Proyek-proyek Besar Mangkrak di Bali
Dari RPH Temesi hingga Embung Puragae
Sejumlah proyek besar di Bali kini tergolong
mangkrak. Pergantian bupati juga berlalu, sejumlah proyek tetap
mangkrak. Alasannya, faktor dana hingga tak matangnya perencanaan.
Padahal proyek ini sangat strategis bagi masyarakat dan
menggunakan uang rakyat lagi. Proyek apa saja itu?
---
SETELAH
mangkrak lebih dari empat bulan, proyek pembangunan Pusat
Pendaratan Ikan (PPI) di Karangdadi, Kusamba, Dawan, kembali
digelontor dana Rp 3,3 milyar melalui APBD Klungkung 2008. Namun,
dengan alokasi anggaran itu, belum menjamin proyek yang dikerjakan
secara bertahap sejak 2006 tersebut akan tuntas tahun ini. Karena
terganjal kondisi tanah.
Sebelumnya, karena kendala teknis (kesulitan
pemasangan sheet file), dengan anggaran yang sama (Rp 3,3 milyar),
pembangunan dermaga PPI sampai saat ini masih mangkrak. Puluhan
batang sheet file (beton pancang) yang rencananya dipasang sebagai
dinding kolam pelabuhan ikan, dibiarkan menumpuk begitu saja di
lokasi. Membuat besi beton bagian dari struktur kolam pelabuhan
aus dan karatan.
Pemasangan batang sheet file sudah diupayakan sejak
Oktober-November 2007. Berbagai metode dipakai, di antaranya
metode vibro (getar), sedot dan hummer set (dengan pemukulan).
Termasuk upaya niskala, dengan menghaturkan banten pecaruan dan
matur piuning. Tetapi tak berhasil. ''Kontraktor menyerah.
Sekarang alat berat sudah diangkut semua,'' ujar warga yang
ditemui di lokasi PPI.
Kasubdin Bina Usaha Dinas Peternakan, Perikanan dan
Kelautan (PPK), Putu Suarta, membantah kalau proyek PPI mangkrak.
''Tidak mangkrak. Malah, tahun ini segera dilakukan pemancangan,''
tandasnya.
RPH Temisi
Di Gianyar, proyek mangkrak yang menjadi sorotan
publik hingga kini adalah Rumah Potong Hewan (RPH) Temesi. Dua
dinasti pemerintahan berlalu, RPH Temesi tak juga beroperasi.
Selain proyek mangkrak, proyek mubazir juga ada di Gianyar.
Terminal di Stadion Dipta merupakan salah satu contoh dari proyek
yang kini belum ada kejelasan akan tindak lanjutnya.
Di RPH Temesi, dikabarakan akan ada investor baru.
Sejauh mana akan kesanggupannya untuk bisa membawa RPH Temesi
beroperasi belum diketahui secara pasti. Kadis Peternakan Gianyar
Dewa Raka Jaya, Sabtu (3/5) kemarin, belum bisa dihubugi berkenaan
dengan keberadaan RPH.
Optimisme berjalannya RPH Temesi juga sempat
dipercayakan kepada pemerintahan A.A. Gede Agung Bharata. Hal ini
dengan kedatangan investor ke RPH Temesi. Akan tetapi hingga
berakhir, RPH juga belum berjalan. Bahkan, Ketua DPRD Agus
Mahayastra sempat pasang badan terkait belum berjalannya RPH yang
menghabiskan dana milyaran rupiah ini. Saling tuding terhadap
keberadaan proyek RPH ini pun terjadi dan malah mencari kambing
hitam, bukan solusi.
Demikian pula sebelum Pilkada Gianyar. Keberadaan
RPH menjadi bahan politik dari Tjok Ace. Kritikan pedas
dilontarkannya atas mangkraknya RPH temesi. Lantas setelah
menjabat Bupati? Belum ada tanda-tanda akan berjalannya RPH
temesi.
