kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pahing, 24 Mei 2008

 Bali


Pakai
Data 2005, Pembagian BLT Rawan Ricuh

Semarapura (Bali Post) -
Pelaksanaan
pencairan Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Kabupaten Klungkung dikhawatirkan diwarnai kericuhan. Pemicunya, data penerima BLT yang dipakai merupakan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2005. Itu artinya, selama tiga tahun data penerima BLT tidak dievaluasi.

Padahal, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, sangat memungkinkan terjadi penambahan jumlah RTM (Rumah Tangga Miskin) di Kabupaten Klungkung. Kalau begitu, jelas RTM pendatang baru itu tercecer dalam data penerima BLT kali ini. Sebaliknya, penerima yang terdata tahun 2005, memungkinkan taraf ekonominya sudah meningkat, atau malah ada yang sudah meninggal. Tetapi tetap mendapat bagian kartu pencairan bantuan masing-masing Rp 100 ribu per bulan itu.

Mantan Kepala Kantor Kesejahteraan Bangsa dan Pemberdayaan Masyarakat (Kakesbangdamas) Klungkung, IGN Bagus Putra, Jumat (23/5) kemarin, mengakui data yang dipakai untuk pelaksanaan BLT kali ini, data BPS tahun 2005. Di mana, di Klungkung terdapat 8.460 RTM.

Terkait evaluasi data RTM, Putra mengatakan BPS baru melakukan September 2008 untuk mengakomodir RTM yang belum terdata. Hasil evaluasi (penambahan/pengurangan RTM) itu bisa dipakai untuk tahun 2009. Sekda Klungkung, Ketut Janapria, mengusulkan agar pemprop mengkoordinasikan seluruh pimpinan daerah di Bali membicarakan masalah BLT.

 

Di Jembrana

Sementara itu, penerima BLT di Jembrana perlu dievaluasi lewat pemutakhiran data sebelum pendistribusian dilakukan. Pasalnya, data penerima masih menggunakan data 2005. Hal ini disampaikan anggota DPRD Jembrana Putu Budi Wihantara Jumat kemarin.

Menurutnya, data penerima BLT apabila belum dievaluasi akan memicu adanya konflik. Kata dia, angka kemiskinan di Jembrana sudah menurun dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini. Selain itu, pihaknya juga mengharapkan agar ada sosialisasi kepada perangkat desa dari yang terendah seperti Ketua Rukun Tetangga (RT) untuk mendata penerima BLT.

Anggota lain, Iskandar Alfan dan Wahyu Eko Widianto, mengatakan BLT harus tepat sasaran. Mereka khawatir penyaluran akan tidak tepat sasaran seperti tahun sebelumnya. Namun, mereka menyatakan setuju dengan BLT kepada rakyat miskin apalagi apabila rencana kenaikan harga BBM benar terjadi.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jembrana, I Ketut Gama, mengatakan data penerima BLT di Jembrana masih menggunakan data tahun 2005. Jumlah penerima BLT tahun 2005 sebanyak 6.998 KK sedangkan KK miskin di Jembrana sekarang ini 5.386 KK. Menurutnya, belum ada pemutakhiran data penerima BLT di Jembrana. Sekda Jembrana, I Ketut Wiryatmika, mengatakan pihaknya masih melakukan koordinasi dengan pihak Propinsi Bali terkait masalah pendistribusian BLT. (kmb20/sur)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)