Menata Sektor Kepariwisataan Klungkung-------
Perkaya Objek
dengan Konsep ''Nyegara Gunung''
DUNIA
kepariwisataan Bali pascatragedi bom Kuta memang tengah
sekarat. Dalam sekejap mata, petaka yang menikam "jantung"
pariwisata Bali dan merenggut ratusan korban jiwa itu
telah menyulap kedamaian gumi Bali laksana hantu yang
sangat menyeramkan. Wisatawan mancanegara (wisman) kontan
menghilang. Objek-objek wisata di seluruh penjuru Bali pun
"menggigil" kedinginan menanti kehadiran turis.
Gampang ditebak, gemerincing dolar pun tak lagi riuh
seiring runtuhnya predikat Bali sebagai the Last Paradise
(Sorga Terakhir-red) yang selama ini meninabobokan krama
di Pulau Seribu Pura ini. Kini, diperlukan semangat dan
kerja keras untuk mengembalikan sorga yang hilang itu,
sehingga pariwisata Bali tidak selamanya terkubur dalam
"tidur panjang". Memang, bukan perkara yang
mudah!
Kesadaran untuk
segera bangkit, tampaknya dipahami betul oleh para
decission maker sektor kepariwisataan di Bumi Serombotan,
Klungkung. Di musim "paceklik" wisman ini, Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Klungkung yang
didaulat bertanggung jawab penuh terhadap upaya
pengembangan kepariwisataan, justru mengumpulkan semangat
untuk menata potensi-potensi wisata yang dimiliknya.
Selanjutnya, potensi-potensi itu akan "disulap"
menjadi objek dan daya tarik wisata (ODTW) baru untuk
mendukung keberadaan Kertha Gosa dengan Taman Gili-nya,
kawasan wisata Pura Goa Lawah serta Desa Wisata Kamasan
yang namanya sudah lebih dulu berkibar.
"Saya optimis,
kondisi kepariwisataan Bali akan segera pulih. Tragedi bom
itu kami jadikan momentum berharga untuk mengkaji kembali
strategi pembangunan sektor kepariwisataan Klungkung yang
sudah dilaksanakan," ujar Kadisbudpar Klungkung Drs.
Ida Bagus Sudarsana kepada Bali Post, Rabu (9/7) kemarin.
Pria berkumis tebal
ini menyimpan optimisme, bahwa pariwisata Bali kembali
booming alias "diserbu" wisatawan mancanegara.
Hal ini bisa dibuktikan dari peningkatan grafik angka
kunjungan wisman di objek-objek wisata di Klungkung,
kendati lonjakannya bergerak sangat perlahan. Kondisi
menggembirakan ini, kata mantan Kabag Humas Klungkung itu,
ditindaklanjutinya dengan melakukan pendataan dan penataan
terhadap potensi-potensi wisata yang selama ini belum
tergarap dan layak "dijual" kepada wisatawan.
Muara dari diversifikasi itu, jelas agar objek-objek
wisata di Klungkung lebih variatif sehingga bisa
memperpanjang masa tinggal (lenght stay) wisatawan di
Klungkung. "Saat ini, kami sedang mempersiapkan
belasan objek wisata baru untuk disinergikan dengan
objek-objek wisata lainnya yang sudah lebih dahulu eksis,"
katanya.
"Kawinkan"
Bukit dan Laut
Lantas, objek-objek
wisata gres apa saja yang sedang digarap Disbudpar
Klungkung untuk memberi "roh" paket wisata
berlabel city tour itu? Menurut Kasubdin Bina Objek
Disbudpar Klungkung I Nengah Becik, S.H., paling tidak ada
sembilan "situs" baru yang layak dinominasikan
sebagai objek wisata andalan Bumi Serombotan di masa depan
untuk melengkapi 17 objek wisata yang sudah lebih dulu
ditetapkan. Barisan "pendatang baru" itu
meliputi kawasan Pura Puncak Sari, Pura Puncak Jati, Bukit
Buluh, Bukit Buung, Bukit Tengah, Gunung Kawi, pantai
Tegal Besar, objek peninggalan budaya Kori Batu dan sentra
kerajinan di Desa Satra.
