Gerombolan
Kera
Porakporandakan Tanaman
Palawija
Semarapura
(Bali Post) -
Adakalanya
keberadaan
gerombolan
kera
menjadi objek
wisata yang
menjadi
pusat perhatian
wisatawan.
Contohnya
di
Sangeh. Namun,
gerombolan
kera yang
satu
ini beda.
Malah
memusingkan
warga.
Seperti
yang dialami
warga
Desa Pikat,
Dawan,
Klungkung.
Gerombolan
kera
telah memporak-porandakan
tanaman
palawija mereka,
terutama
pisang
dan kelapa.
Salah
seorang
warga Nyoman
Siki,
Rabu (21/5) kemarin
menuturkan,
gerombolan
kera
diketahui sejak
setahun
lalu.
Populasinya
mencapai 50
ekor yang
tersebar
di
sejumlah lokasi,
di
antaranya Bukit
Munting,
Bukit
Muag dan
Pura
Dalem setempat.
''Keberadaannya
benar-benar
meresahkan
kami.
Tanaman
palawija
kami
seperti pisang,
kelapa
dan lainnya
rusak,''
ujar
Siki.
Namun,
sejauh
ini warga
belum
menemukan
cara yang
ampuh
untuk mengusir
gerombolan
kera
tersebut. Paling
hanya
memasang perangkap
dan
membungkus buah
pisang
atau kelapa
dengan
plastik.
Apalagi
saat
musim kemarau,
kondisinya
makin
parah.
Karena
kelaparan,
kera-kera
itu
masuk ke
areal
pura dan
kuburan
untuk mendapatkan
makanan
dari sisa-sisa
banten.
''Syukurlah,
sejauh
ini belum
sampai
masuk ke
pekarangan
rumah,''
tambahnya.
Hal itu
dibenarkan prajuru
setempat,
Nyoman
Sudiarta.
Keberadaan
kera yang
hidup
secara liar itu
sudah
pada tahap
mengkhawatirkan.
Namun,
dia
mengaku tak
sampai
hati harus
membunuh
binatang
dimaksud.
Di
samping khawatir
akan
terjadi
sesuatu secara
niskala.
Beberapa
waktu
lalu sesama
prajuru
sempat terbersit
menjadikan
kera-kera
tersebut
untuk
atraksi wisata.
Namun,
tentunya
sangat
membutuhkan biaya
yang besar.
Sementara
itu,
dari data pertanian
di
Pemkab Klungkung,
Desa
Pikat menghasilkan
pisang
sekitar 1.681 ton per tahun
dari 8.006
pohon
pisang.
Sedangkan
kelapa,
hasil produksinya
mencapai 6.938,84 ton per
tahun
dari luas
tanam 184,05
hektar.(kmb20)