Diprotes,
Musik
Keras dari Hotel
Berlantai
Enam
Denpasar
(Bali Post) -
Warga
Seminyak,
Kuta,
belakangan terus
terganggu
suara
musik keras yang
keluar
dari tempat
hiburan,
restoran
maupun hotel
di
wilayah tersebut.
Kali ini,
alunan
musik terlalu
keras
dari sebuah
restoran
dan bar
di lantai
enam Hotel
An
diprotes warga
Seminyak.
Selain
terlalu
keras, alunan
musik
itu juga
berlangsung
hingga
menjelang pagi.
''Kegiatan
itu
mengganggu warga
sekitar
termasuk tamu hotel
di
sekitarnya,'' ujar
Ketua LPM (Lembaga
Pemberdayaan
Masyarakat)
Seminyak Made
Sukadana, S.H.,
Kamis (1/5)
kemarin.
Sementara
itu,
Lurah Seminyak
Wayan
Wiranata yang dihubungi
secara
terpisah, kemarin,
membenarkan
adanya
protes terkait
musik
keras dari Hotel An
tersebut.
Pihaknya,
Jumat (2/5)
ini
akan
memanggil
pemilik hotel
tersebut
untuk
didengar keterangannya.
''Surat
panggilan
sudah
kami sampaikan,''
jelas
Lurah Wiranata
singkat.
Sementara
pihak Hotel
An belum
berhasil
diminta
konfirmasinya terkait
protes
warga tersebut.
Menurut
Sukadana,
kegiatan
musik
keras hingga
ke luar
area jelas
melanggar.
Apalagi
kalau
tak ada
izinnya.
''Nanti
akan
jelas masalahnya
setelah yang
bersangkutan
dipanggil,''
tegasnya
merinci.
Meski
demikian,
tokoh
Seminyak yang dikenal
gencar
mengkritisi masalah
musik
keras ini
mengingatkan
pentingnya
dijaga
kenyamanan seluruh
warga
di kawasan
wisata
itu.
Dikatakannya,
musik
keras yang sampai
mengganggu
lingkungan
sangat
ditentang warga.
Sebelumnya,
warga
juga sempat
protes
terhadap suara
musik
keras di
kawasan
itu.
Bahkan
belakangan
kasus
musik keras
sempat
mencuat di
Kerobokan
Kelod
hingga membuat
warga
kesal dan
nyaris
muncul demo.
''Kini
musik keras
di
Kerobokan yang
diselenggarakan pengusaha
setempat
dalam
pengawasan aparat,''
ujar
Kadisparda Badung
Made Subawa,
belum lama
ini.
Pengawasan
itu
menyusul hasil
pertemuan
antara
sejumlah pengusaha
di
kawasan itu
dengan
aparat.
Intinya,
pengusaha
sepakat
mengikuti aturan yang
berlaku.
Anggota
Komisi B DPRD
Badung
Puspa Negara, S.P.
sebelumnya mengatakan
kegiatan
musik
keras memang
sangat
disukai turis.
''Ini
bagian
dari kebutuhan
sejumlah
turis,''
jelasnya.
Meski
demikian,
aturan yang
berlaku
harus diikuti.
Dalam
artian,
kegiatan musik
itu
mengikuti ketentuan
yang ada,
termasuk
memperhatikan
lingkungan
di
sekitarnya. ''Kami
secara
rutin bersama
aparat
setempat memantau
kegiatan
itu agar
tak
sampai menimbulkan
dampak
negatif,'' jelas
politisi
asal
Legian ini.
(031)