Mayoritas dari
objek-objek itu menebarkan keindahan panorama alam
pedesaan yang asri dan masih "perawan" atau
belum terjamah polusi. Keunggulan lainnya, lokasinya juga
bisa terjangkau dalam waktu relatif singkat dari pusat
kota serta telah dilengkapi jalan akses untuk kepentingan
pariwisata. "Produk yang kami tawarkan kepada
wisatawan dari objek-objek itu, ya... memang panorama alam
yang eksotis dan eksklusif. Selain itu, objek-objek wisata
itu akan tampil lebih sempurna dengan gerak aktivitas
keseharian masyarakat pedesaan yang unik serta disarati
nuansa religius yang kental. Kalau wisatawan menginginkan
suguhan wisata yang lain daripada yang lain, objek-objek
itu bisa dijadikan alternatif yang tepat," katanya
seolah berpromosi.
Tawaran yang
dilontarkan mantan Kabag Humas Klungkung ini, jelas tidak
mengada-ada. Kawasan Pura Puncak Sari, Desa Nyalian di
Kecamatan Banjarangkan yang berdiri megah di ketinggian
500 meter di atas permukaan laut itu, misalnya, memang
menebarkan aura keindahan yang tiada tara. Apabila kita
berdiri di areal pura ini, lalu menebarkan pandangan ke
arah timur, maka mata kita akan "dimanjakan"
oleh bentang sawah menghijau dengan terasering-nya yang
bertingkat-tingkat. Menghadap ke selatan, Pulau Nusa
Penida akan tertampang jelas. Menyeruak indah di antara
kebiruan air laut yang menjanjikan perasaan damai. Melepas
pandang ke arah barat, maka mata kita akan tertuju pada
Pura Maloko yang berdiri megah di puncak bukit. Pura itu
"dipagari" petak-petak sawah dan tanaman
hortikultura yang menghampar hijau. Nuansa pertanian yang
menyejukkan dengan terasering yang indah juga bisa
ditemukan di Bukit Buung yang berjarak sekitar 500 meter
dari Pura Puncak Sari.
Sebagai "pemanis"
panorama, di sini juga terdapat sebuah goa yang
dikeramatkan oleh warga setempat. Daya pesona serupa juga
bisa dinikmati di kawasan Gunung Kawi, Desa Aan dan Pura
Puncak Jati, Desa Selisihan, Banjarangkan. Sedangkan Bukit
Buluh (Desa Gunaksa) dan Bukit Tengah (Desa Pesinggahan)
akan menawarkan keindahan alam Pulau Nusa Penida di
kejauhan dengan bentang laut birunya yang mahaluas. "Meskipun
belum ditetapkan sebagai objek wisata, sebenarnya
tempat-tempat itu sudah sering dikunjungi wisatawan.
Karena karakteristik alamnya yang berbukit-bukit, di sini
sangat ideal dikembangkan atraksi wisata hikking (jalan
kaki-red)," ujarnya.
Sementara itu,
mereka yang menyukai atraksi tarian ombak saling berlomba
mencumbu tepian pantai, semestinya tidak melewatkan
kunjungannya ke pantai Tegal Besar. Apalagi di tepian
pantai berpasir hitam ini sudah berdiri sebuah bungalo
yang dilengkapi dengan bar kecil untuk mengobati kepenatan
dan dahaga para wisatawan. Objek wisata ini juga didukung
oleh keberadaan Pura Segara yang lokasinya sekitar 400
meter di utara pantai. "Untuk Klungkung daratan,
objek-objek wisata yang kami jual memang keindahan
panorama bukit dan laut. Mungkin, sebagai bentuk
implementasi konsep nyegara gunung-lah," ujar Becik
yang menemani Bali Post mengunjungi objek-objek wisata
tersebut. (ian)
Klungkung
juga Tawarkan ''City Tour''
Kota Klungkung yang
tidak terlalu luas sering diplesetkan dengan aklingkungan
(hanya sekeliling-red). Sebab, untuk mutar-mutar
mengelilingi berbagai objek wisata di kota ini tidaklah
perlu waktu lama karena jaraknya memang berdekatan. Untuk
itu, tidak berlebihan jika Klungkung juga menawarkan paket
City Tour kepada wisatawan yang datang.
Khusus untuk
Klungkung daratan, kata Sudarsana, pihak Disbudpar sudah
merancang paket wisata khusus berlabel City Tour dalam
memuaskan selera wisatawan. Paket ini akan mensinergikan
Kertha Gosa dengan objek-objek wisata lainnya yang ada di
Klungkung daratan. Termasuk, objek-objek wisata baru
berbasis agrowisata yang kini masih dalam tahap penataan.
