ATVLI Protes---
KPUD tak
Hargai
Kekuatan TV Lokal
Denpasar
(Bali Post) -
Asosiasi
Televisi
Lokal Indonesia (ATVLI)
protes
keras karena
masih
ada lembaga-lembaga
di
daerah, seperti KPUD,
tidak
menghargai kekuatan
media lokal
terkait
penayangan proses
Pilkada.
Ini
terjadi
di Propinsi
Jawa
Barat, Sumatera
Utara
dan juga
terindikasi
di
Bali.
Pengurus ATVLI
meminta
kepada KPU maupun
KPUD untuk
memanfaatkan
sebesar-besarnya media
lokal
khususnya televisi
lokal
dalam proses
Pilkada
dan momen-momen
lokal
lainnya.
Hal itu
termuat dalam
sebuah
rekomendasi ATVLI yang
dihasilkan dalam
rapat
pengurus ATVLI membahas
usulan
revisi AD/ART, Senin
(19/5).
Rapat
juga dihadiri
Bambang
Santoso dari CTV
Banten,
Hamim Poli
Gorontalo TV,
Sani
Aziz Husain
Makassar TV yang
Wakil
Sekjen ATVLI, dan
Direktur
Eksekutif ATVLI Jimmy S.
Dalam
rekomendasi
itu
disebutkan, kehadiran
televisi
lokal
sesungguhnya memberi
hak
kepada masyarakat
lokal
untuk memanfaatkan
seluas-luasnya
ranah
publik demi
kepentingan
masyarakat
lokal.
Di
samping
itu, memberikan
sebesar-besarnya
hak
informasi dan
komunikasi
kepada
masyarakat yang berbasis
lokal
demi kepentingan
masyarakat
lokal.
Karena
itu,
segala hal yang
berkaitan
dengan
kepentingan lokal
seperti
Pilkada, semestinya
bersinergi
dengan media
lokal
khususnya televisi
lokal.
Indikasi
tidak
melibatkan televisi
lokal,
tampaknya
akan
terjadi pula
di Bali. KPUD Bali
awalnya
berencana menggunakan
televisi
lokal
dalam debat
cagub,
tetapi belakangan
memilih TV
dari Jakarta.
Sekjen
ATVLI dari JTV Surabaya
Imawan
Mashuri mengatakan,
kebijakan
itu
tidak menghargai
keberadaan TV
lokal.
Untuk
itu, ATVLI sebagai
wadah TV
lokal
akan
melayangkan
surat
resmi
kepada KPU yang ditembuskan
kepada KPUD
dan KPI
terkait hal
itu.
''Apa
alasan KPU
tidak
menggunakan TV lokal?
Jika
daya
pancar atau
daya
jangkau sampai
ke
rumah-rumah orang
dijadikan
alasan,
itu jelas
tidak
benar.
Di
Bali misalnya,
siapa
bilang Bali TV tidak
baik.
Tanyakan
kepada
seluruh masyarakat
Bali,
siapa yang
tidak
kenal Bali TV.
Lalu,
dalam debat
Cagub,
kenapa KPUD justru
akan
menggunakan TV
dari Jakarta,''
tanya
Imawan.
Wakil
Ketua ATVLI Made
Nariana
mengatakan, awalnya
sudah
ada pembicaraan
untuk
menggunakan televisi
lokal
dalam penayangan
debat
cagub, di
antaranya Bali TV
dan TVRI Bali.
Namun
entah
kenapa, akhirnya KPU
malah
memberikan hak
penayangan
kepada TV Jakarta.
''Jika
hal itu
benar,
ini artinya
lembaga-lembaga
lokal
Bali yang
harusnya
mengangkat
kekuatan-kekuatan
lokal, KPUD
lebih
cenderung atau
masih
berorientasi pada
Jakarta.
Kita harus
bangga
dengan KPUD Gorontalo
dan KPUD
Makassar yang
menggunakan
televisi
lokal--Gorontalo
TV dan
Makassar TV dalam
proses
Pilkada,'' kata
Nariana yang
juga
Direktur Marketing Bali TV.
Menurut
Imawan
Mashuri, penggunaan
TV dari
Jakarta
dalam
penayangan Pilkada (debat
cagub)
merupakan bentuk
pemborosan.
Sebab,
daerah lain tidak
begitu
memiliki kepentingan
dalam
pelaksanaan Pilkada
di
suatu daerah.
"Apa
orang
dari Papua dan
Jakarta,
misalnya,
akan
ikut nyoblos
dalam
Pilkada Bali?
Dalam
debat cagub Bali
sangat
strategis menggunakan
televisi
lokal.
Dengan
demikian,
masyarakat
Bali
tahu
persis visi
dan
misi cagub,
sehingga
tidak
memilih pemimpin
seperti
membeli kucing
dalam
karung," tegasnya.
(08)