kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Umanis, 23 Mei 2008

 Ekuin


Ekoturisme
Bali Harga Mati

Denpasar (Bali Post) -
Pariwisata
berwawasan lingkungan -- ekoturisme -- Bali adalah sebuah harga mati. Hal ini bukan karena World Tourism Organisation (WTO) yang menggulirkan isu tersebut, tetapi budaya Bali sangat lekat dengan konsep Tri Hita Karana.

Dirut TPI Mayjen TNI (Purn) Sang Nyoman Suwisma melontarkan gagasan itu pada Seminar Himpunan Mahasiswa Sipil Non-Regular di Unud, Kamis (22/5) kemarin.

Seminar itu mengusung tema ''Sarana dan Prasarana Pariwisata Berwawasan Lingkungan untuk Mendukung Visit Indonesia Years 2008''. Suwisma menyatakan, konsep Tri Hita Karana menekankan keseimbangan, keselaran hidup antara manusia dan Tuhan, manusia dan sesama serta manusia dengan lingkungan. Ia menilai komitmen pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan sudah berjalan baik. Hanya masih perlu dioptimalkan dan diyakinkan kepada semua pihak.

Karena itu konsep ekoturisme perlu dipahami mendalam dengan memperhatikan beberapa prinsip seperti menjaga agar  berlangsungnya proses ekologis tetap mendukung sistem kehidupan, melindungi keanekaragaman hayati serta menjamin kelestarian dan pemanfaatan spesies dan ekosistemnya. Pengembangan ekoturisme di Bali diakui tak mudah. Banyak potensi ekoturisme di Bali akhirnya terbengkalai karena pemda tak memasukkan dalam grand strategi.

Untuk itu harus ada tekad pejabat daerah mendukung dengan pengalokasian anggaran dalam APBD. Selain itu masih ditemui konflik antara sektor pertanian dan pariwisata yang tak terselesaikan. Harus ada keberanian menuntut pengadaan lahan pertanian yang luasnya sama atau lebih kepada investor yang berniat mengalihfungsikan lahan pertanian. Dia juga berharap kebijakan yang memihak petani harus diwujudkan dalam berbagai keputusan politik. Persoalan lain keterbatasan daya dukung sarana dan prasarana penunjang objek ekoturisme. Kampanye ekoturisme tak segempita kampanye wisata lain sehingga kalah populer dibandingkan pariwisata lain. Untuk itu diperlukan strategi kampanye dan promosi yang profesional.

Sementara itu, Korwil Asita Bali, NTB dan NTT Bagus Sudibya mengharapkan pengambil kebijakan di Bali harus berani menolak upaya pengembangan pariwisata kebarat-baratan. Hal itu sudah menggejala dengan bertebaran kafe-kafe sampai ke desa-desa dan banyak fasilitas pariwisata menyediakan tempat dansa. ''Saya yakin yang masuk ke sana 90 persen wisatawan nusantara dan orang lokal, hanya 10 persen wisatawan mancanegara,'' katanya.

Menurutnya, Bali memiliki potensi daya tarik yang cukup beragam. Persoalannya masyarakat apakah sadar atau tidak atas potensi tersebut. Untuk mempertahankan kultur pariwisata tersebut, ''roh''-nya harus diselamatkan yakni pertanian. Seminar itu juga menampilkan pemakalah Kadis PU Bali Ir. Nyoman Sudiana, Kabid Fisik Bappeda Bali Ir. IB Parsa dan Dosen Fakultas Teknik Prof. Dr. Ketut Kinog. (029)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)