kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Kliwon, 22 Mei 2008  

 Pariwisata


Wisata
Spiritual, Bentuk Kepedulian pada
Pelestarian
Alam

Di tengah kejenuhan wisata konvensional akibat berbagai gangguan keamanan, diam-diam wisata minat khusus (special interest tourism) khususnya wisata spiritual mulai tumbuh secara signifikan. Karena sifatnya yang eco friendly, wisata spiritual bisa menjadi jawaban atas kecemasan makin meluasnya dampak ekologis pengembangan pariwisata. Bagaimana dengan Bali?

---------------

 

MEMANG belum ada batasan yang jelas, apa saja yang termasuk dalam wisata minat khusus. Menurut literatur ada sejumlah kategori wisata, antara lain wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata minat khusus, wisata belanja, wisata umum dan lainnya. Wisata minat khusus antara lain meliputi meditasi (wisata spiritual), wisata kuliner, olah raga alam maupun olah raga prestasi dan sebagainya.

Berbicara mengenai wisata spiritual, Bali merupakan tempat yang paling ideal. Jika orang sudah kesemsem untuk mencari hening dalam diri, berapa pun duit yang dikeluarkan tak akan jadi masalah, asalkan berbagai masalah yang tumbuh dalam dirinya bisa dikelola dan diredakan lewat meditasi.

 Banyak daerah di Bali sebagai tempat meditasi yang ideal.

Di Buleleng, misalnya, tak perlu membuka pusat-pusat meditasi dengan bangunan yang megah atau pengelolaan yang superprofesional. Alam Buleleng sudah menyediakan tempat bagi orang-orang yang mencari keheningan. Seorang teman Jepang, Shio Senda, sempat berkunjung ke Buleleng dengan satu tujuan bermeditasi.

Ia pun sibuk mencari informasi di mana tempat bermeditasi yang bagus. Dan, ia menemukannya di sebuah kawasan perbatasan antara Sawan dan Kubutambahan. "Tempatnya indah, di lereng gunung, di mana laut utara bisa terlihat dengan jelas seperti sebuah kolam yang luas," kata Shio terpesona.

Shio tentu akan lebih kaget jika mengetahui bahwa tempat seperti yang dikaguminya itu memang tersebar banyak di Bali. Mungkin puluhan tempatnya, bahkan ratusan. Orang-orang menyebutkan segara-gunung, sebuah tempat di mana laut dan bukit seakan-akan bergabung menjadi satu. Tempat semacam itu bisa dijumpai di seluruh kabupaten/kota di Bali.

Jika masuk ke tempat itu, memang akan terasa seperti sedang menikmati sebuah tamasya yang aneh, tamasya yang sunyi namun mendapatkan sesuatu yang melimpah dalam diri. Itu mungkin bisa disebut sebagai objek wisata meditasi, objek wisata spiritual.

Karangasem juga merupakan salah satu kabupaten di Bali yang memiliki potensi sebagai lokasi wisata spiritual, baik di lingkungan umat Hindu sendiri berupa tirtayatra maupun bagi para penekun meditasi dan yoga dari Eropa, Amerika dan Asia (Jepang, India dan Cina) yang mencari keheningan di Pulau Dewata.

Pengembangan wisata spiritual sangat potensial bagi Kabupaten Karangasem. Karangasem masih relatif alami dan sepi seperti di kawasan Amed dan sekitarnya yang nyegara gunung. Namun, guna mempertahankan aset berupa keindahan alam itu, pemerintah diminta tegas, sehingga kawasan Amed tak menjadi Candidasa kedua.

Ada sejumlah pura yang memiliki daya tarik wisata, seperti Besakih. Belakangan Pura Lempuyang juga mulai banyak dikunjungi wisman. Di daerah Tabanan juga ada Pura Tambowaras, sangat ideal untuk meditasi. Selain itu ada lokasi-lokasi di Pulau Dewata yang menurut guru meditasi Mertha Ada yang menjadi titik-titik keheningan.

 

Suatu Jawaban

Harus diakui, di tengah riak tumbuhnya kembali pariwisata Bali, kita di sini makin dikepung kecemasan. Karena tidak terkendalinya pertumbuhan bangunan fisik yang dilecut oleh madu pariwisata, banyak sekali pelanggaran tata ruang yang terjadi. Alam Bali akhirnya tercabik-cabik, menjadi korban keganasan manusia.

Dalam seminar tata ruang di kampus Universitas Warmadewa belum lama ini terungkap, hampir seluruh ruang Bali, termasuk yang disucikan baik pegunungan dan danau, daratan dan sungai maupun pantai sudah tergadai. Itu menurut amatan dosen FT Warmadewa Ir. Nyoman Warnata dan Dr. Wayan Runa.

Warnata sempat menyajikan wajah Bali kini yang kian remuk, khususnya ditinjau dari aspek ruang religius. Dia membawakan narasi disertai tayangan audio visual yang menyentuh hati.

 Hampir seluruh ruang Bali, termasuk yang disucikan baik pegunungan dan danau, daratan dan sungai maupun pantai.

Dosen senior ini menangkap adanya pengangkangan terhadap ruang-ruang religius yang berimplikasi pencemaran, baik dalam arti fisik maupun niskala.

Dosen senior ini memaparkan beberapa pura besar di Bali memiliki radius kesucian yang cukup, tetapi belakangan ini radius kesucian dilanggar.

Kondisi daratan juga diteropongnya. Kata Warnata, fenomena yang menonjol pada daerah daratan Bali sejak pesatnya perkembangan pariwisata selama 15 tahun terakhir adalah terkonsentrasinya secara berlebih pembangunan fisik pada tiga kabupaten/kota yaitu Denpasar, Badung dan Gianyar. Hal ini yang menghasilkan efek ketersesakan tata ruang.

Konversi lahan-lahan produktif menjadi pemukiman yang mematikan banyak kawasan subak, pencemaran lingkungan dan pencemaran sosial kemasyarakatan.

Sementara zona-zona peruntukan jalur hijau telah banyak berubah menjadi fungsi lain seperti perdagangan, perumahan, kafe, vila, hotel dan fasilitas penunjang pariwisata lainnya.

Ini telah menjadi pemandangan sehari-hari di sepanjang jalan besar di Bali dan pinggir pantai. Sedangkan di pinggir sungai dihadapkan pada pemandangan ketidakteraturan pemukiman (kumuh) yang menghabiskan teba-teba dan melanggar sempadan sungai.

Kondisi yang sama melanda pantai. Pantai banyak dikapling investor sehingga akses masyarakat lokal sangat terbatas dan tidak ada rasa memiliki seperti dulu. Ruang ritus pantai semakin sempit dan ditambah lagi abrasi yang terjadi sepanjang pantai selatan Bali -- yang disebabkan reklamasi Pulau Serangan.

Di tempat lain terjadi pengambilan pasir dan kerikil pantai setidak-tidaknya mengurangi daya tahan pantai terhadap gerusan ombak. Hutan mangrove/bakau telah banyak berubah menjadi tambak dan fasilitas jasa. Sementara tak sedikit kekeran pura sekarang dilanggar. Penerapan Tata Ruang Bali sebagaimana amanat Perda No.3/2005 amat lemah.

Penjabaran konsep Tri Hita Karana hendaknya selaras dengan kebijakan pembangunan di Bali. Keselarasan dengan lapisan nilai-nilai spiritual ditandai dengan adanya spirit/jiwa yang ber-sthana di Pamerajan dan Ancangan yang ber-sthana di Sanggah Pangijeng atau tempat keramat lainnya. Mungkinkan wisata spiritual menjadi jawaban? (gre/ole/bud)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)