Menyelamatkan Lukisan Kamasan dari "Kematian" Permanen
MENYEBUT
nama Desa Kamasan, Klungkung, maka ingatan kita akan
tertancap pada sebentang kanvas berhiaskan tokoh-tokoh
pewayangan. Kamasan memang sudah sangat identik dengan
lukisan wayang klasik itu. Dari generasi ke generasi,
krama Kamasan begitu suntuk menekuni kesenian warisan
leluhurnya. Gemuruh perkembangan seni rupa dunia yang
menawarkan beragam aliran, tak kuasa membuat mereka
berpaling. Bahkan, tidak sedikit krama Kamasan
menggantungkan sumber penghidupannya dari aktivitas
berkesenian (melukis wayang Kamasan-red) itu.
===========================================================
Dulu, ketika booming pariwisata masih menerpa Bali,
lukisan wayang Kamasan memang menjadi benda seni buruan
kaum pelancong. Apalagi, kreativitas seniman lukis
Kamasan tidak hanya terpaku pada bentangan kanvas semata.
Wujud tokoh-tokoh pewayangan nan khas itu juga
diguratkan di atas lembaran dompet, cangkang telur
hingga helm pengaman. Benda-benda itu pun menjelma
menjadi suvenir bercitarasa seni tinggi. Sayang, seni
lukis Bali klasik itu kini tak lagi "menggairahkan"
untuk "digumuli" sebagai sumber penghidupan.
Tragedi Bom Bali I dan Bom Bali II yang datang
susul-menyusul membuat angka kunjungan wisatawan
mancanegara ke Bali anjlok drastis. Dan, seniman Kamasan
pun "menggigil kedinginan" menanti kehadiran para turis
untuk membeli lukisan wayang. Gemerincing dolar tak lagi
terdengar riuh di desa yang pada masa kerajaan silam
dikenal sebagai kampungnya para seniman itu.
Ada seniman yang mencoba tetap bertahan menggumuli
tradisi leluhurnya, namun tidak sedikit pula seniman
yang terpaksa alih profesi. Menjadi tukang bangunan,
tukang prada, petani dan beragam profesi lainnya yang
dinilai lebih menjanjikan. Mendung tebal tengah
menggantung di langit Kamasan. Jika kondisi ini terus
berlanjut, tidak tertutup kemungkinan seni lukis klasik
Bali nan adiluhung itu tinggal kenangan manis semata.
Sebelum "kematian" permanen itu tiba, pemerintah wajib
melakukan langkah-langkah penyelamatan. Upaya
penyelamatan yang tidak hanya sebatas menyimpan
lukisan-lukisan wayang Kamasan itu di museum. Namun,
yang terpenting lagi adalah bagaimana menjaga aktivitas
melukis wayang Kamasan itu terus berdenyut.
Pola Konvensional
Ditemui Jumat (15/12) kemarin, Pembantu Rektor (PR) I
Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Drs. I Ketut
Murdana, M.Sn. tidak menampik bahwa alih profesi
besar-besaran kini tengah melanda komunitas pelukis
wayang Kamasan. Fenomena ini makin menjadi-jadi ketika
tragedi bom mengguncang Bali untuk kedua kalinya pada
2005 lalu yang serta merta membuat kunjungan wisatawan
mancanegara ke Kamasan turun drastis. Padahal, pangsa
pasar lukisan produk Kamasan ini sepenuhnya tergantung
dari kunjungan wisatawan mancanegara itu.
"Saat
ini, pelukis Kamasan memang tengah terpuruk.
Keterpurukan ini bukan lantaran seni lukis klasik Bali
itu jatuh dari segi kualitas. Tetapi, murni lantaran
mereka tidak kuasa melepaskan diri dari kondisi industri
pariwisata Bali yang tak kunjung pulih," ujarnya.
Dalam memasarkan karya seninya, katanya, mayoritas
pelukis Kamasan mengandalkan pola pemasaran konvensional.
