Ratusan
Nelayan
Tolak BLT
Banyuwangi
(Bali Post)-
Aksi
penolakan
bantuan
lansung tunai (BLT)
makin
meluas.
Ratusan
nelayan
di Muncar,
Banyuwangi,
Jumat (23/5)
kemarin
sepakat menolak
subsidi
dari pemerintah
pusat
tersebut.
Alasannya,
pemberian BLT
tidak
mendidik.
Bahkan,
membuat
rakyat miskin
malas
bekerja.
Bantuan
tersebut
juga
tidak banyak
membantu
masyarakat.
Pasalnya,
naiknya
harga BBM langsung
diikuti
melambungnya harga
kebutuhan
pokok.
''Kami
sepakat
untuk menolak
dan
mengembalikan BLT.
Ini
justru
menyengsarakan kami,''
ujar
Solehan (40), salah
satu
nelayan.
Selain
menolak,
para
nelayan juga
berjanji
akan
mengembalikan
formulir BLT yang
akan
diberikan pemerintah.
Bantuan
senilai
Rp 100 ribu per
bulan
itu dinilai
jauh
dari kebutuhan
rakyat
miskin.
Melambungnya
harga
sembako membuat
masyarakat
kelimpungan.
Ditambah
lagi
harga BBM yang sebentar
lagi
naik.
Aksi
para
nelayan diluapkan
dengan
berkumpul di
tepi
pelabuhan pendaratan
ikan.
Dengan
kompak
mereka meneriakkan
yel-yel
menolak BLT.
Kalangan
ibu-ibu pun
ikut
berbaur.
Sambil
menggendong
anak-anak,
mereka
ikut berteriak
mengecam
pemberian BLT.
Kami
tidak
perlu BLT, yang penting
harga BBM
jangan
dinaikan terus,
kecam
ibu-ibu.
Para
nelayan
juga kecewa BLT
banyak yang
salah
sasaran.
Tahun
lalu, BLT
justru
banyak
jatuh ke
tangan
warga yang mampu.
Yang
mengecewakan lagi,
pembagian BLT
tidak
merata.
Warga
miskin yang
tinggal
di kawasan
pantai
hampir seluruhnya
tidak
terdata.
Sementara
warga
mampu yang mendiami
perumahan
bagus
justru antre
mendapat BLT.
Kondisi
ini
memicu kecemburuan
warga
miskin.
Nilai
BLT yang sangat minim
juga
tak berpengaruh
dengan
kesejahteraan warga
miskin.
Selain
menolak BLT,
para
nelayan juga
memprotes
rencana
naiknya harga BBM.
Kebijakan
ini
dipastikan menambah
penderitaan
masyarakat
kecil.
''Harga
solar sudah
mahal,
sekarang mau
dinaikkan
lagi'',
protes Sadin (40),
nelayan
lainya.
Melambungnya
harga BBM
berdampak
mangkraknya armada
nelayan.
Mereka
tidak
bisa melaut
karena
tak mampu
membeli BBM.
Pasokan
untuk
nelayan pun terus
dikurangi.
Akibatnya,
nelayan
harus menggunakan
minyak
tanah oplosan
sebagai
bahan bakar
alternatif.
Nelayan
mengancam
akan
menggelar
mogok
massal jika
harga BBM
terus
dinaikkan. Mereka
akan
melaut
menggunakan perahu
layar
dengan hasil
tangkapan yang minim.
''Lebih
baik
kita mogok
dan
mencari ikan
untuk
kepentingan sendiri,''
ancam
nelayan. Aksi
mogok
dipastikan
akan
mengganggu
jalannya
ekspor
produk ikan
ke luar
negeri.
Selama
ini,
Muncar dikenal
sebagai
penghasil ikan
terbesar
nomor
dua di
Indonesia.
(udi)