kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Paing, 10 Juli 2003

 Pariwisata


Menata Sektor Kepariwisataan Klungkung-------

Perkaya Objek dengan Konsep ''Nyegara Gunung''

DUNIA kepariwisataan Bali pascatragedi bom Kuta memang tengah sekarat. Dalam sekejap mata, petaka yang menikam "jantung" pariwisata Bali dan merenggut ratusan korban jiwa itu telah menyulap kedamaian gumi Bali laksana hantu yang sangat menyeramkan. Wisatawan mancanegara (wisman) kontan menghilang. Objek-objek wisata di seluruh penjuru Bali pun "menggigil" kedinginan menanti kehadiran turis. Gampang ditebak, gemerincing dolar pun tak lagi riuh seiring runtuhnya predikat Bali sebagai the Last Paradise (Sorga Terakhir-red) yang selama ini meninabobokan krama di Pulau Seribu Pura ini. Kini, diperlukan semangat dan kerja keras untuk mengembalikan sorga yang hilang itu, sehingga pariwisata Bali tidak selamanya terkubur dalam "tidur panjang". Memang, bukan perkara yang mudah!

Kesadaran untuk segera bangkit, tampaknya dipahami betul oleh para decission maker sektor kepariwisataan di Bumi Serombotan, Klungkung. Di musim "paceklik" wisman ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Klungkung yang didaulat bertanggung jawab penuh terhadap upaya pengembangan kepariwisataan, justru mengumpulkan semangat untuk menata potensi-potensi wisata yang dimiliknya. Selanjutnya, potensi-potensi itu akan "disulap" menjadi objek dan daya tarik wisata (ODTW) baru untuk mendukung keberadaan Kertha Gosa dengan Taman Gili-nya, kawasan wisata Pura Goa Lawah serta Desa Wisata Kamasan yang namanya sudah lebih dulu berkibar.

"Saya optimis, kondisi kepariwisataan Bali akan segera pulih. Tragedi bom itu kami jadikan momentum berharga untuk mengkaji kembali strategi pembangunan sektor kepariwisataan Klungkung yang sudah dilaksanakan," ujar Kadisbudpar Klungkung Drs. Ida Bagus Sudarsana kepada Bali Post, Rabu (9/7) kemarin.

Pria berkumis tebal ini menyimpan optimisme, bahwa pariwisata Bali kembali booming alias "diserbu" wisatawan mancanegara. Hal ini bisa dibuktikan dari peningkatan grafik angka kunjungan wisman di objek-objek wisata di Klungkung, kendati lonjakannya bergerak sangat perlahan. Kondisi menggembirakan ini, kata mantan Kabag Humas Klungkung itu, ditindaklanjutinya dengan melakukan pendataan dan penataan terhadap potensi-potensi wisata yang selama ini belum tergarap dan layak "dijual" kepada wisatawan. Muara dari diversifikasi itu, jelas agar objek-objek wisata di Klungkung lebih variatif sehingga bisa memperpanjang masa tinggal (lenght stay) wisatawan di Klungkung. "Saat ini, kami sedang mempersiapkan belasan objek wisata baru untuk disinergikan dengan objek-objek wisata lainnya yang sudah lebih dahulu eksis," katanya.

"Kawinkan" Bukit dan Laut

Lantas, objek-objek wisata gres apa saja yang sedang digarap Disbudpar Klungkung untuk memberi "roh" paket wisata berlabel city tour itu? Menurut Kasubdin Bina Objek Disbudpar Klungkung I Nengah Becik, S.H., paling tidak ada sembilan "situs" baru yang layak dinominasikan sebagai objek wisata andalan Bumi Serombotan di masa depan untuk melengkapi 17 objek wisata yang sudah lebih dulu ditetapkan. Barisan "pendatang baru" itu meliputi kawasan Pura Puncak Sari, Pura Puncak Jati, Bukit Buluh, Bukit Buung, Bukit Tengah, Gunung Kawi, pantai Tegal Besar, objek peninggalan budaya Kori Batu dan sentra kerajinan di Desa Satra.

