Wisata
Spiritual,
Bentuk
Kepedulian
pada
Pelestarian
Alam
Di
tengah
kejenuhan wisata
konvensional
akibat
berbagai gangguan
keamanan,
diam-diam
wisata
minat khusus (special
interest tourism) khususnya
wisata spiritual
mulai
tumbuh secara
signifikan.
Karena
sifatnya yang eco friendly,
wisata spiritual
bisa
menjadi jawaban
atas
kecemasan makin
meluasnya
dampak
ekologis pengembangan
pariwisata.
Bagaimana
dengan
Bali?
---------------
MEMANG
belum
ada batasan yang
jelas,
apa
saja yang
termasuk
dalam
wisata minat
khusus.
Menurut literatur
ada
sejumlah kategori
wisata,
antara lain wisata
alam,
wisata sejarah,
wisata
budaya, wisata
minat
khusus, wisata
belanja,
wisata
umum dan
lainnya.
Wisata
minat khusus
antara lain
meliputi
meditasi (wisata
spiritual), wisata
kuliner,
olah
raga alam
maupun
olah raga prestasi
dan
sebagainya.
Berbicara
mengenai
wisata spiritual, Bali
merupakan
tempat yang paling ideal.
Jika
orang sudah
kesemsem
untuk
mencari hening
dalam
diri, berapa pun
duit yang
dikeluarkan
tak
akan
jadi
masalah, asalkan
berbagai
masalah yang
tumbuh
dalam dirinya
bisa
dikelola dan
diredakan
lewat
meditasi.
Banyak
daerah
di
Bali sebagai
tempat
meditasi yang ideal.
Di
Buleleng,
misalnya,
tak
perlu membuka
pusat-pusat
meditasi
dengan
bangunan yang megah
atau
pengelolaan yang
superprofesional.
Alam
Buleleng
sudah
menyediakan tempat
bagi
orang-orang yang mencari
keheningan.
Seorang
teman
Jepang, Shio
Senda,
sempat berkunjung
ke
Buleleng dengan
satu
tujuan bermeditasi.
Ia
pun sibuk
mencari
informasi di
mana
tempat bermeditasi
yang bagus. Dan,
ia
menemukannya
di
sebuah kawasan
perbatasan
antara
Sawan dan
Kubutambahan.
"Tempatnya
indah,
di lereng
gunung,
di mana
laut
utara bisa
terlihat
dengan
jelas seperti
sebuah
kolam yang luas,"
kata
Shio terpesona.
Shio
tentu
akan
lebih
kaget jika
mengetahui
bahwa
tempat seperti yang
dikaguminya
itu
memang tersebar
banyak
di Bali.
Mungkin
puluhan
tempatnya, bahkan
ratusan.
Orang-orang
menyebutkan
segara-gunung,
sebuah
tempat di
mana
laut dan
bukit
seakan-akan bergabung
menjadi
satu.
Tempat
semacam
itu bisa
dijumpai
di
seluruh kabupaten/kota
di
Bali.
Jika
masuk
ke tempat
itu,
memang
akan terasa
seperti
sedang menikmati
sebuah
tamasya yang aneh,
tamasya yang
sunyi
namun mendapatkan
sesuatu yang
melimpah
dalam
diri.
Itu
mungkin
bisa disebut
sebagai
objek wisata
meditasi,
objek
wisata spiritual.
Karangasem
juga
merupakan salah
satu
kabupaten di Bali
yang memiliki
potensi
sebagai lokasi
wisata spiritual,
baik di
lingkungan
umat Hindu
sendiri
berupa tirtayatra
maupun
bagi para
penekun
meditasi dan yoga
dari
Eropa, Amerika
dan Asia (Jepang,
India dan
Cina) yang
mencari
keheningan di
Pulau
Dewata.
Pengembangan
wisata spiritual
sangat
potensial bagi
Kabupaten
Karangasem.
Karangasem
masih
relatif alami
dan
sepi seperti
di
kawasan Amed
dan
sekitarnya yang nyegara
gunung.
Namun,
guna
mempertahankan aset
berupa
keindahan alam
itu,
pemerintah diminta
tegas,
sehingga kawasan
Amed
tak menjadi
Candidasa
kedua.
Ada
sejumlah
pura yang
memiliki
daya
tarik wisata,
seperti
Besakih.
Belakangan
Pura
Lempuyang juga
mulai
banyak dikunjungi
wisman.
Di
daerah
Tabanan juga
ada
Pura Tambowaras,
sangat ideal
untuk
meditasi.
