kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Paing, 3 Agustus 2004

 Pariwisata


Pengembangan Pariwisata Terganjal Infrastruktur

Jakarta (Bali Post) -
Presiden Megawati Soekarnoputri mengakui pengembangan pariwisata Indonesia, sampai kini masih terganjal minimnya jaringan infrastruktur. Karenanya, masalah ini, harus ditangani secara komprehensif dan lintas sektoral, bukan hanya secara sektoral apalagi masalah itu tak akan bisa diselesaikan dalam masa pemerintahan sekarang, tanpa bantuan dari masyarakat.

''Dibanding kondisi pariwisata di wilayah ASEAN, Indonesia tak akan ketinggalan. Mengingat, Indonesia kaya akan obyek, sayangnya kondisi insfrastruktur yang menjadi hambatannya,'' ucap Presiden saat dialog dengan Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) di Istana Negara Jakarta, Senin (2/8) kemarin.

Kendala jaringan infrastruktur, kepala negara mencontohkan rata-rata panjang landasan pacu bandara di Indonesia hanya 1.800 meter, idealnya untuk dipakai mendarat pesawat ukuran sedang, panjang landasan pacu minimal 2.200 meter. Dan untuk bandara internasional agar dapat didarati pesawat ukuran besar, panjang landasan pacu minimal 2.400 meter. ''Belum beresnya landasan pacu menyebabkan keterbatasan kunjungan wisatawan. Disisi lain, jumlah angkutan pesawat yang datang ke daerah tujuan wisata juga belum memungkinkan. Apalagi, sampai kini masih ada yang belum terfokus terhadap potensi daerah yang menjual daerah wisatanya. Jadi apa yang dijual di daerah itu belum jelas, ini perlu diperbaiki,'' katanya. Selain itu, kondisi jaringan listrik serta air bersih belum sampai ke daerah-daerah tujuan wisata. ''Dan ini harus menjadi perhatian kita bersama, karena masalah air bersih dan listrik merupakan hal yang sangat penting,'' tambahnya.

Ketua Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) Ponco Sutowo mengatakan, industri pariwisata dapat menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia jika ada komitmen yang tinggi dari negara bagi perkembangan pariwisata serta makin meluasnya partisipasi masyarakat terhadap pariwisata. Sebenarnya, pariwisata merupakan bisnis yang tak merusak alam, malah alam tetapo terjaga dan terlindungi. Investasi di sektor pariwisata juga relatif murah dibandingkan sektor lain. Juga industri pariwisata paling tidak menyerap delapan persen tenaga kerja Indonesia.

"Rata-rata di negara lain industri pariwisata mampu menyerap tenaga kerja hingga 12 persen," katanya. Juga mampu meningkatkan perekonomian di daerah dan menggerak devisa negara yang besar dari semua lini mulai jasa penerbangan, pajak perhotelan, meningkatkan kerajinan rakyat dan lainnya. ''Karenanya, kami butuh komitmen negara terkait dengan pariwisata dan partisipasi masyarakat. Maju mundurnya pariwisata akan sangat tergantung oleh kedua hal itu,'' tandasnya. (034)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)