Misalnya, Bukit Abah dan ladang garam tradisional
Pesinggahan-Kusamba. Di masa mendatang, aktivitas
kepariwisataan Klungkung daratan akan dipusatkan di Kertha
Gosa yang terkenal dengan lukisan wayang klasik
Kamasan-nya itu.
Berdekatan dengan
kompleks bangunan berarsitektur khas Bali ini, juga
terdapat Museum Semarajaya, Museum Lukisan Ambron dan
Monumen Puputan Klungkung. Setelah puas menikmati suguhan
atraksi wisata di sana, wisatawan selanjutnya "digiring"
ke objek-objek wisata lainnya yang tersebar merata di
segala penjuru Klungkung daratan. "Nantinya, seluruh
objek wisata itu diupayakan dijual dalam satu paket.
Paling tidak, diperlukan waktu satu hingga dua hari penuh
agar wisatawan bisa menikmati objek-objek wisata secara
tuntas. Jika konsep city tour ini jalan, saya optimis
lenght stay wisatawan akan bertambah panjang. Tidak
seperti saat ini, Klungkung baru mampu memposisikan diri
sebatas sebagai stop over atau daerah transit semata,"
katanya sambil menambahkan, kondisi ini memaksa masyarakat
dan Pemkab Klungkung tidak mampu menangguk "berkah"
pariwisata secara optimal.
Dengan kata lain,
gemerincing dolar justru mengalir lebih deras ke kabupaten/kota
lainnya di Bali karena wisatawan cenderung
menghambur-hamburkan dolarnya di sana. Sedangkan
masyarakat Klungkung hanya pasrah jadi penonton di
tengah-tengah kemeriahan "pesta" pariwisata yang
berlangsung di depan matanya. Menurut Sudarsana, Klungkung
daratan sesungguhnya punya objek wisata yang sangat
beragam. Namun, baru segelintir saja yang terbukti mampu
memberikan kontribusi nyata dalam mengisi "pundi-pundi"
pandapatan asli daerah (PAD).
Masalahnya, dari
sejumlah objek yang sudah ditetapkan sebagai objek wisata
(berdasarkan SK Bupati Klungkung-red), baru tujuh obyek
wisata saja yang dikenakan retribusi. Barisan objek wisata
berestribusi itu meliputi Kertha Gosa-Taman Gili, Museum
Semarajaya, Monumen Puputan Klungkung, kawasan Pura Goa
Lawah, kawasan wisata Nusa Penida serta kawasan Tukad
Melangit dan Tukad Unda dengan atraksi wisata tirtanya.
Sementara sisanya -- seperti pantai Lepang, pantai Timbrah,
Pura Watu Klotok, pantai Kusamba, Goa Peninggalan Jepang
dan Desa Wisata Kamasan -- bisa "dilahap"
keindahannya oleh wisatawan secara cuma-cuma alias tanpa
dipungut retribusi apa pun.
"Realitasnya
memang seperti itu. Klungkung memang kaya potensi wisata,
namun baru segelintir saja yang bisa menghasilkan dolar.
Kami berharap, konsep city tour yang kami rancang itu
mampu memecahkan kebuntuan pendapatan itu," katanya
penuh harap. (ian)
Satria
Andalkan Pelepah Pisang
Kreativitas
masyarakat Bali sudah diakui sangat tinggi.
Inovasi-ionovasi yang ditampilkan, sering membuat decak
tidak percaya terutama wisatawan asing. Termasuk, mengolah
bahan yang dianggap tidak ada manfaatnya menjadi suatu
produk kerajinan bernilai tinggi. Contohnya, apa yang
dilakukan sebagian besar masyarakat di Desa Satra,
Klungkung. Wisatawan yang ingin mendapatkan aneka suvenir
berbahan baku pelepah pisang, disarankan melongok ke Desa
Satra, Klungkung. Sebenarnya, desa ini sudah lama
disinggahi wisatawan baik domestik maupun mancanegara
untuk membeli beraneka jenis produk kerajinan unik dari
pelepah pisang. Di sini juga berdiri megah Pura Pauman
yang menyimpan nilai historis tersendiri. Daya tariknya,
di depan pintu gerbang pura terdapat patung manusia
bertopi yang mirip dengan patung Portugis yang terpampang
di depan Pemedal Agung Klungkung. Uniknya lagi, saat
piodalan di pura ini, warga sangat diharamkan
mempersembahkan daging babi. Entah bagaimana historisnya,
kenapa hal itu dilarang. (ian)
|