Terkait
Protes
ATVLI --
KPUD Bali
jangan Meminggirkan
Potensi
Daerah
Denpasar
(Bali Post) -
Protes
ATVLI (Asosiasi
Televisi
Lokal Indonesia)
dalam
menyikapi sosialisasi
debat
visi-misi kandidat
gubernur
direspons
positif
Ketua Kajian
Ajeg Bali Prof. Dr.
Sutantra
dan
pengamat politik Dr.
I Nyoman
Subanda.
Mereka
menilai TV
lokal
telah mampu
menjadi media
penjaga
kearifan tradisi
lokal
dalam bingkai NKRI.
Untuk
itu,
mereka meminta KPUD
Bali cerdas
dalam
memberdayakan kekuatan
lokal.
KPUD juga
diminta
tidak latah
memilih
paket sosialisasi
gratis namun
efeknya
tak signifikan
untuk
membangun kepekaan
krama
Bali.
Prof. Sutantra
bahkan
mendesak agar sosialisasi
pilgub
termasuk paparan
visi-misi
kandidat
benar-benar
bisa
sampai kepada
krama Bali,
bukan
sekadar jalan.
''Saya
berharap KPUD Bali
bisa
menjadi pelaksana
pilgub yang
memahami
potensi
lokalnya. Debat
visi-misi
para
kandidat gubernur
sangat
strategis bagi
krama Bali
untuk
mengenali kandidatnya.
Untuk
memediasi
kepentingan
ini, KPUD
mestinya
memperhatikan
kekuatan TV
lokal
termasuk media lainnya
yang ada
di
daerah,'' tegasnya,
Rabu (21/5)
kemarin.
Prof. Sutantra
mengatakan
krama Bali
selaku
penyandang
dana
Pilgub Bali
ini
berhak tahu
kualitas
dan
karakter calon
pemimpinnya.
Anggaran
sosialisasi yang
mencapai
Rp 250
juta hendaknya
digunakan
secara
efektif.
''Jangan
sampai
melakukan penghematan
dengan
memilih program gratis namun
efeknya
dalam membangun
pemahaman
publik
tak jelas,''
tegasnya.
Di
pihak lain,
Pengurus
Daerah
Persatuan Wartawan
Multimedia Indonesia (Perwami)
Bali menyatakan
kekecewaan
dan
protes keras
atas
rencana KPUD Bali memberikan
hak
siar kepada TV
Jakarta dalam
debat
calon Gubernur Bali
tahun 2008
ini.
Surat protes yang
ditandatangani
Ketua
Perwami Bali Nyoman
Sunaya
dan Wakil
Sekretaris Ida
Bagus
Anom menyatakan,
debat
Cagub Bali sudah
merupakan program KPUD,
sebagai
salah satu
cara
untuk mensosialisasikan
visi
dan misi
cagub
kepada masyarakat
Bali. Perhelatan
Cagub Bali
adalah
sebuah proses
demokrasi yang
dilakukan
oleh,
dari dan
untuk
rakyat Bali, sehingga
rakyat
dapat memilih yang
benar
dan tepat
dalam
pencoblosan Pilkada
Bali, 9 Juli 2008.
Karena
itu, sangatlah
naif
dan tidak
masuk
akal jika KPUD Bali
merencanakan
mengutamakan TV-TV Jakarta
untuk
menyiarkan debat
tersebut.
Tak
Mau Rumit
Sementara
itu,
Ketua KPUD Bali Drs. A.A.
Gede Oka
Wisnumurthi
mengakui
posisinya
serba
dilematis.
Dari sisi
anggaran,
dia
membenarkan ada
anggaran
untuk program
debat
publik cagub
Rp 250
juta yang dituangkan
dalam RKA
debat
cagub.
Konsep
awal,
melibatkan seluruh
media TV maupun
cetak
baik di
daerah
maupun nasional.
Namun
realisasinya,
posisi KPUD
menjadi
serba rumit
berkaitan
dengan
pengalokasian anggaran.
Di satu
sisi
untuk pemberdayaan
media lokal
masih
memerlukan dukungan
dana,
sementara
ada
tawaran gratis dari
TV di Jakarta.
''Posisi
kami
serba sulit,''
katanya.
''Karena
dihadapkan
pada
kerumitan itu,
kami
akhirnya memilih
pertanggungjawaban
keuangan
dikembalikan
ke kas
negara,''
katanya
membela diri.
Sebab,
untuk penggunaan
anggaran
di atas
Rp 150
juta harus
melalui
proses tender.
Ketua
Pokja
Pilkada Bali Lanang
Perbawa
mengatakan, dalam
debat
Cagub Bali mendatang
mestinya
semua media
termasuk TV
lokal
ikut terlibat.
Sebab,
rakyat di
daerah yang paling
tahu
dan berhak
mengetahui arena
debat
antara pasangan
cagub
tersebut.
Sementara
Ketua Tim
Sosialisasi KPUD Bali Ir.
Luh
Riniti Rahayu
menyatakan
sangat
menghargai kekuatan
TV lokal
dalam
membangun sosialisasi
pilgub
di daerah.
(044/029/kmb)