Jelang
Kenaikan
Harga BBM, SPBU ''Rush''
* 12 Penimbun
Ditangkap
Denpasar
(Bali Post) -
Menjelang
kenaikan
harga
bahan bakar
minyak (BBM),
antrean
kendaraan terjadi
di
Stasiun Pengisian
Bahan
Bakar Umum (SPBU).
BBM makin
langka
karena ditimbun
para
spekulan.
Sebanyak
12 penimbun BBM
ditangkap
Polda Bali.
Demikian
terungkap
dalam
dengar pendapat
Komisi II DPRD Bali
dengan
jajaran Pertamina,
Polda Bali,
Hiswanamigas
dan
Disperindag.
Salah
satu
manajer Pertamina,
Irvan
menyebut beberapa
kemungkinan yang
akan
dilakukan
jika
ada kelangkaan.
Misalnya
jika
ada rush, SPBU ditutup.
Sementara
Wakil
Direskrim Polda Bali
Erwin Rusmana
belum
tahu persis total BBM
yang ditimbun.
''Ya
ada
pelaku yang menimbun
150 liter, 400 liter, bahkan
sampai 1.000 liter,''
paparnya.
Manajer
Distribusi
Pertamina Bali
Nusra J.
Simanjuntak
menyatakan,
stok BBM
di Bali
masih cukup.
Rata-rata
kebutuhan premium di
Bali per
hari 1.600 ton, 400 ton
solar dan 475 ton
minyak
tanah dari
sebelumnya 500 ton.
''Berkurang
25 kilo liter karena
sudah
ada pembagian
tabung LPG gratis,''
katanya.
Dari 1.600 ton
itu, dari
Depo
Manggis 1.400 ton dan
Depo
Sanggaran 100 ton. ''Saat
ini
masih ditunggu
kedatangan
kapal yang
membawa BBM 1.600 ton
ke
Bali,'' katanya.
Anggota
Komisi II DPRD Bali Ir.
Suania
mengaku heran,
kenapa
persediaan BBM cukup
tetapi SPBU
banyak yang
tutup.
Malah
dia
menuding Pertamina
mengurangi
jatah BBM
di SPBU.
Suania
sempat berang
seraya
meminta Pertamina
menambah
stok BBM
menjelang
kenaikan
harga.
Dia
juga
tak yakin
kelangkaan BBM
ini
segera bisa
diatasi.
Jika
stok
tak ditambah,
masyarakat yang
resah
karena harus
antre lama
di SPBU
bisa melakukan
hal tak
diinginkan.
Kasus
penyanderaan
mobil
tangki dan
mobil
tangki "kencing"
di
jalan merupakan
persoalan
klasik yang
sampai
kini belum
terselesaikan.
Untuk
itu,
dia mempertanyakan
posisi
kapal yang membawa
BBM itu?
Menjawab
hal itu,
Simanjuntak
menyatakan
di
Pulau Saprudi
dekat
Buleleng.
''Siang
ini
merapat di
Depo
Manggis,'' katanya.
Atas
desakan Dewan,
Pertamina
akan
menambah
stok premium
lagi
lima
persen
dari kebutuhan
saat
ini 1.600 ton.
Wakil
Ketua
Komisi II Komang
Budiarta
mempertanyakan
kontrol
pemerintah menjelang
kenaikan
harga BBM.
Sebab,
BBM yang dijual
secara
eceran makin
marak.
Dewan
mencermati
tak ada
pengawasan
di
lapangan. Disarankan
segera
dibentuk
tim
gabungan
untuk
turun ke
lapangan.
Atas
pertanyaan
itu, Erwin
Rumana
mengatakan sulit
mengontol
penjualan BBM
botol
eceran.
Mereka
membawa
mobil membeli BBM
di SPBU.
Sampai
di
rumahnya, BBM itu
dibocorkan
dengan
selang untuk
dimasukkan
ke
botol eceran.
''Kalau
ada SPBU
tutup
tetapi BBM ditimbun,
cabut
izinnya, jangan
hanya
diperingati,'' katanya.
(029)