Mereka hanya diam di rumah menunggu penikmat seni datang
untuk membeli lukisan. Jarang sekali ada pelukis Kamasan
yang proaktif menggelar pameran guna mempromosikan
karya-karyanya. Apalagi, sampai membuka website khusus
untuk kepentingan tersebut. Padahal, untuk bisa bersaing
di ranah seni rupa yang makin kompetitif, pola pemasaran
konvesional itu tidak lagi bisa terlalu diandalkan.
"Memang,
sangat jarang ada pelukis wayang Kamasan yang aktif
menggelar pameran. Kendalanya, mungkin karena mereka
tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai pameran
itu seperti menyewa gedung maupun persiapan lainnya,"
katanya dan menambahkan, di sinilah peran pemerintah
untuk memfasilitasi para seniman itu agar bisa
berpameran secara rutin. Termasuk, membantu dari segi
pendanaan.
Pelukis akademis ini juga membantah tegas jika
keseragaman corak pada lukisan wayang Kamasan diklaim
sebagai biang keladi terpuruknya seni lukis klasik Bali
itu. Meskipun berada pada corak yang sama, kata dia,
masing-masing pelukis menempatkan proses kreatifnya
secara personal yang dituangkan lewat bentuk wayang,
ornamentasi, komposisi, pewarnaan, ketajaman dan
kekuatan garis yang kesemuanya nampak memberikan
pencitraan artistik pembobotan seni lukis itu sendiri.
Artinya, di dalam keseragaman corak itu tetap ada
perbedaan. Lukisan wayang Kamasan karya I Nyoman Mandra,
misalnya, pasti punya kekhasan tersendiri yang bisa
dibedakan dengan para pelukis wayang Kamasan lainnya. "Jadi,
masing-masing pelukis tetap memiliki kekhasannya
sendiri-sendiri," katanya lagi.
Pameran Internasional
Menurut Murdana, lukisan wayang Kamasan sejatinya sudah
mampu menggebrak jagat seni dunia sejak puluhan tahun
silam. Pada 1937 lalu, salah satu karya Ida Bagus Gelgel
yang berjudul "Kematian Abimanyu" sempat dikirim untuk
mengikuti pameran internasional di Paris. Kala itu,
Kementerian Perdagangan dan Industri Prancis
menganugerahkan medali perak untuk karya seni lukis
klasik itu. Sebuah prestasi yang amat mengagumkan. Namun,
sebelum penghargaan itu diterima, seniman besar itu
telah dipanggil Yang Mahakuasa. "Sekarang, lukisan itu
tersimpan di Museum Tropis Amsterdam," katanya.
Sesuai catatan sejarah, katanya, pada pameran
internasional itu juga dipamerkan karya Pablo Picasso
yang berjudul "Guernika". Karya lukis yang menggambarkan
kebiadaban pesawat-pesawat tempur Jerman atas perintah
diktator Spanyol membombartir Guernika pada tanggal 24
April 1937 itu disebut-sebut sebagai lukisan terbaik
abad ke-20. Dari catatan sejarah itu, dapat diketahui
bahwa pelukis Bali sejatinya sudah berkompetisi dan
mampu berdiri sejajar dengan pelukis-pelukis besar dunia
sejak puluhan tahun silam.
"Sejumlah
pelukis lainnya dari Kamasan yang ikut mengharumkan nama
bangsa seperti Mangku Mura, I Nyoman Mandra, Suciarmi
dan sebagainya. Saat ini pun sebenarnya bermunculan
sejumlah pelukis muda yang cukup andal seperti terlihat
pada pameran PKB ke-28 tahun 2006 lalu. Barisan pelukis
muda itu di antaranya Pande Sumantra, I Wayan Puspa, Ni
Wayan Sri Wedari, Ni Made Sri Rahayu dan banyak lagi
pelukis muda bertalenta besar lainnya. Namun, apakah
mereka akan tetap konsisten menekuni seni warisan
leluhur itu untuk selanjutnya mewariskannya kepada
generasi berikutnya, tentu saja waktu yang akan
menjawabnya," katanya lagi.
*
w. sumatika