Indonesia,
Potensial untuk
Berinvestasi
Denpasar
(Bali Post)-
Pada
kartal I 2008
ini
pertumbuhan ekonomi
Indonesia ternyata
lebih
tinggi dari yang
diharapkan.
Produk
domestik brutto
nasional
pada
kartal pertama
mencapai 6,3
persen.
Adanya
indikator
ini
menunjukkan
Indonesia
masih
merupakan tempat yang
potensial
untuk
berinvestasi.
Demikian
dikemukakan
Menteri
Keuangan Sri Mulyani
Indrawati
dalam video conference yang
dilakukannya
usai
pembukaan Indonesia Investment Outlook
Conference, Rabu (21/5)
kemarin
di Nusa
Dua.
Disebutkannya
meski
Amerika Serikat
kini
sedang menghadapi
krisis
subprime, efeknya
bagi Indonesia
ternyata
sangat
kecil. Kecilnya
efek
dari krisis
di AS
ini, kata Sri
Mulyani,
disebabkan Indonesia
bekerja
sama dengan
banyak
negara dalam
mengembangkan
ekonominya,
termasuk
menempatkan
dananya
dalam instrumen-instrumen
keuangan. ''Kita
menempatkan
dana
di
berbagai instrumen
keuangan,
tidak
hanya di AS
sehingga
krisis yang
terjadi
di AS tidak
terlalu
berimbas pada
ekonomi Indonesia,''
sebutnya.
Dalam
kesempatan
tersebut,
dia
juga mendorong
para investor
untuk
menanamkan modalnya
di Indonesia,
karena
pemerintah telah
memperbaiki
berbagai
kebijakan
untuk
mendukung iklim
investasi yang
kondusif.
Dia
memaparkan
beberapa
di
antara kebijakan yang
baru
tersebut, salah
satunya
pajak pertambahan
nilai yang
diharapkan
mampu
menarik investor datang
ke
Indonesia.
Dia
juga
sempat menyinggung
rencana
kenaikan BBM sebesar
30 persen, yang
disebutnya
sebagai
pilihan terakhir
karena
terus meningkatnya
harga
minyak dunia.
Chief Economist, East Asia and Pacific World Bank
Vikram Nehru
berpendapat,
pertumbuhan
ekonomi Indonesia
cukup
mengejutkan. Namun
dia
menambahkan pertumbuhan
yang positif
ini
juga banyak
terjadi
di negara-negara
lain,
seperti Jepang
dan
Eropa.
''Adanya
pertumbuhan
positif
ini menandakan
bahwa
krisis yang terjadi
di AS
tidak terlalu
mempengaruhi
seluruh
dunia,'' ujarnya.
Meski
melihat
saat ini
pertumbuhan
ekonomi Indonesia
cukup
pesat, dia
memperingatkan
adanya
kemungkinan Indonesia
akan
mengalami
pelambatan
ekonomi.
Terlebih
setelah
terjadinya gempa
di Cina
yang menewaskan
puluhan
ribu orang
tersebut. Indonesia,
sebutnya,
akan
terpengaruh
dengan
pelambatan ekonomi
Cina
karena gempa
bumi
tersebut.
Konferensi
selama
dua hari
ini (21 - 22
Mei) yang
diselenggarakan
Euromoney Conference
ini
membahas mengenai
prospek
berinvestasi di
Indonesia.
Selain Sri
Mulyani,
beberapa
menteri
juga dijadwalkan
hadir,
seperti Menteri
Pekerjaan
Umum
Djoko Kirmanto
dan
Menteri BUMN Sofyan
Djalil.
Ketua BKPM Muhammad Lutfi
juga
dijadwalkan hadir
untuk
membahas prospek
investasi
di Indonesia
dan
memberikan data-data terbaru
mengenai
investasi
di Indonesia.(kmb18)