kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Kliwon, 2 Mei 2008

 Bali


Diprotes
, Musik Keras dari Hotel Berlantai Enam

Denpasar (Bali Post) -
Warga
Seminyak, Kuta, belakangan terus terganggu suara musik keras yang keluar dari tempat hiburan, restoran maupun hotel di wilayah tersebut. Kali ini, alunan musik terlalu keras dari sebuah restoran dan bar di lantai enam Hotel An diprotes warga Seminyak. Selain terlalu keras, alunan musik itu juga berlangsung hingga menjelang pagi. ''Kegiatan itu mengganggu warga sekitar termasuk tamu hotel di sekitarnya,'' ujar Ketua LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) Seminyak Made Sukadana, S.H., Kamis (1/5) kemarin.

Sementara itu, Lurah Seminyak Wayan Wiranata yang dihubungi secara terpisah, kemarin, membenarkan adanya protes terkait musik keras dari Hotel An tersebut. Pihaknya, Jumat (2/5) ini akan memanggil pemilik hotel tersebut untuk didengar keterangannya. ''Surat panggilan sudah kami sampaikan,'' jelas Lurah Wiranata singkat. Sementara pihak Hotel An belum berhasil diminta konfirmasinya terkait protes warga tersebut.

Menurut Sukadana, kegiatan musik keras hingga ke luar area jelas melanggar. Apalagi kalau tak ada izinnya. ''Nanti akan jelas masalahnya setelah yang bersangkutan dipanggil,'' tegasnya merinci. Meski demikian, tokoh Seminyak yang dikenal gencar mengkritisi masalah musik keras ini mengingatkan pentingnya dijaga kenyamanan seluruh warga di kawasan wisata itu.

Dikatakannya, musik keras yang sampai mengganggu lingkungan sangat ditentang warga. Sebelumnya, warga juga sempat protes terhadap suara musik keras di kawasan itu. Bahkan belakangan kasus musik keras sempat mencuat di Kerobokan Kelod hingga membuat warga kesal dan nyaris muncul demo.

''Kini musik keras di Kerobokan yang diselenggarakan pengusaha setempat dalam pengawasan aparat,'' ujar Kadisparda Badung Made Subawa, belum lama ini. Pengawasan itu menyusul hasil pertemuan antara sejumlah pengusaha di kawasan itu dengan aparat. Intinya, pengusaha sepakat mengikuti aturan yang berlaku.

Anggota Komisi B DPRD Badung Puspa Negara, S.P. sebelumnya mengatakan kegiatan musik keras memang sangat disukai turis. ''Ini bagian dari kebutuhan sejumlah turis,'' jelasnya. Meski demikian, aturan yang berlaku harus diikuti. Dalam artian, kegiatan musik itu mengikuti ketentuan yang ada, termasuk memperhatikan lingkungan di sekitarnya. ''Kami secara rutin bersama aparat setempat memantau kegiatan itu agar tak sampai menimbulkan dampak negatif,'' jelas politisi asal Legian ini. (031)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)