Revitalisasi
Gambang
Buleleng--
Ramuan
Seni
Baru dari
Perpaduan
Seni
Langka
Sebagai
daratan yang
memiliki
peradaban yang
cukup
tua, Kabupaten
Buleleng
memang
memiliki banyak
jenis
kesenian klasik.
Salah
satunya
adalah jenis gamelan
gambang yang
diyakini
sudah
ada di
Buleleng
ketika
Majapahit belum
memberi
pengaruh terhadap
kehidupan
seni-budaya
Bali.
Seperti
juga kesenian
klasik
lain, seni
gambang
kini nyaris
tak
pernah terdengar
gaungnya.
Bahkan,
keberadaannya pun
kini
makin langka.
Meski
begitu,
sejumlah seniman
gambang
di Bali Utara
mulai
mengambil ancang-ancang
untuk
menghidupkan kembali
seni
tua itu.
Caranya
antara lain seni
gambang
dipadukan dengan
seni
klasik lain seperti
seni
okokan, seni
ngoncang
dan
sunari. Apakah
dengan
cara
seperti
itu gambang
bisa
dikenal kembali
salah
satu jenis
kesenian
Bali
yang adiluhung?
=====
SELAIN
di
Buleleng gambang
juga
ada di
daerah lain
seperti
Tenganan dan
Bebandem (Karangsem),
Singapadu, Saba
dan
Blahbatuh (Gianyar),
Kesiut (Tabanan)
serta
Kerobokan dan
Sempidi (Badung).
Di
Buleleng
sendiri
keberadaan gambang
tak
lebih dari 10
buah.
Di
Kecamatan Tejakula
tertinggal
hanya
satu kelompok
seni
gambang, di
Kecamatan
Kubutambahan
satu
kelompok, di
Kecamatan
Sawan
satu kelompok,
di
Kecamatan Buleleng
terdapat
dua
kelompok, di
Kecamatan
Sukasada
dua
kelompok, dan
di
Kecamatan Banjar
satu
kelompok.
Anggota
kelompok
itu pun
jumlahnya tidak
banyak.
Paling hanya
satu
atau dua
orang yang
benar-benar
mahir
memainkan gamelan gambang.
Selain
jumlahnya
sedikit,
intensitas
pergelarannya
juga
sangat langka.
Ini
terjadi
karena sebagai
seni
klasik dan
disakralkan,
gambang
tak bisa
dipentaskan
di
sembarang tempat.
Gamelan itu
hanya
dimainkan pada
saat
upacara-upacara ngaben.
Di
Padangbulia,
misalnya,
gambang yang
dipercaya
sudah
ada sejak
desa
itu dibangun
hanya
dipentaskan saat
upacara
ngaben dan
odalan.
Dan, sangat
jarang
dikeluarkan pada
hari-hari
biasa.
Karena
tidak
populer, warga
di
Padangbulia tidak
banyak yang
tertarik
untuk
mendalami seni
gambang.
Namun
begitu,
ternyata masih
tetap
saja ada
sejumlah
warga yang
begitu
setia menggeluti
gambang.
Salah
satunya
adalah Jero
Dalang Made
Wijana.
Artinya,
di desa
tempat
gambang itu
disemayamkan
saja
tidak begitu
dikenal
dekat oleh
warganya,
apalagi
di desa lain yang
tak
memiliki gamelan gambang.
Menurut
Jero
Dalang Made Wijana,
gambang yang
kini
disakralkan di
Desa
Padangbulia memiliki
sejarah
cukup panjang.
Konon
gambang
itu sudah
ada
pada zaman
kebesaran
Patih
Kebo Iwa yang
memang
dipercaya pernah
tinggal
di Desa
Padangbulia.
''Bekas-bekas
tapak kaki
Kebo
Iwa masih
ada di
Padangbulia,''
kata
Jero Dalang
Wijana.
Saat
Kebo
Iwa di
Padangbulia
itu,
kata Jero
Dalang
Wijana, gamelan gambang
mulai
dibuat lalu
menjadi
peninggalan suci
hingga
kini.
Menurut
Jero Dalang, gamelan
gambang
itu dianggap
sakral
dan hanya
dipentaskan
pada
saat upacara
pitra
yadnya. ''Gambang
sendiri
terdiri atas
dua
suku kata ''ga''
dan ''mbang''.
''Ga''
berarti
jalan, ''mbang''
artinya
kesunyian. Gambang
artinya
penuntun jalan
bagi sang
Atma
menuju ke
Sunialoka,''
terangnya.
Mungkin
karena
fungsi gambang
secara spiritual
untuk
menuntun atma
ke
wilayah sunyi
itulah
maka nasib
gambang
sendiri hingga
kini
tetap sunyi.
Anak-anak
muda
lebih suka
memainkan gamelan gong
kebyar yang
dianggap
bisa
memberikan ruang
lebih
besar untuk
eksis
dan dikenal
oleh
publik yang lebih
luas.