Mayoritas dari objek-objek itu menebarkan keindahan panorama alam pedesaan yang asri dan masih "perawan" atau belum terjamah polusi. Keunggulan lainnya, lokasinya juga bisa terjangkau dalam waktu relatif singkat dari pusat kota serta telah dilengkapi jalan akses untuk kepentingan pariwisata. "Produk yang kami tawarkan kepada wisatawan dari objek-objek itu, ya... memang panorama alam yang eksotis dan eksklusif. Selain itu, objek-objek wisata itu akan tampil lebih sempurna dengan gerak aktivitas keseharian masyarakat pedesaan yang unik serta disarati nuansa religius yang kental. Kalau wisatawan menginginkan suguhan wisata yang lain daripada yang lain, objek-objek itu bisa dijadikan alternatif yang tepat," katanya seolah berpromosi.

Tawaran yang dilontarkan mantan Kabag Humas Klungkung ini, jelas tidak mengada-ada. Kawasan Pura Puncak Sari, Desa Nyalian di Kecamatan Banjarangkan yang berdiri megah di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut itu, misalnya, memang menebarkan aura keindahan yang tiada tara. Apabila kita berdiri di areal pura ini, lalu menebarkan pandangan ke arah timur, maka mata kita akan "dimanjakan" oleh bentang sawah menghijau dengan terasering-nya yang bertingkat-tingkat. Menghadap ke selatan, Pulau Nusa Penida akan tertampang jelas. Menyeruak indah di antara kebiruan air laut yang menjanjikan perasaan damai. Melepas pandang ke arah barat, maka mata kita akan tertuju pada Pura Maloko yang berdiri megah di puncak bukit. Pura itu "dipagari" petak-petak sawah dan tanaman hortikultura yang menghampar hijau. Nuansa pertanian yang menyejukkan dengan terasering yang indah juga bisa ditemukan di Bukit Buung yang berjarak sekitar 500 meter dari Pura Puncak Sari.

Sebagai "pemanis" panorama, di sini juga terdapat sebuah goa yang dikeramatkan oleh warga setempat. Daya pesona serupa juga bisa dinikmati di kawasan Gunung Kawi, Desa Aan dan Pura Puncak Jati, Desa Selisihan, Banjarangkan. Sedangkan Bukit Buluh (Desa Gunaksa) dan Bukit Tengah (Desa Pesinggahan) akan menawarkan keindahan alam Pulau Nusa Penida di kejauhan dengan bentang laut birunya yang mahaluas. "Meskipun belum ditetapkan sebagai objek wisata, sebenarnya tempat-tempat itu sudah sering dikunjungi wisatawan. Karena karakteristik alamnya yang berbukit-bukit, di sini sangat ideal dikembangkan atraksi wisata hikking (jalan kaki-red)," ujarnya.

Sementara itu, mereka yang menyukai atraksi tarian ombak saling berlomba mencumbu tepian pantai, semestinya tidak melewatkan kunjungannya ke pantai Tegal Besar. Apalagi di tepian pantai berpasir hitam ini sudah berdiri sebuah bungalo yang dilengkapi dengan bar kecil untuk mengobati kepenatan dan dahaga para wisatawan. Objek wisata ini juga didukung oleh keberadaan Pura Segara yang lokasinya sekitar 400 meter di utara pantai. "Untuk Klungkung daratan, objek-objek wisata yang kami jual memang keindahan panorama bukit dan laut. Mungkin, sebagai bentuk implementasi konsep nyegara gunung-lah," ujar Becik yang menemani Bali Post mengunjungi objek-objek wisata tersebut. (ian)

Klungkung juga Tawarkan ''City Tour''

Kota Klungkung yang tidak terlalu luas sering diplesetkan dengan aklingkungan (hanya sekeliling-red). Sebab, untuk mutar-mutar mengelilingi berbagai objek wisata di kota ini tidaklah perlu waktu lama karena jaraknya memang berdekatan. Untuk itu, tidak berlebihan jika Klungkung juga menawarkan paket City Tour kepada wisatawan yang datang.

Khusus untuk Klungkung daratan, kata Sudarsana, pihak Disbudpar sudah merancang paket wisata khusus berlabel City Tour dalam memuaskan selera wisatawan. Paket ini akan mensinergikan Kertha Gosa dengan objek-objek wisata lainnya yang ada di Klungkung daratan. Termasuk, objek-objek wisata baru berbasis agrowisata yang kini masih dalam tahap penataan. Misalnya, Bukit Abah dan ladang garam tradisional Pesinggahan-Kusamba. Di masa mendatang, aktivitas kepariwisataan Klungkung daratan akan dipusatkan di Kertha Gosa yang terkenal dengan lukisan wayang klasik Kamasan-nya itu.

