, pasti punya kekhasan tersendiri yang bisa dibedakan dengan para pelukis wayang Kamasan lainnya. "Jadi, masing-masing pelukis tetap memiliki kekhasannya sendiri-sendiri," katanya lagi.

 

Pameran Internasional

 

Menurut Murdana, lukisan wayang Kamasan sejatinya sudah mampu menggebrak jagat seni dunia sejak puluhan tahun silam. Pada 1937 lalu, salah satu karya Ida Bagus Gelgel yang berjudul "Kematian Abimanyu" sempat dikirim untuk mengikuti pameran internasional di Paris. Kala itu, Kementerian Perdagangan dan Industri Prancis menganugerahkan medali perak untuk karya seni lukis klasik itu. Sebuah prestasi yang amat mengagumkan. Namun, sebelum penghargaan itu diterima, seniman besar itu telah dipanggil Yang Mahakuasa. "Sekarang, lukisan itu tersimpan di Museum Tropis Amsterdam," katanya.

 

Sesuai catatan sejarah, katanya, pada pameran internasional itu juga dipamerkan karya Pablo Picasso yang berjudul "Guernika". Karya lukis yang menggambarkan kebiadaban pesawat-pesawat tempur Jerman atas perintah diktator Spanyol membombartir Guernika pada tanggal 24 April 1937 itu disebut-sebut sebagai lukisan terbaik abad ke-20. Dari catatan sejarah itu, dapat diketahui bahwa pelukis Bali sejatinya sudah berkompetisi dan mampu berdiri sejajar dengan pelukis-pelukis besar dunia sejak puluhan tahun silam.

 

"Sejumlah pelukis lainnya dari Kamasan yang ikut mengharumkan nama bangsa seperti Mangku Mura, I Nyoman Mandra, Suciarmi dan sebagainya. Saat ini pun sebenarnya bermunculan sejumlah pelukis muda yang cukup andal seperti terlihat pada pameran PKB ke-28 tahun 2006 lalu. Barisan pelukis muda itu di antaranya Pande Sumantra, I Wayan Puspa, Ni Wayan Sri Wedari, Ni Made Sri Rahayu dan banyak lagi pelukis muda bertalenta besar lainnya. Namun, apakah mereka akan tetap konsisten menekuni seni warisan leluhur itu untuk selanjutnya mewariskannya kepada generasi berikutnya, tentu saja waktu yang akan menjawabnya," katanya lagi.

* w. sumatika

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)