Bupati Tjok. Ace maupun Wakil Sutanya sempat
berkunjung ke RPH Temesi. Ia mengatakan telah ada investor baru
untuk menggantikan PT Tri Nimpuna yang sebelumnya sebagai investor
RPH. Rencananya, Mei atau juni ini di RPH tersebut akan dilakukan
uji coba pemotongan sapi. Mungkin uji coba ini akan dilakukan 5 -
10 ekor per hari dari kapasitas yang dibuat 100 ekor per hari.
Delapan
Proyek
Di Karangasem setidaknya terdapat delapan proyek
atau bangunan pariwisata yang mangkrak sampai kini. Ketua Komisi
II DPRD Karangasem Gede Dana menyampaikan, Sabtu kemarin di
Amlapura, pihaknya bakal membahas hal itu dalam rapat panitia
khusus Dewan. Nantinya, hal itu disampaikan dalam laporan
keterangan pertanggungjawaban Bupati Karangasem tahun 2007.
Menurut Gede Dana, buruknya perencanaan sejak awal
menjadi biang kerok mangkraknya proyek-proyek itu. Proyek yang
mangkrak itu, embung di Puragae di Rendang, Karangasem airnya
tinggal sedikit akibat membran atau plastik penahan airnya robek.
Proyek bantuan propinsi Bali senilai sekitar Rp 2 milyar itu,
diakui Bupati Karangasem I Wayan Geredeg karena perencanaannya tak
bagus. Embung itu dibangun begitu saja dengan membendung alur
sungai, sehingga endapan lumpur tinggi. Berbagai benda yang
dihanyutkan banjir masuk embung dan itulah menyebabkan membran
embung robek. Sampai saat ini belum ada rencana kapan embung itu
bakal diperbaiki.
Pasar hewan di Desa Pempatan, Rendang yang dibangun
tahun 2006 juga sampai saat ini belum dimanfaatkan alias mangkrak.
Proyek senilai Rp 600 juta di atas lahan seluas enam hektar itu
sepi akibat hari pasaran bersamaan dengan pasar hewan Bebandem. Di
samping itu, lokasi pasar itu berada di jalur sepi.
Bupati Karangasem Wayan Geredeg berencana membangun
lagi pasar umur di lokasi sepi itu, dengan harapan pasar hewan
ramai dan bermanfaat. Di objek wisata Amed, ada dua proyek
mangkrak yakni wantilan objek wisata Tirta Jemeluk dan Pusat
Pelelangan Ikan (PPI) Amed. Wantilan di Jemeluk dibangun tahun
2003 dengan dana ratusan juta rupiah, tetapi sampai kini tak
dimanfaatkan. Pihak Desa Pakraman Culik sempat diberikan
kepercayaan mengelola wantilan itu, namun akhirnya pihak desa
angkat tangan akibat sepinya wisatawan.
Dua hotel milik Pemkab karangasem yakni Bukit
Putung Bar and Restoran, serta Hotel Balina di Banjar Buitan,
Manggis, Karangasem dikontrakkan kepada seorang investor. Namun
sampai kini tak bisa disewakan, padahal bangunannya sudah hancur
dan sudah tak layak dikomersialkan apalagi disewakan kepada
wisman.
Terakhir, proyek pipanisasi air bersih dari sumber
air Desa Ababi ke desa-desa di Seraya sampai kini tak jelas
kabarnya. Sejumlah warga Desa Seraya terus mempertanyakan
kelanjutan proyek senilai Rp 5 milyar itu.
Direktur PDAM Karangasem Gede Putu Kertia, S.E.
mengatakan pekerjaan fisik proyek itu dikerjakan pihak Dinas PU
Karangasem. Sebenarnya pipanisasi sudah dilakukan dan sudah tuntas
namun akhirnya masyarakat Desa Ababi tak mengizinkan menyedot lagi
air mereka dengan alasan sawah di wilayah subak mereka kering
kekurangan air. (bal/dar/bud)