kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Kliwon, 22 Mei 2008  

 Ekonomi


Indonesia, Potensial untuk Berinvestasi

Denpasar (Bali Post)-
Pada
kartal I 2008 ini pertumbuhan ekonomi Indonesia ternyata lebih tinggi dari yang diharapkan. Produk domestik brutto nasional pada kartal pertama mencapai 6,3 persen. Adanya indikator ini menunjukkan Indonesia masih merupakan tempat yang potensial untuk berinvestasi. Demikian dikemukakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam video conference yang dilakukannya usai pembukaan Indonesia Investment Outlook Conference, Rabu (21/5) kemarin di Nusa Dua.

Disebutkannya meski Amerika Serikat kini sedang menghadapi krisis subprime, efeknya bagi Indonesia ternyata sangat kecil. Kecilnya efek dari krisis di AS ini, kata Sri Mulyani, disebabkan Indonesia bekerja sama dengan banyak negara dalam mengembangkan ekonominya, termasuk menempatkan dananya dalam instrumen-instrumen keuangan. ''Kita menempatkan dana di berbagai instrumen keuangan, tidak hanya di AS sehingga krisis yang terjadi di AS tidak terlalu berimbas pada ekonomi Indonesia,'' sebutnya.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga mendorong para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia, karena pemerintah telah memperbaiki berbagai kebijakan untuk mendukung iklim investasi yang kondusif. Dia memaparkan beberapa di antara kebijakan yang baru tersebut, salah satunya pajak pertambahan nilai yang diharapkan mampu menarik investor datang ke Indonesia. Dia juga sempat menyinggung rencana kenaikan BBM sebesar 30 persen, yang disebutnya sebagai pilihan terakhir karena terus meningkatnya harga minyak dunia.

Chief Economist, East Asia and Pacific World Bank Vikram Nehru berpendapat, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup mengejutkan. Namun dia menambahkan pertumbuhan yang positif ini juga banyak terjadi di negara-negara lain, seperti Jepang dan Eropa. ''Adanya pertumbuhan positif ini menandakan bahwa krisis yang terjadi di AS tidak terlalu mempengaruhi seluruh dunia,'' ujarnya.

Meski melihat saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup pesat, dia memperingatkan adanya kemungkinan Indonesia akan mengalami pelambatan ekonomi. Terlebih setelah terjadinya gempa di Cina yang menewaskan puluhan ribu orang tersebut. Indonesia, sebutnya, akan terpengaruh dengan pelambatan ekonomi Cina karena gempa bumi tersebut.

Konferensi selama dua hari ini (21 - 22 Mei) yang diselenggarakan Euromoney Conference ini membahas mengenai prospek berinvestasi di Indonesia. Selain Sri Mulyani, beberapa menteri juga dijadwalkan hadir, seperti Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Menteri BUMN Sofyan Djalil. Ketua BKPM Muhammad Lutfi juga dijadwalkan hadir untuk membahas prospek investasi di Indonesia dan memberikan data-data terbaru mengenai investasi di Indonesia.(kmb18)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)