kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pahing, 24 Mei 2008

 Ekonomi


Ratusan
Nelayan Tolak BLT

Banyuwangi (Bali Post)-
Aksi
penolakan bantuan lansung tunai (BLT) makin meluas. Ratusan nelayan di Muncar, Banyuwangi, Jumat (23/5) kemarin sepakat menolak subsidi dari pemerintah pusat tersebut. Alasannya, pemberian BLT tidak mendidik. Bahkan, membuat rakyat miskin malas bekerja. Bantuan tersebut juga tidak banyak membantu masyarakat. Pasalnya, naiknya harga BBM langsung diikuti melambungnya harga kebutuhan pokok. ''Kami sepakat untuk menolak dan mengembalikan BLT. Ini justru menyengsarakan kami,'' ujar Solehan (40), salah satu nelayan.

Selain menolak, para nelayan juga berjanji akan mengembalikan formulir BLT yang akan diberikan pemerintah. Bantuan senilai Rp 100 ribu per bulan itu dinilai jauh dari kebutuhan rakyat miskin. Melambungnya harga sembako membuat masyarakat kelimpungan. Ditambah lagi harga BBM yang sebentar lagi naik.

Aksi para nelayan diluapkan dengan berkumpul di tepi pelabuhan pendaratan ikan. Dengan kompak mereka meneriakkan yel-yel menolak BLT. Kalangan ibu-ibu pun ikut berbaur. Sambil menggendong anak-anak, mereka ikut berteriak mengecam pemberian BLT.  Kami tidak perlu BLT, yang penting harga BBM jangan dinaikan terus, kecam ibu-ibu.

Para nelayan juga kecewa BLT banyak yang salah sasaran. Tahun lalu, BLT  justru banyak jatuh ke tangan warga yang mampu. Yang mengecewakan lagi, pembagian BLT tidak merata. Warga miskin yang tinggal di kawasan pantai hampir seluruhnya tidak terdata. Sementara warga mampu yang mendiami perumahan bagus justru antre mendapat BLT. Kondisi ini memicu kecemburuan warga miskin. Nilai BLT yang sangat minim juga tak berpengaruh dengan kesejahteraan warga miskin.

Selain menolak BLT, para nelayan juga memprotes rencana naiknya harga BBM. Kebijakan ini dipastikan menambah penderitaan masyarakat kecil. ''Harga solar sudah mahal, sekarang mau dinaikkan lagi'', protes Sadin (40), nelayan lainya.

Melambungnya harga BBM berdampak mangkraknya armada nelayan. Mereka tidak bisa melaut karena tak mampu membeli BBM. Pasokan untuk nelayan pun terus dikurangi. Akibatnya, nelayan harus menggunakan minyak tanah oplosan sebagai bahan bakar alternatif.

Nelayan mengancam akan menggelar mogok massal jika harga BBM terus dinaikkan. Mereka akan melaut menggunakan perahu layar dengan hasil tangkapan yang minim. ''Lebih baik kita mogok dan mencari ikan untuk kepentingan sendiri,'' ancam nelayan. Aksi mogok dipastikan akan mengganggu jalannya ekspor produk ikan ke luar negeri. Selama ini, Muncar dikenal sebagai penghasil ikan terbesar nomor dua di Indonesia. (udi)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)