Bahkan
dalam pergaulan
kesenian
anak
muda, gambang
dinilai
sebagai jenis
kesenian yang
khusus
digeluti para
orang
tua, sehingga
mereka
mungkin
akan belajar
gambang
ketika mereka
sudah
memasuki usia
tua.
Paduan
Seni
Langka
Meski
sunyi,
seniman gambang
tampaknya
tak
pernah menyerah
untuk
berjuang melestarikan
kesenian
gambang
di Bali.
Jero
Dalang Made Wijana
kini
bahkan mulai
membuat gamelan
gambang
baru yang secara
khusus
akan
dipadukan
dengan
jenis-jenis kesenian
lain. Gambang yang
dibuat
Jero Dalang
ini
bentuk dan
nadanya
tetap
sama dengan
gambang
peninggalan nenek
moyangnya
di
Padangbulia. Namun
gambang
itu akan
digunakan
dalam
pergelaran yang lebih
profan,
misalnya sebagai
seni
pertunjukan yang dipadukan
dengan
alat gamelan lain.
Jero
Dalang
yakin nada-nada yang ada
pada gamelan
gambang
memiliki keserasian
dengan
alat-alat gamelan baru.
Apalagi
hingga
kini nada-nada yang
dihasilkan gamelan gambang
tidak
jelas antara nada
pelog
atau selendro.
''Ada
yang bilang
gambang
itu pelog,
ada yang
bilang
selendro, tapi
bagi
saya pelog
atau
selendro tetap
sama
asalkan bagus
didengar
telinga,''
katanya.
Buktinya,
dari
hasil eksperimen yang
dilakukan
Jero
Dalang beberapa
bulan
ini, gambang
ternyata
memiliki
kecocokan
dengan
jenis gamelan lain.
Ia
pernah
memadukan gambang
dengan
angklung yang menghasilkan
nada perpaduan
cukup
bagus.
Selain
angklung,
ternyata
gambang
juga kerap
disandingkan
dengan Gong
Gede.
Menurutnya,
berbagai
eksperimen
bisa
dilakukan agar gambang
bisa
dikenal kembali.
''Sebagai
dalang,
saya juga
ingin
memainkan wayang
dengan
iringan gambang,''
katanya.
Wayan
Sujana,
pinisepuh Sanggar
Santi
Budaya, Singaraja,
juga
mulai mengembangkan
eksperimen
untuk
mengembangkan seni
gambang
di Buleleng.
Dalam
Pesta
Kesenian Bali (PKB) ke-30
ini, Sujana
bersama
seniman-seniman muda
di
Buleleng membuat
sebuah
garapan seni
gambang yang
digabungkan
dengan
okokan, sunari
atau
suling dan
seni
ngoncang. Okokan
dan
ngoncang
juga
termasuk
seni
langka di
Buleleng.
Kini
seni
ngoncang dengan
ketungan (tempat
penumbuk
padi)
saat ini
hanya
bisa ditemukan
di
Dusun Kedu
di
Panji, Suwug
Sabi
dan Banyuning.
Sementara
okokan
ditemukan di
desa-desa yang
masih
memiliki tradisi
sapi
grumbungan, seperti
Desa
Kaliasem, Banjar
Tegal,
dan Bebetin.
Namun
Sujana berkeyakinan
ketika
semua seni
langka
itu digabung
tentu
akan
menjadi
kesenian baru yang
unik. ''Kini
tinggal
bagaimana menggarap
semua
seni langka
itu
menjadi satu
seni
pertunjukan yang enak,''
ujarnya.
Sujana
mengakui
kesenian
gambang
memang termasuk
seni
sakral yang tak
bisa
dipentaskan pada
sembarang
waktu
dan tempat.
Namun
sebagai upaya
pelestarian
sekaligus
pengembangan,
seni
gambang juga
sebaiknya
diberikan
ruang yang
baru
dengan
cara penggarapan
yang baru
namun
tetap memiliki
nilai-nilai
kesakralan.
''Nilai-nilai
kesakralan
bisa
tetap menempel
dalam
produk seni
baru
itu,'' ujarnya.
Sebab,
menurut
Sujana, di Bali
atau
dalam kebudayaan
Hindu, nilai-nilai
kesakralan
selalu
ada dalam
setiap
produk kesenian.
Namun
tidak
setiap jenis
kesenian
dianggap
sakral.
Strategi
pengembangan
seperti
ini sesungguhnya
sudah
banyak dilakukan
seniman
sejak zaman
dulu,
misalnya tari
Sanghyang yang
sakral
diambil semangatnya
untuk
menjadi tari
Cak yang
lebih
profan.
Masalah
apakah
kesenian baru
itu
disukai atau
tidak,
diterima atau
tidak,
berkembang atau
tidak,
hal itu
tergantung
dari
keseriusan penggarapannya.
Jika
digarap
asal-asalan, tentu
saja
seni yang baru
itu
nasibnya bisa
lebih
sunyi dari
seni
sakral. *
adnyana
ole