kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 7 Mei 2008

 Ekuin


Kinerja Bank di Bali   ..

Kredit Merosot, Tabungan Stagnan

Denpasar (Bali Post) -
Kinerja bank di Bali selama empat bulan terakhir secara umum belum menunjukkan angka yang menggembirakan apabila dibandingkan periode sama tahun-tahun sebelumnya. Bahkan penyaluran kredit cenderung merosot atau menurun. Sementara dana pihak ketiga pertumbuhannya belum terlalu signifikan alias masih stagnan. Pemimpin Bank Indonesia Denpasar Viraguna Bagoes Oka mengatakan hal itu, Selasa (6/5) kemarin, saat ditanya kinerja bank selama catur wulan pertama tahun 2008 ini.

Viraguna menambahkan, pihaknya masih melakukan kajian terhadap kondisi yang berkembang belakangan ini. ''Kami masih mengkaji apa rendahnya kredit yang disalurkan bank karena kurangnya minat debitur atau faktor lainnya,'' jelas koordinator BI untuk wilayah Bali, NTB dan NTT ini. Sebab, faktor tinggi-rendahnya kredit juga dipengaruhi kondisi ekonomi masyarakat, serta keberadaan lembaga keuangan yang makin banyak tumbuh belakangan ini.

Sebagaimana diketahui selain bank umum lokal dan sejumlah bank luar yang makin banyak membuka kantor di Bali, juga banyak muncul lembaga keuangan lain seperti BPR, LPD, koperasi maupun lembaga lainnya. ''Jadi akan dicek dulu, mungkin saja yang disalurkan oleh lembaga nonbank juga makin banyak,'' jelasnya.

Namun terlepas dari kondisi itu, Viraguna Bagoes Oka berharap penyaluran kredit yang berientasi produktif harus diperbanyak. Ia melihat kredit khusus untuk UMKM saat ini masih perlu dipacu, karena besar kreditnya baru sekitar Rp 169 milyar. Angka ini belum bagus kalau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya rata-rata kredit tersalur untuk UMKM sekitar Rp 100 milyar per bulannya.

Viraguna pun memprediksi kondisi itu disebabkan dampak sejumlah peristiwa, baik yang terjadi di dalam negeri maupun internasional. Isu kenaikan BBM yang makin mengerucut, serta harga minyak dunia yang terus membubung, dan terpuruknya ekonomi Amerika ikut mewarnai kegiatan ekonomi di dalam negeri. ''Dan, awal-awal tahun biasanya proyek pemerintah belum banyak, sehingga pengusaha juga belum memerlukan dana besar untuk kegiatan proyek,'' tambahnya.

Pengamat ekonomi yang juga Dekan FE Unud Dr. W. Ramantha mengakui anggaran kegiatan ekonomi sebagian besar masih dikuasai pemerintah melalui APBN maupun APBD. Sehingga, ketika proyek pemerintah belum turun, aktivitas juga tak maksimal berjalan.

Meski penyaluran kredit belum menunjukkan angka menggembirakan, namun posisi tabungan masyarakat menurutnya masih menjanjikan. Ini terlihat dari posisi tabungan yang baru berkisar Rp 1 trilyun, meski masih lebih rendah kalau dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tahun 2006 realisasi tabungan Rp 18 trilyun lebih naik menjadi Rp 23 trilyun lebih tahun 2007 lalu. Ia belum bisa memprediksi kondisi tahun ini mengingat sejumlah kegiata besar akan terjadi seperti pilkada serta kenaikan sejumlah komponen kebutuhan masyarakat antara lain BBM. (031)    

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)