Pengembangan
Pariwisata Terganjal Infrastruktur
Jakarta
(Bali Post) -
Presiden Megawati Soekarnoputri mengakui pengembangan
pariwisata Indonesia, sampai kini masih terganjal minimnya
jaringan infrastruktur. Karenanya, masalah ini, harus
ditangani secara komprehensif dan lintas sektoral, bukan
hanya secara sektoral apalagi masalah itu tak akan bisa
diselesaikan dalam masa pemerintahan sekarang, tanpa
bantuan dari masyarakat.
''Dibanding kondisi
pariwisata di wilayah ASEAN, Indonesia tak akan
ketinggalan. Mengingat, Indonesia kaya akan obyek,
sayangnya kondisi insfrastruktur yang menjadi hambatannya,''
ucap Presiden saat dialog dengan Masyarakat Pariwisata
Indonesia (MPI) di Istana Negara Jakarta, Senin (2/8)
kemarin.
Kendala jaringan
infrastruktur, kepala negara mencontohkan rata-rata
panjang landasan pacu bandara di Indonesia hanya 1.800
meter, idealnya untuk dipakai mendarat pesawat ukuran
sedang, panjang landasan pacu minimal 2.200 meter. Dan
untuk bandara internasional agar dapat didarati pesawat
ukuran besar, panjang landasan pacu minimal 2.400 meter.
''Belum beresnya landasan pacu menyebabkan keterbatasan
kunjungan wisatawan. Disisi lain, jumlah angkutan pesawat
yang datang ke daerah tujuan wisata juga belum
memungkinkan. Apalagi, sampai kini masih ada yang belum
terfokus terhadap potensi daerah yang menjual daerah
wisatanya. Jadi apa yang dijual di daerah itu belum jelas,
ini perlu diperbaiki,'' katanya. Selain itu, kondisi
jaringan listrik serta air bersih belum sampai ke
daerah-daerah tujuan wisata. ''Dan ini harus menjadi
perhatian kita bersama, karena masalah air bersih dan
listrik merupakan hal yang sangat penting,'' tambahnya.
Ketua Masyarakat
Pariwisata Indonesia (MPI) Ponco Sutowo mengatakan,
industri pariwisata dapat menjadi tulang punggung
perekonomian Indonesia jika ada komitmen yang tinggi dari
negara bagi perkembangan pariwisata serta makin meluasnya
partisipasi masyarakat terhadap pariwisata. Sebenarnya,
pariwisata merupakan bisnis yang tak merusak alam, malah
alam tetapo terjaga dan terlindungi. Investasi di sektor
pariwisata juga relatif murah dibandingkan sektor lain.
Juga industri pariwisata paling tidak menyerap delapan
persen tenaga kerja Indonesia.
"Rata-rata di
negara lain industri pariwisata mampu menyerap tenaga
kerja hingga 12 persen," katanya. Juga mampu
meningkatkan perekonomian di daerah dan menggerak devisa
negara yang besar dari semua lini mulai jasa penerbangan,
pajak perhotelan, meningkatkan kerajinan rakyat dan
lainnya. ''Karenanya, kami butuh komitmen negara terkait
dengan pariwisata dan partisipasi masyarakat. Maju
mundurnya pariwisata akan sangat tergantung oleh kedua hal
itu,'' tandasnya. (034)
|