Berdekatan dengan kompleks bangunan berarsitektur khas Bali ini, juga terdapat Museum Semarajaya, Museum Lukisan Ambron dan Monumen Puputan Klungkung. Setelah puas menikmati suguhan atraksi wisata di sana, wisatawan selanjutnya "digiring" ke objek-objek wisata lainnya yang tersebar merata di segala penjuru Klungkung daratan. "Nantinya, seluruh objek wisata itu diupayakan dijual dalam satu paket. Paling tidak, diperlukan waktu satu hingga dua hari penuh agar wisatawan bisa menikmati objek-objek wisata secara tuntas. Jika konsep city tour ini jalan, saya optimis lenght stay wisatawan akan bertambah panjang. Tidak seperti saat ini, Klungkung baru mampu memposisikan diri sebatas sebagai stop over atau daerah transit semata," katanya sambil menambahkan, kondisi ini memaksa masyarakat dan Pemkab Klungkung tidak mampu menangguk "berkah" pariwisata secara optimal.

Dengan kata lain, gemerincing dolar justru mengalir lebih deras ke kabupaten/kota lainnya di Bali karena wisatawan cenderung menghambur-hamburkan dolarnya di sana. Sedangkan masyarakat Klungkung hanya pasrah jadi penonton di tengah-tengah kemeriahan "pesta" pariwisata yang berlangsung di depan matanya. Menurut Sudarsana, Klungkung daratan sesungguhnya punya objek wisata yang sangat beragam. Namun, baru segelintir saja yang terbukti mampu memberikan kontribusi nyata dalam mengisi "pundi-pundi" pandapatan asli daerah (PAD).

Masalahnya, dari sejumlah objek yang sudah ditetapkan sebagai objek wisata (berdasarkan SK Bupati Klungkung-red), baru tujuh obyek wisata saja yang dikenakan retribusi. Barisan objek wisata berestribusi itu meliputi Kertha Gosa-Taman Gili, Museum Semarajaya, Monumen Puputan Klungkung, kawasan Pura Goa Lawah, kawasan wisata Nusa Penida serta kawasan Tukad Melangit dan Tukad Unda dengan atraksi wisata tirtanya. Sementara sisanya -- seperti pantai Lepang, pantai Timbrah, Pura Watu Klotok, pantai Kusamba, Goa Peninggalan Jepang dan Desa Wisata Kamasan -- bisa "dilahap" keindahannya oleh wisatawan secara cuma-cuma alias tanpa dipungut retribusi apa pun.

"Realitasnya memang seperti itu. Klungkung memang kaya potensi wisata, namun baru segelintir saja yang bisa menghasilkan dolar. Kami berharap, konsep city tour yang kami rancang itu mampu memecahkan kebuntuan pendapatan itu," katanya penuh harap. (ian)

Satria Andalkan Pelepah Pisang

Kreativitas masyarakat Bali sudah diakui sangat tinggi. Inovasi-ionovasi yang ditampilkan, sering membuat decak tidak percaya terutama wisatawan asing. Termasuk, mengolah bahan yang dianggap tidak ada manfaatnya menjadi suatu produk kerajinan bernilai tinggi. Contohnya, apa yang dilakukan sebagian besar masyarakat di Desa Satra, Klungkung. Wisatawan yang ingin mendapatkan aneka suvenir berbahan baku pelepah pisang, disarankan melongok ke Desa Satra, Klungkung. Sebenarnya, desa ini sudah lama disinggahi wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk membeli beraneka jenis produk kerajinan unik dari pelepah pisang. Di sini juga berdiri megah Pura Pauman yang menyimpan nilai historis tersendiri. Daya tariknya, di depan pintu gerbang pura terdapat patung manusia bertopi yang mirip dengan patung Portugis yang terpampang di depan Pemedal Agung Klungkung. Uniknya lagi, saat piodalan di pura ini, warga sangat diharamkan mempersembahkan daging babi. Entah bagaimana historisnya, kenapa hal itu dilarang. (ian)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)