Ekoturisme
Bali Harga
Mati
Denpasar
(Bali Post) -
Pariwisata
berwawasan
lingkungan --
ekoturisme -- Bali
adalah
sebuah harga
mati.
Hal ini
bukan
karena World Tourism
Organisation (WTO) yang
menggulirkan isu
tersebut,
tetapi
budaya
Bali sangat
lekat
dengan konsep Tri
Hita
Karana.
Dirut
TPI Mayjen TNI (Purn)
Sang Nyoman
Suwisma
melontarkan gagasan
itu
pada Seminar Himpunan
Mahasiswa
Sipil Non-Regular
di Unud,
Kamis (22/5)
kemarin.
Seminar itu
mengusung
tema ''Sarana
dan
Prasarana Pariwisata
Berwawasan
Lingkungan
untuk
Mendukung Visit Indonesia Years 2008''.
Suwisma
menyatakan,
konsep Tri
Hita
Karana menekankan
keseimbangan,
keselaran
hidup
antara manusia
dan
Tuhan, manusia
dan
sesama serta
manusia
dengan lingkungan.
Ia
menilai
komitmen pengembangan
pariwisata
berwawasan
lingkungan
sudah
berjalan baik.
Hanya
masih
perlu dioptimalkan
dan
diyakinkan kepada
semua
pihak.
Karena
itu
konsep ekoturisme
perlu
dipahami mendalam
dengan
memperhatikan beberapa
prinsip
seperti menjaga
agar
berlangsungnya proses
ekologis
tetap
mendukung sistem
kehidupan,
melindungi
keanekaragaman
hayati
serta menjamin
kelestarian
dan
pemanfaatan spesies
dan
ekosistemnya.
Pengembangan
ekoturisme
di
Bali
diakui
tak mudah.
Banyak
potensi
ekoturisme di
Bali
akhirnya
terbengkalai
karena
pemda tak
memasukkan
dalam grand
strategi.
Untuk
itu
harus ada
tekad
pejabat daerah
mendukung
dengan
pengalokasian anggaran
dalam APBD.
Selain
itu
masih ditemui
konflik
antara sektor
pertanian
dan
pariwisata yang tak
terselesaikan.
Harus
ada keberanian
menuntut
pengadaan
lahan
pertanian yang luasnya
sama
atau
lebih kepada investor
yang berniat
mengalihfungsikan
lahan
pertanian.
Dia
juga
berharap kebijakan
yang memihak
petani
harus diwujudkan
dalam
berbagai keputusan
politik.
Persoalan
lain
keterbatasan daya
dukung
sarana dan
prasarana
penunjang
objek
ekoturisme. Kampanye
ekoturisme
tak
segempita kampanye
wisata lain
sehingga
kalah
populer dibandingkan
pariwisata lain.
Untuk
itu
diperlukan strategi
kampanye
dan
promosi yang profesional.
Sementara
itu,
Korwil Asita Bali,
NTB dan NTT
Bagus
Sudibya mengharapkan
pengambil
kebijakan
di Bali
harus berani
menolak
upaya pengembangan
pariwisata
kebarat-baratan.
Hal itu
sudah
menggejala dengan
bertebaran
kafe-kafe
sampai
ke desa-desa
dan
banyak fasilitas
pariwisata
menyediakan
tempat
dansa. ''Saya
yakin yang
masuk
ke
sana
90 persen
wisatawan
nusantara
dan
orang lokal,
hanya 10
persen
wisatawan mancanegara,''
katanya.
Menurutnya,
Bali memiliki
potensi
daya tarik yang
cukup
beragam.
Persoalannya
masyarakat
apakah
sadar atau
tidak
atas potensi
tersebut.
Untuk
mempertahankan
kultur
pariwisata
tersebut, ''roh''-nya
harus
diselamatkan yakni
pertanian.
Seminar itu
juga
menampilkan pemakalah
Kadis PU Bali Ir.
Nyoman
Sudiana, Kabid
Fisik
Bappeda Bali Ir. IB Parsa
dan
Dosen Fakultas
Teknik Prof. Dr.
Ketut
Kinog. (029)