kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Paing, 16 Desember 2006

 Kultur


Bondres

Pelukis
Kamasan 

YANG dimaksudkan lukisan gaya Kamasan oleh masyarakat umum adalah lukisan wayang dengan penampilan sepotong cerita. Namun, jauh sebelumnya gaya Kamasan adalah simbol yang melukiskan berbagai dewa dalam mitologi Hindu yang menceritakan tentang hari baik, pengaruh peredaran bulan terhadap kelahiran seseorang, dan sebagainya. Dewa-dewa dalam mitologi Hindu itu dilukis bergaya wayang. Gaya ini kemudian disebut sebagai lukisan klasik Kamasan. Orang dengan mudah bisa membedakan yang mana gaya Kamasan, yang mana tidak, hanya dengan melihat adegan dalam kanvas itu

Belakangan gaya Kamasan ini sudah mulai ditiru seiring dengan permintaan pasar. Sementara itu bahan-bahan yang dipakai melukis juga sudah modern seperti cat. Dulu dipakai warna alam, misalnya dari atal, kencu, ancur dan sebagainya. Produk lukisan itu pun tidak lagi terbatas untuk keperluan ritual seperti langse atau pangider-ider. Lukisan Kamasan sudah menjadi barang pajangan seperti halnya lukisan-lukisan yang lain.

 

Kini muncul pula kreativitas baru yang tidak terkungkung pada kanvas, misalnya, dengan menggunakan media kayu atau bambu. Penggunaan media ini sebenarnya sudah dilakukan di banyak tempat. Ukiran dari kayu banyak menghiasi rumah-rumah, apakah itu berdiri sendiri sebagai "sebuah lukisan" atau untuk hal-hal yang fungsional seperti daun pintu, jendela dan lubang angin. Namun yang muncul dari Kamasan bukan sekadar ukiran, tetapi sebuah corak (style). Atau lebih khusus lagi, style khas Kamasan yang sudah populer itu, berupa adegan dari tokoh-tokoh wayang yang membentuk sepotong cerita. Dengan kata lain, lukisan wayang Kamasan yang boleh dikatakan klasik itu, kini berpindah ke media kayu dan bambu. Bahkan, kulit telor pun mulai pula dilukis gaya Kamasan.

 

Masalahnya, apakah generasi muda pelukis Kamasan masih tetap menangkap roh yang ada pada para pendahulunyaAntara lain filosofi cerita yang mau ditampilkan, dan juga keragaman flora yang menjadi latar belakang dari "gambar" wayang itu. Ini yang luntur. Pertama karena pengaruh dari pesanan itu, yang tentu tak bisa ditampik karena urusan bisnis. Masalah kedua, yang bekerja sebagai pelukis juga banyak, satu orang menampik pesanan, dua orang mau meladeni. Artinya sudah mulai ke arah komersialisasi tanpa lagi mementingkan mutu.

 

Masalah ketiga, ini yang gawat, adanya pemalsuan gaya Kamasan, atau lebih tepat disebut muncul lukisan gaya Kamasan yang bukan dikerjakan seniman Kamasan. Di Pasar Seni Sukawati, banyak pedagang yang menjajakan lukisan klasik dan tradisional Kamasan. Kalau pembelinya sangat awam dan bertanya dari mana karya itu berasal, pedagang langsung menyebutkan: Kamasan. Pembeli tak begitu hirau, dan juga tak tahu benar tidaknya. Namanya saja untuk cenderamata atau oleh-oleh, tak masalah di mana lukisan dikerjakan. Yang penting adalah kesan bahwa yang dibeli adalah lukisan Kamasan, tak peduli itu dilukis di Kamasan atau desa lainnya.

 

Bisa saja lukisan itu betul-betul buatan para pelukis Desa Kamasan. Tetapi besar sekali kemungkinannya tidak. Yang membuat keadaan lebih rancu lagi, yang disebutkan klasik bagi pedagang asongan itu adalah sebuah gaya yang memang dulunya mengangkat nama Kamasan. Misalnya, lukisan wayang yang di latarbelakangnya penuh dengan ornamen flora. Atau simbol-simbol dan wujud Dewa dalam mitologi Hindu (disebut palalintangan) yang menceritakan tentang baik buruknya hari (ala ayuning dewasa). Juga mengenai pengaruh peredaran bulan terhadap kelahiran seseorang. Ketika gaya ini ditiru di banyak desa, dan lukisan ''klasik Kamasan'' ini diproduksi secara massal di mana-mana, lalu dijual pula di mana-mana dengan harga yang murah -- karena mutunya juga asal-asalan -- maka Kamasan sebagai sentra pelukis sudah tercemar. Orang tak lagi datang ke Kamasan dan seniman di sini tentu saja bisa frustrasi dan beralih profesi karena produknya tersaingi.

 

Celakanya, begitu mutu lukisan itu merosot jauh, maka orang pun dengan mudah juga mengatakan, lukisan klasik Kamasan tidak sebagus yang lalu. Atau tudingan lain, seniman di Kamasan tidak lagi kreatif dan hanya menghasilkan karya-karya yang monoton.

 

Padahal, perubahan juga terjadi di Kamasan. Di masa lalu, lukisan Kamasan adalah gambar-gambar orang atau tokoh-tokoh dalam ceritra apa saja, yang lepas. Sekarang gaya itu masih terlihat pada kain prada yang disablon warna emas. Belakangan, ''gaya Kamasan'' sudah mulai menampilkan lukisan wayang yang bercerita, dan ini membutuhkan goresan tertentu untuk menampilkan karakter tokoh.

 

Belum lagi bidang lukisan, awalnya bidang dibatasi oleh kegunaan, misalnya, melukis untuk ukuran langse (tirai balai atau pertunjukan), melukis untuk pangider-ider dan sejenisnya. Kini, bidang itu sudah mengacu kepada hal-hal modern, yakni lukisan untuk pajangan di dinding hotel, plafon rumah, bahkan plafon gedung Ksirarnawa Taman Budaya. Kalau kegunaan sudah melebar dan peralatan melukis bertambah banyak, siapa pun bisa mengerjakannya, tidak harus diproduksi di Kamasan. Artinya, nama Kamasan tinggal sebagai sebutan ''gaya'' atau ''style'', sementara pelukisnya bukan dari Kamasan. Ya, entah siapa yang salah dalam hal ini, yang jelas seniman Kamasan jadi mendapat saingan.

* Putu Setia

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)