Kinerja Bank di Bali ..
Kredit Merosot, Tabungan Stagnan
Denpasar (Bali Post) -
Kinerja bank di Bali selama empat bulan terakhir secara
umum belum menunjukkan angka yang menggembirakan apabila
dibandingkan periode sama tahun-tahun sebelumnya. Bahkan
penyaluran kredit cenderung merosot atau menurun.
Sementara dana pihak ketiga pertumbuhannya belum terlalu
signifikan alias masih stagnan. Pemimpin Bank Indonesia
Denpasar Viraguna Bagoes Oka mengatakan hal itu, Selasa
(6/5) kemarin, saat ditanya kinerja bank selama catur
wulan pertama tahun 2008 ini.
Viraguna menambahkan, pihaknya masih melakukan kajian
terhadap kondisi yang berkembang belakangan ini. ''Kami
masih mengkaji apa rendahnya kredit yang disalurkan bank
karena kurangnya minat debitur atau faktor lainnya,''
jelas koordinator BI untuk wilayah Bali, NTB dan NTT ini.
Sebab, faktor tinggi-rendahnya kredit juga dipengaruhi
kondisi ekonomi masyarakat, serta keberadaan lembaga
keuangan yang makin banyak tumbuh belakangan ini.
Sebagaimana diketahui selain bank umum lokal dan
sejumlah bank luar yang makin banyak membuka kantor di
Bali, juga banyak muncul lembaga keuangan lain seperti
BPR, LPD, koperasi maupun lembaga lainnya. ''Jadi akan
dicek dulu, mungkin saja yang disalurkan oleh lembaga
nonbank juga makin banyak,'' jelasnya.
Namun terlepas dari kondisi itu, Viraguna Bagoes Oka
berharap penyaluran kredit yang berientasi produktif
harus diperbanyak. Ia melihat kredit khusus untuk UMKM
saat ini masih perlu dipacu, karena besar kreditnya baru
sekitar Rp 169 milyar. Angka ini belum bagus kalau
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya rata-rata kredit
tersalur untuk UMKM sekitar Rp 100 milyar per bulannya.
Viraguna pun memprediksi kondisi itu disebabkan dampak
sejumlah peristiwa, baik yang terjadi di dalam negeri
maupun internasional. Isu kenaikan BBM yang makin
mengerucut, serta harga minyak dunia yang terus
membubung, dan terpuruknya ekonomi Amerika ikut mewarnai
kegiatan ekonomi di dalam negeri. ''Dan, awal-awal tahun
biasanya proyek pemerintah belum banyak, sehingga
pengusaha juga belum memerlukan dana besar untuk
kegiatan proyek,'' tambahnya.
Pengamat ekonomi yang juga Dekan FE Unud Dr. W. Ramantha
mengakui anggaran kegiatan ekonomi sebagian besar masih
dikuasai pemerintah melalui APBN maupun APBD. Sehingga,
ketika proyek pemerintah belum turun, aktivitas juga tak
maksimal berjalan.
Meski penyaluran kredit belum menunjukkan angka
menggembirakan, namun posisi tabungan masyarakat
menurutnya masih menjanjikan. Ini terlihat dari posisi
tabungan yang baru berkisar Rp 1 trilyun, meski masih
lebih rendah kalau dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya. Tahun 2006 realisasi tabungan Rp 18 trilyun
lebih naik menjadi Rp 23 trilyun lebih tahun 2007 lalu.
Ia belum bisa memprediksi kondisi tahun ini mengingat
sejumlah kegiata besar akan terjadi seperti pilkada
serta kenaikan sejumlah komponen kebutuhan masyarakat
antara lain BBM. (031)