Jual
Minyak Tank Top...
RI Peroleh
Rp 17,48
Milyar/Hari
Jakarta (Bali Post)-
Berbagai
upaya
pemerintah c.q.
Departemen
Energi
dan Sumber
Daya Mineral (ESDM)
meningkatkan
penerimaan
fiskal APBN-P 2008
dari
penjualan minyak.
Setidaknya,
negara
bakal memperoleh
Rp 17,48
milyar/hari
dari
penjualan minyak
mentah yang
tertahan
di
tangki timbun/storage
(tank-top) di
beberapa
titik
lokasi.
Menteri
Energi
dan Sumber
Daya Mineral (ESDM)
Purnomo
Yusgiantoro kepada
wartawan
di Jakarta,
Rabu (30/4)
lalu
menyatakan, kini
pihaknya
berupaya
mempercepat
proses
pengambilan minyak
mentah
dari tangki
penimbunan
tersebut
dengan total volume
hingga 14
juta
barel per hari (bph).
''Kami
akan dorong
minyak
di tangki-tangki
penimbunan
diserap
secepatnya untuk
menambah
pemasukan
uang ke
negara.
Saat ini
sudah
dalam posisi
penuh,''
ujar
Purnomo.
Kepala
Badan
Pelaksana Kegiatan
Usaha
Hulu (BP) Migas R.
Priyono
menambahkan, pemerintah
akan
mendapatkan tambahan
pendapatan
negara 1,9
juta
dolar AS per hari
dari
penjualan 50 persen
minyak tank top.
Nilai
itu setara
dengan
produksi minyak
dengan volume 30
ribu
bph.
''Sudah
lebih dari 6
bulan
minyak itu
ada di
storage, tertahan
karena
masalah cuaca.
Asumsinya
jika
menjual 30 ribu per
hari
dengan ICP sekitar
100 dolar AS per
barel,
dikurangi cost recovery 25
persen, dikali
barelnya,
dikali
bagian pemerintah
sebesar 85
persen.
Jadi kira-kira 1,9
juta
dolar AS per hari,''
tambahnya.
Priyono
menambahkan, storage
minyak
tersebut ada
di
sejumlah daerah,
seperti
di Kalimantan dan
Jawa.
Minyak itu
merupakan
hasil
produksi dari
lapangan-lapangan
kontraktor
migas yang
belum
terkirim untuk
dijual,
misalnya Chevron dan
Pertamina.
Purnomo
kembali
menjelaskan, kendati
Indonesia memiliki
kelebihan
minyak
mentah, namun
negara
ini masih
harus
tetap mengimpor
karena
kebutuhan kilang
nasional
memiliki
spesifikasi yang
berbeda. ''Kilang
Indonesia didesain
untuk blending crude.
Jadi
sebagian tetap
harus
impor. Impor
tidak
dikurangi karena
tergantung
dari
spesifikasi kilang.
Prinsipnya
kalau
tidak harus
impor
ya tidak
usah
impor,''
katanya
Menurut
Purnomo,
upaya
mempercepat penjualan
minyak tank-top
tersebut
sudah
disampaikan dalam
rapat
kabinet terbatas
di
kantor Wakil
Presiden,
Selasa (29/4).
Tanki-tanki
penimbunan
itu
penuh karena
terkendala
kekurangan
kapal tanker
pengangkut
minyak.
Selain itu,
faktor
cuaca juga
menjadi
hambatan karena
tanker tidak
bisa
merapat ke
pelabuhan. ''BP
Migas
akan mencari
solusi
utnuk menyerap
minyak-minyak yang
masih
dalam penimbunan
itu,''
ujarnya.
Sebagai
informasi,
berbagai
upaya
dilakukan pemerintah
untuk
mengerjar peningkatan
produksi
minyak
nasional yang ditargetkan
mampu
memproduksi minyak
977 ribu
bph di
atas
asumsi APBN 927 ribu
bph. Hal
tersebut
mendesak
dilakukan
sebagai
pembiayaan fiskal
berjalan
di saat
meningkatnya
beban
subsidi energi
akibat
meroketnya harga
minyak
dunia. (kmb1)