Selain
itu ada
lokasi-lokasi
di
Pulau Dewata yang
menurut guru
meditasi
Mertha
Ada yang menjadi
titik-titik
keheningan.
Suatu
Jawaban
Harus
diakui,
di tengah
riak
tumbuhnya kembali
pariwisata Bali,
kita di
sini
makin dikepung
kecemasan.
Karena
tidak
terkendalinya pertumbuhan
bangunan
fisik yang
dilecut
oleh madu
pariwisata,
banyak
sekali pelanggaran
tata
ruang yang terjadi.
Alam
Bali akhirnya
tercabik-cabik,
menjadi
korban keganasan
manusia.
Dalam
seminar tata
ruang
di kampus
Universitas
Warmadewa
belum lama
ini
terungkap, hampir
seluruh
ruang Bali, termasuk
yang disucikan
baik
pegunungan dan
danau,
daratan dan
sungai
maupun pantai
sudah
tergadai.
Itu
menurut
amatan dosen FT
Warmadewa Ir.
Nyoman
Warnata dan Dr.
Wayan
Runa.
Warnata
sempat
menyajikan wajah Bali
kini yang
kian
remuk, khususnya
ditinjau
dari
aspek ruang
religius.
Dia
membawakan
narasi
disertai tayangan
audio visual yang menyentuh
hati.
Hampir
seluruh
ruang
Bali, termasuk yang
disucikan
baik
pegunungan dan
danau,
daratan dan
sungai
maupun pantai.
Dosen
senior ini
menangkap
adanya
pengangkangan terhadap
ruang-ruang
religius yang
berimplikasi
pencemaran,
baik
dalam arti
fisik
maupun niskala.
Dosen
senior ini
memaparkan
beberapa
pura
besar di Bali
memiliki radius
kesucian yang
cukup,
tetapi belakangan
ini radius
kesucian
dilanggar.
Kondisi
daratan
juga diteropongnya.
Kata
Warnata, fenomena
yang menonjol
pada
daerah daratan Bali
sejak
pesatnya perkembangan
pariwisata
selama 15
tahun
terakhir adalah
terkonsentrasinya
secara
berlebih pembangunan
fisik
pada tiga
kabupaten/kota
yaitu
Denpasar, Badung
dan
Gianyar.
Hal ini yang
menghasilkan
efek
ketersesakan tata
ruang.
Konversi
lahan-lahan
produktif
menjadi
pemukiman yang mematikan
banyak
kawasan subak,
pencemaran
lingkungan
dan
pencemaran sosial
kemasyarakatan.
Sementara
zona-zona
peruntukan
jalur
hijau telah
banyak
berubah menjadi
fungsi lain
seperti
perdagangan, perumahan,
kafe,
vila,
hotel dan
fasilitas
penunjang
pariwisata
lainnya.
Ini
telah
menjadi pemandangan
sehari-hari
di
sepanjang jalan
besar
di Bali dan
pinggir
pantai.
Sedangkan
di
pinggir sungai
dihadapkan
pada
pemandangan ketidakteraturan
pemukiman (kumuh)
yang menghabiskan
teba-teba
dan
melanggar sempadan
sungai.
Kondisi
yang sama
melanda
pantai.
Pantai
banyak
dikapling investor sehingga
akses
masyarakat lokal
sangat
terbatas dan
tidak
ada rasa
memiliki
seperti
dulu.
Ruang
ritus
pantai semakin
sempit
dan ditambah
lagi
abrasi yang terjadi
sepanjang
pantai
selatan
Bali -- yang disebabkan
reklamasi
Pulau
Serangan.
Di
tempat
lain terjadi
pengambilan
pasir
dan kerikil
pantai
setidak-tidaknya mengurangi
daya
tahan pantai
terhadap
gerusan
ombak.
Hutan mangrove/bakau
telah
banyak berubah
menjadi
tambak dan
fasilitas
jasa.
Sementara
tak
sedikit kekeran
pura
sekarang dilanggar. Penerapan
Tata
Ruang Bali sebagaimana
amanat
Perda No.3/2005 amat
lemah.
Penjabaran
konsep Tri
Hita
Karana hendaknya
selaras
dengan kebijakan
pembangunan
di Bali.
Keselarasan
dengan
lapisan nilai-nilai
spiritual ditandai
dengan
adanya spirit/jiwa
yang ber-sthana
di
Pamerajan dan
Ancangan yang
ber-sthana
di
Sanggah Pangijeng
atau
tempat keramat
lainnya.
Mungkinkan
wisata spiritual
menjadi
jawaban? (gre/ole/bud)