Bondres
Pelukis
Kamasan
YANG
dimaksudkan
lukisan
gaya
Kamasan
oleh masyarakat
umum
adalah lukisan
wayang
dengan penampilan
sepotong
cerita.
Namun, jauh
sebelumnya
gaya
Kamasan
adalah simbol yang
melukiskan
berbagai
dewa
dalam mitologi Hindu
yang menceritakan
tentang
hari baik,
pengaruh
peredaran
bulan
terhadap kelahiran
seseorang,
dan
sebagainya. Dewa-dewa
dalam
mitologi Hindu itu
dilukis
bergaya wayang.
Gaya
ini
kemudian disebut
sebagai
lukisan klasik
Kamasan.
Orang
dengan mudah
bisa
membedakan yang mana
gaya
Kamasan, yang
mana
tidak, hanya
dengan
melihat adegan
dalam
kanvas itu.
Belakangan
gaya
Kamasan
ini sudah
mulai
ditiru seiring
dengan
permintaan pasar.
Sementara
itu
bahan-bahan yang dipakai
melukis
juga sudah modern
seperti cat.
Dulu
dipakai warna
alam,
misalnya dari
atal,
kencu, ancur
dan
sebagainya. Produk
lukisan
itu pun tidak
lagi
terbatas untuk
keperluan ritual
seperti
langse atau
pangider-ider.
Lukisan
Kamasan sudah
menjadi
barang pajangan
seperti
halnya lukisan-lukisan
yang lain.
Kini
muncul pula
kreativitas
baru yang
tidak
terkungkung pada
kanvas,
misalnya, dengan
menggunakan media
kayu
atau bambu.
Penggunaan media
ini
sebenarnya sudah
dilakukan
di
banyak tempat.
Ukiran
dari kayu
banyak
menghiasi rumah-rumah,
apakah
itu berdiri
sendiri
sebagai "sebuah
lukisan"
atau
untuk hal-hal yang
fungsional
seperti
daun pintu,
jendela
dan lubang
angin.
Namun yang muncul
dari
Kamasan bukan
sekadar
ukiran, tetapi
sebuah
corak (style). Atau
lebih
khusus lagi, style
khas
Kamasan yang sudah
populer
itu, berupa
adegan
dari tokoh-tokoh
wayang yang
membentuk
sepotong
cerita.
Dengan kata lain,
lukisan
wayang Kamasan yang
boleh
dikatakan klasik
itu,
kini berpindah
ke media
kayu
dan bambu.
Bahkan,
kulit telor pun
mulai pula
dilukis
gaya
Kamasan.
Masalahnya,
apakah
generasi muda
pelukis
Kamasan masih
tetap
menangkap roh yang
ada
pada para
pendahulunya?
Antara lain
filosofi
cerita yang
mau
ditampilkan, dan
juga
keragaman flora yang menjadi
latar
belakang dari "gambar"
wayang
itu. Ini yang
luntur.
Pertama karena
pengaruh
dari
pesanan itu, yang
tentu
tak bisa
ditampik
karena
urusan bisnis.
Masalah
kedua, yang bekerja
sebagai
pelukis juga
banyak,
satu orang
menampik
pesanan,
dua
orang mau
meladeni.
Artinya
sudah mulai
ke arah
komersialisasi
tanpa
lagi mementingkan
mutu.
Masalah
ketiga,
ini yang gawat,
adanya
pemalsuan
gaya
Kamasan,
atau
lebih tepat
disebut
muncul lukisan
gaya
Kamasan yang
bukan
dikerjakan seniman
Kamasan.
Di
Pasar Seni
Sukawati,
banyak
pedagang yang menjajakan
lukisan
klasik dan
tradisional
Kamasan.
Kalau
pembelinya sangat
awam
dan bertanya
dari
mana karya
itu
berasal, pedagang
langsung
menyebutkan:
Kamasan.
Pembeli
tak begitu
hirau,
dan juga
tak
tahu benar
tidaknya.
Namanya
saja untuk
cenderamata
atau
oleh-oleh, tak
masalah
di mana
lukisan
dikerjakan. Yang penting
adalah
kesan bahwa yang
dibeli
adalah lukisan
Kamasan,
tak
peduli itu
dilukis
di Kamasan
atau
desa lainnya.
Bisa
saja
lukisan itu
betul-betul
buatan
para pelukis
Desa
Kamasan. Tetapi
besar
sekali kemungkinannya
tidak. Yang
membuat
keadaan lebih
rancu
lagi, yang disebutkan
klasik
bagi pedagang
asongan
itu adalah
sebuah
gaya yang memang
dulunya
mengangkat nama
Kamasan.
Misalnya,
lukisan
wayang yang di
latarbelakangnya
penuh
dengan ornamen flora.
Atau
simbol-simbol dan
wujud
Dewa dalam
mitologi Hindu (disebut
palalintangan) yang
menceritakan
tentang
baik buruknya
hari (ala
ayuning
dewasa). Juga
mengenai
pengaruh
peredaran
bulan
terhadap kelahiran
seseorang.
Ketika
gaya ini
ditiru
di banyak
desa,
dan lukisan ''klasik
Kamasan''
ini
diproduksi secara
massal
di mana-mana,
lalu
dijual pula di
mana-mana
dengan
harga yang murah --
karena
mutunya juga
asal-asalan --
maka
Kamasan sebagai
sentra
pelukis sudah
tercemar.
Orang
tak lagi
datang
ke Kamasan
dan
seniman di
sini
tentu saja
bisa
frustrasi dan
beralih
profesi karena
produknya
tersaingi.
Celakanya,
begitu
mutu lukisan
itu
merosot jauh,
maka
orang pun dengan
mudah
juga mengatakan,
lukisan
klasik Kamasan
tidak
sebagus yang lalu.
Atau
tudingan lain, seniman
di
Kamasan tidak
lagi
kreatif dan
hanya
menghasilkan karya-karya
yang monoton.
Padahal,
perubahan
juga
terjadi di
Kamasan.
Di masa
lalu,
lukisan Kamasan
adalah
gambar-gambar orang
atau
tokoh-tokoh dalam
ceritra
apa saja, yang
lepas.
Sekarang
gaya
itu
masih terlihat
pada
kain prada yang
disablon
warna
emas. Belakangan, ''gaya
Kamasan''
sudah
mulai menampilkan
lukisan
wayang yang bercerita,
dan ini
membutuhkan
goresan
tertentu untuk
menampilkan
karakter
tokoh.
Belum
lagi
bidang lukisan,
awalnya
bidang dibatasi
oleh
kegunaan, misalnya,
melukis
untuk ukuran
langse (tirai
balai
atau pertunjukan),
melukis
untuk pangider-ider
dan
sejenisnya. Kini,
bidang
itu sudah
mengacu
kepada hal-hal
modern, yakni
lukisan
untuk pajangan
di
dinding hotel, plafon
rumah,
bahkan plafon
gedung
Ksirarnawa Taman
Budaya.
Kalau kegunaan
sudah
melebar dan
peralatan
melukis
bertambah banyak,
siapa pun
bisa
mengerjakannya, tidak
harus
diproduksi di
Kamasan.
Artinya,
nama
Kamasan tinggal
sebagai
sebutan ''gaya''
atau ''style'',
sementara
pelukisnya
bukan
dari Kamasan.
Ya,
entah siapa yang
salah
dalam hal
ini, yang
jelas
seniman Kamasan
jadi
mendapat saingan.
*
Putu
Setia