kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pahing, 24 Mei 2008

 Bali


Jelang
Kenaikan Harga BBM, SPBU ''Rush''
* 12 Penimbun
Ditangkap

Denpasar (Bali Post) -
Menjelang
kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), antrean kendaraan terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). BBM makin langka karena ditimbun para spekulan. Sebanyak 12 penimbun BBM ditangkap Polda Bali. Demikian terungkap dalam dengar pendapat Komisi II DPRD Bali dengan jajaran Pertamina, Polda Bali, Hiswanamigas dan Disperindag.

Salah satu manajer Pertamina, Irvan menyebut beberapa kemungkinan yang akan dilakukan jika ada kelangkaan. Misalnya jika ada rush, SPBU ditutup. Sementara Wakil Direskrim Polda Bali Erwin Rusmana belum tahu persis total BBM yang ditimbun. ''Ya ada pelaku yang menimbun 150 liter, 400 liter, bahkan sampai 1.000 liter,'' paparnya.

Manajer Distribusi Pertamina Bali Nusra J. Simanjuntak menyatakan, stok BBM di Bali masih cukup. Rata-rata kebutuhan premium di Bali per hari 1.600 ton, 400 ton solar dan 475 ton minyak tanah dari sebelumnya 500 ton. ''Berkurang 25 kilo liter karena sudah ada pembagian tabung LPG gratis,'' katanya. Dari 1.600 ton itu, dari Depo Manggis 1.400 ton dan Depo Sanggaran 100 ton. ''Saat ini masih ditunggu kedatangan kapal yang membawa BBM 1.600 ton ke Bali,'' katanya.

Anggota Komisi II DPRD Bali Ir. Suania mengaku heran, kenapa persediaan BBM cukup tetapi SPBU banyak yang tutup. Malah dia menuding Pertamina mengurangi jatah BBM di SPBU. Suania sempat berang seraya meminta Pertamina menambah stok BBM  menjelang kenaikan harga. Dia juga tak yakin kelangkaan BBM ini segera bisa diatasi. Jika stok tak ditambah, masyarakat yang resah karena harus antre lama di SPBU bisa melakukan hal tak diinginkan. Kasus penyanderaan mobil tangki dan mobil tangki "kencing" di jalan merupakan persoalan klasik yang sampai kini belum terselesaikan. Untuk itu, dia mempertanyakan posisi kapal yang membawa BBM itu? 

Menjawab hal itu, Simanjuntak menyatakan di Pulau Saprudi dekat Buleleng. ''Siang ini merapat di Depo Manggis,'' katanya. Atas desakan Dewan, Pertamina akan menambah stok premium lagi lima persen dari kebutuhan saat ini 1.600 ton.

Wakil Ketua Komisi II Komang Budiarta mempertanyakan kontrol pemerintah menjelang kenaikan harga BBM. Sebab, BBM yang dijual secara eceran makin marak. Dewan mencermati tak ada pengawasan di lapangan. Disarankan segera dibentuk tim gabungan untuk turun ke lapangan.

Atas pertanyaan itu, Erwin Rumana mengatakan sulit mengontol penjualan BBM botol eceran. Mereka membawa mobil membeli BBM di SPBU. Sampai di rumahnya, BBM itu dibocorkan dengan selang untuk dimasukkan ke botol eceran. ''Kalau ada SPBU tutup tetapi BBM ditimbun, cabut izinnya, jangan hanya diperingati,'' katanya. (029)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)