Presiden Mempersilakan Demo
Jakarta (Bali Post) -
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai wajar
unjuk rasa menolak rencana kebijakan pemerintah
menaikkan harga BBM. Meski demikian, ia meminta
demonstrasi dilakukan secara tertib dan jangan anarkis.
''Kalau tidak tertib, anarkis, justru menambah
persoalan, mengganggu pihak lain dan merusak apa yang
telah kita bangun bertahun-tahun,'' kata Presiden
Yudhoyono usai menerima Presiden Hongaria, Rabu (21/5)
kemarin.
Tema unjuk rasa, menurut Presiden, sejak 10 tahun lalu
hingga saat ini masih sama. ''Tema unjuk rasa yang
diangkat mahasiswa intinya sama yaitu mengingatkan agar
reformasi terus dilanjutkan. Ada agenda reformasi yang
belum rampung dari tujuh isu yang biasa disampaikan para
pengunjuk rasa, meski ada 1-2 yang mesti dibicarakan
secara gamblang karena memang data dan faktanya belum
tentu sama,'' tegasnya.
Unjuk rasa bertema pangan dan energi, menurut Presiden,
mengingatkan bahwa semua memahami duduk persoalan isu
tersebut. Para elite, ekonom, dan politisi yang juga
ikut melakukan protes dan aksi-aksi politik sebenarnya
juga paham persoalan krisis pangan dan energi ini.
Karena itu, Presiden mengingatkan bahwa mereka
sesungguhnya menjadi bagian dari solusi.
Protes, sekali lagi, wajar. Demonstrasi itu keniscayaan
demokrasi. ''Tetapi, marilah kita bersama-sama
mencerdaskan kehidupan bangsa,'' ajak Presiden.
Tahun ini, menurut Presiden, adalah tahun politik dan
tiap isu bisa dijadikan sarana untuk mencapai politik
tertentu. ''Memang politik adalah politik dan saya tahu
ini tahun politik, tahun depan tahun pemilu. Tetapi,
mesti ada kontrol hati nurani, kontrol pikiran kita
semua sehingga semua yang kita lakukan bermanfaat bagi
rakyat,'' ingatnya. (kmb4)